Subinvolusio UterusSubinvolution of the Uterus

SKDI 2012 menempatkan Subinvolusio uterus pada tabel Sistem Reproduksi, subkelompok Persalinan dan Nifas, butir 62, dengan tingkat kemampuan 3B [1]. Arti 3B [1]: - Dokter layanan primer menegakkan diagnosis, memberi terapi kegawatdaruratan, lalu merujuk. Daftar kedua SKDI, yaitu Daftar Keterampilan Klinis, memisahkan pengenalan dari tindakan dengan sangat tegas pada keadaan ini [1]: - Butir 78, palpasi posisi fundus, tingkat 4A. - Butir 77, menilai lochia, tingkat 4A. - Butir 63, postpartum berupa pemeriksaan tinggi fundus dan menilai plasenta lepas atau tersisa, tingkat 4A. - Butir 8, pemeriksaan bimanual berupa palpasi vagina, serviks, korpus uteri, dan ovarium, tingkat 4A. - Butir 17, kuretase, tingkat 3. Bacaan yang dihasilkan jelas. Seluruh pemeriksaan yang mengenali keadaan ini bertingkat mandiri, dan tidak satu pun memerlukan alat. Yang tidak bertingkat mandiri adalah tindakan yang sering justru menjadi jawabannya, yaitu mengosongkan rahim dengan kuret. Karena itu keputusan yang sebenarnya bukan apakah keadaan ini dikenali, melainkan apakah penyebabnya dapat ditangani di tempat. Satu hal harus jelas sebelum halaman ini dipakai, dan hal itu menentukan bentuk seluruh halaman. Tidak ada dokumen nasional Indonesia yang memperlakukan subinvolusio uterus sebagai penyakit dengan tata laksananya sendiri. Kedua dokumen yang menyebutnya menempatkannya sebagai tanda [2][3][4]: - Pada tabel penyebab perdarahan pascasalin, ia berdiri di baris sisa plasenta, yaitu sebagai tanda yang menyertai perdarahan pada hari keenam sampai kesepuluh sesudah melahirkan. - Pada daftar tanda dan gejala metritis, ia berdiri di antara demam, nyeri perut bawah, lokia berbau, dan nyeri tekan rahim. Karena itu halaman ini tidak menjanjikan pengobatan untuk subinvolusio uterus. Ia menjelaskan cara mengukurnya, cara membaca apa yang ada di baliknya, dan ke mana pasiennya pergi. Tidak ada entri PPK FKTP tersendiri untuk keadaan ini.SKDI 2012 places Subinvolusio uterus in the Sistem Reproduksi table, Persalinan dan Nifas subgroup, item 62, at competency level 3B [1]. What 3B means [1]: - The primary care doctor makes the diagnosis, gives emergency treatment, then refers. SKDI's second list, the Clinical Skills list, draws a sharp line between recognising this state and acting on it [1]: - Item 78, palpating the position of the fundus, level 4A. - Item 77, assessing lochia, level 4A. - Item 63, postpartum examination of fundal height and of whether the placenta is separated or retained, level 4A. - Item 8, bimanual examination of vagina, cervix, uterine body and ovaries, level 4A. - Item 17, curettage, level 3. The reading is plain. Every examination that recognises this state is graded for independent practice, and not one of them needs equipment. What is not graded for independent practice is the procedure that is often the answer: emptying the uterus with a curette. The real decision is therefore not whether this is recognised but whether its cause can be dealt with on site. One thing must be clear before this page is used, and it shapes the whole page. No Indonesian national document treats subinvolution of the uterus as a disease with management of its own. Both documents that name it place it as a sign [2][3][4]: - In the table of causes of postpartum haemorrhage it sits in the retained placental tissue row, as the sign accompanying bleeding on the sixth to tenth day after delivery. - In the list of signs and symptoms of metritis it sits among fever, lower abdominal pain, foul lochia and uterine tenderness. This page therefore promises no treatment for subinvolution of the uterus. It sets out how to measure it, how to read what lies behind it, and where the patient goes. There is no PPK FKTP entry of its own for this condition.

