RabiesRabies

SKDI 2012 menempatkan Rabies pada butir 17 tabel Sistem Saraf, subkelompok Infeksi, dengan Tingkat Kemampuan 3B, di antara butir 16 Poliomielitis yang juga 3B dan butir 18 Spondilitis TB yang 3A [3]. Header entri Rabies pada PPK FKTP memberi angka yang sama, sehingga tidak ada dua dokumen yang berselisih di sini [1]. Nama Rabies hanya muncul satu kali pada seluruh Daftar Penyakit, jadi tidak ada tingkat kedua yang lebih rendah untuk dibawa. Angka 3B perlu dibaca dengan hati-hati pada penyakit ini, karena arahnya berlawanan dengan kebanyakan entri 3B. Terapi kegawatdaruratan yang dituntut di sini bukan pengobatan rabies, sebab pengobatan itu tidak ada begitu gejala muncul, melainkan profilaksis pasca pajanan pada orang yang baru digigit. Pekerjaan itu justru diselesaikan di layanan primer, di puskesmas atau rumah sakit yang ditetapkan sebagai Rabies Center [2]. Yang dirujuk adalah pasien yang sudah bergejala, dan rujukan itu bersifat suportif, bukan kuratif [1][2].SKDI 2012 places Rabies at item 17 in the nervous system table, infection subgroup, at level 3B, between item 16 poliomyelitis which is also 3B and item 18 spinal tuberculosis at 3A [3]. The header of the PPK FKTP rabies entry gives the same figure, so no two documents disagree here [1]. The name Rabies appears only once in the whole disease list, so there is no second, lower grading to carry. The 3B has to be read carefully on this disease, because it points the opposite way from most 3B entries. The emergency treatment being asked for is not treatment of rabies, which does not exist once symptoms begin, but post-exposure prophylaxis of a person who has just been bitten. That work is finished at primary care level, in a puskesmas or hospital designated as a Rabies Centre [2]. What is referred is the patient who already has symptoms, and that referral is supportive rather than curative [1][2].

Rabies adalah ensefalitis akut yang disebabkan virus rabies, genus Lyssavirus, dan hampir selalu masuk lewat gigitan hewan yang terinfeksi, terutama anjing, disusul kucing, kera, dan kelelawar 1. Virusnya tidak menyebar lewat darah melainkan merambat dari luka ke susunan saraf pusat melalui saraf tepi, dan perjalanan itu biasanya memakan waktu berbulan-bulan 1.

Satu kalimat menentukan seluruh isi halaman ini: begitu gejala rabies muncul, penyakitnya praktis selalu berakhir dengan kematian. Kematian mencapai 100 persen bila virus sudah mencapai susunan saraf pusat, dan datangnya cepat, yaitu 2 sampai 3 hari sesudah gejala terlihat, akibat gagal napas atau henti jantung 1. Sebaliknya, perawatan yang dikerjakan segera sesudah gigitan, yaitu pencucian luka disertai vaksin dan serum, memberi angka keselamatan 100 persen 1. Jadi yang menentukan nasib pasien adalah jam-jam pertama sesudah digigit, bukan perawatan di rumah sakit sesudah ia bergejala.

Indonesia belum bebas rabies. Hanya sebagian provinsi yang berstatus bebas berdasarkan keputusan menteri, dan daerah yang sebelumnya bebas pernah kembali tertular 2. Karena itu Kemenkes menjalankan program tersendiri untuk kasus gigitan hewan penular rabies, dengan puskesmas dan rumah sakit yang ditetapkan sebagai Rabies Center sebagai tempat vaksin disimpan dan diberikan 2.

Masa tunasnya panjang dan tidak seragam, sehingga paparan yang relevan bisa berada jauh di belakang 1:

  • Umumnya 1 sampai 3 bulan, dengan rentang 1 minggu sampai beberapa tahun.
  • Sekitar 95 persen kasus bermasa tunas 3 sampai 4 bulan, dengan rentang 7 hari sampai 7 tahun.
  • Luka di kepala bermasa tunas 25 sampai 48 hari, luka di ekstremitas 46 sampai 78 hari.
    • Semakin dekat luka ke susunan saraf pusat dan semakin dalam serta luas lukanya, semakin pendek masa tunasnya.

Yang menempatkan seseorang pada risiko 12:

  • Digigit, dicakar, atau dijilat pada kulit yang terluka oleh anjing, kucing, kera, atau kelelawar.
  • Hewan penggigit tidak dapat diamati karena lari, hilang, dibunuh, atau mati.
  • Hewan penggigit berubah perilaku, malas makan, atau mati dalam 10 hari sesudah menggigit.
  • Luka di atas bahu, di jari tangan atau jari kaki, di daerah genitalia, atau pada selaput lendir.
  • Tinggal di atau datang dari daerah yang belum bebas rabies.
  • Datang terlambat ke fasilitas kesehatan, yang merupakan penyumbang kematian rabies di Indonesia 2.

Rabies is an acute encephalitis caused by the rabies virus, a Lyssavirus, and it almost always enters through the bite of an infected animal, above all a dog, then cats, monkeys and bats 1. The virus does not travel in the blood; it moves from the wound to the central nervous system along peripheral nerves, and that journey usually takes months 1.

