Spondilitis TBSpinal Tuberculosis
Tiga dokumen menyentuh penyakit ini, dan dua di antaranya menyebut namanya. SKDI 2012 menempatkan Spondilitis TB pada butir 18 tabel Sistem Saraf, kelompok Infeksi, dengan Tingkat Kemampuan 3A [3]. Tingkat 3A berarti didiagnosis, diberi penatalaksanaan awal, lalu dirujuk. Tetangganya pada kelompok yang sama menunjukkan bagaimana daftar itu menilai infeksi susunan saraf: meningitis 3B, ensefalitis 3B, tetanus 4A, HIV AIDS tanpa komplikasi 4A, dan AIDS dengan komplikasi 3A. PPK Neurologi PERDOSSI 2016 adalah satu-satunya pernyataan nasional yang khusus neurologi untuk penyakit ini, dan babnya memuat butir kewenangan tersendiri: pada fasilitas pelayanan kesehatan primer tata laksananya adalah ABC dan resusitasi lalu rujuk, tata laksana medis komprehensif berada di rumah sakit tipe B dan C, dan tata laksana bedah di rumah sakit tipe A [2]. Isi kewenangan itu sama dengan 3A. Angka 4A yang beredar untuk penyakit ini berasal dari tempat lain. Header entri Tuberkulosis PPK FKTP sebagaimana diubah KMK 1936/2022 menuliskan Tingkat Kemampuan 4A untuk seluruh entri, dan entri itu sebagian besar berisi tuberkulosis paru [1]. Angka itu menilai entrinya, bukan penyakit ini. Isi entri yang sama justru memerintahkan sebaliknya untuk bentuk tulang belakang: diagnosis pasti TB ekstra paru tidak bisa ditegakkan secara menyeluruh di fasilitas primer, dan pasien dengan diagnosis kerja yang mengarah ke TB ekstra paru selain limfadenitis TB dirujuk ke fasilitas rujukan untuk penegakan diagnosis pasti, dengan TB Spondilitis disebut namanya pada daftar itu [1]. Tingkat yang dipakai halaman ini adalah tingkat yang diberikan dokumen yang menyebut penyakit ini dengan namanya, yaitu 3A. Satu hal lagi perlu dinyatakan terbuka karena dapat menyesatkan pembaca. Tabel Sistem Muskuloskeletal SKDI memuat butir 19 Spondilitis, spondilodisitis dengan tingkat 2. Butir itu bukan halaman ini. Butir itu menamai spondilitis dan spondilodisitis pada umumnya, yaitu bentuk yang bukan tuberkulosis, dan tingkat 2 berarti mendiagnosis lalu merujuk. Halaman ini adalah butir 18 pada tabel Sistem Saraf, yang menamai bentuk tuberkulosisnya dan memberi tingkat 3A [3].Three documents touch this disease, and two of them name it. SKDI 2012 places Spondilitis TB at item 18 of the nervous system table, infection group, at competency level 3A [3]. Level 3A means diagnose, give initial management, then refer. Its neighbours in the same group show how that list grades nervous system infection: meningitis 3B, encephalitis 3B, tetanus 4A, HIV AIDS without complication 4A, and AIDS with complications 3A. The PERDOSSI neurology guideline of 2016 is the only neurology specific national statement on this disease, and its chapter carries a competency section of its own: at a primary care facility the management is ABC and resuscitation then referral, comprehensive medical management sits at type B and C hospitals, and surgical management at type A hospitals [2]. That is 3A in content. The 4A figure that circulates for this disease comes from somewhere else. The header of the Tuberkulosis entry of the PPK FKTP as amended by KMK 1936/2022 carries competency level 4A for the whole entry, and that entry is mostly pulmonary tuberculosis [1]. The figure grades the entry, not this disease. The body of that same entry orders the opposite for the spinal form: a definitive diagnosis of extrapulmonary TB cannot be fully established at a primary facility, and a patient whose working diagnosis points to extrapulmonary TB other than TB lymphadenitis is referred to a referral facility for definitive diagnosis, TB spondylitis named on that list [1]. The level this page carries is the level given by the documents that name this disease, 3A. One more thing needs stating openly because it could mislead a reader. The SKDI musculoskeletal table carries item 19 Spondilitis, spondilodisitis at level 2. That item is not this page. It names spondylitis and spondylodiscitis in general, the non tuberculous forms, and level 2 means diagnose and refer. This page is item 18 of the nervous system table, which names the tuberculous form and gives it 3A [3].
