Tenosinovitis SupuratifSuppurative Tenosynovitis

SKDI 2012 menempatkan tenosinovitis supuratif pada tabel SISTEM MUSKULOSKELETAL, subkelompok Tulang dan Sendi, butir 12, dengan tingkat kemampuan 3A [2]. Arti 3A menurut definisi SKDI sendiri [2]: - Dokter menegakkan diagnosis klinis dan memberi terapi pendahuluan pada keadaan yang bukan gawat darurat. - Dokter menentukan rujukan yang paling tepat, lalu menindaklanjuti pasien sesudah kembali dari rujukan. Bagian kedua definisi itu berlaku penuh pada penyakit ini. Bagian pertamanya tidak, dan hal itu perlu dinyatakan terus terang. SKDI menggolongkan 3A sebagai keadaan yang bukan gawat darurat, sedangkan infeksi di dalam selubung tendon fleksor adalah kegawatan bedah tangan: nanah terkurung di ruang tertutup yang lebarnya beberapa milimeter, tekanan di dalamnya menutup pembuluh yang memberi makan tendon, dan tendon yang mati tidak tumbuh kembali. Yang hilang bukan nyawa melainkan jari, dan hitungannya jam, bukan hari. Angka 3A pada halaman ini karena itu dibaca sebagai batas kewenangan, bukan sebagai ukuran kegawatan. Butir di sekitarnya pada tabel yang sama [2]: - Butir 1, artritis dan osteoartritis, tingkat 3A. - Butir 12, tenosinovitis supuratif, tingkat 3A. - Butir 17, trauma sendi, tingkat 3A. - Butir 27, ruptur tendon Achilles, tingkat 3A. PPK FKTP tidak memuat entri untuk penyakit ini. Kata tenosinovitis tidak muncul sama sekali pada lampiran KMK 1186/2022 maupun pada KMK 1936/2022 [1][3][5]. Satu-satunya kalimat Indonesia yang menyentuhnya berada di dalam lampiran keterampilan keputusan menteri yang sama: pada keterampilan Insisi dan Drainase Abses, panaritium tendineum disebut sebagai keadaan yang harus dirujuk ke spesialis karena anestesi lokal tidak mencukupi [3]. Panaritium tendineum adalah nama lama untuk penyakit halaman ini. Nama yang membingungkan perlu dipisahkan sekarang juga. Hidradenitis supuratif adalah penyakit yang sama sekali berbeda: peradangan menahun pada kelenjar apokrin di ketiak, lipat paha, dan bawah payudara, dengan tingkat kemampuan 4A pada tabel Kulit, dan Atlas memuat halamannya sendiri [2]. Yang menyatukan keduanya hanyalah kata supuratif dan satu kalimat pada lampiran keterampilan yang mendaftarkan keduanya sebagai abses yang tidak dapat ditangani dengan anestesi lokal saja [3]. Kalimat itu menyatukan mereka berdasarkan kesulitan tindakannya, bukan berdasarkan penyakitnya.SKDI 2012 places suppurative tenosynovitis in the SISTEM MUSKULOSKELETAL table, Tulang dan Sendi subgroup, item 12, at competency level 3A [2]. What 3A means in SKDI's own definition [2]: - The doctor makes the clinical diagnosis and gives initial treatment in a situation that is not an emergency. - The doctor chooses the most appropriate referral, then follows the patient up after they return from it. The second half of that definition applies fully to this disease. The first half does not, and that has to be said plainly. SKDI classes 3A as a situation that is not an emergency, while infection inside the flexor tendon sheath is a hand surgical emergency: pus is trapped in a closed space a few millimetres wide, the pressure inside it closes the vessels that feed the tendon, and a dead tendon does not grow back. What is lost is not life but a finger, and the count is in hours rather than days. The 3A on this page is therefore read as a boundary of competency, not as a measure of urgency. The neighbouring items in the same table [2]: - Item 1, arthritis and osteoarthritis, level 3A. - Item 12, suppurative tenosynovitis, level 3A. - Item 17, joint injury, level 3A. - Item 27, Achilles tendon rupture, level 3A. PPK FKTP carries no entry for this disease. The word tenosynovitis does not appear at all in the annex to KMK 1186/2022 or in KMK 1936/2022 [1][3][5]. The only Indonesian sentence that touches it sits inside the clinical skills annex of the same ministerial decree: in the abscess incision and drainage skill, panaritium tendineum is named as a condition that must be referred to a specialist because local anaesthesia is not enough [3]. Panaritium tendineum is the older name for the disease on this page. A confusing name deserves separating right now. Hidradenitis suppurativa is an entirely different disease: chronic inflammation of apocrine glands in the axilla, groin and under the breast, graded 4A in the skin table, and Atlas carries its own page for it [2]. All the two share is the word suppurative and one sentence in the skills annex listing both as abscesses that cannot be handled under local anaesthesia alone [3]. That sentence groups them by the difficulty of the procedure, not by the disease.

