Reaksi AnafilaktikAnaphylaxis
SKDI 2012 memberi Reaksi anafilaktik tingkat kemampuan 4A tanpa kata pembatas, pada tabel Sistem Hematologi dan Imunologi, subkelompok Penyakit Autoimun, butir 29 [2]. Lulusan dokter karena itu diharapkan mengenali dan menuntaskan sendiri penanganannya. Satu hal perlu dibaca bersamanya, karena mudah disalahpahami. Daftar yang sama memberi Syok tingkat 3B pada tabel Sistem Kardiovaskular, butir 3, tetapi jenis syok yang disebut di situ hanya septik, hipovolemik, kardiogenik, dan neurogenik [2]. Syok anafilaktik tidak ada di dalamnya. Bentuk berat anafilaksis karena itu tetap berada di dalam 4A dan bukan dilempar ke tingkat 3B, sehingga dokter layanan primer memang bertanggung jawab memberi adrenalin dan menstabilkan pasien lebih dulu, bukan merujuk lebih dulu. Yang membatasi halaman ini adalah isi entri PPK yang menjadi jangkarnya [1]. Entri itu memuat rute, dosis, dan selang pengulangan adrenalin untuk dewasa, tetapi tidak memuat satu pun dosis untuk bayi dan anak, tidak menyebut tempat suntikan, dan tidak membatasi berapa kali dosis boleh diulang. Rujukan hanya disediakan untuk pasien yang tidak membaik.SKDI 2012 grades Reaksi anafilaktik at competency level 4A with no qualifying words, in the Sistem Hematologi dan Imunologi table, Penyakit Autoimun subgroup, item 29 [2]. The graduate is therefore expected to recognise it and complete its management. One thing has to be read alongside that, because it is easy to misread. The same list grades Syok at 3B in the Sistem Kardiovaskular table, item 3, but the shock types named there are only septic, hypovolaemic, cardiogenic and neurogenic [2]. Anaphylactic shock is not among them. The severe form of anaphylaxis therefore stays inside the 4A rather than being handed up to 3B, so the primary care doctor is indeed responsible for giving adrenaline and stabilising the patient first, not for referring first. What limits this page is the content of the PPK entry behind it [1]. That entry carries the route, dose and repeat interval of adrenaline for adults, but carries no dose at all for infants and children, names no injection site, and sets no cap on how often the dose may be repeated. Referral is provided only for the patient who does not improve.
Anafilaktik adalah reaksi hipersensitivitas generalisata atau sistemik yang muncul cepat, berat, dan mengancam nyawa. Bila reaksinya cukup hebat sampai menimbulkan syok, keadaan itu disebut syok anafilaktik dan menuntut pertolongan cepat serta tepat 1.
Penyebab yang dimuat panduan layanan primer, dengan proporsinya masing-masing 1:
- Gigitan serangga, 40 sampai 60 persen kejadian syok anafilaktik.
- Zat kontras radiografi, 20 sampai 40 persen.
- Pemberian penisilin, 10 sampai 20 persen.
Data insidens dan prevalensi di Indonesia masih sangat terbatas 1. Anafilaksis yang fatal diperkirakan sekitar 4 kematian per 10 juta penduduk per tahun, dan penisilin menyumbang 100 dari 500 kematian akibat reaksi anafilaksis; sebagian besar kasus berat berasal dari pemberian antibiotik dan bahan radiologis 1.
Yang menentukan hasil akhir adalah waktu. Makin cepat gejala timbul setelah paparan, makin berat keadaan pasien, dan prognosisnya bergantung pada kecepatan diagnosis serta pengelolaannya 1. Gejala kulit adalah gejala yang paling sering muncul lebih dulu dan sering menjadi tanda awal sebelum gangguan napas dan gangguan sirkulasi menyusul, sehingga gatal dan kemerahan setelah suatu paparan tidak boleh dibaca sebagai keluhan ringan 1.
Satu-satunya faktor risiko yang dimuat entri ini adalah riwayat alergi 1. Tingkat kemampuan dokter layanan primer 4A 2.
Anaphylaxis is a rapid onset, serious and life threatening generalised or systemic hypersensitivity reaction. When the reaction is severe enough to produce shock the state is called anaphylactic shock, and it demands fast and correct help 1.
