SalpingitisSalpingitis

SKDI 2012 menempatkan salpingitis pada tabel Sistem Reproduksi, subkelompok Infeksi, butir 11, dengan tingkat kemampuan 4A tanpa kata pembatas [1]. Dua butir di bawahnya pada tabel yang sama membuat angka itu sulit dijalankan apa adanya [1]: - Butir 12, abses tubo-ovarium, tingkat 3B. - Butir 13, penyakit radang panggul, tingkat 3A. Ketiganya adalah penyakit yang sama pada luas yang berbeda. Salpingitis adalah bagian tuba dari penyakit radang panggul, dan abses tubo-ovarium adalah salpingitis yang sudah bernanah dan terbungkus. Di samping tempat tidur, tanpa laparoskopi, ketiganya tidak dapat dipisahkan. Akibatnya seorang dokter layanan primer diminta menuntaskan bentuk yang paling sulit dikenali dan merujuk dua bentuk yang tampilannya sama. PPK FKTP tidak memuat entri salpingitis sama sekali. Kata itu hanya muncul dua kali di seluruh lampiran [3][4]: - Sebagai komplikasi asendens gonore pada perempuan, di dalam entri Gonore. - Sebagai diagnosis banding apendisitis akut, di dalam entri Apendisitis Akut. Halaman ini karena itu memakai jalur nyeri perut bawah WHO sebagai kerangka kerjanya, dan menyatakan asal setiap butir dengan penanda kutipan tersendiri [2].SKDI 2012 places salpingitis in the Sistem Reproduksi table, Infeksi subgroup, item 11, at competency level 4A with no qualifying words [1]. Two items below it in the same table make that number hard to operate literally [1]: - Item 12, tubo-ovarian abscess, level 3B. - Item 13, pelvic inflammatory disease, level 3A. These are the same disease at different extents. Salpingitis is the tubal component of pelvic inflammatory disease, and a tubo-ovarian abscess is salpingitis that has suppurated and walled itself off. At the bedside, without laparoscopy, the three cannot be separated. A primary care doctor is therefore asked to treat to completion the form that is hardest to identify and to refer two forms that look the same. PPK FKTP carries no salpingitis entry at all. The word appears twice in the whole annex [3][4]: - As an ascending complication of gonorrhoea in women, inside the Gonore entry. - As a differential diagnosis of acute appendicitis, inside the Apendisitis Akut entry. This page therefore uses the WHO lower abdominal pain pathway as its working frame, and marks the origin of every item with its own citation [2].

Salpingitis adalah radang tuba falopii, dan hampir selalu merupakan infeksi yang naik dari saluran genital bawah. Bersama radang endometrium dan radang ovarium ia membentuk penyakit radang panggul, sehingga salpingitis bukan penyakit yang berdiri sendiri di samping tempat tidur melainkan bagian tuba dari satu proses yang sama.

Pasiennya perempuan aktif secara seksual dengan nyeri perut bawah, sering disertai duh vagina yang berubah, kadang disertai demam 3. Yang membuat penyakit ini penting bukan beratnya saat itu, melainkan bekasnya: epitel tuba yang rusak tidak tumbuh kembali, dan dari situlah datang infertilitas, kehamilan ektopik, serta nyeri panggul yang menahun 3.

Dua kenyataan menentukan cara halaman ini disusun.

  • SKDI memberi salpingitis tingkat 4A, sedangkan penyakit radang panggul 3A dan abses tubo-ovarium 3B 1. Ketiganya adalah penyakit yang sama pada luas yang berbeda, dan tanpa laparoskopi ketiganya tidak dapat dipisahkan.
  • PPK FKTP tidak memuat entri salpingitis. Kata itu hanya muncul sebagai komplikasi asendens gonore pada perempuan dan sebagai diagnosis banding apendisitis akut 34.

Karena tidak ada jalur Indonesia yang khusus, kerangka kerja halaman ini diambil dari jalur nyeri perut bawah WHO, yang memang disusun untuk keadaan ini dan untuk tempat kerja tanpa laboratorium lengkap 2.

Salpingitis is inflammation of the fallopian tube, and it is almost always an infection ascending from the lower genital tract. Together with inflammation of the endometrium and of the ovary it makes up pelvic inflammatory disease, so salpingitis is not a standalone disease at the bedside but the tubal part of one process.

The patient is a sexually active woman with lower abdominal pain, often with a change in vaginal discharge, sometimes with fever 3. What makes the disease important is not its severity on the day but what it leaves behind: damaged tubal epithelium does not grow back, and from there come infertility, ectopic pregnancy and chronic pelvic pain 3.

