PresbiakusisPresbycusis
Tingkat 3A berarti dokter layanan primer mendiagnosis, memberi penanganan awal, lalu merujuk. SKDI 2012 memberi butir 81 Presbiakusis tingkat 3A pada tabel TELINGA, di antara butir 80 Kolesteatoma yang bertingkat 1 dan butir 82 Serumen prop yang bertingkat 4A. Dua tetangganya menjelaskan isi halaman ini. Serumen prop, penyebab kurang dengar tersering pada lansia yang bisa disembuhkan dalam satu kunjungan, bertingkat 4A dan diselesaikan sendiri. Presbiakusis, yang tidak bisa disembuhkan tetapi bisa direhabilitasi, bertingkat 3A dan dirujuk. Urutan kerjanya karena itu tetap: bersihkan dulu apa yang bisa dibersihkan, baru sebut presbiakusis. Ada pula ketegangan di dalam tabel yang sama. Butir 65, Tuli kongenital, perseptif, dan konduktif, bertingkat 2. Butir 81 memberi penyebab tuli perseptif yang paling sering tingkat 3A. Keduanya bukan penilaian ganda atas kondisi yang sama, karena butir 65 menilai gejala dan butir 81 menilai penyakit, dan penilaian yang menyebut penyakitnya secara khusus yang berlaku. Tidak ada dokumen nasional yang lebih baru yang menilai ulang kondisi ini.Level 3A means the primary care doctor diagnoses, gives initial treatment, then refers. SKDI 2012 grades item 81 presbycusis at 3A in the ear table, between item 80 cholesteatoma at level 1 and item 82 impacted cerumen at 4A. Those two neighbours explain what this page is for. Impacted cerumen, the commonest curable cause of hearing loss in older people and fixable in one visit, is 4A and is finished in primary care. Presbycusis, which cannot be cured but can be rehabilitated, is 3A and is referred. So the order of work is fixed: clear what can be cleared first, then call it presbycusis. There is also a tension inside the same table. Item 65, congenital, perceptive, and conductive deafness, is graded 2. Item 81 grades the commonest cause of perceptive deafness at 3A. These are not two gradings of the same condition, since item 65 grades a symptom and item 81 grades a disease, and the grading that names the disease specifically is the one that governs. No newer national document regrades this condition.
Presbiakusis adalah kurang dengar sensorineural akibat penuaan sistem pendengaran. Ia mengenai kedua telinga, kurang lebih sama beratnya, dan berjalan sedemikian perlahan sehingga pasien jarang datang karena pendengarannya. Yang membawanya ke puskesmas biasanya keluarganya, atau keluhan lain.
Keluhannya bukan suara yang mengecil melainkan kata yang menjadi kabur. Frekuensi tinggi hilang lebih dulu, dan frekuensi tinggi itulah yang membawa konsonan. Akibatnya pasien mendengar bahwa seseorang berbicara tetapi tidak menangkap apa yang dikatakan, dan kesulitannya memuncak di tempat ramai, tepat di tempat percakapan keluarga terjadi.
Siapa yang terkena:
- Orang lanjut usia, dan makin bertambah usia makin sering.
- Kedua telinga, kurang lebih simetris. Perbedaan mencolok antara kedua telinga bukan presbiakusis.
- Sering bersama penyakit lain pada usia yang sama, terutama diabetes melitus, hipertensi, dan riwayat pemakaian obat ototoksik.
- Riwayat paparan bising sepanjang hidup mempercepat dan memperberat.
Yang perlu diketahui pembaca tentang sumbernya, karena di sinilah kekosongan yang membuat halaman ini perlu ada. Pedoman layanan primer nasional tidak memuat entri untuk presbiakusis. Huruf E Telinga pada KMK 1186/2022 berisi lima entri saja, dan perubahannya KMK 1936/2022 tidak menyentuh huruf itu 12. Lebih penting lagi, Pengkajian Paripurna Pada Lanjut Usia di dalam pedoman yang sama tidak memuat satu pun langkah pemeriksaan pendengaran; pendengaran hanya muncul sebagai bagian dari gangguan fungsi panca indera pada daftar empat belas karakter geriatri 3. Jadi instrumen nasional untuk menilai lansia secara menyeluruh berjalan tanpa pertanyaan tentang pendengaran, sementara SKDI menuntut dokter yang sama mengenali presbiakusis 4.
Yang tersedia dan dipakai di sini adalah prosedur penilaian tajam pendengaran pada Panduan Keterampilan Klinis 5 dan derajat ketulian pada PNPK Tata Laksana Otitis Media Supuratif Kronik, KMK 350/2018 6. Dokumen kedua itu tentang penyakit lain, dan dipakai hanya untuk cara mengukur dan menggolongkan pendengaran.
Tingkat kompetensinya 3A 4. Kenali, singkirkan yang bisa disembuhkan, lalu rujuk untuk audiometri dan rehabilitasi.
Presbycusis is sensorineural hearing loss from ageing of the auditory system. It affects both ears at roughly equal severity and moves so slowly that patients rarely come because of their hearing. What brings them to the health centre is usually the family, or a different complaint.
The complaint is not that sound has become quieter but that words have become blurred. High frequencies go first, and it is the high frequencies that carry the consonants. So the patient hears that someone is speaking without catching what was said, and the difficulty peaks in a crowded room, which is exactly where family conversation happens.
Who gets it:
- Older people, and the older they are the more often.
- Both ears, roughly symmetrical. A marked difference between the two ears is not presbycusis.
- Often alongside the other diseases of that age, above all diabetes, hypertension, and a history of ototoxic drugs.
- A lifetime of noise exposure brings it on earlier and makes it worse.
