Pitiriasis roseaPityriasis rosea

Pitiriasis rosea adalah erupsi kulit swasirna yang berjalan dalam satu urutan tetap: sebuah lesi inisial berupa eritema dengan skuama halus, lalu 4 sampai 10 hari kemudian sekelompok lesi serupa yang lebih kecil di badan, lengan atas bagian proksimal, dan paha atas 1. Lesi susulan itu tersusun sejajar dengan tulang iga sehingga sebarannya menyerupai pohon cemara terbalik, dan susunan itulah yang paling membantu mengenalinya 1. Penyebabnya belum diketahui; panduan mencatat pendapat bahwa penyakit ini infeksi virus, dan alasan yang diberikan adalah sifatnya yang sembuh sendiri 1. Gejala umum biasanya tidak ada, sebagian pasien hanya mengeluh gatal ringan, dan penyakitnya sembuh dalam 3 sampai 8 minggu 1. Penyakit ini ditemukan pada semua usia, terutama 15 sampai 40 tahun, dengan jumlah pria dan wanita sama banyak 1. Yang paling menentukan di layanan primer bukan obatnya, melainkan memastikan bahwa ruam ini memang pitiriasis rosea. Tingkat kemampuan 4A 2.

Pityriasis rosea is a self limiting skin eruption that runs in a fixed order: an initial lesion of erythema with fine scale, then 4 to 10 days later a crop of similar but smaller lesions on the trunk, the proximal upper arms and the upper thighs 1. Those later lesions lie parallel to the ribs so the distribution looks like an inverted fir tree, and that arrangement is what helps most in recognising it 1. The cause is unknown; the guideline records the view that this is a viral infection, and the reason it gives is that the disease resolves on its own 1. Constitutional symptoms are usually absent, some patients report only mild itch, and the disease clears in 3 to 8 weeks 1. It is found at all ages, above all between 15 and 40 years, with men and women affected equally 1. What decides the primary care encounter is not the drug but being sure the rash really is pityriasis rosea. Competency level 4A 2.

MengenaliRecognising it

Anamnesis 1:

  • Lesi kemerahan yang awalnya satu, kemudian diikuti lesi-lesi yang lebih kecil menyerupai pohon cemara terbalik.
  • Kadang terasa gatal ringan.
  • Tanyakan urutan waktunya, karena jarak 4 sampai 10 hari antara lesi pertama dan lesi susulan adalah bagian dari gambaran penyakit ini.
  • Tanyakan obat dan jamu yang diminum, karena erupsi obat berdiri sebagai diagnosis banding.

Pemeriksaan fisik 1:

  • Gejala konstitusi pada umumnya tidak ada.
  • Lesi pertama, yaitu herald patch atau mother patch:
    • Umumnya di badan, soliter, berbentuk oval dan anular.
    • Diameternya sekitar 3 cm.
    • Terdiri atas eritema dengan skuama halus di atasnya.
    • Bertahan beberapa hari sampai beberapa minggu.
  • Lesi berikutnya:
    • Timbul 4 sampai 10 hari setelah lesi pertama.
    • Gambarannya serupa dengan lesi pertama, tetapi lebih kecil.
    • Susunannya sejajar dengan tulang iga, sehingga menyerupai pohon cemara terbalik.

History 1:

  • A red lesion that starts as one, then is followed by smaller lesions resembling an inverted fir tree.
  • Sometimes a mild itch.
  • Ask about the sequence in time, because the 4 to 10 day gap between the first lesion and the crop that follows is part of the picture.
  • Ask about drugs and herbal preparations taken, because drug eruption stands as a differential.

Examination 1:

  • Constitutional symptoms are generally absent.
  • The first lesion, the herald patch or mother patch:
    • Usually on the trunk, solitary, oval and annular.
    • About 3 cm across.
    • Made up of erythema with fine scale on top.
    • Lasts several days to several weeks.
  • The later lesions:
    • Appear 4 to 10 days after the first.
    • Look like the first lesion but smaller.
    • Lie parallel to the ribs, so the pattern resembles an inverted fir tree.
Memeriksa aksesChecking access

RujukanReferences

  1. 1.Kementerian Kesehatan RI. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama. Lampiran Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/1186/2022, Lampiran I Bab II Huruf K Kulit angka 22, dengan catatan lintas entri dari Huruf O Penyakit Kelamin angka 2. manuver.tireg7.net
  2. 2.Konsil Kedokteran Indonesia. Standar Kompetensi Dokter Indonesia 2012. Peraturan Konsil Kedokteran Indonesia Nomor 11 Tahun 2012, Lampiran Daftar Penyakit, Sistem Integumen, butir 42. pd.fk.ub.ac.id
  3. 3.World Health Organization. ICD-11 for Mortality and Morbidity Statistics, versi 2025-01. Kode EA10 dipakai dengan lisensi CC BY-ND 3.0 IGO. icd.who.int
  4. 4.Litchman G, Nair PA, Syed HA, Le JK. Pityriasis Rosea. In: StatPearls. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2024. Bacaan lanjutan, bukan sumber isi entri ini. ncbi.nlm.nih.gov

SPARK Atlas adalah alat bantu rujukan untuk klinisi, bukan pengganti penilaian klinis. Verifikasi setiap keputusan terhadap kondisi pasien dan pedoman terkini.SPARK Atlas is a reference aid for clinicians, not a substitute for clinical judgement. Verify every decision against the patient in front of you and current guidance.