Penyakit ParkinsonParkinson Disease

SKDI 2012 menempatkan Parkinson pada tabel SISTEM SARAF, subkelompok Gangguan Pergerakan, butir nomor 41, dengan Tingkat Kemampuan 3A dan tanpa kata pembatas. Tingkat 3A berarti dokter mampu membuat diagnosis klinis, memberikan terapi pendahuluan pada keadaan yang bukan gawat darurat, menentukan rujukan yang paling tepat, dan menindaklanjuti sesudah pasien kembali dari rujukan. Tetangganya dalam subkelompok yang sama hanya satu, yaitu butir 42 Gangguan pergerakan lainnya dengan tingkat 1. Susunan itu memberi arah yang jelas: satu-satunya gangguan gerak yang boleh didiagnosis dan ditangani awal di layanan primer adalah penyakit Parkinson, dan sisanya cukup dikenali sebagai kelainan lalu dirujuk. Satu hal perlu dibaca sebelum bekerja dari halaman ini. Terapi pendahuluan pada penyakit ini bukan obat antiparkinson. PPK Neurologi PERDOSSI merekomendasikan agar orang yang dicurigai menderita penyakit Parkinson dirujuk segera dan tanpa pengobatan kepada spesialis yang menegakkan diagnosis serta diagnosis bandingnya, dan bab yang sama memberi fasilitas primer tugas skrining diagnosis, tata laksana kegawatan, dan rujukan ke PPK 2. Respon terhadap levodopa adalah salah satu kriteria diagnosisnya, sehingga memulai obat sebelum pasien dinilai spesialis menghapus informasi yang dibutuhkan untuk menegakkan diagnosisnya.SKDI 2012 places Parkinson in the SISTEM SARAF table, Gangguan Pergerakan subgroup, item 41, at competency 3A with no qualifying words. Level 3A means the doctor makes the clinical diagnosis, gives initial treatment in a situation that is not an emergency, decides the most appropriate referral, and follows the patient up afterwards. It has only one neighbour in the same subgroup, item 42 Gangguan pergerakan lainnya at level 1. That arrangement points somewhere clear: the only movement disorder a primary care doctor is expected to diagnose and start treating is Parkinson disease, and the rest are recognised as abnormal and sent on. One thing has to be read before working from this page. Initial treatment in this disease is not an antiparkinson drug. The PERDOSSI neurology guideline recommends that anyone suspected of Parkinson disease be referred promptly and without treatment to a specialist who establishes the diagnosis and its differential, and the same chapter gives a first level facility the tasks of diagnostic screening, emergency management, and referral to the second level. The response to levodopa is one of the diagnostic criteria, so starting a drug before the specialist assessment erases information the diagnosis depends on.

Penyakit Parkinson adalah penyakit degenerasi otak terbanyak kedua setelah penyakit Alzheimer. Jumlah dopamin di otak menurun akibat kerusakan sel saraf di substansia nigra pars kompakta, dan dopamin itulah yang mengendalikan gerakan. Perjalanannya kronik dan progresif, kecepatannya berbeda dari satu orang ke orang lain, dan belum ada obat yang menghentikan progresivitasnya 1.

Yang membuat penyakit ini sering terlambat sampai ke dokter adalah gejala awalnya yang sangat ringan. Pasien mula-mula hanya merasa kurang sehat, sedikit murung, atau sedikit gemetar, sehingga keluhannya lewat begitu saja; ketika akhirnya berobat, keadaannya sudah lebih berat 1.

Tiga ciri anamnesis mengarahkan ke penyakit ini 1:

  • Awitan keluhannya tidak diketahui dengan pasti.
  • Gejalanya semakin memberat seiring waktu.
  • Gejalanya dimulai pada satu sisi anggota gerak, lalu mengenai kedua sisi atau batang tubuh.

Diagnosisnya klinis, yaitu ditemukannya kumpulan gejala berupa tremor, bradikinesia, rigiditas dan ketidakseimbangan postural; pemeriksaan laboratorium maupun pencitraan biasanya normal 1.

