Tuberkulosis dengan HIVTuberculosis with HIV

SKDI 2012 memberi Tuberkulosis dengan HIV Tingkat Kemampuan 3A pada tabel Sistem Respirasi, subkelompok Paru, butir 28 [2]. Yang menerangkan angka itu adalah tetangganya. Butir 27, Tuberkulosis paru tanpa komplikasi, bertingkat 4A. Butir 29, TB resisten obat, bertingkat 2. Pada tabel Sistem Hematologi dan Imunologi, HIV AIDS tanpa komplikasi juga bertingkat 4A. Jadi kedua penyakitnya masing-masing dituntaskan sendiri oleh dokter layanan primer, dan justru pertemuannya yang turun ke 3A [2]. Tingkat 3A berarti bukan gawat darurat: diagnosis klinis, terapi pendahuluan, rujukan yang paling tepat, lalu tindak lanjut sesudah pasien kembali [2]. Yang jatuh ke luar kewenangan mandiri bukan pengobatan tuberkulosisnya, melainkan keputusan yang menyertainya: kapan terapi antiretroviral dimulai, obat apa yang harus diganti karena berinteraksi dengan rifampisin, dan apa yang dikerjakan ketika hasil bakteriologisnya negatif sementara kliniknya jelas. Dokumen yang lebih baru menyetujui angka itu. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di FKTP memuat entri TB dengan HIV, dan entri itu diganti seluruhnya oleh Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/1936/2022; versi pengganti tetap memberi Tingkat Kemampuan 3A [1]. Tidak ada pertentangan yang perlu diselesaikan, dan tingkatnya 3A pada kedua dokumen.SKDI 2012 grades Tuberculosis with HIV at 3A in the Respiratory System table under Lung, item 28 [2]. What explains that number is what sits beside it. Item 27, uncomplicated pulmonary tuberculosis, is 4A. Item 29, drug resistant TB, is level 2. In the Haematology and Immunology table, uncomplicated HIV AIDS is also 4A. Each disease on its own is therefore treated to completion by a primary care doctor, and it is their meeting that drops to 3A [2]. Level 3A means the non-emergency band: clinical diagnosis, initial treatment, the most appropriate referral, then follow-up once the patient returns [2]. What falls outside independent competency is not the tuberculosis treatment itself but the decisions that travel with it: when antiretroviral therapy starts, which drug has to be swapped because it interacts with rifampicin, and what to do when the bacteriology is negative while the clinical picture is not. The newer document agrees with that grade. The primary care clinical practice guideline carries a TB with HIV entry, and that entry was replaced outright by Ministerial Decree HK.01.07/MENKES/1936/2022; the replacement still grades it 3A [1]. Nothing needs resolving, and the grade is 3A in both documents.

Tuberkulosis dan HIV memperburuk satu sama lain. Tuberkulosis mempercepat perjalanan HIV karena pasien koinfeksi sering memiliki kadar virus yang tinggi; pada koinfeksi imunitas turun lebih cepat dan harapan hidup lebih pendek walaupun pengobatan tuberkulosisnya berhasil, dan pemberian terapi antiretroviral menurunkan angka kematiannya 1. Tuberkulosis pada pasien HIV ditemukan 29 sampai 37 kali lebih sering dibandingkan tuberkulosis tanpa HIV 3.

Angka itu mengubah cara kerja seorang dokter layanan primer di Indonesia. Setiap pasien tuberkulosis perlu mengetahui status HIV-nya, dan bila pasien belum bersedia diperiksa, penolakannya dicatat 3. Sebaliknya, setiap orang dengan HIV yang datang ke fasilitas kesehatan dan tidak sedang dalam pengobatan tuberkulosis ditapis untuk tuberkulosis pada kunjungan itu juga 1.

Yang paling sering menyesatkan adalah gejalanya. Batuk bukan gejala utama pada tuberkulosis dengan HIV 1. Yang penting justru demam dan penurunan berat badan, dengan batuk berapapun lamanya, dan tuberkulosis ekstra paru lebih sering dijumpai; adanya tuberkulosis ekstra paru pada pasien HIV menandakan penyakitnya sudah lanjut 3. Menunggu batuk dua minggu sebelum berpikir tuberkulosis akan melewatkan sebagian besar pasien ini.

Tingkat kompetensinya 3A, sedangkan tuberkulosis paru tanpa komplikasi dan HIV tanpa komplikasi masing-masing 4A 2. Perbedaan itu adalah isi halaman ini: yang dikerjakan di layanan primer, dan yang harus dikerjakan bersama fasilitas rujukan.

Siapa yang perlu diperiksa HIV pada pasien tuberkulosis:

  • Penurunan berat badan yang drastis 1.
  • Sariawan atau stomatitis berulang 1.
  • Sarkoma Kaposi 1.
  • Riwayat perilaku berisiko tinggi, termasuk penggunaan narkotika suntik dan pekerja seks 1.
  • Di daerah dengan prevalensi HIV tinggi, seluruh pasien tuberkulosis, sebagai bagian penatalaksanaan rutin 13.

Tuberculosis and HIV make each other worse. Tuberculosis speeds up the course of HIV because coinfected patients often carry a high viral load; in coinfection immunity falls faster and survival is shorter even when the tuberculosis treatment succeeds, and antiretroviral therapy lowers mortality 1. Tuberculosis is found 29 to 37 times more often in people with HIV than in people without it 3.

