Retardasi mentalIntellectual disability
SKDI 2012 menempatkan retardasi mental pada tabel PSIKIATRI, kelompok Gangguan Emosional dan Perilaku dengan Onset Khusus pada Masa Anak dan Remaja, butir nomor 32, dengan Tingkat Kemampuan 3A dan tanpa kata pembatas [4]. Tingkat 3A berarti dokter menegakkan diagnosis klinis, memberi terapi pendahuluan pada keadaan yang bukan gawat darurat, lalu merujuk. Angka itu menonjol di kelompoknya. Butir 31 gangguan perkembangan pervasif dinilai 2, butir 33 gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktif dinilai 2, dan butir 34 gangguan tingkah laku dinilai 2 [4]. Retardasi mental adalah satu-satunya butir 3A di kelompok itu, yaitu satu-satunya yang diharapkan dikenali dan ditangani awal oleh dokter layanan primer sebelum dirujuk. Walaupun SKDI menempatkannya di tabel psikiatri, dokumen pelayanan Indonesia menempatkannya di tempat lain, dan hal itu menentukan ke mana pasien dibawa. - PPK FKTP tidak memuat entri penyakit untuk retardasi mental. Sesudah KMK HK.01.07/MENKES/1936/2022, Huruf I Psikiatri berisi tujuh angka, yaitu gangguan somatoform, demensia, gangguan tidur non organik, gangguan campuran anxietas dan depresi, gangguan psikotik, gangguan depresi ringan-sedang, dan gangguan skizofrenia tanpa penyulit [2][3]. Tidak satu pun tentang retardasi mental. - Pada Panduan Keterampilan Klinis, retardasi mental muncul bukan sebagai penyakit melainkan sebagai kategori diagnosis: aksis II pada diagnosis multiaksial, bersama gangguan kepribadian, dengan rentang kode F70 sampai F79 [2]. Keterampilan diagnosis multiaksial itu sendiri dinilai 4A. - Satu-satunya bab pedoman Indonesia yang membahas penyakit ini adalah bab pediatri, yaitu Pedoman Pelayanan Medis Ikatan Dokter Anak Indonesia, Jilid 2, Edisi II, bab Retardasi Mental, yang disusun di bawah kelompok Tumbuh Kembang Pediatri Sosial [1]. Halaman ini karena itu memakai 3A sesuai SKDI, dengan isi yang mengikuti sumber pediatri, karena di situlah penyakit ini benar-benar dibahas.SKDI 2012 places intellectual disability in the PSYCHIATRY table, in the group of emotional and behavioural disorders with onset specific to childhood and adolescence, item 32, at competency level 3A with no qualifying words [4]. Level 3A means the doctor makes the clinical diagnosis, gives initial treatment in a non-emergency situation, and then refers. That level stands out in its group. Item 31 pervasive developmental disorder is graded 2, item 33 attention deficit and hyperactivity disorder 2, and item 34 conduct disorder 2 [4]. Intellectual disability is the only 3A item in that group, that is the only one a primary care doctor is expected to recognise and start managing before referral. Although SKDI files it under psychiatry, Indonesian service documents file it elsewhere, and that decides where the patient is taken. - The primary care guideline holds no disease entry for intellectual disability. After decree HK.01.07/MENKES/1936/2022, Letter I Psychiatry holds seven items: somatoform disorder, dementia, non-organic sleep disorder, mixed anxiety and depressive disorder, psychotic disorder, mild to moderate depressive disorder, and schizophrenia without complication [2][3]. None of them is intellectual disability. - In the Clinical Skills Guide, intellectual disability appears not as a disease but as a diagnostic category: axis II of the multiaxial diagnosis, alongside personality disorders, with the code range F70 to F79 [2]. The multiaxial diagnosis skill itself is graded 4A. - The only Indonesian guideline chapter that discusses this condition is a paediatric one: the Indonesian Paediatric Society Medical Service Guideline, Volume 2, Second Edition, chapter on intellectual disability, written under its Growth, Development and Social Paediatrics group [1]. This page therefore uses 3A as SKDI grades it, with content that follows the paediatric source, because that is where the condition is actually discussed.
Retardasi mental adalah perkembangan mental yang terhenti atau tidak lengkap, ditandai hendaya keterampilan selama masa perkembangan, sehingga seluruh tingkat inteligensia terpengaruh, yaitu kemampuan kognitif, bahasa, motorik, dan sosial. Keadaan ini dapat berdiri sendiri atau menyertai gangguan mental maupun fisik lain 1.
Tiga syarat berdiri bersama, dan ketiganya harus ada 1:
- Ada kendala perilaku adaptif sosial, yaitu kemampuan untuk mandiri.
- Gejalanya timbul sebelum umur 18 tahun.
- Fungsi intelektualnya kurang dari normal.
Syarat kedua yang paling sering menentukan. Anak yang fungsi intelektualnya menurun sesudah masa perkembangan bukan penyandang keadaan ini, melainkan penyandang penyakit lain yang perlu dicari.
Ciri yang membedakannya dari keterlambatan satu bidang adalah luasnya. Perkembangan mentalnya terbelakang di semua bidang, walaupun sebagian penderita tidak terbelakang pada motorik kasar seperti umur berdiri dan berjalan 1. Anak yang lemah hanya di satu atau dua bidang dan normal di bidang lain perlu diwaspadai bukan penyandang keadaan ini 1.