The causes the primary care guideline carries, with their proportions 1:
- Insect stings, 40 to 60 per cent of episodes of anaphylactic shock.
- Radiographic contrast media, 20 to 40 per cent.
- Penicillin, 10 to 20 per cent.
Indonesian incidence and prevalence data remain very limited 1. Fatal anaphylaxis is put at roughly 4 deaths per 10 million people per year, penicillin accounts for 100 of 500 deaths from anaphylactic reaction, and most serious cases follow antibiotics and radiological agents 1.
What decides the outcome is time. The sooner symptoms appear after exposure, the sicker the patient, and the prognosis rests on how quickly the diagnosis is made and managed 1. Skin signs are the ones that most often come first and frequently act as the early warning before breathing and circulation follow, so itching and redness after an exposure must not be read as a minor complaint 1.
The only risk factor this entry carries is a history of allergy 1. Primary care competency is 4A 2.
MengenaliRecognising it
Gambaran klinisnya berbeda gradasinya menurut berat reaksi antigen dan antibodi serta tingkat sensitivitas orangnya. Pada tingkat berat, yang menonjol adalah gangguan sirkulasi dan gangguan respirasi; keduanya dapat muncul bersamaan atau berurutan, dengan jarak waktu beberapa detik sampai beberapa jam. Makin cepat reaksinya timbul, makin berat keadaan pasien 1.
Anamnesis:
- Gejala kulit berupa gatal dan kemerahan, gejala yang paling sering ditemukan. Gejala ini sendiri tidak mematikan, tetapi sering mendahului gangguan napas dan gangguan sirkulasi, sehingga selalu diwaspadai 1.
- Gejala pernapasan yang dimulai sebagai bersin, hidung tersumbat, atau batuk saja, lalu segera diikuti sesak napas 1.
- Gejala saluran cerna berupa kram perut, mual, muntah, sampai diare, yang juga dapat mendahului gangguan napas dan sirkulasi 1.
- Jarak waktu antara paparan dan munculnya keluhan, karena jarak itulah penanda beratnya 1.
- Riwayat alergi, satu-satunya faktor risiko yang dimuat entri ini 1.
The clinical picture varies in grade with the severity of the antigen and antibody reaction and with the person's own level of sensitivity. In the severe grade what stands out is circulatory and respiratory failure; the two may appear together or one after the other, separated by anything from seconds to hours. The faster the reaction appears, the sicker the patient 1.
History:
- Skin symptoms of itching and redness, the findings met most often. They do not kill on their own, but they frequently come before breathing and circulatory failure, so they are always treated as a warning 1.
- Respiratory symptoms that begin as sneezing, a blocked nose or a cough alone, then move quickly to breathlessness 1.
- Gastrointestinal symptoms of abdominal cramp, nausea, vomiting and diarrhoea, which may also precede breathing and circulatory failure 1.
- The interval between exposure and the first complaint, because that interval marks the severity 1.
- A history of allergy, the only risk factor this entry carries 1.
RujukanReferences
- 1.Kementerian Kesehatan RI. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama, lampiran Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/1186/2022. Huruf A Kelompok Umum, angka 14 Reaksi Anafilaktik, halaman lampiran -80- sampai -86-; entri Urtikaria pada panduan yang sama untuk pembanding rute subkutan. manuver.tireg7.net
- 2.Konsil Kedokteran Indonesia. Standar Kompetensi Dokter Indonesia 2012, Lampiran Daftar Penyakit, tabel Sistem Hematologi dan Imunologi, subkelompok Penyakit Autoimun, butir 29 Reaksi anafilaktik, Tingkat Kemampuan 4A; tabel Sistem Kardiovaskular butir 3 Syok, Tingkat Kemampuan 3B. pd.fk.ub.ac.id
- 3.Cardona V, Ansotegui IJ, Ebisawa M, et al. World Allergy Organization Anaphylaxis Guidance 2020. World Allergy Organ J. 2020;13(10):100472. Dipakai sebagai asal kriteria diagnosis yang dirujuk entri PPK, bukan sebagai sumber dosis pada halaman ini. pubmed.ncbi.nlm.nih.gov
- 4.Anaphylaxis. StatPearls. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing. Bacaan lanjutan, bukan sumber isi halaman ini. ncbi.nlm.nih.gov