Rinitis kronikChronic rhinitis
SKDI 2012 menilai butir 91 Rhinitis kronik pada tingkat 3A, yaitu menegakkan diagnosis klinik, memberi terapi pendahuluan pada keadaan yang bukan gawat darurat, menentukan rujukan yang tepat, lalu menindaklanjuti sesudah pasien kembali [2]. Butir itu berdiri tepat di bawah butir 90 Rhinitis alergika 4A dan tepat di atas butir 92 Rhinitis medikamentosa 3A, di dalam kelompok HIDUNG [2]. Ada ketegangan di dalam daftar itu sendiri yang perlu dilihat pemakainya. Rinitis vasomotor, butir 89, dinilai 4A, padahal rinitis vasomotor adalah salah satu bentuk rinitis kronik menurut batasan entri PPK FKTP [1][2]. Jadi satu bentuk rinitis kronik boleh dituntaskan di layanan primer sementara sisanya dirujuk. Batas itu bukan soal beratnya penyakit, melainkan soal apakah bentuknya sudah punya pedoman sendiri: rinitis akut, rinitis vasomotor, dan rinitis alergi punya entri PPK FKTP lengkap dengan obatnya, sedangkan rinitis kronik tidak punya entri sama sekali [1]. PPK FKTP 1186/2022 lebih baru daripada SKDI 2012, tetapi tidak memuat butir untuk penyakit ini, sehingga tidak ada dokumen yang lebih baru yang menggeser angka 3A. Diamnya sebuah dokumen bukan perbedaan pendapat [1][2].SKDI 2012 grades item 91 Rhinitis kronik at level 3A: make the clinical diagnosis, give initial treatment in a non-emergency situation, choose the right referral, then follow the patient up after they come back [2]. The item sits directly below item 90 Rhinitis alergika at 4A and directly above item 92 Rhinitis medikamentosa at 3A, inside the HIDUNG group [2]. There is a tension inside that list which users should see. Vasomotor rhinitis, item 89, is graded 4A, even though vasomotor rhinitis is one form of chronic rhinitis by the PPK FKTP entry's own definition [1][2]. So one form of chronic rhinitis may be finished in primary care while the rest are referred. The line is not drawn by severity but by whether the form already has guidance of its own: acute, vasomotor and allergic rhinitis each have a full PPK FKTP entry with its drugs, while chronic rhinitis has no entry at all [1]. PPK FKTP 1186/2022 is newer than SKDI 2012 but carries no item for this disease, so no newer document displaces the 3A. A document's silence is not disagreement [1][2].
Rinitis kronik adalah peradangan mukosa hidung yang bertahan 12 minggu atau lebih; di bawah 12 minggu penyakitnya masih rinitis akut 1. Tingkat kemampuan dokter layanan primer 3A, yaitu diagnosis, terapi pendahuluan, lalu rujukan 2.
Nama ini menampung sisa sebuah pembagian, bukan satu penyakit. Tiga bentuk rinitis menahun sudah punya halaman dan kewenangannya sendiri: rinitis alergi dan rinitis vasomotor pada tingkat 4A, rinitis medikamentosa pada tingkat 3A 12. Rinitis vasomotor sendiri adalah salah satu bentuk rinitis kronik 1. Yang tersisa untuk halaman ini adalah hidung yang meradang menahun dan tidak diterangkan oleh ketiga bentuk tersebut, dan justru sisa itulah yang perlu mata seorang spesialis.
PPK FKTP tidak memuat entri untuk rinitis kronik. Nama ini hanya muncul di dalam entri penyakit lain, dan itulah seluruh bahan nasional yang tersedia 1:
- Rinitis kronis mengiritasi rongga hidung lewat sekretnya dan menjadi faktor predisposisi furunkel hidung.
- Rinitis non alergi, yaitu bentuk vasomotor dan bentuk medikamentosa, adalah faktor risiko rinosinusitis.
- Rinitis atrofi berjalan bersama faringitis kronik atrofi, karena udara pernapasan tidak lagi diatur suhu dan kelembapannya sebelum sampai ke faring.
Chronic rhinitis is inflammation of the nasal mucosa lasting 12 weeks or more; under 12 weeks the illness is still acute rhinitis 1. Primary care competency is 3A: diagnosis, initial treatment, then referral 2.
The name holds the remainder of a division rather than a single disease. Three persistent forms of rhinitis already have a page and a competency of their own: allergic and vasomotor rhinitis at 4A, rhinitis medicamentosa at 3A 12. Vasomotor rhinitis is itself one form of chronic rhinitis 1. What is left for this page is a nose inflamed for months that none of those three explains, and it is exactly that remainder which needs a specialist's eye.
