ServisitisCervicitis

SKDI 2012 menempatkan Servisitis pada tabel Sistem Reproduksi, subkelompok Infeksi, butir nomor 10, dengan Tingkat Kemampuan 3A dan tanpa kata pembatas [1]. Tingkat 3A berarti dokter layanan primer menegakkan diagnosis, memberi pengobatan awal, lalu merujuk. Halaman ini disusun mengikuti batas itu. Ada dua penilaian di dalam satu dokumen yang sama, dan pembaca perlu mengetahuinya [1]: - Butir 10 Servisitis berada pada 3A. - Butir 3 pada tabel dan subkelompok yang sama menyebut sindrom duh genital, gonore dan nongonore, pada 4A. - Perempuan dengan servisitis pada praktiknya masuk lewat pintu sindrom itu, sehingga satu pasien dapat dibaca sebagai 4A atau sebagai 3A menurut nama yang dipilih pemeriksa. - Karena kedua penilaian berasal dari dokumen yang sama dan tidak dapat dipisahkan berdasarkan tanggal, halaman ini memakai angka yang lebih rendah, yaitu 3A. Butir tetangganya di tabel yang sama menunjukkan bahwa pemberian angka ini tidak berjenjang menurut beratnya penyakit: butir 9 Vaginosis bakterialis 4A, butir 11 Salpingitis 4A, butir 12 Abses tubo-ovarium 3B, butir 13 Penyakit radang panggul 3A [1]. Tidak ada entri PPK FKTP yang berjudul Servisitis, baik pada lampiran KMK HK.01.07/MENKES/1186/2022 maupun pada perubahannya KMK HK.01.07/MENKES/1936/2022 [2][5]. Servisitis muncul di dalam dua entri lain: sebagai salah satu penyebab duh tubuh vagina pada entri Fluor Albus / Vaginal Discharge Non Gonore, yang berkepala 4A, dan sebagai salah satu dari dua klasifikasi anatomis pada entri Gonore, yang juga berkepala 4A [2]. Keduanya tidak memberi tingkat kemampuan untuk servisitis sendiri, sehingga tidak berselisih dengan SKDI dan 3A tetap berlaku. Bila penyebabnya sudah terbukti gonokokus, halaman gonore adalah rujukan yang tepat; bila penyebabnya belum ditentukan, dan itulah keadaan yang lazim di layanan primer, halaman ini berlaku.SKDI 2012 places Servisitis in the Sistem Reproduksi table, Infeksi subgroup, item 10, at competency level 3A, with no qualifying words [1]. Level 3A means the primary care doctor makes the diagnosis, gives initial treatment, then refers. This page is built to that boundary. Two gradings sit inside the same document, and the reader needs to know it [1]: - Item 10 Servisitis sits at 3A. - Item 3 in the same table and subgroup names the genital discharge syndrome, gonococcal and non gonococcal, at 4A. - A woman with cervicitis arrives in practice through that syndrome door, so one patient can be read as 4A or as 3A depending on the name the examiner chooses. - Because both gradings come from the same document and cannot be separated by date, this page carries the lower one, 3A. The neighbouring items in the same table show that these grades do not rise with severity: item 9 bacterial vaginosis 4A, item 11 salpingitis 4A, item 12 tubo-ovarian abscess 3B, item 13 pelvic inflammatory disease 3A [1]. No PPK FKTP entry is titled Servisitis, neither in the annex to KMK HK.01.07/MENKES/1186/2022 nor in its amendment KMK HK.01.07/MENKES/1936/2022 [2][5]. Cervicitis appears inside two other entries: as one cause of vaginal discharge in the Fluor Albus / Vaginal Discharge Non Gonore entry, headed 4A, and as one of two anatomical classifications in the Gonore entry, also headed 4A [2]. Neither grades cervicitis on its own, so neither conflicts with SKDI and 3A stands. Where the cause is proven gonococcal, the gonore page is the right reference; where the cause has not been established, which is the usual situation in primary care, this page applies.

