Retensi PlasentaRetained Placenta

SKDI 2012 menempatkan retensi plasenta pada tabel Sistem Reproduksi, subkelompok Persalinan dan Nifas, butir 53, dengan tingkat kemampuan 3B [2]. Arti 3B di sini [2]: - Dokter layanan primer menegakkan diagnosis, memberi terapi kegawatdaruratan, lalu merujuk. Yang membuat entri ini berbeda dari entri 3B lain adalah daftar kedua di SKDI. Selain daftar penyakit, SKDI memuat Daftar Keterampilan Klinis dengan tingkatnya sendiri, dan tindakan utama pada keadaan ini justru tidak bertingkat mandiri [2]: - Butir 73, pengambilan plasenta secara manual, tingkat 3, yaitu pernah melakukan atau pernah menerapkan di bawah supervisi. - Butir 76, kompresi bimanual eksterna, interna, dan aorta, tingkat 4A. - Butir 63, pemeriksaan pascasalin berupa tinggi fundus serta menilai plasenta lepas atau tersisa, tingkat 4A. - Butir 64, memperkirakan atau mengukur kehilangan darah sesudah melahirkan, tingkat 4A. Dibaca bersama, keempat butir itu menggambarkan pembagian kerja yang tegas. Menilai apakah plasenta sudah lepas, menaksir darah yang hilang, dan menahan perdarahan dengan kompresi bimanual adalah kemampuan mandiri. Mengeluarkan plasenta dengan tangan bukan. Karena itu keputusan yang sebenarnya di layanan primer bukan hanya kapan merujuk, melainkan juga apakah tindakan ini layak dikerjakan sendiri di tempat. Batas praktisnya: - Tidak ada entri PPK tersendiri untuk retensi plasenta. Keadaan ini ada di dalam entri Perdarahan Post Partum sebagai satu dari tujuh penyebab, dan rinciannya ada pada Buku Saku Pelayanan Kesehatan Ibu yang dirujuk entri itu [1][4]. - Angka yang paling menentukan bukan dosis melainkan waktu: plasenta yang belum lahir dalam 30 menit sesudah kelahiran bayi [1][4]. - Bila plasenta tidak dapat dilepaskan dari permukaan rahim, kemungkinannya plasenta akreta, dan penyelesaiannya adalah laparotomi di fasilitas rujukan [4].SKDI 2012 places retained placenta in the Sistem Reproduksi table, Persalinan dan Nifas subgroup, item 53, at competency level 3B [2]. What 3B means here [2]: - The primary care doctor makes the diagnosis, gives emergency treatment, then refers. What sets this entry apart from other 3B entries is SKDI's second list. Alongside the disease list, SKDI carries a Clinical Skills list with levels of its own, and the central procedure in this condition is not graded for independent practice [2]: - Item 73, manual removal of the placenta, level 3, meaning performed or applied under supervision. - Item 76, bimanual compression, external, internal and aortic, level 4A. - Item 63, postpartum examination of fundal height and of whether the placenta is separated or retained, level 4A. - Item 64, estimating or measuring blood loss after delivery, level 4A. Read together, those four describe a sharp division of labour. Judging whether the placenta has separated, estimating the blood lost, and holding the bleeding with bimanual compression are independent skills. Removing the placenta by hand is not. The real decision in primary care is therefore not only when to refer, but whether this procedure should be attempted on site at all. The practical limits: - There is no separate PPK entry for retained placenta. The condition sits inside the Perdarahan Post Partum entry as one of seven causes, and the detail lives in the Buku Saku Pelayanan Kesehatan Ibu that the entry cites [1][4]. - The figure that decides everything is not a dose but a time: a placenta not delivered within 30 minutes of the birth of the baby [1][4]. - Where the placenta cannot be separated from the uterine surface the likely answer is placenta accreta, and the way out is a laparotomy at the referral centre [4].

Retensi plasenta adalah keadaan ketika plasenta belum dilahirkan dalam 30 menit sesudah kelahiran bayi 14. Definisinya seluruhnya berupa waktu, dan itu adalah sifat yang membedakannya dari hampir semua kegawatan obstetri lain: yang menegakkan diagnosis adalah jam, bukan gejala.

