TetanusTetanus

SKDI 2012 memberi tetanus tingkat 4A tanpa kata pembatas, dan pada daftar yang sama tetanus neonatorum berdiri sebagai butir tersendiri dengan tingkat 3B [2]. Jadi bentuk neonatal bukan bagian dari kewenangan mandiri yang diberikan di sini, walaupun PPK FKTP menjelaskannya sebagai salah satu dari empat manifestasi klinis pada entri yang sama [1]. Angka 4A pada entri ini perlu dibaca bersama isi entrinya. Tatalaksana yang diminta mencakup ruang isolasi, oksigen, pernapasan buatan dan trakeostomi bila perlu, penisilin parenteral tiap 6 jam, antitoksin dengan infus intravena lambat, serta antikonvulsan yang pada kasus sangat berat dinaikkan sampai memerlukan ventilasi mekanik [1]. Pekerjaan layanan primer karena itu adalah mengenali penyakitnya, merawat lukanya, memberi antitoksin, antibiotik, dan antikonvulsan pertama, lalu memindahkan pasien; bukan menuntaskan perawatannya.SKDI 2012 grades tetanus at 4A with no qualifier attached, and on the same list neonatal tetanus stands as its own item at 3B [2]. The neonatal form is therefore not part of the independent authority granted here, even though the PPK FKTP describes it as one of four clinical manifestations inside the same entry [1]. The 4A has to be read together with the content of the entry. The management asked for includes an isolation room, oxygen, assisted ventilation and tracheostomy where needed, parenteral penicillin every 6 hours, antitoxin by slow intravenous infusion, and an anticonvulsant that in very severe disease is pushed to the point of needing mechanical ventilation [1]. Primary care work is therefore recognising the disease, managing the wound, giving the first antitoxin, antibiotic and anticonvulsant, and then moving the patient; it is not finishing the treatment.

Tetanus adalah penyakit sistem saraf yang disebabkan oleh tetanospasmin, neurotoksin yang dihasilkan Clostridium tetani, dan gambarannya adalah spasme tonik yang menetap dengan serangan yang jelas dan keras 1. Toksin menghambat neurotransmiter GABA dan glisin, sehingga hambatan terhadap aktivitas refleks otot hilang 1. Spasme hampir selalu mengenai otot leher dan rahang sehingga rahang menutup, lalu melibatkan otot anggota gerak dan batang tubuh 1.

Manifestasinya ada empat, yaitu tetanus lokal, sefalik, umum atau generalisata, dan neonatorum 1. Kesadaran pasien tetap baik sepanjang serangan, sehingga penyakit ini dialami secara penuh oleh yang mengalaminya 1.

SKDI memberi tingkat 4A untuk tetanus, sedangkan tetanus neonatorum dinilai 3B pada daftar yang sama 2. Di Amerika Serikat sekitar 15 persen kasus tetanus terjadi pada penyalahguna obat suntik 1.

Pedoman tidak memuat daftar faktor risiko pada entri ini, dan yang menggantikannya adalah dua hal yang justru menegakkan diagnosis 1:

  • Luka yang menjadi jalan masuk kuman, dengan sifat luka yang menentukan seberapa rentan luka itu terhadap tetanus.
  • Riwayat imunisasi tetanus, termasuk kapan penguat terakhir diberikan.

Tetanus is a disease of the nervous system caused by tetanospasmin, the neurotoxin produced by Clostridium tetani, and its picture is persistent tonic spasm with marked and violent attacks 1. The toxin blocks the neurotransmitters GABA and glycine, so the brake on reflex muscle activity is lost 1. Spasm almost always involves the neck and jaw muscles so that the jaw closes, and then the limb and trunk muscles 1.

There are four manifestations: local, cephalic, generalised, and neonatal tetanus 1. Consciousness stays intact throughout the attacks, so the illness is experienced in full by the person having it 1.

SKDI grades tetanus at 4A, while neonatal tetanus is graded 3B on the same list 2. In the United States about 15 percent of tetanus cases occur in people who inject drugs 1.