Servisitis adalah peradangan serviks. Di layanan primer ia diperlakukan sebagai infeksi menular seksual sampai terbukti bukan, dan dua kuman yang menentukan tata laksananya adalah Neisseria gonorrhoeae dan Chlamydia trachomatis 24. Pada perempuan pascapubertas kedua kuman itu menyerang epitel endoserviks, bukan dinding vagina 3.

Sebagian besar perempuan yang terinfeksi tidak merasakan apa pun. Sedikitnya separuh perempuan dengan infeksi gonokokus pada serviks tidak bergejala, dan infeksi klamidia pada serviks lebih sering lagi berjalan tanpa gejala 3. Karena itu servisitis lebih sering ditemukan pada pemeriksaan daripada dikeluhkan pasien: saat pemeriksaan spekulum pada kunjungan antenatal, pelayanan keluarga berencana, skrining kanker leher rahim, atau ketika pasangan pasien datang dengan keluhannya sendiri.

Diamnya itulah yang membuatnya penting. Infeksi serviks yang tidak diobati merambat ke atas dan menjadi salpingitis, penyakit radang panggul, dan abses tubo-ovarium; parut yang ditinggalkannya membawa kehamilan ektopik dan infertilitas 24. Pada kehamilan, infeksi klamidia dihubungkan dengan kelahiran prematur, bayi berat lahir rendah, konjungtivitis, infeksi nasofaring, dan pneumonia pada bayi, sedangkan ibu dengan gonore yang tidak diobati dapat melahirkan bayi dengan konjungtivitis neonatorum yang dapat berakhir dengan kebutaan 4.

Faktor risiko yang perlu ditanyakan 23:

  • Usia muda, di bawah 21 tahun pada sebagian populasi dan di bawah 25 tahun pada populasi lain.
  • Lebih dari satu pasangan seksual dalam tiga bulan terakhir.
  • Pasangan seksual baru dalam tiga bulan terakhir.
  • Pasangan yang sedang menderita infeksi menular seksual.
  • Hubungan seksual dengan orang yang diduga menularkan infeksi menular seksual.
    • Daftar ini divalidasi pada kelompok penduduk tertentu dan tidak otomatis berlaku di tempat lain, sehingga satu faktor risiko saja tidak dipakai sebagai penentu tunggal 3.

Tingkat kemampuan dokter layanan primer 3A 1. Artinya diagnosis ditegakkan di puskesmas, pengobatan awal diberikan di puskesmas, dan pasien tetap dirujuk untuk pemastian penyebab serta penilaian serviks.

Cervicitis is inflammation of the cervix. In primary care it is treated as a sexually transmitted infection until proved otherwise, and the two organisms that decide management are Neisseria gonorrhoeae and Chlamydia trachomatis 24. In postpubertal women both infect the endocervical epithelium rather than the vaginal wall 3.

Most infected women feel nothing at all. At least half of women with gonococcal infection of the cervix have no symptoms, and chlamydial cervical infection runs silently more often still 3. So cervicitis is usually found on examination rather than reported as a complaint: at speculum examination during an antenatal visit, at a family planning visit, at cervical cancer screening, or when a partner attends with symptoms of his own.

That silence is what makes it matter. Untreated cervical infection climbs and becomes salpingitis, pelvic inflammatory disease and tubo-ovarian abscess, and the scarring it leaves brings ectopic pregnancy and infertility 24. In pregnancy, chlamydial infection is linked to preterm birth, low birth weight, and conjunctivitis, nasopharyngeal infection and pneumonia in the infant, while a mother with untreated gonorrhoea can deliver an infant with neonatal conjunctivitis that can end in blindness 4.

Risk factors worth asking about 23:

  • Young age, under 21 years in some populations and under 25 years in others.
  • More than one sexual partner in the past three months.
  • A new sexual partner in the past three months.
  • A partner currently affected by a sexually transmitted infection.
  • Intercourse with someone suspected of transmitting a sexually transmitted infection.
    • This list was validated in particular populations and does not transfer automatically elsewhere, so a single risk factor is not used as the sole decider 3.

Primary care competency is 3A 1. The diagnosis is made at the health centre, initial treatment is given at the health centre, and the patient is still referred for confirmation of cause and for assessment of the cervix.