Sifat itu punya sisi berbahaya. Selama plasenta masih melekat penuh, perdarahannya dapat sedikit atau tidak ada sama sekali, sehingga keadaan ini mudah terlihat tenang. Yang berbahaya justru pelepasan sebagian: sebagian dasar plasenta sudah terbuka sementara plasenta yang tertinggal menghalangi rahim berkontraksi rapat, dan dari situlah perdarahan yang cepat.

Tempatnya dalam kegawatan obstetri Indonesia jelas. Retensio plasenta adalah salah satu dari tujuh penyebab perdarahan pascasalin yang dimuat panduan, dan kala tiga yang memanjang berada pada daftar faktor risiko perdarahan pascasalin pada entri yang sama 1. Halaman perdarahan pascasalin memuat resusitasi dan pilihan uterotonikanya, dan tidak diulang di sini.

Pencegahannya jauh lebih murah daripada penanganannya. PNPK menganjurkan manajemen aktif kala tiga pada seluruh perempuan bersalin, yaitu pemberian uterotonika segera sesudah bayi lahir, penjepitan tali pusat sesudah kontraksi uterus teramati, melahirkan plasenta dengan penegangan tali pusat terkendali, lalu masase uterus 3.

Tingkat kemampuan 3B menentukan bentuk halaman ini, dan satu hal lagi mempersempitnya. SKDI menempatkan pengambilan plasenta secara manual pada tingkat keterampilan 3, yaitu pernah dikerjakan di bawah supervisi, bukan tingkat mandiri 2. Dokter layanan primer karena itu menilai, memberi uterotonika, mencoba penegangan tali pusat terkendali, menahan perdarahan, lalu memutuskan antara mengerjakan plasenta manual sendiri atau memindahkan pasien.

Retained placenta is a placenta not delivered within 30 minutes of the birth of the baby 14. Its definition is entirely a matter of time, which sets it apart from almost every other obstetric emergency: the diagnosis is made by the clock, not by a symptom.

That has a dangerous side. While the placenta stays fully attached the bleeding can be slight or absent, so the situation looks calm. The dangerous state is partial separation: part of the placental bed is open while the placenta still there stops the uterus contracting down, and that is where fast bleeding comes from.

Its place among Indonesian obstetric emergencies is clear. Retained placenta is one of the seven causes of postpartum haemorrhage the guideline carries, and a prolonged third stage sits on the postpartum haemorrhage risk factor list in the same entry 1. The postpartum haemorrhage page holds the resuscitation and the uterotonic choices, and they are not repeated here.

Prevention costs far less than treatment. The PNPK recommends active management of the third stage for every woman giving birth: a uterotonic immediately after the baby is born, cord clamping once uterine contraction has been observed, delivery of the placenta by controlled cord traction, then uterine massage 3.

Competency level 3B shapes this page, and one more thing narrows it. SKDI grades manual removal of the placenta at skill level 3, meaning performed under supervision rather than independently 2. The primary care doctor therefore assesses, gives the uterotonic, tries controlled cord traction, holds the bleeding, then decides between doing the manual removal on site and moving the patient.

MengenaliRecognising it

Diagnosisnya ditegakkan oleh waktu: plasenta belum dilahirkan dalam 30 menit sesudah kelahiran bayi 14. Karena itu satu-satunya cara melewatkannya adalah tidak mencatat jam bayi lahir.

Yang dinilai sebelum 30 menit terlampaui, yaitu langkah manajemen aktif kala tiga yang seharusnya sudah berjalan 35:

  • Uterotonika disuntikkan segera sesudah bayi lahir, intramuskular di sepertiga paha atas bagian distal lateral, dan dosisnya ada pada bagian obat.
  • Penjepitan tali pusat 2 menit sesudah bayi lahir, lalu klem dipindahkan hingga berjarak 5 sampai 10 cm dari vulva.
  • Satu tangan di tepi atas simfisis menahan uterus ke arah dorsokranial, tangan lain menegangkan tali pusat.
  • Penegangan tali pusat terkendali dikerjakan hanya setelah uterus berkontraksi.
    • Bila uterus tidak segera berkontraksi, keluarga diminta menstimulasi puting susu 5.
    • Menarik tali pusat sebelum uterus berkontraksi adalah cara paling mudah menghasilkan inversio uteri, dan inversio uteri berada pada daftar penyebab perdarahan pascasalin yang sama 1.
  • Sesudah plasenta lahir: masase fundus secara sirkuler hingga fundus teraba keras, lalu periksa bagian maternal dan fetal plasenta untuk memastikan selaput ketuban lengkap dan utuh 5.

