Ruptur kandung kencingBladder rupture

Tingkat 3B berarti dokter layanan primer mendiagnosis, memberi penanganan kegawatan, lalu merujuk. SKDI 2012 memberi butir 29 Ruptur kandung kencing tingkat 3B pada tabel Sistem Ginjal dan Saluran Kemih, subkelompok Alat Kelamin Pria, halaman 47. Penempatan itu perlu dibaca dengan sadar: kandung kemih bukan alat kelamin pria dan cedera ini mengenai kedua jenis kelamin, sedangkan penyebab iatrogeniknya justru paling sering berasal dari operasi kebidanan dan ginekologi. Tidak ada tabel SKDI kedua yang menilai kondisi ini.Level 3B means the primary care doctor diagnoses, gives emergency treatment, then refers. SKDI 2012 grades item 29 Ruptur kandung kencing as 3B in the renal and urinary tract table, subgroup male genital organs, page 47. That placement needs reading with care: the bladder is not a male genital organ and this injury affects both sexes, while its iatrogenic form arises most often from obstetric and gynaecological surgery. No second SKDI table grades this condition.

Ruptur kandung kencing adalah robeknya dinding kandung kemih akibat sebab dari luar tubuh maupun akibat tindakan medis 2. Letaknya yang terlindung di dalam tulang panggul membuatnya lebih jarang cedera dibanding ginjal 2.

Dua pembagian dipakai bersamaan, dan keduanya menentukan tatalaksana 2:

  • Menurut lokasi: ekstraperitoneal, intraperitoneal, atau kombinasi keduanya.
  • Menurut penyebab: non-iatrogenik, yaitu trauma tumpul dan trauma tajam, atau iatrogenik, baik dari luar kandung kemih maupun dari dalam lumennya.

Kandung kemih adalah organ urologi yang paling sering mengalami cedera iatrogenik, dan penyebab tersering dari luar adalah prosedur kebidanan dan ginekologi, disusul prosedur urologi dan bedah umum 2.

Data Indonesia memperlihatkan komposisi yang berbeda antar pusat, dan perbedaan itu berguna karena menunjukkan bahwa penyebab tersering di satu rumah sakit belum tentu tersering di rumah sakit lain 2:

  • RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo 2016 sampai 2020: 18% dari seluruh trauma urogenital.
  • RSUD Arifin Achmad Pekanbaru: 20% dari seluruh trauma urologi.
  • RS Hasan Sadikin 2010 sampai 2019, 170 kasus: trauma tumpul 68,2%, iatrogenik 30%, penetrasi 1,8%; kontusio 46,47%, ruptur intraperitoneal 40,59%, ruptur ekstraperitoneal 12,94%.
  • RSUD Dr. Saiful Anwar 2012 sampai 2020, 76 kasus: intraperitoneal 54%, tumpul 54%, iatrogenik 46%.
  • RSUP Dr. Sardjito 2017 sampai 2021, 76 kasus: intraperitoneal 57%, ekstraperitoneal 35%, kontusio 8%, dengan iatrogenik 83%.
  • RS Adam Malik Medan 2018 sampai 2021, 38 kasus: iatrogenik 71%.

Yang membuat pembagian lokasi penting: ruptur ekstraperitoneal tanpa komplikasi umumnya selesai dengan drainase kandung kemih, sedangkan ruptur intraperitoneal selalu dioperasi karena urine yang bocor ke rongga peritoneum menimbulkan peritonitis, sepsis intraabdomen, dan kematian 12.

Tingkat kompetensinya 3B 3. Dokter layanan primer mengenali, menstabilkan, dan merujuk; sistografi, eksplorasi, dan repair milik pusat rujukan.

PPK FKTP tidak memuat entri untuk penyakit ini, sehingga halaman ini bersandar pada Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana Trauma dan panduan trauma urogenital Ikatan Ahli Urologi Indonesia 124.

Bladder rupture is a tear in the bladder wall, caused either by force from outside the body or by a medical procedure 2. Its protected position inside the bony pelvis makes it a less frequent injury than the kidney 2.

Two classifications are used together, and both drive treatment 2:

  • By site: extraperitoneal, intraperitoneal, or a combination of the two.
  • By cause: non-iatrogenic, meaning blunt and penetrating trauma, or iatrogenic, either from outside the bladder or from within its lumen.

The bladder is the urological organ most often injured iatrogenically, and the commonest external cause is obstetric and gynaecological surgery, followed by urological and general surgical procedures 2.