Kompetensi dokter layanan primer 3A 4. Yang membedakan halaman ini dari kebanyakan penyakit 3A adalah bentuk terapi pendahuluannya: pedoman merekomendasikan rujukan segera tanpa pengobatan, karena respon terhadap levodopa termasuk kriteria diagnosis dan memulai obat lebih dulu menghapus informasi itu 1. Tugas layanan primer adalah mengenali kumpulan gejalanya, menyingkirkan penyebab lain yang dapat ditanyakan, terutama obat, lalu merujuk.

Parkinson disease is the second commonest degenerative brain disease after Alzheimer disease. The amount of dopamine in the brain falls as nerve cells in the substantia nigra pars compacta are lost, and dopamine is what controls movement. The course is chronic and progressive, its speed differs from person to person, and no drug has been found that halts the progression 1.

What makes patients reach a doctor late is how mild the early symptoms are. At first the patient only feels unwell, a little low, or slightly shaky, so the complaint passes unnoticed; by the time they come, the disease is further along 1.

Three features in the history point here 1:

  • The onset of the complaint cannot be pinned down.
  • The symptoms grow steadily worse over time.
  • The symptoms begin on one side of the body, then involve both sides or the trunk.

The diagnosis is clinical, made by finding the cluster of tremor, bradykinesia, rigidity and postural instability; laboratory tests and imaging are usually normal 1.

Primary care competency is 3A 4. What sets this page apart from most 3A diseases is the shape of the initial treatment: the guideline recommends prompt referral without any drug, because the response to levodopa is one of the diagnostic criteria and starting a drug first erases that information 1. The primary care job is to recognise the cluster, exclude the causes that can be asked about, drugs above all, and refer.

MengenaliRecognising it

Anamnesis yang mengarahkan ke penyakit Parkinson 1:

  • Awitan keluhan tidak diketahui dengan pasti.
  • Perjalanan gejala semakin memberat.
  • Gejala dimulai pada satu sisi anggota gerak, lalu mengenai kedua sisi atau batang tubuh.
  • Faktor yang memperingan gejala: istirahat, tidur, suasana tenang.
  • Faktor yang memperberat gejala: kecemasan dan kurang istirahat.
  • Riwayat penggunaan obat antiparkinson dan respon terhadap pengobatannya.

History pointing to Parkinson disease 1:

  • The onset of the complaint cannot be pinned down.
  • The symptoms grow steadily worse.
  • The symptoms begin on one side of the body, then involve both sides or the trunk.
  • What eases the symptoms: rest, sleep, calm surroundings.
  • What worsens them: anxiety and lack of rest.
  • Any use of antiparkinson drugs and the response to them.

What the patient or family may report 1:

Memeriksa aksesChecking access

RujukanReferences

  1. 1.Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia. Panduan Praktik Klinis Neurologi. 2016. Bab Penyakit Parkinson, halaman 218 sampai 236, termasuk bagian Kewenangan berdasarkan Tingkat Pelayanan. snars.web.id
  2. 2.Kementerian Kesehatan RI. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama, lampiran Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/1186/2022, Huruf H Neurologi. Dipakai untuk menunjukkan bahwa Huruf H tidak memuat entri penyakit Parkinson. manuver.tireg7.net
  3. 3.Kementerian Kesehatan RI. Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/1936/2022 tentang Perubahan atas KMK HK.01.07/MENKES/1186/2022, Pasal I. Dipakai untuk menunjukkan bahwa perubahan tersebut tidak menambahkan entri penyakit Parkinson. diskes.badungkab.go.id
  4. 4.Konsil Kedokteran Indonesia. Standar Kompetensi Dokter Indonesia 2012, Lampiran Daftar Penyakit, tabel Sistem Saraf, subkelompok Gangguan Pergerakan, butir 41 Parkinson, Tingkat Kemampuan 3A. pd.fk.ub.ac.id
  5. 5.Zafar S, Lui F, Yaddanapudi SS. Parkinson Disease. In: StatPearls. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing. Bacaan lanjutan, bukan sumber isi entri ini. ncbi.nlm.nih.gov

SPARK Atlas adalah alat bantu rujukan untuk klinisi, bukan pengganti penilaian klinis. Verifikasi setiap keputusan terhadap kondisi pasien dan pedoman terkini.SPARK Atlas is a reference aid for clinicians, not a substitute for clinical judgement. Verify every decision against the patient in front of you and current guidance.