PPK FKTP carries no entry for chronic rhinitis. The name appears only inside other disease entries, and that is the whole of the national material available 1:
- Chronic rhinitis irritates the nasal cavity with its own secretion and predisposes to a nasal furuncle.
- Non-allergic rhinitis, meaning the vasomotor and the medicamentosa forms, is a risk factor for rhinosinusitis.
- Atrophic rhinitis travels with atrophic chronic pharyngitis, because inspired air is no longer warmed and humidified before it reaches the pharynx.
MengenaliRecognising it
Diagnosis dibangun dari lama gejala, lalu dari penyingkiran bentuk yang sudah punya entri sendiri.
Langkah pertama, tetapkan lamanya 1:
- Gejala hidung 12 minggu atau lebih, tanpa demam, dengan perjalanan naik turun.
- Kurang dari 12 minggu, biasanya dengan demam dan sekret yang berubah mukopurulen: lihat entri Rinitis akut.
Langkah kedua, cari bentuk yang punya pedoman sendiri, karena bentuk itulah yang menentukan obat dan kewenangan 1:
- Bersin berulang, gatal hidung dan mata, rinore encer, keluhan muncul pada pajanan alergen: lihat entri Rinitis alergi.
- Sumbatan yang berpindah sisi mengikuti posisi tidur, memberat pagi hari, dipicu perubahan suhu, kelembapan, asap, dan bau menyengat: lihat entri Rinitis vasomotor.
- Dekongestan semprot yang dipakai berminggu-minggu dan makin sering: lihat entri Rinitis medikamentosa.
- Nyeri wajah, sekret purulen, hiposmia, keluhan 12 minggu atau lebih: itu rinosinusitis kronik, bukan rinitis, dan ada entrinya sendiri.
The diagnosis is built from the duration first, then by excluding the forms that already have an entry of their own.
Step one, fix the duration 1:
- Nasal symptoms for 12 weeks or more, without fever, waxing and waning.
- Under 12 weeks, usually with fever and secretion turning mucopurulent: see the Acute rhinitis entry.
Step two, look for the form that has guidance of its own, because that form decides both the drug and the competency 1:
- Repeated sneezing, itchy nose and eyes, watery rhinorrhoea, symptoms on allergen exposure: see the Allergic rhinitis entry.
- Blockage that changes sides with the sleeping position, worse in the morning, triggered by temperature change, humidity, smoke and strong smells: see the Vasomotor rhinitis entry.
- A decongestant spray used for weeks and needed ever more often: see the Rhinitis medicamentosa entry.
- Facial pain, purulent secretion, hyposmia, symptoms for 12 weeks or more: that is chronic rhinosinusitis rather than rhinitis, and it has its own entry.
RujukanReferences
- 1.Kementerian Kesehatan RI. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama. Lampiran I Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/1186/2022, Bab II Huruf J Respirasi. Dipakai sebagai temuan negatif dan sebagai bahan: tidak ada angka untuk Rinitis Kronik, dan penyakit ini disebut dari dalam angka 14 Furunkel Pada Hidung halaman -503- sampai -505-, angka 15 Rinitis Akut halaman -505- sampai -509-, angka 16 Rinitis Vasomotor halaman -509- sampai -513-, angka 17 Rinitis Alergi halaman -513- sampai -517-, angka 18 Sinusitis (Rinosinusitis) halaman -517- sampai -527-, dan angka 2 Faringitis Akut halaman -423- sampai -429-. manuver.tireg7.net
- 2.Konsil Kedokteran Indonesia. Standar Kompetensi Dokter Indonesia 2012, Lampiran Daftar Penyakit, kelompok HIDUNG, butir 91 Rhinitis kronik tingkat 3A, dengan batasan tingkat 3A pada bagian Tingkat Kemampuan. pd.fk.ub.ac.id
- 3.Kementerian Kesehatan RI. Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/1936/2022 tentang Perubahan Atas Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/1186/2022. Dipakai sebagai pembanding negatif: tidak memuat kata rinitis maupun rhinitis, sehingga tidak menggeser tingkat kemampuan maupun isi entri ini. diskes.badungkab.go.id
- 4.Bacaan lanjutan. Young B, Sutton AE, Geiger Z. Nonallergic Rhinitis (Vasomotor Rhinitis). In: StatPearls. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing. StatPearls tidak memiliki bab Chronic Rhinitis, dan bab ini adalah yang terdekat. Tautan saja, bukan sumber isi entri ini. ncbi.nlm.nih.gov