SKDI 2012 menilainya 3A, yaitu mendiagnosis, memberi terapi pendahuluan, lalu merujuk, dan pada kelompoknya itulah satu-satunya butir 3A 4.
Tempatnya di dokumen Indonesia perlu diketahui karena menentukan arah rujukan. PPK FKTP tidak memuat entri penyakit untuk keadaan ini; yang ada hanya kedudukannya sebagai aksis II pada diagnosis multiaksial 23. Satu-satunya bab pedoman nasional yang membahasnya adalah bab pediatri di bawah kelompok tumbuh kembang 1.
Prognosisnya bergantung pada berat dan penyakit dasarnya. Penyandang derajat ringan dengan kesehatan yang baik dan tanpa penyakit jantung atau paru mempunyai umur harapan hidup yang sama dengan orang lain; derajat berat dengan masalah kesehatan dan gizi sering meninggal pada usia muda 1.
Intellectual disability is arrested or incomplete mental development, marked by impairment of skills during the developmental period, so that every level of intelligence is affected: cognitive, language, motor and social. It may stand alone or accompany other mental or physical disorders 1.
Three requirements stand together, and all three must be present 1:
- Impairment of social adaptive behaviour, that is the capacity to be independent.
- Onset before the age of 18 years.
- Intellectual function below normal.
The second requirement is most often the decisive one. A child whose intellectual function declines after the developmental period does not have this condition but another one, which must be looked for.
What separates it from delay in a single domain is its breadth. Mental development lags in all domains, although some children are not delayed in gross motor milestones such as the age of standing and walking 1. A child weak in only one or two domains and normal in the rest should be suspected of not having this condition 1.
SKDI 2012 grades it 3A: diagnose, give initial treatment, then refer, and it is the only 3A item in its group 4.
Where it sits in Indonesian documents matters because it decides where the patient is sent. The primary care guideline holds no disease entry for it; what exists is its place as axis II of the multiaxial diagnosis 23. The only national guideline chapter that discusses it is a paediatric one, under the growth and development group 1.
The outlook depends on severity and on the underlying disease. People with the mild degree who are otherwise healthy and free of heart or lung disease have the same life expectancy as anyone else; those with the severe degree plus health and nutritional problems often die young 1.
MengenaliRecognising it
Anamnesis. Keluhan yang datang jarang berbunyi terbelakang; yang datang adalah belum bisa bicara, tidak naik kelas, tidak bisa mengurus diri, atau berperilaku sulit di sekolah.
Gejala paling awal, yang sering ditafsirkan keluarga sebagai gangguan mata atau telinga 1:
- Terlambat tersenyum dan kurang memperhatikan sekitar.
- Terlambat mengikuti benda bergerak atau bereaksi terhadap bunyi.
- Bayi tampak tidak peduli pada lingkungannya, perhatian pada mainan berlangsung singkat, dan mainan yang jatuh tidak diambil.
- Ekspresi kurang siaga dan respons lebih lambat dibandingkan anak lain.
History. The complaint that arrives is rarely worded as backwardness; what arrives is not speaking yet, repeating a school year, not managing self care, or difficult behaviour at school.
The earliest signs, often read by families as an eye or ear problem 1:
- Late smiling and little attention to the surroundings.
- Late following of a moving object or reacting to sound.
- The infant seems indifferent to the environment, attends to a toy only briefly, and does not retrieve a dropped toy.
- Less alert expression and slower responses than other children.
RujukanReferences
- 1.Ikatan Dokter Anak Indonesia. Pedoman Pelayanan Medis, Jilid 2, Edisi II. Jakarta: Badan Penerbit IDAI; 2011. Bab Retardasi Mental (RM), halaman 261 sampai 269. Sumber jangkar entri ini karena PPK FKTP tidak memuat entri penyakit untuk retardasi mental. galihendradita.wordpress.com
- 2.Kemenkes RI. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama dan Panduan Keterampilan Klinis bagi Dokter, Lampiran I dan Lampiran II KMK HK.01.07/MENKES/1186/2022. Lampiran II Huruf F angka 3 Diagnosis Multiaksial dipakai untuk kedudukan aksis II dan rentang F70 sampai F79; Lampiran II Huruf E dipakai untuk penilaian fungsi luhur; Lampiran I Huruf E angka 4 dipakai untuk retardasi mental sebagai faktor risiko benda asing telinga; Lampiran I Huruf I Psikiatri dipakai sebagai temuan negatif. manuver.tireg7.net
- 3.Kemenkes RI. KMK HK.01.07/MENKES/1936/2022 tentang Perubahan atas KMK HK.01.07/MENKES/1186/2022, Pasal I dan Lampiran I Huruf I Psikiatri. Dipakai sebagai temuan negatif, karena perubahan ini tidak menambahkan entri retardasi mental. diskes.badungkab.go.id
- 4.Konsil Kedokteran Indonesia. Standar Kompetensi Dokter Indonesia 2012, Lampiran Daftar Penyakit, tabel Psikiatri, butir 32 Retardasi mental, Tingkat Kemampuan 3A; butir 31, 33 dan 34 pada kelompok yang sama. pd.fk.ub.ac.id
- 5.Lee K, Cascella M, Marwaha R. Intellectual Disability. StatPearls. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing. Bacaan lanjutan, bukan sumber isi entri ini. ncbi.nlm.nih.gov