Torsi dan Ruptur Kista OvariumOvarian Cyst Torsion and Rupture

SKDI 2012 menempatkan keadaan ini pada tabel Sistem Reproduksi, subkelompok Tumor dan Keganasan pada Organ Genital, butir 86, dengan tingkat kemampuan 3B [3]. Dua hal pada butir itu perlu disebut apa adanya sebelum apa pun yang lain. Pertama, namanya. Butir 86 berbunyi torsi dan ruptur kista, tanpa kata ovarium. Yang menerangkan maksudnya adalah tetangganya: butir 85 pada baris tepat di atasnya adalah kista ovarium. Halaman ini karena itu dibaca sebagai torsi dan ruptur kista ovarium, dan perbedaan penulisan itu dinyatakan di sini alih-alih ditutup diam-diam. Kedua, tingkatnya berlawanan arah dengan tetangganya, dan justru inilah butir yang paling menerangkan halaman ini [3]: - Butir 85, kista ovarium, tingkat 2, yaitu pernah melihat atau didemonstrasikan. - Butir 86, torsi dan ruptur kista, tingkat 3B, yaitu menegakkan diagnosis, memberi terapi kegawatdaruratan, lalu merujuk. Jadi dokter layanan primer diminta berbuat lebih banyak terhadap komplikasinya daripada terhadap kistanya sendiri. Itu bukan kekeliruan penyusunan. Kista ovarium tanpa gejala adalah urusan ginekologi yang berjalan dalam hitungan minggu dan memang milik fasilitas rujukan; kista yang terpuntir atau pecah adalah kegawatan perut yang berjalan dalam hitungan jam dan tiba lebih dulu di layanan primer. Yang dituntut pada tingkat 3B di sini adalah mengenali perut akut dan memindahkan pasien, bukan mengurus kistanya. Daftar Keterampilan Klinis menerangkan batasnya, dan hasilnya tajam [3]: - Butir 8, pemeriksaan bimanual berupa palpasi vagina, serviks, korpus uteri, dan ovarium, tingkat 4A. - Butir 9, pemeriksaan rektal berupa palpasi kantung Douglas, uterus, dan adneksa, tingkat 3. - Butir 10, pemeriksaan combined recto-vaginal, tingkat 3. - Butir 46, tes kehamilan, tingkat 4A. - Butir 48, permintaan pemeriksaan USG obsgin, tingkat 4A. - Butir 49, pemeriksaan USG obsgin berupa skrining obstetri, tingkat 4A. - Butir 16, pemeriksaan kehamilan USG perabdominal, tingkat 3. - Butir 18, laparoskopi diagnostik, tingkat 2. - Butir 29, laparoskopi terapeutik, tingkat 2. Bacaan yang keluar dari deretan itu: - Meraba massanya bertingkat mandiri, dan tes kehamilan yang memisahkannya dari kehamilan ektopik terganggu juga bertingkat mandiri. Keduanya adalah inti pekerjaan di layanan primer. - Panduan Indonesia menyatakan diagnosis keadaan ini ditegakkan dengan ultrasonografi [2]. Yang bertingkat 4A adalah meminta pemeriksaan itu dan mengerjakan skrining obstetri; tidak ada butir keterampilan untuk pemeriksaan ultrasonografi ginekologi, dan pemeriksaan ultrasonografi kehamilan perabdominal pun hanya tingkat 3. Jadi pemeriksaan yang oleh panduan disebut menegakkan diagnosis bukan pemeriksaan yang dijamin dapat dikerjakan sendiri oleh lulusan dokter. - Jalan keluarnya, yaitu laparotomi atau laparoskopi, seluruhnya berada di fasilitas rujukan. Batas sumber yang perlu diketahui: - Tidak ada entri PPK FKTP untuk keadaan ini. Kata kista ovarium muncul pada panduan itu hanya sebagai satu butir diagnosis banding pada entri Kehamilan Normal, dan kata terpuntir tidak muncul sama sekali [1]. - Teks Indonesia yang memuatnya adalah bab Tumor Adneksa pada Buku Saku Pelayanan Kesehatan Ibu, dan bab itu berada di dalam bagian tentang kehamilan dengan penyulit medis non-obstetri [2]. Seluruh bingkainya karena itu adalah pasien hamil, sedangkan butir SKDI tidak dibatasi pada kehamilan. Kekosongan itu dinyatakan terbuka pada halaman ini. - Daftar diagnosis banding entri Apendisitis Akut memuat kehamilan ektopik terganggu dan salpingitis akut, tetapi tidak memuat kista ovarium terpuntir [1]. Padahal jalur apendisitis adalah jalur yang paling mungkin ditempuh dokter yang menghadapi nyeri fossa iliaka kanan pada perempuan muda.SKDI 2012 places this condition in the Sistem Reproduksi table, Tumor dan Keganasan pada Organ Genital subgroup, item 86, at competency level 3B [3]. Two things about that item deserve saying plainly before anything else. First, its name. Item 86 reads torsi dan ruptur kista, without the word ovarium. What explains it is its neighbour: item 85 on the line directly above is kista ovarium. This page therefore reads it as torsion and rupture of an ovarian cyst, and the difference in wording is stated here rather than quietly closed over. Second, its level runs opposite to its neighbour's, and this is the item that explains the page [3]: - Item 85, ovarian cyst, level 2, meaning seen or demonstrated. - Item 86, torsion and rupture of a cyst, level 3B, meaning make the diagnosis, give emergency treatment, then refer. So the primary care doctor is asked to do more about the complication than about the cyst itself. That is not a drafting slip. An asymptomatic ovarian cyst is a gynaecological matter that runs over weeks and does belong to the referral centre; a cyst that has twisted or burst is an abdominal emergency that runs over hours and arrives in primary care first. What 3B demands here is recognising an acute abdomen and moving the patient, not managing the cyst. The Clinical Skills list marks out the boundary, and the result is sharp [3]: - Item 8, bimanual examination of vagina, cervix, uterine body and ovaries, level 4A. - Item 9, rectal examination palpating the pouch of Douglas, uterus and adnexa, level 3. - Item 10, combined recto-vaginal examination, level 3. - Item 46, pregnancy test, level 4A. - Item 48, requesting an obstetric or gynaecological ultrasound, level 4A. - Item 49, performing an obstetric screening ultrasound, level 4A. - Item 16, transabdominal ultrasound in pregnancy, level 3. - Item 18, diagnostic laparoscopy, level 2. - Item 29, therapeutic laparoscopy, level 2. What comes out of that list: - Feeling the mass is graded for independent practice, and so is the pregnancy test that separates this from a ruptured ectopic. Those two are the core of the primary care job. - The Indonesian guideline states that the diagnosis of this condition is made with ultrasound [2]. What is graded 4A is requesting that scan and performing an obstetric screening scan; there is no skill item for a gynaecological diagnostic scan, and even transabdominal ultrasound in pregnancy is only level 3. So the examination the guideline names as diagnostic is not one a newly qualified doctor is guaranteed able to perform. - The way out, laparotomy or laparoscopy, lies wholly at the referral centre. Limits of the sources worth knowing: - There is no PPK FKTP entry for this condition. The phrase kista ovarium appears in that guideline only as one item in the differential list of the Kehamilan Normal entry, and the word terpuntir appears nowhere at all [1]. - The Indonesian text that carries it is the Tumor Adneksa chapter of the Buku Saku Pelayanan Kesehatan Ibu, and that chapter sits inside the section on pregnancy with non-obstetric medical complications [2]. Its whole frame is therefore the pregnant patient, while the SKDI item is not limited to pregnancy. That gap is stated openly on this page. - The differential list of the acute appendicitis entry names ruptured ectopic pregnancy and acute salpingitis, but not a torted ovarian cyst [1]. Yet the appendicitis route is the one a doctor facing right iliac fossa pain in a young woman is most likely to take.