Indonesian data show a different mix at each centre, and the difference is useful because it shows that the commonest cause at one hospital is not necessarily the commonest at another 2:

  • Cipto Mangunkusumo Hospital 2016 to 2020: 18% of all urogenital trauma.
  • Arifin Achmad Hospital Pekanbaru: 20% of all urological trauma.
  • Hasan Sadikin Hospital 2010 to 2019, 170 cases: blunt 68.2%, iatrogenic 30%, penetrating 1.8%; contusion 46.47%, intraperitoneal rupture 40.59%, extraperitoneal rupture 12.94%.
  • Saiful Anwar Hospital 2012 to 2020, 76 cases: intraperitoneal 54%, blunt 54%, iatrogenic 46%.
  • Sardjito Hospital 2017 to 2021, 76 cases: intraperitoneal 57%, extraperitoneal 35%, contusion 8%, with iatrogenic causes at 83%.
  • Adam Malik Hospital Medan 2018 to 2021, 38 cases: iatrogenic 71%.

Why the site matters: an uncomplicated extraperitoneal rupture usually settles with bladder drainage, while an intraperitoneal rupture is always operated on, because urine leaking into the peritoneal cavity causes peritonitis, intra-abdominal sepsis and death 12.

Competence is graded 3B 3. The primary care doctor recognises it, stabilises and refers; cystography, exploration and repair belong to the referral centre.

PPK FKTP carries no entry for this condition, so this page rests on the national trauma guideline of the Ministry of Health and the urogenital trauma guideline of the Indonesian Urological Association 124.

MengenaliRecognising it

Tanda utamanya satu: hematuria makroskopik 2.

Anamnesis:

  • Mekanisme cedera. Kecelakaan kendaraan bermotor adalah penyebab tersering trauma tumpul, disusul jatuh dari ketinggian. Mekanismenya adalah penekanan kandung kemih oleh tulang panggul dan benturan pada perut bagian bawah 2.
  • Pada trauma tajam, perlu ditanyakan jenis senjata dan jumlah tusukan; pada luka tembak, jenis dan kaliber senjata, jarak, dan jumlah tembakan 2.
  • Riwayat operasi belakangan ini. Ini pertanyaan yang paling sering terlewat, karena cedera iatrogenik dapat baru bergejala setelah pasien pulang 2.
  • Apakah pasien dapat berkemih, dan berapa banyak.

There is one cardinal sign: gross haematuria 2.

History:

  • The mechanism. Road traffic collision is the commonest cause of blunt injury, followed by falls from height. The mechanism is compression of the bladder by the pelvic bones and impact on the lower abdomen 2.
  • In penetrating trauma, ask about the weapon and the number of stab wounds; in gunshot wounds, the type and calibre, the range, and the number of shots 2.
  • Recent surgery. This is the question most often missed, because an iatrogenic injury can declare itself only after the patient has gone home 2.
  • Whether the patient can void, and how much.
Memeriksa aksesChecking access

RujukanReferences

  1. 1.Kementerian Kesehatan RI. Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana Trauma. Lampiran Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/132/2017, BAB V huruf M Trauma Genitourinarius, bagian M.3 Trauma Buli-buli, halaman lampiran 118 sampai 119, serta bagian A.6 tambahan pada primary survey dan bagian B.6 penilaian perineum, rektum, dan vagina pada survei sekunder. kemkes.go.id
  2. 2.Ikatan Ahli Urologi Indonesia dan Indonesian Genitourinary Reconstructive Society. Panduan Tatalaksana Trauma Urogenital, edisi pertama, 2022. ISBN 978-623-95636-5-3. BAB V Trauma Kandung Kemih, halaman 38 sampai 58, termasuk tabel ringkasan bukti ilmiah dan rekomendasi pada halaman 52 sampai 54. Editor: Gampo Alam Irdam, M. Ayodhia Soebadi. iaui.or.id
  3. 3.Konsil Kedokteran Indonesia. Standar Kompetensi Dokter Indonesia 2012. Daftar Penyakit, tabel Sistem Ginjal dan Saluran Kemih, subkelompok Alat Kelamin Pria, butir 29 Ruptur kandung kencing dengan Tingkat Kemampuan 3B, halaman 47. pd.fk.ub.ac.id
  4. 4.Kementerian Kesehatan RI. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama, lampiran Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/1186/2022. Dicari seluruhnya dan tidak memuat entri ruptur kandung kencing; dikutip di sini sebagai dasar pernyataan bahwa pedoman layanan primer diam mengenai kondisi ini. manuver.tireg7.net
  5. 5.Bladder Trauma. StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2026. Bacaan lanjutan, tidak dipakai sebagai sumber isi. ncbi.nlm.nih.gov

SPARK Atlas adalah alat bantu rujukan untuk klinisi, bukan pengganti penilaian klinis. Verifikasi setiap keputusan terhadap kondisi pasien dan pedoman terkini.SPARK Atlas is a reference aid for clinicians, not a substitute for clinical judgement. Verify every decision against the patient in front of you and current guidance.