Ulkus Gaster dan DuodenumGastric and Duodenal Ulcer

Tingkat 3A berarti dokter layanan primer menegakkan diagnosisnya, memberi terapi awal, lalu merujuk. SKDI 2012 menaruh butir 28 Ulkus (gaster, duodenum) pada tingkat 3A, di subkelompok Lambung, Duodenum, Jejunum, Ileum [2]. Yang membuat angkanya masuk akal adalah alat, bukan obatnya. Diagnosis pasti ulkus ditegakkan dengan endoskopi saluran cerna atas, dan endoskopi tidak ada di FKTP [3]. Karena itu yang dikerjakan di layanan primer adalah mengenali siapa yang perlu diendoskopi, menghentikan penyebabnya, memulai penekan asam, lalu merujuk. Tetangga butirnya memperjelas batas kerja: gastritis butir 25 bernilai 4A dan selesai di layanan primer, sedangkan perdarahan gastrointestinal butir 36 bernilai 3B karena sudah menjadi kegawatan [2]. Ulkus duduk di antara keduanya. Satu hal perlu diperiksa sebelum mencari halaman ini di katalog. Kata ulkus muncul tiga kali di Daftar Penyakit SKDI 2012 untuk tiga penyakit yang berbeda: butir 4 Ulkus mulut (aftosa, herpes) 4A pada sistem yang sama, dan butir 33 Ulkus pada tungkai 4A pada sistem kulit [2]. Keduanya penyakit lain dengan halaman Atlas sendiri. Halaman ini hanya tentang ulkus di lambung dan duodenum.Level 3A means the primary care doctor makes the diagnosis, gives initial treatment, then refers. SKDI 2012 places item 28 Ulkus (gaster, duodenum) at 3A, in the Stomach, Duodenum, Jejunum, Ileum subgroup [2]. What makes that grade sensible is equipment rather than drugs. A definite ulcer diagnosis is made by upper gastrointestinal endoscopy, and there is no endoscopy in primary care [3]. So the work at this level is recognising who needs that endoscopy, stopping the cause, starting acid suppression, and referring. The neighbouring items sharpen the boundary: gastritis at item 25 is 4A and finishes in primary care, while gastrointestinal bleeding at item 36 is 3B because it has become an emergency [2]. Ulcer sits between them. One thing to check before looking for this page in the catalogue. The word ulkus appears three times in the SKDI 2012 disease list for three different diseases: item 4 Ulkus mulut (aftosa, herpes) at 4A in the same system, and item 33 Ulkus pada tungkai at 4A in the skin system [2]. Both are other diseases with their own Atlas pages. This page is only about ulcers in the stomach and the duodenum.

Ulkus gaster dan ulkus duodenum adalah luka pada dinding lambung atau duodenum yang sudah menembus lebih dalam daripada erosi permukaan. Itulah yang memisahkannya dari gastritis: gastritis adalah mukosa yang meradang, ulkus adalah mukosa yang sudah hilang, dan pembuluh darah serta lapisan otot di bawahnya ikut terbuka.

Mekanismenya adalah ketidakseimbangan antara faktor agresif dan faktor defensif di mukosa saluran cerna atas: asam lambung, pepsin, refluks empedu, nikotin, obat antiinflamasi nonsteroid, kortikosteroid dan Helicobacter pylori di satu sisi, melawan lapisan mukus, epitel yang utuh, prostaglandin, sekresi bikarbonat, motilitas normal dan aliran darah mukosa di sisi lain 3.

Faktor risiko 3:

  • Usia lanjut, dan usia 70 tahun ke atas dinilai tersendiri karena pemakaian obat antiinflamasi nonsteroid dan penyakit penyerta bertambah pada kelompok itu.
  • Pemakaian obat antiinflamasi nonsteroid: ibuprofen, naproksen, indometasin, piroksikam, asam mefenamat, natrium diklofenak.
  • Pemakaian obat antiplatelet, termasuk aspirin dosis rendah dan klopidogrel.
  • Merokok, yang memperlambat penyembuhan ulkus, memicu kekambuhan, dan menaikkan risiko komplikasi.
  • Alkohol berkadar tinggi, yang merusak pertahanan mukosa terhadap ion hidrogen.
  • Riwayat gastritis.
  • Infeksi Helicobacter pylori.
  • Penyakit penyerta: penyakit hati kronik, penyakit ginjal kronik.

Yang membuat penyakit ini penting bukan nyerinya, melainkan cara ia berakhir. Ulkus dapat berdarah dan dapat menembus dinding. Perdarahan saluran cerna atas dan perforasi keduanya berada di luar kompetensi layanan primer.

Tingkat kemampuan dokter umum 3A: mendiagnosis, memberi terapi awal, lalu merujuk 2. Diagnosis pastinya menuntut endoskopi saluran cerna atas, dan endoskopi tidak ada di FKTP 3, sehingga yang ditegakkan di layanan primer adalah dugaan klinis dan bukan diagnosis pasti.

Halaman tetangga, supaya pasien tidak dibaca di kotak yang salah:

  • Gastritis, tingkat 4A, untuk mukosa yang meradang tanpa bukti ulkus.
  • Perdarahan gastrointestinal, tingkat 3B, begitu ada hematemesis, melena, atau hematokezia.
  • Nama ulkus juga dipakai SKDI untuk ulkus mulut dan ulkus pada tungkai, yaitu dua penyakit lain dengan halaman sendiri 2.

Gastric and duodenal ulcers are breaks in the wall of the stomach or duodenum that have gone deeper than a surface erosion. That is what separates them from gastritis: in gastritis the mucosa is inflamed, in an ulcer the mucosa is gone, and the vessels and muscle layer beneath it are exposed.