Sesudah melahirkan, rahim mengecil sedikit demi sedikit dari hari ke hari sampai tidak lagi teraba di atas simfisis, karena ia sudah turun kembali ke dalam rongga panggul 2. Subinvolusio uterus adalah keadaan ketika hal itu tidak terjadi: fundus tetap tinggi untuk hari nifasnya, dan rahim terasa lebih besar dan lebih lunak daripada seharusnya.

Yang penting dipahami lebih dulu adalah kedudukannya. Ini bukan penyakit yang berdiri sendiri, melainkan tanda bahwa ada sesuatu yang menahan rahim berkontraksi. Panduan Indonesia memperlakukannya persis begitu 34:

  • Pada tabel penyebab perdarahan pascasalin, subinvolusi rahim tercantum bersama perdarahan yang muncul pada hari keenam sampai kesepuluh sesudah melahirkan, dan penyebab yang harus dipikirkan pada baris itu adalah sisa plasenta.
  • Pada daftar tanda dan gejala metritis, yaitu infeksi rahim sesudah persalinan, subinvolusi rahim berdiri di antara demam, nyeri perut bawah, lokia yang berbau dan bernanah, serta nyeri tekan rahim.

Karena itu menemukan subinvolusio uterus bukan akhir dari sebuah pemeriksaan melainkan awalnya. Dua pertanyaan yang menyusul selalu sama: apakah masih ada isi di dalam rahim, dan apakah rahim sedang terinfeksi. Keduanya berbahaya, dan keduanya berujung pada rujukan.

Yang menaikkan risiko 345:

  • Plasenta atau selaput ketuban yang tidak lahir lengkap.
  • Infeksi rahim sesudah persalinan.
  • Persalinan lama, persalinan dengan tindakan, dan tindakan berulang di dalam rahim.
  • Rahim yang teregang berlebihan, misalnya kehamilan kembar, bayi besar, dan hidramnion.
  • Multiparitas dan riwayat rahim yang tidak berkontraksi pada persalinan sebelumnya.
  • Mioma uteri, yang disebut dapat mengganggu proses involusi masa nifas.

Yang mengubah nasib pasien bukan kemampuan mengobati subinvolusi, melainkan kebiasaan mengukur tinggi fundus pada setiap kunjungan nifas dan membandingkannya dengan hari nifasnya.

After delivery the uterus shrinks a little each day until it can no longer be felt above the symphysis, because it has descended back into the pelvic cavity 2. Subinvolution of the uterus is what it is called when that does not happen: the fundus stays high for the postpartum day it is on, and the uterus feels larger and softer than it should.

The first thing to understand is where it stands. This is not a disease in its own right but a sign that something is stopping the uterus from contracting. The Indonesian guidance treats it exactly that way 34:

  • In the table of causes of postpartum haemorrhage, uterine subinvolution appears together with bleeding arising on the sixth to tenth day after delivery, and the cause to be thought of in that row is retained placental tissue.
  • In the list of signs and symptoms of metritis, infection of the uterus after delivery, uterine subinvolution stands among fever, lower abdominal pain, foul and purulent lochia, and uterine tenderness.

Finding subinvolution is therefore not the end of an examination but the beginning of one. The two questions that follow are always the same: is there still something inside the uterus, and is the uterus infected. Both are dangerous, and both end in referral.

What raises the risk 345:

  • A placenta or membranes that were not delivered complete.
  • Infection of the uterus after delivery.
  • Prolonged labour, instrumental delivery, and repeated instrumentation of the uterus.
  • An over distended uterus, for example twins, a large baby, and polyhydramnios.
  • Multiparity and a history of a uterus that failed to contract at a previous delivery.
  • Uterine fibroids, which are described as able to disturb involution during the puerperium.

What changes this patient's outcome is not skill in treating subinvolution but the habit of measuring fundal height at every postnatal visit and setting it against the postpartum day.

MengenaliRecognising it

Keadaan ini ditemukan dengan tangan, pada kunjungan yang memang sudah dijadwalkan. Seluruh pemeriksaan yang mengenalinya bertingkat 4A dan tidak satu pun memerlukan alat 1.

