ToksoplasmosisToxoplasmosis

Nama Toksoplasmosis muncul tiga kali pada Daftar Penyakit SKDI 2012, dengan tiga tingkat yang tidak sama, dan pembaca perlu mengetahui ketiganya sebelum memakai halaman ini [3]: - Tabel Sistem Hematologi dan Imunologi, subkelompok Infeksi, butir 23 Toksoplasmosis, tingkat 3A, halaman 52. Butir inilah yang cakupannya sama dengan halaman ini, yaitu toksoplasmosis sebagai penyakit infeksi sistemik. - Tabel Sistem Reproduksi, subkelompok Infeksi, butir 2 Toksoplasmosis, tingkat 2, halaman 48. Butir itu berdiri di antara sifilis dan sindrom duh genital, sehingga yang dinilai adalah toksoplasmosis dalam konteks reproduksi dan kehamilan. - Tabel Sistem Saraf, subkelompok Infeksi, butir 11 Toksoplasmosis serebral, tingkat 2, halaman 33. Selisih itu tidak diterangkan oleh dokumennya, dan halaman ini tidak menebak alasannya. Yang dikerjakan adalah membawa 3A sebagai tingkat halaman, karena cakupan halaman ini sama dengan butir yang bertingkat 3A, sekaligus menuliskan kedua tingkat 2 itu pada bidang publik supaya tidak ada pembaca yang menyimpulkan kewenangan lebih luas daripada yang diberikan. Dua bentuk yang dinilai 2 adalah bentuk yang justru paling berat, yaitu bentuk serebral pada pasien imunokompromais dan bentuk yang mengenai kehamilan, dan keduanya memang dikenali lalu dirujuk, bukan ditangani sampai tuntas. PPK FKTP tidak memuat entri penyakit untuk toksoplasmosis. Nama itu muncul dua kali di sana: sebagai butir 9 pada daftar stadium 4 di entri HIV/AIDS, yaitu toksoplasmosis di sistem saraf pusat [2], dan sebagai salah satu pemeriksaan darah prakonsepsi bila terdapat faktor risiko [4]. Uraian klinis yang benar-benar ada pada dokumen nasional berada di PNPK Tata Laksana HIV, pada bagian ensefalitis toksoplasma [1].The name toxoplasmosis appears three times in the SKDI 2012 disease list, at three different levels, and the reader needs all three before using this page [3]: - Haematology and immunology table, infection subgroup, item 23 Toksoplasmosis, level 3A, page 52. This is the item whose scope matches this page, toxoplasmosis as a systemic infection. - Reproductive system table, infection subgroup, item 2 Toksoplasmosis, level 2, page 48. It stands between syphilis and genital discharge syndrome, so what is being graded is toxoplasmosis in the reproductive and pregnancy context. - Nervous system table, infection subgroup, item 11 Toksoplasmosis serebral, level 2, page 33. The document does not explain the difference and this page does not guess at it. What is done is to carry 3A as the page level, because this page's scope matches the item graded 3A, while writing both level 2 gradings into the public half so that no reader infers wider authority than was granted. The two forms graded 2 are the severe ones, the cerebral form in an immunocompromised patient and the form affecting pregnancy, and both are indeed recognised and referred rather than treated to completion. The PPK FKTP has no disease entry for toxoplasmosis. The name appears there twice: as item 9 in the stage 4 list of the HIV/AIDS entry, central nervous system toxoplasmosis [2], and as one of the preconception blood tests where risk factors are present [4]. The clinical description that does exist in a national document sits in the national HIV guideline, in its section on toxoplasma encephalitis [1].

Toksoplasmosis adalah infeksi oleh parasit Toxoplasma gondii. Pada orang dengan kekebalan yang utuh infeksi ini hampir selalu berlalu tanpa diketahui, lalu menetap seumur hidup sebagai kista jaringan yang diam. Masalahnya muncul ketika kekebalan itu runtuh, karena parasit yang diam tadi aktif kembali.

