Sinusitis kronik (rinosinusitis kronik)Chronic sinusitis (chronic rhinosinusitis)
Dua dokumen menilai penyakit ini dan keduanya sepakat pada angka yang sama. SKDI 2012 menilai butir 96 Sinusitis kronik pada tingkat 3A [2], dan header entri PPK FKTP 1186/2022 menilai rinosinusitis kronik pada tingkat 3A pula [1]. Tidak ada pertentangan yang perlu diselesaikan di sini, berbeda dengan bentuk akutnya yang dinilai 4A oleh PPK dan 3A serta 2 oleh SKDI; lihat entri Sinusitis (rinosinusitis akut). Arti angkanya: menegakkan diagnosis klinik, memberi terapi pendahuluan pada keadaan yang bukan gawat darurat, menentukan rujukan yang tepat, lalu menindaklanjuti sesudah pasien kembali [2]. Isi entri PPK berjalan sejajar dengan angka itu. Bagian tata laksananya berhenti pada identifikasi faktor risiko dan terapi awal, sedangkan kriteria rujukannya justru yang paling terperinci, dengan lima pemicu yang salah satunya berupa tenggat waktu [1].Two documents grade this disease and both land on the same number. SKDI 2012 grades item 96 Sinusitis kronik at level 3A [2], and the header of the PPK FKTP 1186/2022 entry grades chronic rhinosinusitis 3A as well [1]. There is no conflict to resolve here, unlike the acute form which PPK grades 4A while SKDI grades it 3A and 2; see the Sinusitis (acute rhinosinusitis) entry. What the number means: make the clinical diagnosis, give initial treatment in a non-emergency situation, choose the right referral, then follow the patient up once they return [2]. The content of the PPK entry runs parallel to that number. Its management section stops at identifying risk factors and giving initial treatment, while its referral criteria are the most detailed part, with five triggers one of which is a deadline [1].
Rinosinusitis kronik adalah peradangan mukosa sinus paranasal beserta rongga hidung yang berlangsung 12 minggu atau lebih 1. Batas 12 minggu itulah satu-satunya yang memisahkannya dari bentuk akut; gejala pintu masuknya sama persis.
Tingkat kemampuan dokter layanan primer 3A, yaitu menegakkan diagnosis, memberi terapi pendahuluan, lalu merujuk 12. Bentuk akutnya dinilai 4A dan dituntaskan di layanan primer, sehingga penghitungan minggu pada penyakit ini bukan urusan penamaan melainkan urusan kewenangan.
Yang membuat bentuk kronik berbeda bukan lamanya, melainkan penyebabnya. Rinosinusitis akut adalah infeksi yang datang lalu pergi; rinosinusitis kronik hampir selalu berdiri di atas sesuatu yang lain, dan sesuatu itu yang perlu ditemukan sebelum obat apa pun berguna 1.
Faktor risiko, dan pada bentuk kronik inilah penggaliannya paling penting 1:
- Kelainan anatomis kompleks osteomeatal, misalnya deviasi septum.
- Rinitis alergi.
- Rinitis non alergi, misalnya bentuk vasomotor dan bentuk medikamentosa.
- Polip hidung.
- Kelainan gigi atau gusi yang signifikan.
- Asma bronkial.
- Infeksi saluran napas atas akut yang sering berulang.
- Kebiasaan merokok dan pajanan polutan sehari-hari.
- Imunodefisiensi, misalnya HIV/AIDS.
- Riwayat penggunaan kokain.
Chronic rhinosinusitis is inflammation of the paranasal sinus mucosa together with the nasal cavity, lasting 12 weeks or more 1. That 12 week line is the only thing separating it from the acute form; the entry symptoms are identical.
Primary care competency is 3A: make the diagnosis, give initial treatment, then refer 12. The acute form is graded 4A and finished in primary care, so counting the weeks in this disease is not a matter of naming but of competency.
What makes the chronic form different is not its length but its cause. Acute rhinosinusitis is an infection that comes and goes; chronic rhinosinusitis almost always stands on something else, and that something has to be found before any drug is worth giving 1.
Risk factors, and it is in the chronic form that digging for them matters most 1:
- Anatomical abnormality of the ostiomeatal complex, for example septal deviation.
- Allergic rhinitis.
- Non-allergic rhinitis, for example the vasomotor and medicamentosa forms.
- Nasal polyps.
- Significant dental or gum disease.
- Bronchial asthma.
- Frequently recurring acute upper respiratory infection.
- Smoking and everyday pollutant exposure.
- Immunodeficiency, for example HIV/AIDS.
- A history of cocaine use.
MengenaliRecognising it
Diagnosis rinosinusitis kronik ditegakkan secara klinis, dan kriterianya sama untuk dewasa maupun anak 1.
Kriteria, sekurangnya dua faktor mayor 1:
- Salah satunya harus hidung tersumbat, atau sekret dari hidung atau post-nasal discharge yang purulen.
- Penyertanya nyeri pada wajah dan hiposmia atau anosmia.
Lama gejala 12 minggu atau lebih, dan angka inilah yang memisahkan penyakit ini dari bentuk akut 1:
- Kurang dari 12 minggu: lihat entri Sinusitis (rinosinusitis akut), yang dinilai 4A.
- Episode akut yang muncul di atas latar kronik tetap masuk penyakit ini, dan berdiri sebagai diagnosis banding pertama pada bentuk akut.
- Empat episode atau lebih dalam satu tahun dengan selang bebas gejala yang jelas adalah bentuk rekuren, dan angka itu sekaligus menjadi kriteria rujukan.
Chronic rhinosinusitis is diagnosed clinically, and the criteria are the same for adults and children 1.
Criteria, at least two major factors 1:
- One of them must be nasal blockage, or purulent nasal discharge or purulent post-nasal discharge.
- The accompanying items are facial pain and hyposmia or anosmia.
Symptoms for 12 weeks or more, and that number is what separates this disease from the acute form 1:
- Under 12 weeks: see the Sinusitis (acute rhinosinusitis) entry, which is graded 4A.
- An acute episode arising on a chronic background still belongs to this disease, and stands as the first differential in the acute form.
- Four or more episodes in one year with clear symptom-free intervals is the recurrent form, and that number is also a referral criterion.
RujukanReferences
- 1.Kementerian Kesehatan RI. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama. Lampiran I Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/1186/2022, Bab II Huruf J Respirasi, angka 18 Sinusitis (Rinosinusitis), bagian rinosinusitis kronik, halaman -517- sampai -527-. manuver.tireg7.net
- 2.Konsil Kedokteran Indonesia. Standar Kompetensi Dokter Indonesia 2012, Lampiran Daftar Penyakit, kelompok HIDUNG, butir 96 Sinusitis kronik tingkat 3A, dengan batasan tingkat 3A pada bagian Tingkat Kemampuan. pd.fk.ub.ac.id
- 3.Kementerian Kesehatan RI. Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/1936/2022 tentang Perubahan Atas Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/1186/2022. Dipakai sebagai pembanding negatif: tidak menyentuh angka 18 Huruf J Respirasi. diskes.badungkab.go.id
- 4.Bacaan lanjutan. Kwon E, Sutton AE, O'Rourke MC. Chronic Sinusitis. In: StatPearls. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing. Tautan saja, bukan sumber isi entri ini. ncbi.nlm.nih.gov