Kista ovarium adalah tumor kistik pada ovarium, dan asal serta jenisnya bermacam-macam 2. Sebagian besar tidak menimbulkan keluhan dan ditemukan secara kebetulan. Halaman ini bukan tentang kista itu, melainkan tentang dua cara kista berubah menjadi kegawatan perut.

  • Torsi, yaitu kista berputar pada tangkainya sehingga pembuluh yang memberinya darah ikut terpuntir. Aliran darah terhenti, jaringan mulai mati, dan nyerinya datang mendadak dan hebat.
  • Ruptur, yaitu dinding kista pecah dan isinya tumpah ke rongga perut. Isi yang tumpah merangsang peritoneum, dan bila pembuluh dinding kista ikut robek, perdarahannya masuk ke dalam rongga perut.

Panduan Indonesia menyebut keduanya sebagai penyebab nyeri perut akut, terlebih pada kehamilan trimester pertama 2. Sifat mendadak itulah yang memisahkannya dari hampir seluruh masalah ginekologi lain, dan sifat itu pula yang membuat keadaan ini tiba di layanan primer, bukan di poliklinik kandungan.

Yang menentukan pada torsi adalah waktu. Selama pembuluhnya terpuntir, ovariumnya kehilangan darah, dan makin lama berlangsung makin kecil kemungkinan ovarium itu masih dapat diselamatkan ketika perutnya akhirnya dibuka. Karena itu keterlambatan pada keadaan ini tidak dibayar dengan hari rawat melainkan dengan hilangnya satu ovarium pada perempuan yang sering masih sangat muda.

Siapa yang berisiko:

  • Perempuan usia reproduksi dengan kista ovarium yang sudah diketahui.
  • Perempuan hamil, terlebih pada trimester pertama, yaitu keadaan yang secara khusus disebut panduan 2.
  • Perempuan dengan kista berukuran sedang sampai besar, karena kista yang lebih besar lebih mudah berputar.
  • Perempuan yang menjalani perangsangan ovarium, karena ovariumnya membesar.
  • Perempuan dengan riwayat torsi sebelumnya.

Satu hal perlu dinyatakan terus terang sejak awal. Halaman ini tidak dapat menyandarkan diri pada entri PPK, karena keadaan ini tidak memilikinya, dan teks Indonesia yang tersedia ditulis untuk pasien hamil 12. Pada pasien yang tidak hamil, yang tersisa adalah prinsip perut akut, dan prinsip itu mengarah ke tempat yang sama, yaitu rujukan bedah.

An ovarian cyst is a cystic tumour of the ovary, and its origin and type vary widely 2. Most cause no symptoms and are found by chance. This page is not about that cyst, but about the two ways a cyst turns into an abdominal emergency.

  • Torsion, where the cyst rotates on its pedicle and twists the vessels supplying it. Blood flow stops, tissue begins to die, and the pain arrives suddenly and severely.
  • Rupture, where the cyst wall bursts and its contents spill into the abdominal cavity. The spilt contents irritate the peritoneum, and where vessels in the cyst wall tear too, the bleeding goes into the abdomen.

The Indonesian guideline names both as causes of acute abdominal pain, above all in the first trimester of pregnancy 2. That suddenness is what separates this from almost every other gynaecological problem, and it is also what makes the condition arrive in primary care rather than in a gynaecology clinic.

What decides the outcome in torsion is time. While the vessels stay twisted the ovary is without blood, and the longer that lasts the smaller the chance the ovary can still be saved when the abdomen is finally opened. Delay here is therefore not paid for in hospital days but in the loss of an ovary in a woman who is often very young.

Who is at risk:

  • Women of reproductive age with a known ovarian cyst.
  • Pregnant women, above all in the first trimester, the situation the guideline names specifically 2.
  • Women with a medium to large cyst, since a larger cyst turns more easily.
  • Women undergoing ovarian stimulation, because the ovary is enlarged.
  • Women with a previous episode of torsion.

One thing deserves saying plainly at the outset. This page cannot lean on a PPK entry, because this condition has none, and the Indonesian text that exists was written for the pregnant patient 12. In a patient who is not pregnant, what remains are the principles of the acute abdomen, and those lead to the same place: a surgical referral.

MengenaliRecognising it

Yang membawa dokter ke diagnosis ini adalah nyeri perut yang datang mendadak pada perempuan usia reproduksi, ditambah massa yang teraba. Yang memastikannya bukan pemeriksaan layanan primer. Tugas di sini adalah mengenali perut akut, menyingkirkan kehamilan, dan memindahkan pasien.

