Tinea KapitisTinea Capitis

SKDI 2012 menempatkan Tinea kapitis sebagai butir nomor 18 pada tabel Kulit, subkelompok Infeksi Jamur, dengan tingkat 4A dan tanpa kata pembatas apa pun. Delapan butir tinea pada subkelompok itu semuanya 4A, dan PPK FKTP menjawab kedelapannya dengan satu entri dermatofitosis yang juga bertingkat 4A. Batas praktisnya datang dari PPK, bukan dari SKDI: rujuk bila tidak sembuh dalam 10 sampai 14 hari sesudah terapi, bila ada imunodefisiensi, atau bila ada penyakit penyerta dengan pengobatan banyak obat.SKDI 2012 places Tinea kapitis as item 18 in the Kulit table, Infeksi Jamur subgroup, at level 4A with no qualifying wording. All eight tinea items in that subgroup are 4A, and PPK FKTP answers all eight with a single dermatophytosis entry that is also graded 4A. The practical limit comes from PPK rather than SKDI: refer if the disease has not cleared 10 to 14 days after therapy, if there is immunodeficiency, or if a comorbidity is being treated with multiple drugs.

Tinea kapitis adalah dermatofitosis pada kulit kepala dan rambut kepala 1. Panduan memasukkan rambut ke dalam definisinya, bukan kulitnya saja, dan itu yang memisahkannya dari tinea korporis yang bisa muncul di dahi atau leher 1. Penyebabnya jamur dermatofita, yang mencerna keratin pada jaringan bertanduk seperti stratum korneum, rambut, dan kuku, sehingga rambut adalah tempat hidup yang wajar baginya 1. Penularannya lewat kontak langsung dengan sumbernya, dan sumber itu bisa manusia (jamur antropofilik), binatang (zoofilik), atau tanah (geofilik) 1. Keluhan yang membawa pasien datang sama seperti dermatofitosis lain, yaitu bercak merah bersisik yang gatal 1.

Faktor risiko 1:

  • Lingkungan lembap dan panas.
  • Imunodefisiensi.
  • Obesitas.
  • Diabetes melitus.

Tingkat kemampuan dokter layanan primer 4A, yang berarti diagnosis dan penatalaksanaannya dituntaskan di layanan primer 2. Di luar definisi lokasinya, PPK FKTP tidak memberi tinea kapitis uraian klinis tersendiri, jadi entri ini menandai apa yang tidak diatur panduan sejelas apa yang diatur.

Tinea capitis is dermatophytosis of the scalp skin and the scalp hair 1. The guideline puts hair inside the definition rather than skin alone, and that is what separates it from a tinea corporis that happens to sit on the forehead or the neck 1. The cause is a dermatophyte fungus, which digests keratin in keratinised tissue such as the stratum corneum, hair, and nail, so hair is a natural habitat for it 1. It spreads by direct contact with its source, and that source may be a person (anthropophilic fungi), an animal (zoophilic), or soil (geophilic) 1. The complaint that brings the patient in is the same as in other dermatophytoses, an itchy red scaly patch 1.

Risk factors 1:

  • A humid and hot environment.
  • Immunodeficiency.
  • Obesity.
  • Diabetes mellitus.

Primary care competency is 4A, meaning diagnosis and management are completed in primary care 2. Beyond defining its site, PPK FKTP gives tinea capitis no clinical description of its own, so this entry marks what the guideline does not cover as clearly as what it does.

MengenaliRecognising it

Anamnesis 1:

  • Bercak merah bersisik yang gatal. Keluhan ini sama untuk sebagian besar infeksi dermatofita, jadi lokasinya yang membedakan.
  • Riwayat kontak dengan orang yang sedang mengalami dermatofitosis.
  • Telusuri faktor risikonya: lingkungan lembap dan panas, imunodefisiensi, obesitas, dan diabetes melitus.

Pemeriksaan fisik. Panduan memberi satu gambaran umum untuk seluruh dermatofitosis, dan gambaran itu pula yang berlaku di kulit kepala 1:

History 1:

  • An itchy red scaly patch. This complaint is the same across most dermatophyte infections, so the site is what tells them apart.
  • Contact with someone who has dermatophytosis.
  • Ask after the risk factors: a humid and hot environment, immunodeficiency, obesity, and diabetes mellitus.

Examination. The guideline gives one general description for all dermatophytoses, and that description is what applies on the scalp 1:

Memeriksa aksesChecking access

RujukanReferences

  1. 1.Kementerian Kesehatan RI. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama. Lampiran KMK HK.01.07/MENKES/1186/2022, Lampiran I Bab II Huruf K Kulit angka 10 Dermatofitosis. manuver.tireg7.net
  2. 2.Konsil Kedokteran Indonesia. Standar Kompetensi Dokter Indonesia 2012. Peraturan Konsil Kedokteran Indonesia Nomor 11 Tahun 2012, Lampiran Daftar Penyakit, Sistem Integumen, tabel Kulit, subkelompok Infeksi Jamur, butir nomor 18 Tinea kapitis. pd.fk.ub.ac.id
  3. 3.Kementerian Kesehatan RI. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama. Lampiran KMK HK.01.07/MENKES/1186/2022, Lampiran I Bab II Huruf K Kulit angka 8 Pedikulosis Kapitis, daftar diagnosis banding. manuver.tireg7.net
  4. 4.World Health Organization. ICD-11 for Mortality and Morbidity Statistics, versi 2025-01. Kode 1F28.0 dipakai dengan lisensi CC BY-ND 3.0 IGO. icd.who.int
  5. 5.Al Aboud AM, Crane JS. Tinea Capitis. StatPearls. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2023. Bacaan lanjutan, bukan sumber isi entri ini. ncbi.nlm.nih.gov

SPARK Atlas adalah alat bantu rujukan untuk klinisi, bukan pengganti penilaian klinis. Verifikasi setiap keputusan terhadap kondisi pasien dan pedoman terkini.SPARK Atlas is a reference aid for clinicians, not a substitute for clinical judgement. Verify every decision against the patient in front of you and current guidance.