Vaginosis BakterialisBacterial Vaginosis
SKDI 2012 menempatkan vaginosis bakterialis pada tabel Sistem Reproduksi, subkelompok Infeksi, butir 9, dengan tingkat kemampuan 4A tanpa kata pembatas [3]. Butir 8 pada tabel yang sama adalah vaginitis, juga 4A, dan itu yang membuat halaman ini berdiri sendiri: SKDI menuntut kompetensi tuntas atas vaginosis bakterialis sebagai penyakit tersendiri, bukan sekadar sebagai salah satu penyebab vaginitis. PPK FKTP tidak memuat entri berjudul vaginosis bakterialis. Isinya tersebar di dua entri yang berbeda, dan keduanya perlu dibuka untuk mendapat satu pasien yang utuh: - Entri Vaginitis memuat kriteria pembedanya dan tiga pilihan obatnya [1]. - Entri Fluor Albus memuat penyesuaian kehamilan, sikap terhadap pasangan, urusan kontrasepsi, komplikasi, dan kriteria rujukan [2]. Batas praktisnya: - Diagnosis menuntut kertas lakmus dan mikroskop di tempat. Tanpa keduanya yang tersisa hanyalah dugaan dari bau dan tampilan duh. - Kedua entri PPK berbeda pendapat tentang pasangan seksual, dan perbedaan itu perlu diketahui sebelum pasien diberi nasihat. - Entri Vaginitis tidak memuat komplikasi maupun kriteria rujukan sama sekali, sehingga keduanya harus diambil dari entri Fluor Albus.SKDI 2012 places bacterial vaginosis in the Sistem Reproduksi table, Infeksi subgroup, item 9, at competency level 4A with no qualifying words [3]. Item 8 in the same table is vaginitis, also 4A, and that is why this page stands on its own: SKDI asks for full competency in bacterial vaginosis as a disease in its own right, not merely as one cause of vaginitis. PPK FKTP carries no entry titled bacterial vaginosis. Its content is split across two different entries, and both have to be opened to manage one whole patient: - The Vaginitis entry carries the distinguishing criteria and the three drug options [1]. - The Fluor Albus entry carries the pregnancy adjustment, the position on partners, the contraception questions, the complications and the referral criteria [2]. The practical limits: - Diagnosis needs litmus paper and a microscope on site. Without both, what remains is a guess from odour and the look of the discharge. - The two PPK entries disagree about the sexual partner, and that disagreement has to be known before the patient is advised. - The Vaginitis entry carries no complications and no referral criteria at all, so both have to be taken from the Fluor Albus entry.
Vaginosis bakterialis adalah pergeseran flora vagina, bukan peradangan. Laktobasilus yang biasanya menguasai permukaan vagina menyusut dan digantikan bakteri anaerob, dengan Gardnerella vaginalis sebagai kuman yang paling sering disebut 12. Namanya berakhir dengan osis dan bukan itis justru karena itu: dinding vagina biasanya tidak merah dan leukosit tidak bertambah.
Keluhan yang membawa pasien datang hampir selalu bau. Duhnya tipis, homogen, putih keabuan, melekat di dinding vagina, dan baunya amis serta dapat memberat sesudah senggama 12. Gatal boleh ada, boleh tidak, dan ketiadaan gatal tidak menyingkirkan diagnosis.
Di antara tiga penyebab peradangan vagina yang dikenali panduan layanan primer, inilah yang paling sering: angka kejadian yang dicantumkan sekitar 23,6%, dibanding trikomonas 5,1 sampai 20% dan kandida 15 sampai 42% 1.
Faktor risiko yang perlu ditanyakan: pemakaian alat kontrasepsi dalam rahim, pemakaian handuk bersama, imunosupresi, diabetes melitus, perubahan hormonal seperti kehamilan, terapi antibiotik spektrum luas, dan obesitas 1.
Tingkat kemampuan dokter layanan primer 4A 3. Halaman Atlas Vaginitis membahas pembedaan antara ketiga penyebab; halaman ini hanya vaginosis bakterialis, karena SKDI memang menuntutnya sebagai penyakit tersendiri.