Tenosinovitis supuratif adalah infeksi bernanah di dalam selubung tendon, dan pada praktiknya hampir selalu berarti selubung tendon fleksor jari tangan. Nama lamanya di Indonesia adalah panaritium tendineum 3.

Yang membuat penyakit ini berbeda dari infeksi jari lain adalah tempatnya. Selubung tendon adalah tabung tertutup berisi cairan yang membuat tendon meluncur. Ketika kuman masuk ke dalamnya, nanah tidak punya jalan keluar. Tekanan di dalam tabung naik, pembuluh halus yang memberi makan tendon tertutup, dan tendon mulai mati sementara kulit di luarnya masih tampak hampir wajar. Karena itu penampilan luar penyakit ini jauh lebih tenang daripada keadaan di dalamnya.

Pintu masuknya biasanya kecil dan sudah dilupakan pasien: tertusuk duri, tergores kawat, terkena pisau saat memotong ikan, atau luka gigitan di sendi jari. Beberapa hari kemudian jarinya bengkak dan tidak dapat diluruskan.

Halaman ini pendek pada bagian pengobatan dan panjang pada bagian pengenalan, dan itu disengaja. Pengobatan penyakit ini adalah membuka dan mencuci selubung tendon di kamar operasi, dan hal itu tidak dikerjakan di layanan primer. Yang menentukan hasil akhir adalah berapa jam berlalu antara pasien datang dan pisau bedah bekerja. Keterlambatan tidak membayar dengan nyeri yang lebih lama; ia membayar dengan jari yang kaku, dengan tendon yang harus dibuang, atau dengan amputasi.

Tingkat kemampuan 3A menentukan bentuk halaman ini. Tugas dokter layanan primer adalah mengenalinya dari empat tanda pemeriksaan yang tidak membutuhkan alat apa pun, memulai antibiotik, meninggikan dan mengistirahatkan tangan, lalu merujuk pada hari itu juga 23.

Satu hal yang perlu dipisahkan sejak awal: hidradenitis supuratif adalah penyakit lain sama sekali, yaitu penyakit kulit menahun pada kelenjar apokrin, dan Atlas memuat halamannya sendiri. Kemiripan namanya kebetulan.

Suppurative tenosynovitis is a pus forming infection inside a tendon sheath, and in practice it almost always means the flexor tendon sheath of a finger. Its older Indonesian name is panaritium tendineum 3.

What makes it different from other finger infections is its location. A tendon sheath is a closed, fluid filled tube that lets the tendon glide. Once organisms are inside it, pus has nowhere to go. Pressure inside the tube rises, the fine vessels feeding the tendon close, and the tendon begins to die while the skin outside still looks nearly normal. The outward appearance of this disease is therefore far calmer than what is happening inside it.

The way in is usually small and already forgotten by the patient: a thorn, a wire scratch, a knife while cleaning fish, or a bite wound over a knuckle. A few days later the finger is swollen and cannot be straightened.

This page is short on treatment and long on recognition, and that is deliberate. The treatment is opening and washing out the tendon sheath in an operating theatre, and that is not done in primary care. What decides the outcome is how many hours pass between the patient arriving and the knife going in. Delay does not cost a longer period of pain; it costs a stiff finger, a tendon that has to be excised, or an amputation.

Competency level 3A shapes this page. The primary care doctor's job is to recognise it from four examination findings that need no equipment at all, start an antibiotic, elevate and rest the hand, then refer the same day 23.

One thing to separate at the outset: hidradenitis suppurativa is a completely different disease, a chronic skin condition of the apocrine glands, and Atlas carries its own page for it. The similarity of the names is a coincidence.

MengenaliRecognising it

Diagnosisnya dibuat dengan mata dan satu jari, dan tidak membutuhkan alat apa pun. Yang dibutuhkan adalah memikirkannya.

