StrongiloidiasisStrongyloidiasis
SKDI 2012 memberi Strongiloidiasis tingkat 4A tanpa syarat tambahan, sehingga lulusan dokter diharapkan mendiagnosis dan menuntaskan sendiri penatalaksanaannya [2]. PPK FKTP mempersempitnya lewat satu pintu, yaitu keadaan imun pasien: baris kriteria rujukannya menyebut pasien imunokompromais, misalnya penderita AIDS [1]. Infeksi pada orang berimun normal adalah pekerjaan layanan primer; infeksi pada orang berimun turun bukan.SKDI 2012 grades strongyloidiasis at level 4A with no qualifier attached, so the graduate is expected to diagnose it and carry management through to the end [2]. The PPK FKTP narrows that through one door, the patient's immune state: its referral line names the immunocompromised patient, for example someone with AIDS [1]. Infection in an immunocompetent person is primary care work; infection in an immunosuppressed one is not.
Strongiloidiasis adalah kecacingan oleh Strongyloides stercoralis, cacing yang hidup di kawasan tropik dan subtropik 1. Sekitar 100 juta orang di dunia diperkirakan mengidapnya 1.
Dua hal membuat penyakit ini berbeda dari kecacingan usus lain yang juga bertingkat 4A. Pertama, jejak khasnya ada di kulit, bukan di tinja: larva yang bergerak di bawah kulit meninggalkan papul eritema yang menjalar berkelok seperti benang. Kedua, dan inilah yang paling penting, infeksinya dapat menjadi sangat berat dan berbahaya pada orang dengan status imun menurun, yaitu pasien HIV/AIDS, penerima transplantasi organ, dan pasien yang mendapat kortikosteroid jangka panjang 1. Pada orang berimun normal penyakit ini ringan dan dituntaskan di layanan primer; pada kelompok imunokompromais, penyakit yang sama dirujuk 1.
Infestasi ringan umumnya tidak menimbulkan gejala khas, sehingga sebagian kasus baru terbaca ketika tinja atau kulitnya diperiksa 1.
Faktor risiko 1:
- Jamban jarang dipakai.
- Tanah tercemar tinja yang mengandung larva Strongyloides stercoralis.
- Tinja dipakai sebagai pupuk.
- Tidak memakai alas kaki ketika menginjak tanah.
Strongyloidiasis is helminth infection with Strongyloides stercoralis, a worm of tropical and subtropical regions 1. Around 100 million people worldwide are estimated to carry it 1.
Two things set it apart from the other intestinal helminth infections graded 4A. First, its characteristic trace is in the skin rather than the stool: larvae moving under the skin leave erythematous papules that wander in a thread-like, winding line. Second, and this matters most, the infection can turn severe and dangerous in a person whose immune status is reduced, that is a patient with HIV/AIDS, an organ transplant recipient, or someone on long term corticosteroids 1. In an immunocompetent person the disease is mild and is finished in primary care; in the immunocompromised group the same disease is referred 1.
A light infestation generally produces no characteristic symptom, so some cases are only picked up when the stool or the skin is examined 1.
Risk factors 1:
- Latrines rarely used.
- Soil contaminated with faeces carrying Strongyloides stercoralis larvae.
- Faeces used as fertiliser.
- Going barefoot on soil.
MengenaliRecognising it
Anamnesis. Infestasi ringan pada umumnya tidak memberi gejala yang khas, sehingga tidak adanya keluhan tidak menyingkirkan diagnosis 1.
Gejala klinis yang dicantumkan 1:
- Rasa gatal pada kulit.
- Rasa seperti ditusuk-tusuk di daerah epigastrium pada infeksi sedang. Nyerinya tidak menjalar, dan sifat itulah yang membedakannya dari nyeri epigastrium lain.
- Mual dan muntah.
- Diare dan konstipasi yang datang bergantian.
History. A light infestation generally gives no characteristic symptom, so the absence of complaints does not exclude the diagnosis 1.
The clinical features listed 1:
- Itching of the skin.
- A stabbing sensation in the epigastrium in moderate infection. The pain does not radiate, and that quality is what separates it from other epigastric pain.
- Nausea and vomiting.
- Diarrhoea and constipation alternating with each other.
RujukanReferences
- 1.Kemenkes RI. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama, Lampiran I KMK HK.01.07/MENKES/1186/2022, Huruf C Digestive butir 21. manuver.tireg7.net
- 2.Konsil Kedokteran Indonesia. Standar Kompetensi Dokter Indonesia 2012, Lampiran Daftar Penyakit, nomor 44. pd.fk.ub.ac.id
- 3.Tobin EH, Meseeha M. Strongyloidiasis. StatPearls. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing. Bacaan lanjutan, bukan sumber isi entri ini. ncbi.nlm.nih.gov