The guideline carries no risk factor list on this entry, and what stands in its place are the two things that make the diagnosis 1:

  • The wound that let the organism in, whose character decides how tetanus prone it is.
  • The tetanus immunisation history, including when the last booster was given.

MengenaliRecognising it

Anamnesis. Manifestasi klinisnya berkisar dari kekakuan otot setempat dan trismus sampai kejang yang hebat 1. Empat bentuknya 1:

  • Tetanus lokal: kekakuan dan spasme yang menetap disertai rasa sakit pada otot di sekitar atau proksimal luka.
    • Dapat berkembang menjadi tetanus umum.
  • Tetanus sefalik: bentuk lokal yang mengenai wajah, dengan masa inkubasi 1 sampai 2 hari, akibat luka daerah kepala atau otitis media kronis.
    • Gejalanya trismus, disfagia, risus sardonikus, dan disfungsi saraf kranial.
    • Jarang terjadi, dapat berkembang menjadi tetanus umum, dan prognosisnya biasanya jelek.
  • Tetanus umum atau generalisata: trismus, iritabel, kekakuan leher, susah menelan, kekakuan dada dan perut sebagai opistotonus, rasa sakit dan kecemasan yang hebat, serta kejang umum.
    • Kejangnya dapat dipicu rangsangan ringan berupa sinar, suara, dan sentuhan, dengan kesadaran yang tetap baik.
  • Tetanus neonatorum: terjadi pada bayi baru lahir akibat infeksi tali pusat.
    • Gejala awalnya ketidakmampuan menetek, kelemahan, dan iritabel, diikuti kekakuan dan spasme.
    • Bentuk ini dinilai 3B pada SKDI, jadi kewenangan 4A entri ini tidak mencakupnya 2.

History. The clinical picture ranges from local muscle stiffness and trismus to violent convulsion 1. Four forms 1:

  • Local tetanus: persistent stiffness and spasm with pain in the muscles around or proximal to the wound.
    • It can progress to generalised tetanus.
  • Cephalic tetanus: the local form affecting the face, incubation 1 to 2 days, following a head wound or chronic otitis media.
    • Trismus, dysphagia, risus sardonicus, and cranial nerve dysfunction.
    • It is rare, can progress to generalised tetanus, and the prognosis is usually poor.
  • Generalised tetanus: trismus, irritability, neck stiffness, difficulty swallowing, chest and abdominal rigidity as opisthotonus, severe pain and anxiety, and generalised convulsion.
    • The convulsion can be triggered by light stimuli such as light, sound, and touch, with consciousness preserved.
  • Neonatal tetanus: occurs in the newborn from umbilical cord infection.
    • It begins with inability to suck, weakness, and irritability, followed by stiffness and spasm.
    • SKDI grades this form 3B, so the 4A authority of this entry does not cover it 2.
Memeriksa aksesChecking access

RujukanReferences

  1. 1.Kemenkes RI. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama, Lampiran I KMK HK.01.07/MENKES/1186/2022, Huruf H Neurologi butir 4. manuver.tireg7.net
  2. 2.Konsil Kedokteran Indonesia. Standar Kompetensi Dokter Indonesia 2012, Lampiran Daftar Penyakit, tabel Sistem Saraf, nomor 9 dan nomor 10. pd.fk.ub.ac.id
  3. 3.George EK, De Jesus O, Tobin EH, Vivekanandan R. Tetanus (Clostridium tetani Infection). StatPearls. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing. Bacaan lanjutan, bukan sumber isi entri ini. ncbi.nlm.nih.gov

SPARK Atlas adalah alat bantu rujukan untuk klinisi, bukan pengganti penilaian klinis. Verifikasi setiap keputusan terhadap kondisi pasien dan pedoman terkini.SPARK Atlas is a reference aid for clinicians, not a substitute for clinical judgement. Verify every decision against the patient in front of you and current guidance.