Anamnesis:

  • Luka kecil pada jari atau telapak tangan beberapa hari sebelumnya. Tanyakan secara khusus, sebab pasien sering sudah melupakannya: duri, kawat, tulang ikan, jarum, gigitan hewan, atau luka pada buku jari sesudah memukul.
  • Nyeri yang bertambah setiap hari, bukan berkurang.
  • Jari yang makin sulit diluruskan.
  • Demam dan rasa tidak enak badan, yang boleh ada dan boleh tidak.
  • Diabetes melitus, pemakaian kortikosteroid jangka panjang, atau keadaan lain yang menurunkan daya tahan; keduanya mempercepat perjalanan penyakitnya dan memperhalus tandanya.
  • Pekerjaan dan tangan mana yang dominan, sebab hal itu mengubah akibat kecacatannya.

The diagnosis is made with the eyes and one finger, and needs no equipment at all. What it needs is to be thought of.

History:

  • A small wound on the finger or palm some days earlier. Ask specifically, because the patient has often forgotten it: a thorn, wire, fish bone, needle, animal bite, or a wound over the knuckle after throwing a punch.
  • Pain that increases every day rather than settling.
  • A finger that is increasingly hard to straighten.
  • Fever and malaise, which may or may not be present.
  • Diabetes mellitus, long term corticosteroid use, or any other cause of reduced immunity; both speed the disease up and soften its signs.
  • Occupation and which hand is dominant, because that changes what the disability costs.
Memeriksa aksesChecking access

RujukanReferences

  1. 1.Kementerian Kesehatan RI. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama, lampiran Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/1186/2022. Huruf K Kulit, angka 12 Pioderma, halaman lampiran -565- sampai -569-. Dipakai hanya sebagai pembanding regimen antibiotik antistafilokokus, karena lampiran ini tidak memuat entri untuk tenosinovitis supuratif. manuver.tireg7.net
  2. 2.Konsil Kedokteran Indonesia. Standar Kompetensi Dokter Indonesia 2012, Lampiran Daftar Penyakit, tabel Sistem Muskuloskeletal, subkelompok Tulang dan Sendi, butir 12 Tenosinovitis supuratif, Tingkat Kemampuan 3A. Tabel Sistem Integumen butir 45 Hidradenitis supuratif (4A) dipakai untuk memisahkan dua penyakit yang namanya mirip. Definisi tingkat kemampuan 3A dan 3B pada halaman cetak 31. pd.fk.ub.ac.id
  3. 3.Kementerian Kesehatan RI. Panduan Keterampilan Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama, Lampiran II Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/1186/2022, angka 21 Insisi Dan Drainase Abses, Tingkat Keterampilan 4A, halaman lampiran -1183- sampai -1185-, yang memuat satu-satunya kalimat rujukan Indonesia untuk penyakit ini, dan angka 23 Perawatan Luka yang meminta profilaksis antitetanus. manuver.tireg7.net
  4. 4.Kementerian Kesehatan RI. Panduan Keterampilan Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama, Lampiran II Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/1186/2022, Huruf O Sistem Muskuloskeletal, angka 2 Pemeriksaan Ekstremitas Atas, Tingkat Keterampilan 4A, halaman lampiran -1101- sampai -1111-, bagian pergelangan tangan dan tangan, untuk posisi istirahat jari yang normal dan penilaian tendon fleksor. manuver.tireg7.net
  5. 5.Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/1936/2022 tentang Perubahan atas KMK HK.01.07/MENKES/1186/2022. Dipakai sebagai pembanding negatif: daftar entri yang diubah maupun yang ditambahkan pada Pasal I tidak memuat tenosinovitis supuratif, sehingga kekosongan pada lampiran induk tetap kosong sesudah perubahan. diskes.badungkab.go.id
  6. 6.Hermena S, Tiwari V. Pyogenic Flexor Tenosynovitis. StatPearls. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing. Bacaan lanjutan, bukan sumber isi halaman ini. ncbi.nlm.nih.gov

SPARK Atlas adalah alat bantu rujukan untuk klinisi, bukan pengganti penilaian klinis. Verifikasi setiap keputusan terhadap kondisi pasien dan pedoman terkini.SPARK Atlas is a reference aid for clinicians, not a substitute for clinical judgement. Verify every decision against the patient in front of you and current guidance.