Kapan pemeriksaannya jatuh. Pelayanan kesehatan bagi ibu pada masa sesudah melahirkan dilakukan paling sedikit empat kali 2:

  • Satu kali pada 6 jam sampai 2 hari pascapersalinan.
  • Satu kali pada 3 sampai 7 hari pascapersalinan.
  • Satu kali pada 8 sampai 28 hari pascapersalinan.
  • Satu kali pada 29 sampai 42 hari pascapersalinan.

This is found with the hands, at a visit that is already scheduled. Every examination that recognises it is graded 4A and not one of them needs equipment 1.

When the examination falls. Postnatal care for the mother is given at least four times 2:

  • Once between 6 hours and 2 days after delivery.
  • Once between 3 and 7 days after delivery.
  • Once between 8 and 28 days after delivery.
  • Once between 29 and 42 days after delivery.
Memeriksa aksesChecking access

RujukanReferences

  1. 1.Konsil Kedokteran Indonesia. Standar Kompetensi Dokter Indonesia 2012. Daftar Penyakit, tabel Sistem Reproduksi, subkelompok Persalinan dan Nifas, butir 62 Subinvolusio uterus, Tingkat Kemampuan 3B. Daftar Keterampilan Klinis, kelompok Sistem Reproduksi: butir 8 Pemeriksaan bimanual (4A), butir 17 Kuretase (tingkat 3), butir 63 Postpartum pemeriksaan tinggi fundus dan plasenta (4A), butir 76 Kompresi bimanual (4A), butir 77 Menilai lochia (4A), butir 78 Palpasi posisi fundus (4A). pd.fk.ub.ac.id
  2. 2.Kementerian Kesehatan RI. Panduan Keterampilan Klinis bagi Dokter, Lampiran II Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/1936/2022. Huruf L Sistem Reproduksi angka 3 Penilaian Post Partum, Tingkat Keterampilan 4A, halaman lampiran -279- sampai -282-, dan angka 2 Asuhan Persalinan Normal halaman lampiran -277-. diskes.badungkab.go.id
  3. 3.Kementerian Kesehatan RI. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama, Lampiran I Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/1186/2022. Huruf N Kesehatan Wanita angka 9 Perdarahan Post Partum, halaman lampiran -755- sampai -764-, termasuk Tabel 14.11 Penyebab perdarahan pada post partum, halaman -758- sampai -759-. manuver.tireg7.net
  4. 4.Kementerian Kesehatan RI, World Health Organization, Perhimpunan Obstetri dan Ginekologi Indonesia, Ikatan Bidan Indonesia. Buku Saku Pelayanan Kesehatan Ibu di Fasilitas Kesehatan Dasar dan Rujukan. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI; 2013. Bab 4.7 Perdarahan Pascasalin halaman 100 sampai 107, termasuk Tabel 4.7.2 halaman 104 dan tata laksana Sisa Plasenta halaman 107; bab 6.1 Metritis halaman 220 sampai 221. platform.who.int
  5. 5.Kementerian Kesehatan RI, World Health Organization, Perhimpunan Obstetri dan Ginekologi Indonesia, Ikatan Bidan Indonesia. Buku Saku Pelayanan Kesehatan Ibu di Fasilitas Kesehatan Dasar dan Rujukan, bab 5.18 Mioma Uteri, halaman 213 sampai 214, untuk keterangan bahwa mioma uteri dapat mengganggu proses involusi masa nifas. platform.who.int
  6. 6.Kementerian Kesehatan RI. Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana Komplikasi Kehamilan, lampiran Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/91/2017. Bagian Terapi PPS Sekunder, halaman lampiran -146- sampai -148-. kemkes.go.id
  7. 7.Physiology, Postpartum Changes. StatPearls. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing. Bacaan lanjutan, bukan sumber isi halaman ini. ncbi.nlm.nih.gov

SPARK Atlas adalah alat bantu rujukan untuk klinisi, bukan pengganti penilaian klinis. Verifikasi setiap keputusan terhadap kondisi pasien dan pedoman terkini.SPARK Atlas is a reference aid for clinicians, not a substitute for clinical judgement. Verify every decision against the patient in front of you and current guidance.