PeritonitisPeritonitis

Tingkat 3B berarti dokter layanan primer mendiagnosis, memberi penanganan kegawatan, lalu merujuk. SKDI 2012 memberi butir 20 Peritonitis tingkat 3B pada tabel Sistem Gastrointestinal, Hepatobilier, dan Pankreas, subkelompok Dinding, Rongga Abdomen, dan Hernia, dan header entri PPK FKTP memuat angka yang sama. Pada entri ini batas kewenangannya terbaca dari satu kalimat pedomannya sendiri: pemeriksaan penunjang tidak dikerjakan di layanan tingkat pertama agar rujukannya tidak terlambat. Artinya kewenangan dokter layanan primer berhenti pada diagnosis klinis dan penanganan awal, dan tatalaksana definitifnya, yaitu pembedahan, milik pusat rujukan.Level 3B means the primary care doctor diagnoses, gives emergency treatment, then refers. SKDI 2012 gives item 20 Peritonitis a level of 3B in the gastrointestinal, hepatobiliary and pancreatic table, subgroup abdominal wall, abdominal cavity and hernia, and the PPK FKTP entry header carries the same figure. On this entry the boundary of that authority is legible in one sentence of the guidance itself: investigations are not performed in primary care so that the referral is not delayed. The primary care doctor's authority therefore stops at the clinical diagnosis and the initial treatment, and the definitive treatment, which is surgery, belongs to the referral centre.

Peritonitis adalah inflamasi peritoneum. Penyebabnya kelainan di dalam abdomen beserta penyulitnya: perforasi apendisitis, perforasi tukak lambung, perforasi tifus abdominalis, ileus obstruktif, dan perdarahan karena perforasi organ berongga akibat trauma abdomen 1.

Prognosisnya dubia ad malam 1. Itu penilaian pedomannya sendiri, dan penilaian itu yang membentuk seluruh sisa entri ini.

Tingkat kompetensinya 3B 13. Dokter layanan primer menegakkan diagnosisnya secara klinis, memberi penanganan awal, lalu merujuk ke layanan yang memiliki dokter spesialis bedah. Tatalaksana definitifnya ada di sana, bukan di puskesmas.

Satu kalimat pedomannya menjelaskan mengapa entri ini berbeda dari entri abdomen lain: pemeriksaan penunjang tidak dikerjakan di layanan tingkat pertama, justru agar rujukannya tidak terlambat 1. Pada penyakit ini menunggu hasil adalah kerugian, bukan kehati-hatian.

Peritonitis is inflammation of the peritoneum. It is caused by disease inside the abdomen and by the complications of that disease: a perforated appendix, a perforated gastric ulcer, a perforated typhoid ulcer, obstructive ileus, and bleeding from perforation of a hollow organ after abdominal trauma 1.

The prognosis is dubia ad malam 1. That is the guidance's own judgement, and it shapes everything else in this entry.

Competence is graded 3B 13. The primary care doctor makes the diagnosis clinically, gives initial treatment, then refers to a service that has a surgeon. The definitive treatment is there, not at the health centre.

One sentence of the guidance explains why this entry differs from other abdominal entries: investigations are not performed in primary care, precisely so the referral is not delayed 1. In this disease waiting for a result is a loss, not caution.

MengenaliRecognising it

Anamnesis:

  • Nyeri hebat di abdomen, terus-menerus selama beberapa jam. Nyerinya dapat terbatas di satu tempat atau tersebar di seluruh abdomen 1.
  • Nyerinya menguat saat pasien bergerak: berjalan, bernapas, batuk, atau mengejan 1.
  • Mual dan muntah, dari kelainan organ viseranya sendiri atau dari iritasi peritoneum 1.
  • Kesulitan bernapas, karena cairan di dalam abdomen mendorong diafragma 1.
  • Suhu naik, disertai takikardia dan hipotensi, dan pasien tampak letargik sampai syok bila peritonitis bakterialnya sudah terjadi 1.

History:

  • Severe abdominal pain, continuous over several hours. It may sit in one place or be spread across the whole abdomen 1.
  • The pain intensifies when the patient moves: walking, breathing, coughing or straining 1.
  • Nausea and vomiting, either from the diseased viscus itself or from peritoneal irritation 1.
  • Difficulty breathing, because fluid inside the abdomen pushes on the diaphragm 1.
  • Temperature rises, with tachycardia and hypotension, and the patient looks lethargic and then shocked once bacterial peritonitis has set in 1.
Memeriksa aksesChecking access

RujukanReferences

  1. 1.Kementerian Kesehatan RI. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama. Lampiran I Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/1186/2022, Huruf C Digestive, angka 15 Peritonitis, halaman lampiran -177- sampai -179-. manuver.tireg7.net
  2. 2.Kementerian Kesehatan RI. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama. Lampiran I Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/1186/2022, Huruf C Digestive, angka 14 Apendisitis Akut, halaman lampiran -174- sampai -178-. manuver.tireg7.net
  3. 3.Konsil Kedokteran Indonesia. Standar Kompetensi Dokter Indonesia 2012. Daftar Penyakit, tabel Sistem Gastrointestinal, Hepatobilier, dan Pankreas, butir 20 Peritonitis dengan Tingkat Kemampuan 3B, halaman 44. pd.fk.ub.ac.id
  4. 4.Brown D, Vashisht R, Caballero Alvarado JA. Septic Peritonitis. StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2026. Bacaan lanjutan, tidak dipakai sebagai sumber isi. ncbi.nlm.nih.gov

SPARK Atlas adalah alat bantu rujukan untuk klinisi, bukan pengganti penilaian klinis. Verifikasi setiap keputusan terhadap kondisi pasien dan pedoman terkini.SPARK Atlas is a reference aid for clinicians, not a substitute for clinical judgement. Verify every decision against the patient in front of you and current guidance.