The diagnosis is made by time: a placenta not delivered within 30 minutes of the birth of the baby 14. The only way to miss it is not to record the time the baby was born.

What is assessed before those 30 minutes run out, meaning the active third stage management that should already be under way 35:

  • A uterotonic injected immediately after the baby is born, intramuscularly into the upper outer third of the thigh, with the dose set out in the drug section.
  • Cord clamping 2 minutes after the birth, then the clamp moved to 5 to 10 cm from the vulva.
  • One hand at the upper border of the symphysis holding the uterus dorsocranially, the other keeping the cord taut.
  • Controlled cord traction applied only once the uterus has contracted.
    • If the uterus does not contract promptly, the family is asked to stimulate the nipples 5.
    • Pulling on the cord before the uterus contracts is the easiest way to produce a uterine inversion, and uterine inversion sits on the same list of causes of postpartum haemorrhage 1.
  • Once the placenta is delivered: massage the fundus in a circular motion until it feels firm, then inspect the maternal and fetal surfaces to confirm the membranes are complete and intact 5.
Memeriksa aksesChecking access

RujukanReferences

  1. 1.Kementerian Kesehatan RI. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama, lampiran Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/1186/2022. Huruf N Kesehatan Wanita, angka 9 Perdarahan Post Partum, bagian Retensio Plasenta dan Tabel 14.11. Tidak ada entri tersendiri untuk retensi plasenta pada panduan ini. manuver.tireg7.net
  2. 2.Konsil Kedokteran Indonesia. Standar Kompetensi Dokter Indonesia 2012. Daftar Penyakit, tabel Sistem Reproduksi, subkelompok Persalinan dan Nifas, butir 53 Retensi plasenta, Tingkat Kemampuan 3B. Daftar Keterampilan Klinis, bagian Proses Melahirkan Normal, butir 73 Pengambilan plasenta secara manual (tingkat 3), butir 76 Kompresi bimanual (4A), butir 63 dan 64 (4A). pd.fk.ub.ac.id
  3. 3.Kementerian Kesehatan RI. Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana Komplikasi Kehamilan, Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/91/2017, Lampiran IV PNPK Tata Laksana Perdarahan Pascasalin. Manajemen aktif kala tiga, penilaian kehilangan darah, dan Bab V tata laksana. Disusun Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia dan disahkan Kementerian Kesehatan. kemkes.go.id
  4. 4.Kementerian Kesehatan RI, World Health Organization, Perhimpunan Obstetri dan Ginekologi Indonesia, Ikatan Bidan Indonesia. Buku Saku Pelayanan Kesehatan Ibu di Fasilitas Kesehatan Dasar dan Rujukan. Edisi I. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI; 2013. Bab 4.7 halaman 104 dan 107, serta Lampiran A.2 Plasenta Manual halaman 266 sampai 267. platform.who.int
  5. 5.Kementerian Kesehatan RI. Panduan Keterampilan Klinis bagi Dokter, Lampiran II Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/1936/2022 tentang Perubahan atas KMK HK.01.07/MENKES/1186/2022. Huruf L Sistem Reproduksi, angka 2 Asuhan Persalinan Normal, langkah kala tiga. Bagian ini diubah oleh 1936/2022, sehingga teks 1186/2022 tidak lagi dipakai untuk langkah tersebut. diskes.badungkab.go.id
  6. 6.Wormer KC, Jamil RT, Bryant SB. Postpartum Hemorrhage. StatPearls. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing. Bacaan lanjutan, bukan sumber isi halaman ini. Tidak ada bab StatPearls yang khusus membahas retensi plasenta, dan bab ini membahasnya sebagai salah satu penyebab. ncbi.nlm.nih.gov

SPARK Atlas adalah alat bantu rujukan untuk klinisi, bukan pengganti penilaian klinis. Verifikasi setiap keputusan terhadap kondisi pasien dan pedoman terkini.SPARK Atlas is a reference aid for clinicians, not a substitute for clinical judgement. Verify every decision against the patient in front of you and current guidance.