Otitis media serosaOtitis media with effusion

SKDI 2012 menempatkan butir nomor 72 Otitis media serosa pada tingkat 3A dalam tabel TELINGA, subkelompok Telinga, Pendengaran, dan Keseimbangan, tanpa satu pun kata pembatas. Tingkat 3A berarti dokter layanan primer mendiagnosis, memberi penanganan awal, lalu merujuk. Ketiga penyakit telinga tengah pada tabel itu perlu dibaca berdampingan karena tingkatnya berbeda: butir 71 Otitis media akut 4A, butir 72 Otitis media serosa 3A, dan butir 73 Otitis media kronik 3A. Jadi bentuk akut dituntaskan di layanan primer, sedangkan efusi dan bentuk kronik dikenali lalu dirujuk. Salah menyebut efusi sebagai otitis media akut memindahkan pasien ke jalur kewenangan yang tidak berlaku untuk penyakitnya, dan sebaliknya. Dua butir lain pada dokumen yang sama membatasi apa yang boleh dilakukan sesudah diagnosis ditegakkan. Butir 65 Tuli, mencakup bentuk konduktif, hanya tingkat 2, sehingga gangguan pendengaran yang ditimbulkan efusi ini dikenali dan dirujuk, bukan dikelola sampai selesai. Butir 14 Karsinoma nasofaring pada tabel SISTEM RESPIRASI juga hanya tingkat 2, dan butir itulah yang menjadi alasan efusi satu sisi pada orang dewasa dirujuk, bukan diamati.SKDI 2012 places item 72 Otitis media serosa at level 3A in the TELINGA table, subgroup Telinga, Pendengaran, dan Keseimbangan, with no qualifying text attached. Level 3A means the primary care doctor diagnoses, gives initial management, then refers. The three middle ear diseases in that table have to be read alongside one another because their levels differ: item 71 Otitis media akut 4A, item 72 Otitis media serosa 3A, and item 73 Otitis media kronik 3A. So the acute form is carried to completion in primary care, while an effusion and the chronic form are recognised and referred. Calling an effusion acute otitis media moves the patient onto a competency pathway that does not apply to their disease, and the same holds in reverse. Two further items in the same document limit what may be done once the diagnosis is made. Item 65 Tuli, which covers the conductive form, is only level 2, so the hearing loss this effusion causes is recognised and referred rather than managed to completion. Item 14 Karsinoma nasofaring in the SISTEM RESPIRASI table is also only level 2, and that item is the reason a unilateral effusion in an adult is referred rather than watched.

Otitis media serosa adalah terkumpulnya cairan di telinga tengah di belakang membran timpani yang masih utuh, tanpa tanda infeksi akut. Perbedaan itu bukan soal istilah. Penyakit ini bukan episode infeksi telinga: tidak ada demam, tidak ada nyeri hebat, dan antibiotik bukan terapinya. Keluhannya tumpul dan mudah diabaikan, yaitu telinga terasa penuh atau tersumbat, pendengaran meredam, suara sendiri terdengar bergaung, dan kadang bunyi berdetak saat menelan.

Pada anak yang menentukan bukan telinganya, melainkan pendengarannya. Efusi menimbulkan tuli konduktif yang dapat bertahan berminggu-minggu tanpa satu pun keluhan nyeri. Anak yang disebut tidak mendengarkan, yang mengeraskan volume televisi, yang bicaranya terlambat, atau yang tertinggal di kelas sering bukan sedang membangkang. Ia memang tidak mendengar, dan itulah alasan penyakit ini perlu dicari, bukan ditunggu sampai dikeluhkan.

Tingkat kemampuan dokter layanan primer 3A 4. Pekerjaan di layanan primer adalah mengenali efusinya, memisahkannya dari otitis media akut dan dari otitis media supuratif kronik, menilai pendengaran, mengamati dengan batas waktu yang jelas, lalu merujuk. Terapi definitif, termasuk tindakan pada telinga tengah, berada di pusat rujukan.

Faktor risiko:

  • Usia balita dan anak prasekolah, saat tuba eustachius masih pendek dan mendatar.
  • Otitis media akut yang baru saja mereda dan menyisakan cairan.
  • Infeksi saluran napas atas berulang, rinitis alergi, dan rinosinusitis.
  • Hipertrofi adenoid dan sumbatan hidung menahun.
  • Sumbing langit-langit dan sindrom Down.
  • Paparan asap rokok.
  • Penitipan anak dan kepadatan hunian.
  • Pada orang dewasa, massa di nasofaring; efusi satu sisi yang menetap adalah petunjuk yang tidak boleh diabaikan.