One sentence decides everything else on this page: once rabies symptoms appear, the disease is effectively always fatal. Mortality reaches 100 percent once the virus has reached the central nervous system, and death comes quickly, 2 to 3 days after symptoms are seen, from respiratory failure or cardiac arrest 1. Care given immediately after the bite, meaning wound washing together with vaccine and serum, carries a survival figure of 100 percent 1. What decides the patient's fate is therefore the first hours after the bite, not the hospital care that follows symptoms.

Indonesia is not free of rabies. Only some provinces hold free status under a ministerial decision, and areas that were previously free have become infected again 2. Kemenkes therefore runs a separate programme for bites by rabies-transmitting animals, with designated Rabies Centres, puskesmas and hospitals, as the places where vaccine is held and given 2.

The incubation period is long and uneven, so the relevant exposure can lie a long way back 1:

  • Usually 1 to 3 months, with a range of 1 week to several years.
  • About 95 percent of cases incubate for 3 to 4 months, with a range of 7 days to 7 years.
  • Head wounds incubate 25 to 48 days, limb wounds 46 to 78 days.
    • The closer the wound to the central nervous system, and the deeper and wider it is, the shorter the incubation.

What puts a person at risk 12:

  • Being bitten, scratched, or licked on broken skin by a dog, cat, monkey or bat.
  • A biting animal that cannot be observed because it ran off, disappeared, was killed, or died.
  • A biting animal that changed behaviour, went off its food, or died within 10 days of biting.
  • A wound above the shoulder, on the fingers or toes, in the genital area, or on a mucous membrane.
  • Living in or arriving from an area that is not yet free of rabies.
  • Reaching a health facility late, which is one of the contributors to rabies deaths in Indonesia 2.

MengenaliRecognising it

Pada rabies ada dua pertanyaan yang sama sekali berbeda, dan mencampurnya adalah kesalahan yang paling mahal. Pertanyaan pertama, yang datang ratusan kali lebih sering, adalah apakah pajanan ini perlu profilaksis. Pertanyaan kedua adalah apakah pasien di depan Anda sudah menderita rabies. Yang pertama masih bisa ditolong, yang kedua tidak.

Anamnesis pajanan, dan inilah bagian yang menentukan tindakan 12:

  • Jenis hewan, waktu kejadian, dan letak luka pada tubuh.
  • Bentuk kontaknya, yaitu gigitan, cakaran, atau jilatan pada kulit yang lecet maupun pada selaput lendir.
  • Nasib hewannya, karena inilah yang menentukan apakah vaksinasi diteruskan atau dihentikan:
    • Hasil pemeriksaan otak hewan positif rabies.
    • Hewan mati dalam 10 hari sesudah menggigit dan bukan karena dibunuh.
    • Hewan tidak dapat diobservasi karena dibunuh, lari, atau hilang.
    • Hewan berubah sifat atau malas makan, yaitu hewan tersangka.
  • Apa yang sudah dikerjakan pada luka sebelum pasien datang, terutama apakah luka sudah dicuci dengan sabun dan berapa lama.
  • Riwayat vaksinasi rabies sebelumnya pada pasien, lengkap atau tidak, dan kapan.

Rabies asks two entirely different questions, and mixing them is the most expensive error on this page. The first, which arrives hundreds of times more often, is whether this exposure needs prophylaxis. The second is whether the patient in front of you already has rabies. The first can still be helped; the second cannot.

Exposure history, the part that decides what is done 12:

  • The species of animal, when it happened, and where on the body the wound is.
  • The form of contact: a bite, a scratch, or a lick on grazed skin or on a mucous membrane.
  • What became of the animal, because this is what decides whether vaccination continues or stops:
    • Brain examination of the animal positive for rabies.
    • The animal died within 10 days of biting and was not killed.
    • The animal cannot be observed because it was killed, ran off, or was lost.
    • The animal changed behaviour or went off its food, meaning a suspect animal.
  • What has already been done to the wound before the patient arrived, above all whether it was washed with soap and for how long.
  • Previous rabies vaccination of the patient, complete or not, and when.
Memeriksa aksesChecking access

RujukanReferences

  1. 1.Kementerian Kesehatan RI. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama, Lampiran I KMK HK.01.07/MENKES/1186/2022, Huruf H Neurologi angka 5 Rabies, Tingkat Kemampuan 3B. manuver.tireg7.net
  2. 2.Kementerian Kesehatan RI, Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik. Buku Saku Rabies: Petunjuk Teknis Penatalaksanaan Kasus Gigitan Hewan Penular Rabies di Indonesia. Jakarta: Kemenkes RI; 2019. ayosehat.kemkes.go.id
  3. 3.Konsil Kedokteran Indonesia. Standar Kompetensi Dokter Indonesia 2012, Lampiran Daftar Penyakit, tabel Sistem Saraf butir 17 Rabies dengan Tingkat Kemampuan 3B, halaman 33. pd.fk.ub.ac.id
  4. 4.Swinkels HM, Koury R, Warrington SJ. Rabies. In: StatPearls. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing. Bacaan lanjutan, bukan sumber isi entri ini. ncbi.nlm.nih.gov

SPARK Atlas adalah alat bantu rujukan untuk klinisi, bukan pengganti penilaian klinis. Verifikasi setiap keputusan terhadap kondisi pasien dan pedoman terkini.SPARK Atlas is a reference aid for clinicians, not a substitute for clinical judgement. Verify every decision against the patient in front of you and current guidance.