Tinea ManusTinea Manuum
SKDI 2012 menempatkan Tinea manus sebagai butir nomor 22 pada tabel Kulit, subkelompok Infeksi Jamur, dengan tingkat 4A dan tanpa kata pembatas apa pun. SKDI memisahkan tinea manus (butir 22) dari tinea pedis (butir 25), sedangkan daftar klasifikasi PPK FKTP menyatukan tangan dan kaki dalam satu butir; walaupun begitu, daftar diagnosis banding PPK justru memisahkan keduanya lagi. Delapan butir tinea pada subkelompok itu semuanya 4A, dan PPK FKTP menjawab kedelapannya dengan satu entri dermatofitosis yang juga bertingkat 4A. Batas praktisnya datang dari PPK, bukan dari SKDI: rujuk bila tidak sembuh dalam 10 sampai 14 hari sesudah terapi, bila ada imunodefisiensi, atau bila ada penyakit penyerta dengan pengobatan banyak obat.SKDI 2012 places Tinea manus as item 22 in the Kulit table, Infeksi Jamur subgroup, at level 4A with no qualifying wording. SKDI separates tinea manus (item 22) from tinea pedis (item 25), while the PPK FKTP classification list joins hand and foot into one item; its differential list, however, splits them apart again. All eight tinea items in that subgroup are 4A, and PPK FKTP answers all eight with a single dermatophytosis entry that is also graded 4A. The practical limit comes from PPK rather than SKDI: refer if the disease has not cleared 10 to 14 days after therapy, if there is immunodeficiency, or if a comorbidity is being treated with multiple drugs.
Tinea manus adalah dermatofitosis pada tangan 1. PPK FKTP menuliskannya bersama kaki dalam satu butir klasifikasi, tinea pedis et manum, sehingga tangan tidak diberi definisi lokasi yang berdiri sendiri; namun daftar diagnosis banding pada entri yang sama memberi Tinea Manum baris tersendiri, dengan dua diagnosis banding yang berbeda dari milik tinea pedis 1. Di situlah tangan mendapat pemikirannya sendiri.
Penyebabnya jamur dermatofita, yang mencerna keratin pada jaringan bertanduk seperti stratum korneum, rambut, dan kuku 1. Penularannya lewat kontak langsung dengan sumbernya, dan sumber itu bisa manusia (jamur antropofilik), binatang (zoofilik), atau tanah (geofilik) 1. Keluhan yang membawa pasien datang sama seperti dermatofitosis lain, yaitu bercak merah bersisik yang gatal 1.
Faktor risiko 1:
- Lingkungan lembap dan panas.
- Imunodefisiensi.
- Obesitas.
- Diabetes melitus.
Tingkat kemampuan dokter layanan primer 4A, yang berarti diagnosis dan penatalaksanaannya dituntaskan di layanan primer 2.
Tinea manuum is dermatophytosis of the hand 1. PPK FKTP writes it together with the foot in a single classification item, tinea pedis et manum, so the hand is given no site definition of its own; yet the differential diagnosis list in the same entry gives Tinea Manum a line of its own, with two differentials that are not the ones offered for tinea pedis 1. That is where the hand gets its own thinking.
The cause is a dermatophyte fungus, which digests keratin in keratinised tissue such as the stratum corneum, hair, and nail 1. It spreads by direct contact with its source, and that source may be a person (anthropophilic fungi), an animal (zoophilic), or soil (geophilic) 1. The complaint that brings the patient in is the same as in other dermatophytoses, an itchy red scaly patch 1.
Risk factors 1:
- A humid and hot environment.
- Immunodeficiency.
- Obesity.
- Diabetes mellitus.
Primary care competency is 4A, meaning diagnosis and management are completed in primary care 2.
MengenaliRecognising it
Anamnesis 1:
- Bercak merah bersisik yang gatal di tangan.
- Riwayat kontak dengan orang yang sedang mengalami dermatofitosis.
- Telusuri faktor risikonya: lingkungan lembap dan panas, imunodefisiensi, obesitas, dan diabetes melitus.
- Panduan menambahkan keterangan pekerjaan hanya untuk tinea pedis, yaitu pemakaian sepatu tertutup dengan perawatan kaki yang buruk dan pekerjaan yang membuat kaki selalu atau sering basah. Keterangan itu tidak diperluas ke tangan, meskipun tangan dan kaki disatukan pada butir klasifikasinya.
History 1:
- An itchy red scaly patch on the hand.
- Contact with someone who has dermatophytosis.
- Ask after the risk factors: a humid and hot environment, immunodeficiency, obesity, and diabetes mellitus.
- The guideline adds occupational detail for tinea pedis only: closed shoes with poor foot care, and work that keeps the feet always or often wet. That detail is not extended to the hand, even though hand and foot share a classification item.
RujukanReferences
- 1.Kementerian Kesehatan RI. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama. Lampiran KMK HK.01.07/MENKES/1186/2022, Lampiran I Bab II Huruf K Kulit angka 10 Dermatofitosis. manuver.tireg7.net
- 2.Konsil Kedokteran Indonesia. Standar Kompetensi Dokter Indonesia 2012. Peraturan Konsil Kedokteran Indonesia Nomor 11 Tahun 2012, Lampiran Daftar Penyakit, Sistem Integumen, tabel Kulit, subkelompok Infeksi Jamur, butir nomor 22 Tinea manus. pd.fk.ub.ac.id
- 3.World Health Organization. ICD-11 for Mortality and Morbidity Statistics, versi 2025-01. Kode 1F28.Y dipakai dengan lisensi CC BY-ND 3.0 IGO. icd.who.int
- 4.Chamorro MJ, Syed HA, House SA. Tinea Manuum. StatPearls. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2024. Bacaan lanjutan, bukan sumber isi entri ini. ncbi.nlm.nih.gov