Tinea BarbaeTinea Barbae

SKDI 2012 menempatkan Tinea barbe sebagai butir nomor 19 pada tabel Kulit, subkelompok Infeksi Jamur, dengan tingkat 4A dan tanpa kata pembatas apa pun. Ejaan butir SKDI adalah tinea barbe, sedangkan PPK FKTP menulis tinea barbae; keduanya penyakit yang sama. Delapan butir tinea pada subkelompok itu semuanya 4A, dan PPK FKTP menjawab kedelapannya dengan satu entri dermatofitosis yang juga bertingkat 4A. Batas praktisnya datang dari PPK, bukan dari SKDI: rujuk bila tidak sembuh dalam 10 sampai 14 hari sesudah terapi, bila ada imunodefisiensi, atau bila ada penyakit penyerta dengan pengobatan banyak obat.SKDI 2012 places Tinea barbe as item 19 in the Kulit table, Infeksi Jamur subgroup, at level 4A with no qualifying wording. SKDI spells the item tinea barbe while PPK FKTP writes tinea barbae; both name the same disease. All eight tinea items in that subgroup are 4A, and PPK FKTP answers all eight with a single dermatophytosis entry that is also graded 4A. The practical limit comes from PPK rather than SKDI: refer if the disease has not cleared 10 to 14 days after therapy, if there is immunodeficiency, or if a comorbidity is being treated with multiple drugs.

Tinea barbae adalah dermatofitosis pada dagu dan jenggot 1. Bersama tinea kapitis, ini satu dari dua bentuk yang oleh panduan didefinisikan pada daerah berambut terminal, dan itu yang memisahkannya dari tinea fasialis di wajah yang sama 1. Penyebabnya jamur dermatofita, yang mencerna keratin pada jaringan bertanduk seperti stratum korneum, rambut, dan kuku 1. Penularannya lewat kontak langsung dengan sumbernya, dan sumber itu bisa manusia (jamur antropofilik), binatang (zoofilik), atau tanah (geofilik) 1. Keluhan yang membawa pasien datang sama seperti dermatofitosis lain, yaitu bercak merah bersisik yang gatal 1.

Faktor risiko 1:

  • Lingkungan lembap dan panas.
  • Imunodefisiensi.
  • Obesitas.
  • Diabetes melitus.

Tingkat kemampuan dokter layanan primer 4A, yang berarti diagnosis dan penatalaksanaannya dituntaskan di layanan primer 2. Di luar definisi lokasinya, PPK FKTP tidak memberi tinea barbae uraian klinis tersendiri, dan entri ini menandai kekosongan itu di tempatnya masing-masing.

Tinea barbae is dermatophytosis of the chin and the beard 1. With tinea capitis it is one of the two forms the guideline defines on terminal-haired skin, and that is what separates it from tinea facialis on the same face 1. The cause is a dermatophyte fungus, which digests keratin in keratinised tissue such as the stratum corneum, hair, and nail 1. It spreads by direct contact with its source, and that source may be a person (anthropophilic fungi), an animal (zoophilic), or soil (geophilic) 1. The complaint that brings the patient in is the same as in other dermatophytoses, an itchy red scaly patch 1.

Risk factors 1:

  • A humid and hot environment.
  • Immunodeficiency.
  • Obesity.
  • Diabetes mellitus.

Primary care competency is 4A, meaning diagnosis and management are completed in primary care 2. Beyond defining its site, PPK FKTP gives tinea barbae no clinical description of its own, and this entry marks that absence where it falls.

MengenaliRecognising it

Anamnesis 1:

  • Bercak merah bersisik yang gatal di dagu atau daerah berjenggot.
  • Riwayat kontak dengan orang yang sedang mengalami dermatofitosis.
  • Telusuri faktor risikonya: lingkungan lembap dan panas, imunodefisiensi, obesitas, dan diabetes melitus.

Pemeriksaan fisik. Panduan memberi satu gambaran umum untuk seluruh dermatofitosis, dan gambaran itu pula yang berlaku di daerah berjenggot 1:

  • Lesi berupa infiltrat eritematosa dengan batas tegas.
  • Bagian tepi lesi lebih aktif daripada bagian tengahnya.
  • Konfigurasi lesinya polisiklik.
  • Lesi dermatofitosis secara umum ditemukan pada kulit berambut terminal, kulit berambut velus atau glabrosa, dan kuku. Dagu dan jenggot masuk kelompok pertama.

History 1:

  • An itchy red scaly patch on the chin or in the beard area.
  • Contact with someone who has dermatophytosis.
  • Ask after the risk factors: a humid and hot environment, immunodeficiency, obesity, and diabetes mellitus.

Examination. The guideline gives one general description for all dermatophytoses, and that description is what applies in the beard area 1:

  • The lesion is an erythematous infiltrate with a sharp border.
  • The edge of the lesion is more active than its centre.
  • The configuration is polycyclic.
  • Dermatophyte lesions in general are found on terminal-haired skin, on vellus or glabrous skin, and on nails. The chin and beard belong to the first group.
Memeriksa aksesChecking access

RujukanReferences

  1. 1.Kementerian Kesehatan RI. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama. Lampiran KMK HK.01.07/MENKES/1186/2022, Lampiran I Bab II Huruf K Kulit angka 10 Dermatofitosis. manuver.tireg7.net
  2. 2.Konsil Kedokteran Indonesia. Standar Kompetensi Dokter Indonesia 2012. Peraturan Konsil Kedokteran Indonesia Nomor 11 Tahun 2012, Lampiran Daftar Penyakit, Sistem Integumen, tabel Kulit, subkelompok Infeksi Jamur, butir nomor 19 Tinea barbe. pd.fk.ub.ac.id
  3. 3.World Health Organization. ICD-11 for Mortality and Morbidity Statistics, versi 2025-01. Kode 1F28.Y dipakai dengan lisensi CC BY-ND 3.0 IGO. icd.who.int
  4. 4.Kuruvella T, Saleh HM, Pandey S. Tinea Barbae. StatPearls. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2024. Bacaan lanjutan, bukan sumber isi entri ini. ncbi.nlm.nih.gov

SPARK Atlas adalah alat bantu rujukan untuk klinisi, bukan pengganti penilaian klinis. Verifikasi setiap keputusan terhadap kondisi pasien dan pedoman terkini.SPARK Atlas is a reference aid for clinicians, not a substitute for clinical judgement. Verify every decision against the patient in front of you and current guidance.