Di Indonesia hal itu penting karena dua angka bertemu. Seroprevalens toksoplasma di sini sangat tinggi dan pernah dilaporkan sebesar 80 persen pada populasi orang Indonesia sehat 1. Artinya sebagian besar orang dewasa membawa parasit ini, dan pada pasien HIV dengan kekebalan yang jatuh, sebagian besar toksoplasmosis memang terjadi karena reaktivasi infeksi kronik dan bermanifestasi sebagai ensefalitis toksoplasma 1.

Ensefalitis toksoplasma adalah etiologi infeksi intrakranial tersering yang muncul sebagai lesi desak ruang di otak pada pasien HIV, dan di Indonesia ia termasuk tiga infeksi oportunistik susunan saraf pusat yang paling sering bersama meningitis TB dan meningitis kriptokokus 1. Penyakit ini juga sering menjadi pintu masuk diagnosis HIV, sehingga tes HIV direkomendasikan pada setiap pasien dengan gambaran klinis dan pencitraan otak yang mencurigakan ke arah infeksi toksoplasma 1.

Tingkat kemampuannya perlu dibaca sampai habis. SKDI 2012 menilai toksoplasmosis 3A pada tabel Sistem Hematologi dan Imunologi, tetapi menilai toksoplasmosis serebral 2 pada tabel Sistem Saraf dan toksoplasmosis pada tabel Sistem Reproduksi juga 2 3. Jadi kewenangan mandiri berhenti lebih awal justru pada dua bentuk yang paling berat: bentuk otak dan bentuk yang menyangkut kehamilan dikenali lalu dirujuk.

Batas halaman ini. Toksoplasmosis pada kehamilan beserta bentuk kongenitalnya dibahas pada entri Infeksi TORCH pada Kehamilan di SPARK dan tidak diulang di sini. Halaman ini memuat toksoplasmosis di luar kehamilan, yaitu bentuk pada orang dengan kekebalan utuh, bentuk pada pasien imunokompromais, dan bentuk pada mata.

Yang menaikkan risiko dan perlu ditanyakan 1:

  • Memakan daging mentah atau setengah matang.
  • Kontak dengan daging mentah atau dengan tanah tanpa mencuci tangan sesudahnya.
  • Buah dan sayur yang tidak dicuci sebelum dimakan.
  • Kucing peliharaan yang tidak dijaga kebersihannya, karena kucing dapat menjadi hewan pejamu yang menularkan toksoplasma.
  • Keadaan yang menurunkan kekebalan, terutama HIV dengan hitung CD4 yang rendah, keganasan, transplantasi, dan pemakaian obat imunosupresif.

Toxoplasmosis is infection with the parasite Toxoplasma gondii. In a person with intact immunity the infection almost always passes unnoticed and then stays for life as quiet tissue cysts. The problem appears when that immunity collapses, because the quiet parasite reactivates.

In Indonesia this matters because two figures meet. Toxoplasma seroprevalence here is very high and has been reported at 80 percent in a healthy Indonesian population 1. Most adults therefore carry the parasite, and in HIV patients whose immunity has fallen, most toxoplasmosis is reactivation of chronic infection presenting as toxoplasma encephalitis 1.

Toxoplasma encephalitis is the commonest intracranial infection presenting as a space-occupying brain lesion in HIV patients, and in Indonesia it is one of the three commonest central nervous system opportunistic infections alongside tuberculous meningitis and cryptococcal meningitis 1. It is also often the way an HIV diagnosis is first made, so HIV testing is recommended in every patient whose clinical picture and brain imaging point toward toxoplasma infection 1.

The competency level has to be read to the end. SKDI 2012 grades toxoplasmosis 3A in the haematology and immunology table, but grades cerebral toxoplasmosis 2 in the nervous system table and toxoplasmosis in the reproductive system table 2 as well 3. Independent authority therefore stops earlier on exactly the two severe forms: the brain form and the pregnancy form are recognised and referred.