Tanda yang dimuat bab tumor adneksa 2:

  • Nyeri perut.
  • Massa yang teraba pada pemeriksaan dalam.
  • Diagnosis ditegakkan dengan ultrasonografi.

What brings a doctor to this diagnosis is abdominal pain of sudden onset in a woman of reproductive age, together with a palpable mass. What confirms it is not a primary care investigation. The job here is to recognise an acute abdomen, exclude pregnancy, and move the patient.

The signs the adnexal tumour chapter carries 2:

  • Abdominal pain.
  • A mass felt on vaginal examination.
  • The diagnosis is established with ultrasound.
Memeriksa aksesChecking access

RujukanReferences

  1. 1.Kementerian Kesehatan RI. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama, lampiran Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/1186/2022, beserta perubahannya Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/1936/2022. Tidak ada entri untuk torsi maupun ruptur kista ovarium pada kedua dokumen. Dipakai di sini untuk Huruf C Digestive angka 14 Apendisitis Akut, yaitu daftar diagnosis bandingnya dan langkah sebelum rujukan pada dugaan perut akut berupa istirahat berbaring dengan posisi kepala lebih tinggi dan tidak memberikan apa pun melalui mulut, serta untuk Huruf N Kesehatan Wanita angka 1 Kehamilan Normal yang memuat kista ovarium pada daftar diagnosis bandingnya. manuver.tireg7.net
  2. 2.Kementerian Kesehatan RI, World Health Organization, Perhimpunan Obstetri dan Ginekologi Indonesia, Ikatan Bidan Indonesia. Buku Saku Pelayanan Kesehatan Ibu di Fasilitas Kesehatan Dasar dan Rujukan. Edisi I. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI; 2013. Bab 5.17 Tumor Adneksa (Kista Ovarium) halaman 212 sampai 213, termasuk bagian Kista ovarium dapat terpuntir, dan tabel Diagnosis Banding Penyulit Kehamilan dan Persalinan halaman 77. Bab ini berada di dalam bagian tentang kehamilan dengan penyulit medis non-obstetri, sehingga seluruh bingkainya adalah pasien hamil; bab ini tidak memuat tata laksana tersendiri untuk kista yang pecah. platform.who.int
  3. 3.Konsil Kedokteran Indonesia. Standar Kompetensi Dokter Indonesia 2012. Daftar Penyakit, tabel Sistem Reproduksi, subkelompok Tumor dan Keganasan pada Organ Genital, butir 86 Torsi dan ruptur kista, Tingkat Kemampuan 3B, dengan butir 85 Kista ovarium pada tingkat 2 tepat di atasnya; butir 80 Kehamilan ektopik pada tingkat 2. Daftar Keterampilan Klinis, kelompok Sistem Reproduksi: butir 8 Pemeriksaan bimanual (4A), butir 9 Pemeriksaan rektal (tingkat 3), butir 10 Pemeriksaan combined recto-vaginal (tingkat 3), butir 16 Pemeriksaan kehamilan USG perabdominal (tingkat 3), butir 18 Laparoskopi diagnostik (tingkat 2), butir 29 Laparoskopi terapeutik (tingkat 2), butir 46 Tes kehamilan (4A), butir 48 Permintaan pemeriksaan USG obsgin (4A), butir 49 Pemeriksaan USG obsgin skrining obstetri (4A). Tidak ada butir keterampilan untuk ultrasonografi ginekologi, detorsi, maupun kistektomi. pd.fk.ub.ac.id
  4. 4.Sasaki KJ, Miller CE. Adnexal Torsion. StatPearls. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing. Bacaan lanjutan, bukan sumber isi halaman ini. ncbi.nlm.nih.gov

SPARK Atlas adalah alat bantu rujukan untuk klinisi, bukan pengganti penilaian klinis. Verifikasi setiap keputusan terhadap kondisi pasien dan pedoman terkini.SPARK Atlas is a reference aid for clinicians, not a substitute for clinical judgement. Verify every decision against the patient in front of you and current guidance.