Takikardi supraventrikular dan ventrikularSupraventricular and ventricular tachycardia
SKDI 2012 menggabungkan keduanya dalam satu butir, yaitu butir 10 Takikardi: supraventrikular, ventrikular, dengan Tingkat Kemampuan 3B pada tabel SISTEM KARDIOVASKULAR halaman 42. Header entri PPK FKTP memuat angka 3B yang sama. Penggabungan itu perlu dibaca dengan hati-hati, karena kedua aritmia ini tidak sama beratnya. Butir tetangganya menunjukkan pola penilaian SKDI: fibrilasi atrium yang berasal dari atrium bertingkat 3A, sedangkan fibrilasi ventrikular bertingkat 3B. Aritmia yang berasal dari ventrikel dinilai lebih berat. Konsekuensi praktisnya ada di dalam entri PPK: takikardi supraventrikular yang stabil boleh dicoba diterminasi di FKTP dengan manuver vagal lalu adenosin, sedangkan takikardi ventrikular langsung dirujuk tanpa percobaan terminasi. Satu angka kompetensi, dua jalur tindakan.SKDI 2012 puts both into a single item, item 10, tachycardia supraventricular and ventricular, graded 3B in the cardiovascular table on page 42. The PPK FKTP entry header carries the same 3B. That pairing needs reading with care, because the two arrhythmias are not equally dangerous. The neighbouring items show how SKDI grades them: atrial fibrillation, which arises in the atrium, is graded 3A, while ventricular fibrillation is graded 3B. Arrhythmia arising in the ventricle is judged the graver. The practical consequence sits inside the PPK entry: a stable supraventricular tachycardia may be terminated at a puskesmas with a vagal manoeuvre and then adenosine, while ventricular tachycardia is referred straight away with no attempt at termination. One competence grade, two courses of action.
Takikardi adalah denyut jantung istirahat yang secara abnormal melebihi 100 kali per menit. Entri ini mencakup dua bentuk yang dinilai satu butir oleh SKDI tetapi ditangani berbeda oleh PPK 1.
Takikardi supraventrikular berasal dari sumber di atas ventrikel, yaitu atrium atau sambungan atrioventrikular, dengan ciri kompleks QRS yang sempit dan frekuensi di atas 150 kali per menit. Takikardi ventrikular berasal dari ventrikel, dengan ciri kompleks QRS yang lebar dan frekuensi yang biasanya juga di atas 150 kali per menit. Bentuk ventrikular dapat menimbulkan gangguan hemodinamik yang menuntut resusitasi 1.
Yang menentukan tindakan pertama bukan jenis aritmianya melainkan keadaan hemodinamiknya. Pasien yang tidak stabil, yaitu tekanan sistolik di bawah 90 mmHg dengan nadi melemah, apalagi disertai penurunan kesadaran, berada dalam keadaan yang mengancam jiwa dan harus segera dirujuk dengan infus terpasang 1.
Tingkat kompetensinya 3B. Terapi definitifnya, terutama ablasi kateter, dikerjakan di pusat rujukan 13.
Faktor risiko:
Tachycardia is a resting heart rate abnormally above 100 beats per minute. This entry covers two forms that SKDI grades as one item but that the PPK handles differently 1.
Supraventricular tachycardia arises above the ventricle, in the atrium or the atrioventricular junction, and shows a narrow QRS complex with a rate above 150 beats per minute. Ventricular tachycardia arises in the ventricle, with a wide QRS complex and a rate that is usually also above 150. The ventricular form can produce haemodynamic collapse that demands resuscitation 1.
What decides the first action is not the type of arrhythmia but the state of the circulation. An unstable patient, meaning a systolic pressure below 90 mmHg with a weak pulse, still more so with reduced consciousness, is in a life-threatening state and must be referred at once with an intravenous line running 1.
Competence is graded 3B. Definitive treatment, particularly catheter ablation, is carried out at the referral centre 13.
Risk factors:
MengenaliRecognising it
Anamnesis 1:
- Palpitasi.
- Sesak napas.
- Mudah lelah.
- Nyeri atau rasa tidak nyaman di dada.
- Denyut jantung istirahat lebih dari 100 kali per menit.
- Pusing.
- Sinkop.
- Berkeringat.
- Penurunan tekanan darah pada kondisi yang tidak stabil.
- Penurunan kesadaran bila terjadi gangguan hemodinamik.
Nilai kestabilan hemodinamik lebih dahulu, karena itu yang menentukan urutan tindakan 1:
- Tekanan darah sistolik di bawah 90 mmHg dengan nadi yang melemah.
- Gelisah sampai penurunan kesadaran.
- Pasien yang tidak responsif.
History 1:
- Palpitations.
- Breathlessness.
- Tiring easily.
- Chest pain or chest discomfort.
- A resting heart rate above 100 beats per minute.
- Dizziness.
- Syncope.
- Sweating.
- A falling blood pressure in the unstable state.
- Reduced consciousness where the circulation is compromised.
Assess haemodynamic stability first, because it sets the order of everything else 1:
- A systolic blood pressure below 90 mmHg with a weakening pulse.
- Restlessness through to reduced consciousness.
- A patient who is unresponsive.
RujukanReferences
- 1.Kementerian Kesehatan RI. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama. Lampiran I Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/1186/2022, Huruf F Kardiovaskuler, angka 3 Takikardia, halaman lampiran -278- sampai -281-. manuver.tireg7.net
- 2.Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) dan Perhimpunan Aritmia Indonesia. Pedoman Tatalaksana Takiaritmia Supraventrikular (TaSuV). Bagian kapan merujuk pasien dan bagian manajemen akut. inahrs.or.id
- 3.Konsil Kedokteran Indonesia. Standar Kompetensi Dokter Indonesia 2012. Daftar Penyakit, tabel Sistem Kardiovaskular, butir 10 Takikardi: supraventrikular, ventrikular dengan Tingkat Kemampuan 3B, halaman 42. pd.fk.ub.ac.id
- 4.Supraventricular Tachycardia. StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2026. Bacaan lanjutan, tidak dipakai sebagai sumber isi. ncbi.nlm.nih.gov
- 5.Ventricular Tachycardia. StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2026. Bacaan lanjutan, tidak dipakai sebagai sumber isi. ncbi.nlm.nih.gov