Otitis media with effusion is fluid collected in the middle ear behind an intact tympanic membrane, without the signs of acute infection. That distinction is not a matter of naming. This is not an ear infection episode: there is no fever, no severe pain, and an antibiotic is not the treatment. The complaints are dull and easy to overlook, namely a full or blocked ear, muffled hearing, one's own voice sounding hollow, and sometimes a click on swallowing.

In a child what matters is not the ear but the hearing. An effusion causes conductive hearing loss that can persist for weeks without a single complaint of pain. A child described as not listening, who turns the television up, whose speech is late, or who is falling behind at school is often not being difficult. The child genuinely cannot hear, and that is why this disease has to be looked for rather than waited for.

Primary care competency is 3A 4. The work in primary care is to recognise the effusion, separate it from acute otitis media and from chronic suppurative otitis media, assess hearing, observe within a stated time limit, then refer. Definitive treatment, including any procedure on the middle ear, belongs to the referral centre.

Risk factors:

  • Toddler and preschool age, while the eustachian tube is still short and horizontal.
  • A recent episode of acute otitis media that has settled but left fluid behind.
  • Repeated upper respiratory infection, allergic rhinitis, and rhinosinusitis.
  • Adenoid hypertrophy and chronic nasal obstruction.
  • Cleft palate and Down syndrome.
  • Exposure to cigarette smoke.
  • Day care attendance and crowded housing.
  • In adults, a nasopharyngeal mass; a persistent one sided effusion is a pointer that must not be ignored.

MengenaliRecognising it

Diagnosis ditegakkan dari anamnesis, otoskopi, dan penilaian pendengaran. Kuncinya adalah menemukan cairan di belakang membran timpani yang utuh sekaligus memastikan tidak ada tanda infeksi akut.

Anamnesis, orang dewasa dan anak besar:

  • Telinga terasa penuh, tersumbat, atau berat, biasanya tanpa nyeri.
  • Pendengaran meredam, sering berubah-ubah dan lebih buruk saat pilek.
  • Suara sendiri terdengar bergaung, dan kadang terdengar bunyi berdetak atau berderak saat menelan atau menguap.
  • Riwayat otitis media akut beberapa minggu sebelumnya, atau hidung tersumbat menahun.
  • Tidak ada demam, tidak ada nyeri hebat, dan tidak ada sekret yang keluar dari liang telinga.

The diagnosis rests on history, otoscopy, and assessment of hearing. The key is to find fluid behind an intact tympanic membrane while confirming that no sign of acute infection is present.

History, adults and older children:

  • The ear feels full, blocked, or heavy, usually without pain.
  • Hearing is muffled, often fluctuating and worse during a cold.
  • One's own voice sounds hollow, and a click or crackle may be heard on swallowing or yawning.
  • A history of acute otitis media some weeks earlier, or chronic nasal obstruction.
  • No fever, no severe pain, and no discharge from the ear canal.
Memeriksa aksesChecking access

RujukanReferences

  1. 1.Kementerian Kesehatan RI. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama. Lampiran I Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/1186/2022, Bab II Huruf E Telinga (lima entri, tanpa entri untuk otitis media serosa) dan bagian keterampilan klinis angka 13 Pemeriksaan Fisik Telinga, angka 14 Penilaian Tajam Pendengaran, angka 15 Penilaian Tajam Pendengaran Pada Anak. manuver.tireg7.net
  2. 2.Kementerian Kesehatan RI. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama. Lampiran I Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/1186/2022, entri Epistaksis: rinoskopi posterior untuk memeriksa nasofaring pada epistaksis berulang, dan karsinoma nasofaring pada daftar diagnosis bandingnya. manuver.tireg7.net
  3. 3.Kementerian Kesehatan RI. Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/1936/2022 tentang perubahan atas KMK HK.01.07/MENKES/1186/2022. Perubahan ini tidak menyentuh bagian telinga dan tidak menambahkan entri untuk otitis media serosa. diskes.badungkab.go.id
  4. 4.Konsil Kedokteran Indonesia. Standar Kompetensi Dokter Indonesia 2012, Lampiran Daftar Penyakit, tabel TELINGA butir 72 Otitis media serosa tingkat 3A, dibaca bersama butir 71 dan butir 73 serta butir 65, dan tabel SISTEM RESPIRASI butir 14. pd.fk.ub.ac.id
  5. 5.Bacaan lanjut. Searight FT, Singh R, Peterson DC. Otitis Media With Effusion. In: StatPearls. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2026. ncbi.nlm.nih.gov

SPARK Atlas adalah alat bantu rujukan untuk klinisi, bukan pengganti penilaian klinis. Verifikasi setiap keputusan terhadap kondisi pasien dan pedoman terkini.SPARK Atlas is a reference aid for clinicians, not a substitute for clinical judgement. Verify every decision against the patient in front of you and current guidance.