What the reader should know about the sources, because this is where the gap that makes this page necessary sits. The national primary care guideline has no entry for presbycusis. Section E on the ear in KMK 1186/2022 holds five entries only, and its amendment KMK 1936/2022 does not touch that section 12. More importantly, the comprehensive geriatric assessment in the same guideline contains no hearing examination step at all; hearing appears only inside impairment of the senses in the list of fourteen geriatric characters 3. So the national instrument for assessing an older person as a whole runs without a single question about hearing, while SKDI asks the same doctor to recognise presbycusis 4.
What does exist, and what is used here, is the hearing assessment procedure in the clinical skills annex 5 and the hearing severity grades in the national guideline for chronic suppurative otitis media, KMK 350/2018 6. That second document is about a different disease and is used only for how hearing is measured and graded.
The competency level is 3A 4. Recognise it, exclude what can be cured, then refer for audiometry and rehabilitation.
MengenaliRecognising it
Presbiakusis adalah diagnosis yang ditegakkan sebagian besar dengan menyingkirkan, dan yang harus disingkirkan lebih dulu justru yang paling mudah diobati.
Anamnesis, sebagian ditanyakan kepada keluarga:
- Sejak kapan, dan apakah ada satu hari yang jelas sebagai awalnya. Presbiakusis tidak punya hari awal.
- Kedua telinga sama atau salah satu lebih berat. Perbedaan yang mencolok mengarah ke penyebab lain.
- Televisi atau radio yang volumenya makin dinaikkan sampai anggota keluarga lain terganggu.
- Sering meminta lawan bicara mengulang, terutama pada suara perempuan dan suara anak yang nadanya lebih tinggi.
- Kesulitan yang jauh lebih berat di tempat ramai daripada di ruangan sunyi.
- Berbicara dengan suara keras tanpa disadari. Ini kebalikan dari tuli konduktif, tempat pasien justru berbicara pelan.
- Tinitus pada kedua telinga, biasanya berdenging halus dan menetap.
- Riwayat pekerjaan dengan paparan bising, riwayat obat ototoksik, diabetes melitus, dan hipertensi.
- Riwayat penyakit telinga sebelumnya, operasi telinga, dan telinga berair.
- Dampaknya pada kehidupan: apakah pasien mulai menarik diri dari percakapan, berhenti menghadiri pertemuan, atau tampak lebih murung.
Presbycusis is largely a diagnosis of exclusion, and what has to be excluded first is precisely what is easiest to treat.
History, part of it taken from the family:
- How long, and whether there was a clear day of onset. Presbycusis has no starting day.
- Whether both ears are equal or one is worse. A marked difference points elsewhere.
- Television or radio turned up until other people in the house are disturbed.
- Frequently asking people to repeat themselves, above all women and children, whose voices are higher.
- Difficulty far worse in a crowded room than in a quiet one.
- Speaking loudly without realising it. This is the opposite of conductive loss, where the patient speaks softly.
- Tinnitus in both ears, usually a fine constant ringing.
- Occupational noise exposure, ototoxic drugs, diabetes, and hypertension.
- Previous ear disease, ear surgery, and any running ear.
- The effect on life: whether the patient is withdrawing from conversation, has stopped attending gatherings, or seems low in mood.
RujukanReferences
- 1.Kementerian Kesehatan RI. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama. Lampiran I Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/1186/2022, Bab II Huruf E Telinga secara keseluruhan, halaman lampiran -252- sampai -265-. Dipakai sebagai pembanding negatif: huruf ini berisi lima entri dan tidak satu pun untuk presbiakusis. manuver.tireg7.net
- 2.Kementerian Kesehatan RI. Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/1936/2022 tentang Perubahan atas Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/1186/2022. Diperiksa seluruhnya; perubahan ini tidak menyentuh Huruf E Telinga dan tidak menyebut presbiakusis. diskes.badungkab.go.id
- 3.Kementerian Kesehatan RI. Panduan Keterampilan Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama. Lampiran II Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/1186/2022, butir 39 Pembinaan Kesehatan Usia Lanjut, halaman lampiran -1242- sampai -1254-, termasuk Pengkajian Paripurna Pada Lanjut Usia, instrumen Metode 2 Menit, GDS, MMSE, AMT, Clock Drawing Test, dan daftar empat belas karakter geriatri. manuver.tireg7.net
- 4.Konsil Kedokteran Indonesia. Standar Kompetensi Dokter Indonesia 2012. Lampiran Daftar Penyakit, tabel TELINGA, butir 81 Presbiakusis dengan Tingkat Kemampuan 3A, dibaca bersama butir 82 Serumen prop dengan Tingkat Kemampuan 4A. pd.fk.ub.ac.id
- 5.Kementerian Kesehatan RI. Panduan Keterampilan Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama. Lampiran II Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/1186/2022, butir 14 Penilaian Tajam Pendengaran, halaman lampiran -957- sampai -960-, termasuk tes suara, Rinne, Weber, dan Schwabach beserta analisis hasilnya. manuver.tireg7.net
- 6.Kementerian Kesehatan RI. Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana Otitis Media Supuratif Kronik. Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/350/2018, bagian audiometri nada murni: indeks Fletcher dan golongan derajat ketulian. Dokumen ini menangani penyakit lain dan dipakai di sini hanya untuk cara mengukur dan menggolongkan pendengaran. keslan.kemkes.go.id
- 7.Kementerian Kesehatan RI. Panduan Keterampilan Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama. Lampiran II Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/1186/2022, butir 13 Pemeriksaan Fisik Telinga, halaman lampiran -950- sampai -956-, termasuk analisis hasil pemeriksaan membran timpani. manuver.tireg7.net
- 8.Nieman CL, Oh ES. Presbycusis. In: StatPearls. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing. Bacaan lanjutan, bukan sumber isi. ncbi.nlm.nih.gov