Two facts shape how this page is built.

  • SKDI puts salpingitis at 4A, pelvic inflammatory disease at 3A and tubo-ovarian abscess at 3B 1. These are the same disease at different extents, and without laparoscopy they cannot be told apart.
  • PPK FKTP carries no salpingitis entry. The word appears only as an ascending complication of gonorrhoea in women and as a differential diagnosis of acute appendicitis 34.

Because there is no dedicated Indonesian pathway, the working frame of this page is taken from the WHO lower abdominal pain pathway, which was written for exactly this situation and for settings without a full laboratory 2.

MengenaliRecognising it

Diagnosis ditegakkan secara klinis, dan pengobatan dimulai atas dugaan klinis. Menunggu kepastian bukan sikap netral di sini: kerusakan tuba bertambah selama penantian, dan tidak ada pemeriksaan layanan primer yang dapat memastikan diagnosisnya.

Anamnesis:

  • Nyeri perut bawah pada perempuan yang aktif secara seksual 2.
  • Duh vagina yang berubah warna, jumlah, kekentalan, atau baunya 3.
  • Demam, yang boleh ada dan boleh tidak 3.
  • Nyeri panggul, perdarahan di antara menstruasi, atau perdarahan sesudah senggama 3.
  • Nyeri saat berhubungan seksual 3.
  • Riwayat pasangan yang dicurigai menularkan penyakit menular seksual 3.
  • Tanyakan hari pertama haid terakhir pada setiap pasien, karena kehamilan ektopik adalah banding yang paling berbahaya.

The diagnosis is clinical, and treatment is started on clinical suspicion. Waiting for certainty is not a neutral act here: tubal damage accumulates during the wait, and no primary care test can confirm the diagnosis.

History:

  • Lower abdominal pain in a sexually active woman 2.
  • Vaginal discharge changed in colour, volume, consistency or smell 3.
  • Fever, which may or may not be present 3.
  • Pelvic pain, bleeding between periods, or bleeding after intercourse 3.
  • Pain on intercourse 3.
  • A partner suspected of transmitting a sexually transmitted infection 3.
  • Ask every patient for the first day of her last period, because ectopic pregnancy is the most dangerous differential.
Memeriksa aksesChecking access

RujukanReferences

  1. 1.Konsil Kedokteran Indonesia. Standar Kompetensi Dokter Indonesia 2012, Lampiran Daftar Penyakit, tabel Sistem Reproduksi, subkelompok Infeksi, butir 11 Salpingitis, Tingkat Kemampuan 4A, beserta butir 12 Abses tubo-ovarium (3B) dan butir 13 Penyakit radang panggul (3A). pd.fk.ub.ac.id
  2. 2.World Health Organization. Guidelines for the management of symptomatic sexually transmitted infections. Geneva: WHO; 2021. Bab 9 Lower abdominal pain, termasuk Tabel 6 pilihan pengobatan dan kriteria pertimbangan rawat inap. Dipakai untuk seluruh ambang pengobatan, dosis, dan tenggat penilaian ulang, karena tidak ada entri PPK FKTP untuk penyakit ini. ncbi.nlm.nih.gov
  3. 3.Kementerian Kesehatan RI. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama, lampiran Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/1186/2022. Huruf O Penyakit Kelamin, angka 1 Fluor Albus / Vaginal Discharge Non Gonore, halaman lampiran -782- sampai -787-. Dipakai untuk gambaran klinis penyakit radang panggul dan komplikasinya. manuver.tireg7.net
  4. 4.Kementerian Kesehatan RI. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama, lampiran Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/1186/2022. Huruf O Penyakit Kelamin, angka 3 Gonore, halaman lampiran -795- sampai -798-, untuk komplikasi asendens pada perempuan dan regimen gonore tanpa penyulit; dan Huruf C Digestive, angka 14 Apendisitis Akut, yang mencantumkan salpingitis akut pada daftar diagnosis bandingnya. manuver.tireg7.net
  5. 5.Jenkins SM, Vadakekut ES. Pelvic Inflammatory Disease. StatPearls. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing. Bacaan lanjutan, bukan sumber isi halaman ini. ncbi.nlm.nih.gov

SPARK Atlas adalah alat bantu rujukan untuk klinisi, bukan pengganti penilaian klinis. Verifikasi setiap keputusan terhadap kondisi pasien dan pedoman terkini.SPARK Atlas is a reference aid for clinicians, not a substitute for clinical judgement. Verify every decision against the patient in front of you and current guidance.