MengenaliRecognising it

Servisitis jarang datang dengan namanya sendiri. Ia masuk lewat tiga pintu: perempuan dengan duh tubuh vagina, perempuan yang diperiksa karena alasan lain, dan perempuan yang datang karena pasangannya diobati.

Anamnesis 23:

  • Perubahan duh tubuh vagina, pada warna, kekentalan, jumlah, atau baunya.
  • Perdarahan di luar haid, terutama perdarahan sesudah senggama.
  • Nyeri saat senggama.
  • Disuria.
  • Rasa gatal atau nyeri di daerah genital.
  • Nyeri perut bagian bawah atau nyeri panggul, yang menandakan infeksi sudah naik.
  • Tidak ada keluhan sama sekali pada sebagian besar pasien, sehingga anamnesis yang bersih tidak menyingkirkan diagnosis 3.

Cervicitis rarely arrives under its own name. It comes through three doors: a woman with vaginal discharge, a woman examined for another reason, and a woman who attends because her partner is being treated.

History 23:

  • A change in vaginal discharge, in colour, consistency, volume or smell.
  • Bleeding outside menstruation, particularly bleeding after intercourse.
  • Pain during intercourse.
  • Dysuria.
  • Itching or pain in the genital area.
  • Lower abdominal or pelvic pain, which signals that the infection has climbed.
  • No complaint at all in most patients, so a clean history does not exclude the diagnosis 3.
Memeriksa aksesChecking access

RujukanReferences

  1. 1.Konsil Kedokteran Indonesia. Standar Kompetensi Dokter Indonesia 2012, Lampiran Daftar Penyakit, tabel Sistem Reproduksi, subkelompok Infeksi, butir 10 Servisitis, Tingkat Kemampuan 3A, halaman cetak 48. Butir 3 pada tabel yang sama menyebut sindrom duh genital gonore dan nongonore pada 4A. pd.fk.ub.ac.id
  2. 2.Kementerian Kesehatan RI. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama, lampiran Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/1186/2022. Huruf O Penyakit Kelamin angka 1 Fluor Albus / Vaginal Discharge Non Gonore halaman lampiran -782- sampai -787- dan angka 3 Gonore halaman lampiran -795- sampai -798-; Lampiran II Huruf L Sistem reproduksi angka 1 Pemeriksaan Fisik Ginekologi Wanita halaman lampiran -1046- sampai -1048-. Tidak ada entri berjudul Servisitis. manuver.tireg7.net
  3. 3.World Health Organization. Guidelines for the management of symptomatic sexually transmitted infections. Geneva: WHO; 2021. Bab 8 Vaginal discharge syndrome, subbab 8.4 Cervical infection. Dipakai hanya untuk keterbatasan alur duh tubuh vagina, faktor risiko infeksi serviks, proporsi pasien tanpa gejala, dan gambaran spekulum, karena dokumen nasional tidak menjawab keempatnya. ncbi.nlm.nih.gov
  4. 4.Kementerian Kesehatan RI. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 23 Tahun 2022 tentang Penanggulangan Human Immunodeficiency Virus, Acquired Immunodeficiency Syndrome, dan Infeksi Menular Seksual. Uraian gonore dan infeksi klamidia, notifikasi pasangan dan anak, terapi presumtif pasangan, tenggat rujukan 2 minggu, serta pencatatan dan pelaporan. peraturan.bpk.go.id
  5. 5.Kementerian Kesehatan RI. Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/1936/2022 tentang Perubahan atas KMK HK.01.07/MENKES/1186/2022. Diperiksa untuk perubahan pada Huruf O Penyakit Kelamin; tidak ada perubahan yang menyentuh huruf itu. diskes.badungkab.go.id
  6. 6.Cervicitis. StatPearls. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing. Bacaan lanjutan dan tautan saja, bukan sumber isi halaman ini. ncbi.nlm.nih.gov

SPARK Atlas adalah alat bantu rujukan untuk klinisi, bukan pengganti penilaian klinis. Verifikasi setiap keputusan terhadap kondisi pasien dan pedoman terkini.SPARK Atlas is a reference aid for clinicians, not a substitute for clinical judgement. Verify every decision against the patient in front of you and current guidance.