Spondilitis TB adalah tuberkulosis yang mengenai tulang belakang. Ia termasuk TB ekstra paru, yaitu TB yang menyerang organ di luar parenkim paru dan trakeobronkial, dan diperkirakan sepertiga dari 824.000 kasus TB baru setiap tahun di Indonesia adalah kasus TB ekstra paru 1.
Penyakit ini menempati kelompok yang berat. Berdasarkan tingkat keparahannya, TB ekstra paru dibagi menjadi ringan dan berat; yang digolongkan ringan adalah limfadenitis TB, pleuritis eksudativa unilateral, TB tulang selain tulang belakang, dan TB pada sendi perifer 1. Tulang belakang justru dikeluarkan dari daftar itu. TB ekstra paru yang mengenai susunan saraf pusat, tulang, dan persendian memerlukan pengobatan dengan jangka waktu yang lebih panjang, dan penyakit TB ekstra paru dapat meninggalkan sekuele yang tidak diharapkan meskipun infeksi aktifnya dapat disembuhkan 1.
SKDI menilai Spondilitis TB 3A: didiagnosis, diberi penatalaksanaan awal, lalu dirujuk 3. PPK Neurologi PERDOSSI menyatakan hal yang sama untuk fasilitas primer, yaitu tata laksana ABC dan resusitasi lalu rujuk 2. Yang menentukan nasib pasien di FKTP karena itu bukan pemilihan obat, melainkan kecepatan mengenali dan mengirimkan.
SPARK sudah memuat halaman tuberkulosis paru pada tingkat 4A; halaman ini tidak mengulang paduan obat maupun alur pengobatan TB paru, dan hanya membawa bagian yang berbeda pada bentuk tulang belakang.
Siapa yang perlu dipikirkan 12:
- Pasien dengan nyeri punggung yang berjalan berminggu-minggu sampai berbulan-bulan.
- Pasien dengan kelainan bentuk pada tulang belakang, terutama gibus atau kifosis.
- Pasien dengan gejala umum tuberkulosis: lemas, nafsu makan dan berat badan berkurang, demam terutama sore hari, dan berkeringat pada malam hari.
- Pasien dengan kelemahan tungkai yang memberat perlahan, atau gangguan berkemih dan buang air besar.
- Pasien dengan riwayat kontak TB atau riwayat pengobatan TB sebelumnya.
Spinal tuberculosis is tuberculosis affecting the vertebral column. It belongs to extrapulmonary TB, meaning TB affecting organs outside the lung parenchyma and the tracheobronchial tree, and about a third of the 824,000 new TB cases each year in Indonesia are estimated to be extrapulmonary 1.
This disease sits in the severe group. Extrapulmonary TB is divided by severity into mild and severe; the mild group is TB lymphadenitis, unilateral exudative pleuritis, bone TB other than the vertebral column, and TB of peripheral joints 1. The spine is deliberately left out of that list. Extrapulmonary TB affecting the central nervous system, bone and joints needs a longer course of treatment, and extrapulmonary TB can leave unwanted sequelae even where the active infection is cured 1.
SKDI grades spinal TB 3A: diagnose, give initial management, then refer 3. The PERDOSSI neurology guideline says the same for primary facilities, ABC and resuscitation then refer 2. What decides the patient's fate in primary care is therefore not the choice of drug but the speed of recognising and sending.
SPARK already carries a pulmonary tuberculosis page at 4A; this page does not repeat the drug regimens or the treatment pathway of pulmonary TB, and carries only what is different about the spinal form.
- A patient with back pain running for weeks to months.
- A patient with a deformity of the spine, a gibbus or kyphosis above all.
- A patient with the general symptoms of tuberculosis: weakness, falling appetite and weight, fever above all in the afternoon, and night sweats.