That figure changes how a primary care doctor works in Indonesia. Every tuberculosis patient needs to know their HIV status, and where a patient is not yet willing to be tested, the refusal is recorded 3. In the other direction, every person with HIV who attends a health facility and is not already on tuberculosis treatment is screened for tuberculosis at that visit 1.

The symptoms are what mislead most often. Cough is not the leading symptom of tuberculosis with HIV 1. What matters is fever and weight loss, with cough of any duration, and extrapulmonary tuberculosis is commoner; its presence in a patient with HIV signals that the disease is already advanced 3. Waiting for two weeks of cough before thinking of tuberculosis will miss most of these patients.

The competency grade is 3A, while uncomplicated pulmonary tuberculosis and uncomplicated HIV are each 4A 2. That difference is the content of this page: what is done in primary care, and what has to be done jointly with the referral facility.

Who among tuberculosis patients needs an HIV test:

  • Marked weight loss 1.
  • Recurrent oral ulceration or stomatitis 1.
  • Kaposi sarcoma 1.
  • A history of high risk behaviour, including injecting drug use and sex work 1.
  • In areas of high HIV prevalence, every tuberculosis patient, as part of routine management 13.

MengenaliRecognising it

Dua arah pencarian berjalan sekaligus, dan keduanya milik dokter layanan primer.

Menapis tuberkulosis pada orang dengan HIV. Setiap orang dengan HIV, lama maupun baru, yang berkunjung ke fasilitas kesehatan dan tidak sedang dalam pengobatan tuberkulosis, dikaji dengan lima tanda 1:

  • Batuk, berapapun lamanya.
  • Demam.
  • Berat badan yang turun tanpa sebab yang jelas.
  • Berkeringat tanpa aktivitas.
  • Tanda atau gejala di luar paru, misalnya pembesaran kelenjar getah bening di leher atau ketiak.

Two searches run at the same time, and both belong to the primary care doctor.

Screening for tuberculosis in people with HIV. Every person with HIV, newly diagnosed or long known, who attends a health facility and is not already on tuberculosis treatment is assessed against five signs 1:

  • Cough, of any duration.
  • Fever.
  • Weight loss with no clear cause.
  • Sweating without exertion.
  • Signs or symptoms outside the lung, such as enlarged nodes in the neck or axilla.
Memeriksa aksesChecking access

RujukanReferences

  1. 1.Kementerian Kesehatan RI. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama, entri TB dengan HIV sebagaimana diganti oleh Lampiran I Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/1936/2022, Huruf A Kelompok Umum angka 2, halaman lampiran -55- sampai -59-, dengan Tingkat Kemampuan 3A. Versi terdahulu entri yang sama ada pada Lampiran I Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/1186/2022, halaman lampiran -30- sampai -32-, dan dipakai di sini untuk menunjukkan apa yang berubah pada waktu memulai terapi antiretroviral. diskes.badungkab.go.id
  2. 2.Konsil Kedokteran Indonesia. Standar Kompetensi Dokter Indonesia 2012. Daftar Penyakit, tabel Sistem Respirasi, butir 27 Tuberkulosis paru tanpa komplikasi 4A, butir 28 Tuberkulosis dengan HIV 3A dan butir 29 Multi Drug Resistance TB tingkat 2, halaman 40; tabel Sistem Hematologi dan Imunologi butir 13 HIV AIDS tanpa komplikasi 4A, halaman 37; definisi tingkat 3A pada halaman 30 sampai 31; Daftar Keterampilan Klinis, tabel Sistem Respirasi, butir 15 pemeriksaan sputum Gram dan Ziehl Nielsen 4A dan butir 19 interpretasi foto toraks 4A, halaman 69. pd.fk.ub.ac.id
  3. 3.Kementerian Kesehatan RI. Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana Tuberkulosis. Lampiran Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/755/2019, Bab V Tuberkulosis dengan HIV/AIDS halaman -54- sampai -57-, termasuk standar 14 dan standar 15 International Standards for Tuberculosis Care, bagian diagnosis, bagian pengobatan dan interaksi obat, serta bagian pengobatan pencegahan tuberkulosis; rekomendasi mengenai diagnosis dan pengobatan TB dengan HIV halaman -122- sampai -123-. repository.kemkes.go.id
  4. 4.Kementerian Kesehatan RI. Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana HIV. Lampiran Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/90/2019, bagian saat memulai terapi antiretroviral pada orang dengan HIV yang menderita tuberkulosis, halaman -34- sampai -36-, dan bagian profilaksis kotrimoksazol, halaman -71- sampai -72-. keslan.kemkes.go.id
  5. 5.Kementerian Kesehatan RI. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 23 Tahun 2022 tentang Penanggulangan Human Immunodeficiency Virus, Acquired Immuno Deficiency Syndrome, dan Infeksi Menular Seksual. Dipakai untuk kerangka layanan penemuan kasus, kerahasiaan, dan rujukan ke layanan perawatan, dukungan dan pengobatan. peraturan.bpk.go.id
  6. 6.Tobin EH, Tristram D. Tuberculosis Overview. In: StatPearls. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing. Bacaan lanjutan, bukan sumber isi entri ini. Tidak ada bab StatPearls khusus koinfeksi tuberkulosis dan HIV. ncbi.nlm.nih.gov

SPARK Atlas adalah alat bantu rujukan untuk klinisi, bukan pengganti penilaian klinis. Verifikasi setiap keputusan terhadap kondisi pasien dan pedoman terkini.SPARK Atlas is a reference aid for clinicians, not a substitute for clinical judgement. Verify every decision against the patient in front of you and current guidance.