The boundary of this page. Toxoplasmosis in pregnancy and its congenital form are covered by the SPARK entry on TORCH infection in pregnancy and are not repeated here. This page carries toxoplasmosis outside pregnancy: the form in an immunocompetent person, the form in an immunocompromised patient, and the form affecting the eye.

What raises the risk and needs asking about 1:

  • Eating raw or undercooked meat.
  • Handling raw meat or soil without washing the hands afterwards.
  • Fruit and vegetables not washed before eating.
  • A pet cat kept without attention to hygiene, since cats can act as the host animal that transmits toxoplasma.
  • States that lower immunity, above all HIV with a low CD4 count, malignancy, transplantation, and immunosuppressive drugs.

MengenaliRecognising it

Toksoplasmosis tidak punya satu gambaran klinis. Yang menentukan tampilannya adalah keadaan kekebalan pasien, sehingga halaman ini membaginya menurut pejamunya.

Pada orang dengan kekebalan utuh. Sebagian besar infeksi berjalan tanpa gejala, dan bila bergejala keluhannya tidak khas berupa demam ringan, lemas, nyeri otot, dan pembesaran kelenjar getah bening terutama di leher yang tidak nyeri. Keadaan ini sembuh sendiri. Gambaran itu tidak diuraikan pada dokumen nasional mana pun yang dapat dijangkau untuk halaman ini, dan disebutkan di sini sebagai pengetahuan klinis; SPARK memuat entri Limfadenopati tersendiri untuk pendekatan kelenjar yang membesar.

Toxoplasmosis has no single clinical picture. What decides its appearance is the state of the patient's immunity, so this page divides it by host.

In a person with intact immunity. Most infections run without symptoms, and where symptoms occur they are non-specific: mild fever, tiredness, muscle aches, and painless enlargement of lymph nodes, particularly in the neck. This settles on its own. That picture is not described in any national document reachable for this page and is stated here as clinical knowledge; SPARK carries lymphadenopathy as its own entry for the approach to enlarged nodes.

Memeriksa aksesChecking access

RujukanReferences

  1. 1.Kementerian Kesehatan RI. Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana HIV, Lampiran KMK HK.01.07/MENKES/90/2019, angka 3 Neuro-AIDS huruf b Ensefalitis toksoplasma beserta kotak Rekomendasi. keslan.kemkes.go.id
  2. 2.Kementerian Kesehatan RI. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama, Huruf B angka 2 HIV/AIDS Tanpa Komplikasi sebagaimana diganti oleh KMK HK.01.07/MENKES/1936/2022; daftar penyakit stadium 4 butir 9 toksoplasmosis di sistem saraf pusat. diskes.badungkab.go.id
  3. 3.Konsil Kedokteran Indonesia. Standar Kompetensi Dokter Indonesia 2012, Lampiran Daftar Penyakit: tabel Sistem Hematologi dan Imunologi butir 23 Toksoplasmosis 3A halaman 52, tabel Sistem Reproduksi butir 2 Toksoplasmosis 2 halaman 48, tabel Sistem Saraf butir 11 Toksoplasmosis serebral 2 halaman 33. pd.fk.ub.ac.id
  4. 4.Kementerian Kesehatan RI. Panduan Keterampilan Klinis bagi Dokter, Lampiran II KMK HK.01.07/MENKES/1186/2022, pemeriksaan prakonsepsi, yang menempatkan pemeriksaan darah toksoplasmosis pada ibu dengan faktor risiko. manuver.tireg7.net
  5. 5.Madireddy S, Mangat R. Toxoplasmosis. In: StatPearls. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing. Bacaan lanjutan, bukan sumber isi entri ini. ncbi.nlm.nih.gov

SPARK Atlas adalah alat bantu rujukan untuk klinisi, bukan pengganti penilaian klinis. Verifikasi setiap keputusan terhadap kondisi pasien dan pedoman terkini.SPARK Atlas is a reference aid for clinicians, not a substitute for clinical judgement. Verify every decision against the patient in front of you and current guidance.