- A patient with leg weakness worsening gradually, or disturbance of bladder or bowel.
- A patient with a TB contact history or previous TB treatment.
MengenaliRecognising it
Penyakit ini hampir selalu datang sebagai nyeri punggung. Yang memisahkannya dari nyeri punggung biasa adalah perjalanan waktunya, gejala umum tuberkulosis yang menyertainya, dan tanda neurologis yang muncul belakangan.
Anamnesis 2:
- Kelemahan yang dapat timbul mendadak maupun perlahan, sifatnya naik, dan berlangsung dalam hitungan bulan sampai tahun.
- Nyeri punggung dan spasme otot.
- Gejala umum: lemas, nafsu makan berkurang, berat badan turun, demam terutama pada sore hari, dan berkeringat pada malam hari.
- Gejala umum ini sering muncul lebih dulu daripada manifestasi tulang belakangnya, sehingga pasien dapat datang beberapa kali sebelum punggungnya menjadi keluhan utama.
- Gejala tuberkulosis di luar kerangka: batuk, benjolan pada leher, diare, dan distensi abdomen.
This disease almost always arrives as back pain. What separates it from ordinary back pain is its time course, the general tuberculosis symptoms alongside it, and the neurological signs that appear later.
History 2:
- Weakness that can begin suddenly or slowly, ascending in character, and running over months to years.
- Back pain and muscle spasm.
- General symptoms: weakness, reduced appetite, weight loss, fever above all in the afternoon, and night sweats.
- These general symptoms often appear before the spinal manifestations, so the patient may attend several times before their back becomes the main complaint.
- Symptoms of tuberculosis outside the skeleton: cough, a lump in the neck, diarrhoea and abdominal distension.
RujukanReferences
- 1.Kementerian Kesehatan RI. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama, entri Tuberkulosis sebagaimana diubah oleh lampiran Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/1936/2022, Huruf A Kelompok Umum angka 1, sub a angka 2 Tuberkulosis (TB) Ekstra Paru Dewasa, halaman lampiran -24- sampai -29-. Header entri menuliskan Tingkat Kemampuan 4A untuk seluruh entri TB, sementara kriteria rujukannya menyebut TB Spondilitis sebagai kasus yang dirujuk untuk penegakan diagnosis pasti. diskes.badungkab.go.id
- 2.Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (PERDOSSI). Panduan Praktik Klinis Neurologi, 2016, bab Spondilitis Tuberkulosis, halaman 195 sampai 196, termasuk butir 10 Kewenangan berdasar Tingkat Pelayanan Kesehatan. snars.web.id
- 3.Konsil Kedokteran Indonesia. Standar Kompetensi Dokter Indonesia 2012. Lampiran Daftar Penyakit, tabel Sistem Saraf, kelompok Infeksi, butir 18 Spondilitis TB dengan Tingkat Kemampuan 3A, halaman 33. Tabel Sistem Muskuloskeletal memuat butir 19 Spondilitis, spondilodisitis dengan tingkat 2, yaitu butir untuk bentuk yang bukan tuberkulosis. pd.fk.ub.ac.id
- 4.Kementerian Kesehatan RI. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama. Lampiran I Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/1186/2022. Dicari seluruhnya dan tidak memuat entri maupun penyebutan untuk spondilitis TB; entri Tuberkulosisnya sudah digantikan oleh KMK 1936/2022. Dipakai sebagai pembanding negatif. manuver.tireg7.net
- 5.Tobin EH, Rausch-Phung EA. Tuberculous Spondylitis (Pott Disease). In: StatPearls. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing. Bacaan lanjutan, bukan sumber isi entri ini. ncbi.nlm.nih.gov
- 6.Kementerian Kesehatan RI. Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana Tuberkulosis, lampiran Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/755/2019. Bab tuberkulosis ekstraparu, huruf E Tuberkulosis tulang dan sendi, halaman 74 sampai 75, beserta rekomendasi lama pengobatan TB susunan saraf pusat serta TB tulang dan sendi. Dokumen ini adalah referensi yang dicantumkan entri Tuberkulosis PPK FKTP. repository.kemkes.go.id