The mechanism is an imbalance between aggressive and defensive factors in the upper gastrointestinal mucosa: gastric acid, pepsin, bile reflux, nicotine, non-steroidal anti-inflammatory drugs, corticosteroids and Helicobacter pylori on one side, against the mucus layer, an intact epithelium, prostaglandins, bicarbonate secretion, normal motility and mucosal blood flow on the other 3.

Risk factors 3:

  • Older age, with 70 and over assessed separately because both non-steroidal anti-inflammatory use and comorbid disease rise in that group.
  • Non-steroidal anti-inflammatory drugs: ibuprofen, naproxen, indometacin, piroxicam, mefenamic acid, diclofenac sodium.
  • Antiplatelet drugs, including low dose aspirin and clopidogrel.
  • Smoking, which slows ulcer healing, triggers recurrence, and raises the risk of complications.
  • Strong alcohol, which damages the mucosal defence against hydrogen ions.
  • A history of gastritis.
  • Helicobacter pylori infection.
  • Comorbid disease: chronic liver disease, chronic kidney disease.

What makes this disease matter is not the pain but the way it ends. An ulcer can bleed and can go through the wall. Upper gastrointestinal bleeding and perforation both sit outside primary care competency.

GP competency is 3A: diagnose, give initial treatment, then refer 2. A definite diagnosis requires upper gastrointestinal endoscopy, which primary care does not have 3, so what is established at this level is a clinical suspicion rather than a confirmed diagnosis.

Neighbouring pages, so the patient is not read in the wrong box:

  • Gastritis, level 4A, for inflamed mucosa with no evidence of an ulcer.
  • Gastrointestinal bleeding, level 3B, as soon as there is haematemesis, melaena or haematochezia.
  • SKDI also uses the word ulcer for mouth ulcer and for leg ulcer, two other diseases with their own pages 2.

MengenaliRecognising it

Tidak ada satu pun tanda yang membuktikan ulkus di ruang praktik. Yang dikerjakan di FKTP adalah menyortir: siapa yang boleh diobati dulu, dan siapa yang harus diendoskopi lebih dahulu.

Anamnesis, keluhan intinya:

  • Nyeri dan rasa panas di ulu hati, sering berulang selama berminggu-minggu.
  • Hubungannya dengan makan perlu ditanyakan secara terbuka dan bukan diasumsikan, sebab keluhan dispepsia dapat mereda maupun memberat sesudah makan 1.
  • Mual, muntah, dan kembung menyertainya 1.

No single sign proves an ulcer in the consulting room. What primary care does is sort: who may be treated first, and who has to be endoscoped first.

History, the core complaint:

  • Pain and burning in the epigastrium, often recurring over weeks.
  • Its relation to eating has to be asked openly rather than assumed, because a dyspeptic complaint may either settle or worsen after a meal 1.
  • Nausea, vomiting and bloating go with it 1.
Memeriksa aksesChecking access

RujukanReferences

  1. 1.Kementerian Kesehatan RI. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama, Lampiran I Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/1186/2022, Huruf C Digestive: angka 3 Gastritis halaman lampiran -125- sampai -127-, angka 9 Perdarahan Gastrointestinal halaman lampiran -154- sampai -161-, angka 15 Peritonitis halaman lampiran -178- sampai -180-. Huruf C tidak memuat entri ulkus gaster maupun ulkus duodenum. manuver.tireg7.net
  2. 2.Konsil Kedokteran Indonesia. Standar Kompetensi Dokter Indonesia 2012, Lampiran Daftar Penyakit, sistem Gastrointestinal, Hepatobilier dan Pankreas, butir 28 Ulkus (gaster, duodenum) dengan Tingkat Kemampuan 3A, halaman 44. Butir pembanding: 25 Gastritis 4A dan 36 Perdarahan gastrointestinal 3B. pd.fk.ub.ac.id
  3. 3.Kementerian Kesehatan RI. Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana Perdarahan Saluran Cerna, Lampiran Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/2162/2023. Faktor risiko, patogenesis, manifestasi klinis, diagnosis dan terapi medikamentosa perdarahan saluran cerna atas, halaman 12 sampai 24. kemkes.go.id
  4. 4.Syam AF, Miftahussurur M, Makmun D, dkk. Management of dyspepsia and Helicobacter pylori infection: the 2022 Indonesian Consensus Report. Gut Pathogens. 2023;15:25. Versi terbit berbahasa Inggris dari Konsensus Nasional Penatalaksanaan Dispepsia dan Infeksi Helicobacter pylori di Indonesia, Perkumpulan Gastroenterologi Indonesia. pmc.ncbi.nlm.nih.gov
  5. 5.Syam AF, Simadibrata M, Makmun D, dkk. National Consensus on Management of Dyspepsia and Helicobacter pylori Infection. Acta Med Indones. 2017;49(3):279-87. Versi terbit terdahulu dari konsensus yang sama, dipakai untuk syarat bebas antibiotik dan penghambat pompa proton dua minggu sebelum pemeriksaan Helicobacter pylori. actamedindones.org
  6. 6.Malik TF, Gnanapandithan K, Singh K. Peptic Ulcer Disease. StatPearls. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing. Bacaan lanjutan, bukan sumber isi entri ini dan tidak ada kalimatnya yang dikutip. ncbi.nlm.nih.gov

SPARK Atlas adalah alat bantu rujukan untuk klinisi, bukan pengganti penilaian klinis. Verifikasi setiap keputusan terhadap kondisi pasien dan pedoman terkini.SPARK Atlas is a reference aid for clinicians, not a substitute for clinical judgement. Verify every decision against the patient in front of you and current guidance.