Bacterial vaginosis is a shift in the vaginal flora rather than an inflammation. The lactobacilli that normally dominate the vaginal surface collapse and anaerobes take their place, with Gardnerella vaginalis named most often 12. The name ends in osis rather than itis for exactly that reason: the vaginal wall is usually not red and leukocytes do not rise.
The complaint that brings the patient in is nearly always odour. The discharge is thin, homogeneous, greyish white, adherent to the vaginal wall, and smells fishy, often worse after intercourse 12. Itch may or may not be there, and its absence does not exclude the diagnosis.
Of the three causes of vaginal inflammation the primary care guideline recognises, this is the commonest: the incidence given is around 23.6%, against 5.1 to 20% for trichomonas and 15 to 42% for candida 1.
Risk factors to ask about: use of an intrauterine device, sharing towels, immunosuppression, diabetes mellitus, hormonal change such as pregnancy, broad spectrum antibiotic therapy, and obesity 1.
Primary care competency is 4A 3. The Atlas Vaginitis page covers the separation of the three causes; this page is bacterial vaginosis alone, because SKDI asks for it as a disease in its own right.
MengenaliRecognising it
Diagnosis ditegakkan dari anamnesis, pemeriksaan spekulum, dan tiga pemeriksaan cairan vagina yang dikerjakan bersama. Satu pemeriksaan saja tidak memisahkan penyebabnya, dan tanpa pemeriksaan itu obatnya tidak dapat dipilih 1.
Anamnesis:
- Bau amis, keluhan yang paling sering membawa pasien datang 1.
- Bau yang memberat sesudah senggama 1.
- Keputihan yang bertambah banyak 1.
- Gatal, yang tidak selalu ada 1.
- Tanyakan riwayat antibiotik spektrum luas, kehamilan, dan pemakaian alat kontrasepsi dalam rahim 1.
- Tanyakan pemakaian sabun atau antiseptik untuk membersihkan vagina, karena keduanya menggeser flora normal 12.
The diagnosis is made from the history, the speculum examination, and three vaginal fluid tests done together. No single test separates the cause, and without those tests the drug cannot be chosen 1.
History:
- A fishy odour, the complaint that most often brings the patient in 1.
- Odour that worsens after intercourse 1.
- Increased vaginal discharge 1.
- Itch, which is not always present 1.
- Ask about broad spectrum antibiotics, pregnancy, and use of an intrauterine device 1.
- Ask whether soap or antiseptic is used to clean the vagina, since both shift the normal flora 12.
RujukanReferences
- 1.Kementerian Kesehatan RI. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama, lampiran Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/1186/2022. Huruf O Penyakit Kelamin, angka 4 Vaginitis, halaman lampiran -798- sampai -803-, termasuk Tabel 15.1 kriteria diagnostik dan tiga pilihan obat untuk vaginosis bakterialis. manuver.tireg7.net
- 2.Kementerian Kesehatan RI. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama, lampiran Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/1186/2022. Huruf O Penyakit Kelamin, angka 1 Fluor Albus / Vaginal Discharge Non Gonore, halaman lampiran -782- sampai -787-. Dipakai untuk penyesuaian kehamilan, sikap terhadap pasangan, urusan kontrasepsi, komplikasi, dan kriteria rujukan. manuver.tireg7.net
- 3.Konsil Kedokteran Indonesia. Standar Kompetensi Dokter Indonesia 2012, Lampiran Daftar Penyakit, tabel Sistem Reproduksi, subkelompok Infeksi, butir 9 Vaginosis bakterialis, Tingkat Kemampuan 4A. pd.fk.ub.ac.id
- 4.Amsel R, Totten PA, Spiegel CA, Chen KC, Eschenbach D, Holmes KK. Nonspecific vaginitis: diagnostic criteria and microbial and epidemiologic associations. Am J Med. 1983;74(1):14-22. Dipakai untuk aturan tiga dari empat, yang tidak dimuat panduan. pubmed.ncbi.nlm.nih.gov
- 5.Carlson K, Mikes BA, Garg M. Bacterial Vaginosis. StatPearls. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing. Bacaan lanjutan, bukan sumber isi halaman ini. ncbi.nlm.nih.gov