Pitiriasis versikolorPityriasis versicolor
Pitiriasis versikolor, yang juga disebut tinea versikolor dan dikenal awam sebagai panu, adalah infeksi jamur superfisial pada kulit yang berjalan kronis dan disebabkan Malassezia furfur 1. Prevalensinya tinggi di daerah tropis yang hangat dan lembab, jadi di Indonesia penyakit ini sering ditemui 1. Sebagian besar pasien tidak merasakan apa-apa dan datang karena penampilan kulitnya, bukan karena keluhan; gatal ringan biasanya baru terasa saat berkeringat 1. Yang perlu disampaikan sejak awal adalah dua hal yang sering disalahpahami: angka kekambuhannya tinggi, sekitar setengah pasien, dan warna kulit tidak kembali normal begitu jamurnya mati melainkan butuh berbulan-bulan 1. Sebagian besar kasus tidak memerlukan rujukan, dan tingkat kemampuannya 4A 1 2.
Faktor risiko:
Pityriasis versicolor, also called tinea versicolor and known in Indonesia as panu, is a chronic superficial fungal infection of the skin caused by Malassezia furfur 1. Its prevalence is high in warm, humid tropical areas, so it is a common sight in Indonesia 1. Most patients feel nothing at all and come because of how the skin looks rather than because it bothers them; mild itch usually shows up only with sweating 1. Two things are worth saying at the first visit because they are so often misunderstood: the relapse rate is high, around half of patients, and skin colour does not come back the moment the fungus dies but takes months 1. Most cases need no referral, and the competency level is 4A 1 2.
Risk factors:
MengenaliRecognising it
Anamnesis.
- Alasan datang yang paling umum adalah bercak putih pada kulit 1.
- Gatalnya ringan dan terutama muncul saat berkeringat, tetapi sebagian besar pasien asimptomatik, jadi tidak adanya keluhan tidak menyingkirkan diagnosis 1.
Pemeriksaan fisik. Tanda patognomonisnya 1:
- Makula hipopigmentasi atau berwarna-warni, berskuama halus, berbentuk bulat atau tidak beraturan, dengan batas yang tegas atau tidak tegas.
- Skuamanya biasanya tipis seperti sisik dan kadang baru tampak ketika kulit digores (finger nail sign).
- Menggores lesi karena itu adalah bagian pemeriksaan, bukan tambahan. Lesi yang tampak polos bisa berubah menjadi jelas bersisik setelah digores.
History.
- The commonest reason for coming is white patches on the skin 1.
- The itch is mild and mainly appears with sweating, but most patients are asymptomatic, so the absence of a complaint does not rule the diagnosis out 1.
Examination. The pathognomonic signs 1:
- Hypopigmented or variously coloured macules with fine scale, round or irregular, with borders that may be sharp or ill defined.
- The scale is usually thin, like a fish scale, and at times shows only when the skin is scratched (finger nail sign).
- Scratching the lesion is therefore part of the examination rather than an extra. A lesion that looks plain can turn plainly scaly once scratched.
RujukanReferences
- 1.Kementerian Kesehatan RI. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama. Lampiran Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/1186/2022, Lampiran I Bab II Huruf K Kulit angka 11. manuver.tireg7.net
- 2.Konsil Kedokteran Indonesia. Standar Kompetensi Dokter Indonesia 2012. Peraturan Konsil Kedokteran Indonesia Nomor 11 Tahun 2012, Lampiran Daftar Penyakit, Sistem Integumen. pd.fk.ub.ac.id
- 3.World Health Organization. ICD-11 for Mortality and Morbidity Statistics, versi 2025-01. Kode 1F2D.0 dan judulnya dipakai dengan lisensi CC BY-ND 3.0 IGO. icd.who.int
- 4.Karray M, McKinney WP. Tinea Versicolor. In: StatPearls. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2024. Bacaan lanjutan, bukan sumber isi entri ini. ncbi.nlm.nih.gov