ObesitasObesity
SKDI 2012 memberi Obesitas tingkat kemampuan 4A tanpa kata pembatas, pada tabel Sistem Endokrin, Metabolik dan Nutrisi, subkelompok Gizi dan Metabolisme, butir 32 [2]. Diagnosis dan tata laksananya karena itu dituntaskan di layanan primer. Entri PPK yang menjadi jangkarnya sejalan dengan itu, tetapi dengan satu ciri yang perlu diketahui sejak awal: entri itu tidak memuat satu pun obat [1]. Seluruh tata laksananya adalah perubahan pola makan, latihan fisik, dan pemantauan berkala. Obat penurun berat badan justru muncul sebagai alasan merujuk ke dokter spesialis penyakit dalam, bukan sebagai pilihan yang dikerjakan sendiri. Jadi 4A di sini berarti mendiagnosis, menggolongkan, menjalankan program penurunan berat badan, dan menilai hasilnya, bukan meresepkan. Satu hal lagi perlu dibaca bersamanya. Golongan risiko tinggi pada entri ini dikaitkan dengan penyakit yang punya entri dan tingkat kemampuannya sendiri, misalnya diabetes melitus tipe 2, hipertensi, dan dislipidemia; Sindrom metabolik sendiri berada pada tingkat 3B di daftar yang sama [2]. Pasien obesitas dengan kumpulan penyulit itu karena itu tidak selalu berhenti pada satu entri.SKDI 2012 grades Obesitas at competency level 4A with no qualifying words, in the Sistem Endokrin, Metabolik dan Nutrisi table, Gizi dan Metabolisme subgroup, item 32 [2]. Diagnosis and management are therefore completed in primary care. The PPK entry behind it agrees, but with one feature worth knowing from the start: that entry carries no drug at all [1]. Its whole management is changed eating, physical activity and periodic measurement. Weight lowering drugs appear instead as a reason to refer to an internist, not as an option to be used locally. So 4A here means diagnosing, classifying, running a weight loss programme and judging its result, not prescribing. One more thing has to be read alongside it. The high risk group in this entry is tied to diseases that carry their own entries and their own competency levels, among them type 2 diabetes, hypertension and dyslipidaemia; metabolic syndrome itself sits at 3B on the same list [2]. A patient with obesity and that cluster of problems therefore does not always stop at one entry.
Obesitas adalah keadaan seseorang memiliki kelebihan lemak tubuh sampai kelebihan itu sendiri menimbulkan risiko kesehatan 1. Pasien biasanya datang bukan karena berat badannya, melainkan karena keluhan yang timbul dari risiko itu, sehingga obesitas lebih sering ditemukan pada pemeriksaan daripada dikeluhkan 1.
Bebannya besar dan naik cepat. Riskesdas 2013 mencatat prevalensi obesitas pada laki-laki dewasa 19,7 persen, lebih tinggi daripada 13,9 persen pada 2007 dan 7,8 persen pada 2010; pada perempuan dewasa di atas 18 tahun angkanya 32,9 persen pada 2013, dari 13,9 persen pada 2007 dan 15,5 persen pada 2010 1. Angka kenaikan yang menyertai kedua pembanding perempuan itu, 18,1 dan 17,5 persen, tidak sama persis dengan selisih persentasenya, jadi yang dipakai adalah persentase per tahunnya.
WHO menempatkan obesitas sebagai faktor risiko utama penyakit tidak menular, yaitu penyakit kardiovaskular terutama jantung dan stroke, diabetes, gangguan muskuloskeletal, serta beberapa jenis kanker yakni endometrium, payudara, dan usus besar 1. Dengan penduduk obesitas yang bertambah, penyakit akibat kegemukan ikut bertambah 1.
Penyebab dasarnya ketidakseimbangan antara asupan energi dan tingkat aktivitas fisik. Yang perlu ditimbang di poliklinik 1:
- Kebiasaan makan berlebih.
- Faktor genetik.
- Kurang aktivitas fisik.
- Faktor psikologis dan stres.
- Obat, karena steroid, kontrasepsi hormonal, dan antidepresan menambah berat badan serta menahan natrium.
- Usia, misalnya menopause.
- Kejadian tertentu, misalnya berhenti merokok atau berhenti berolahraga.
Tingkat kemampuan dokter layanan primer 4A 2.
Obesity is the state of carrying excess body fat to the point where the excess itself creates health risk 1. Patients usually come not about their weight but about a complaint arising from that risk, so obesity is more often found on examination than reported 1.
The burden is large and rising fast. Riskesdas 2013 recorded obesity prevalence in adult men at 19.7 per cent, above 13.9 per cent in 2007 and 7.8 per cent in 2010; in adult women over 18 years the figure was 32.9 per cent in 2013, from 13.9 per cent in 2007 and 15.5 per cent in 2010 1. The rise figures attached to the two female comparisons, 18.1 and 17.5 per cent, are not exactly the difference between those percentages, so the year by year percentages are the ones used here.
WHO places obesity among the leading risk factors for noncommunicable disease: cardiovascular disease, above all heart disease and stroke, diabetes, musculoskeletal disorders, and several cancers, namely endometrial, breast and colon 1. As the obese population grows, disease caused by excess weight grows with it 1.
The underlying cause is an imbalance between energy intake and the level of physical activity. What has to be weighed in clinic 1:
- A habit of eating in excess.
- Genetic factors.
- Too little physical activity.
- Psychological factors and stress.
- Drugs, since steroids, hormonal contraception and antidepressants add weight and retain sodium.
- Age, for example the menopause.
- Particular events, for example stopping smoking or stopping sport.
Primary care competency is 4A 2.
MengenaliRecognising it
Diagnosis ditegakkan dari anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang 1. Yang membedakan entri ini dari kebanyakan entri lain adalah pemeriksaan fisiknya berupa pengukuran, dan angkanya sendiri yang menjadi diagnosis.
Antropometri:
- Indeks massa tubuh dihitung sebagai berat badan dalam kilogram dibagi kuadrat tinggi badan dalam meter 1.
- Lingkar pinggang diukur pada pertengahan antara iga terbawah dan krista iliaka, dari sisi lateral, dengan pita yang tidak menekan jaringan lunak 1.
- Risiko meningkat bila lingkar pinggang di atas 85 cm pada laki-laki dan di atas 80 cm pada perempuan 1.
- Batas untuk laki-laki ini berbeda dengan batas obesitas sentral pada entri diabetes melitus panduan yang sama sesudah perubahannya, yaitu di atas 90 cm; batas perempuan sama pada keduanya 3. Perbedaan itu perlu diketahui sebelum satu angka dipakai untuk menandai pasien.
- Tekanan darah diukur untuk menentukan risiko dan komplikasi, misalnya hipertensi 1.
- Pemeriksaan fisik lain mengikuti keluhan, untuk mencari komplikasi atau risiko tinggi yang sudah terjadi 1.
The diagnosis is made from the history, the physical examination and investigations 1. What sets this entry apart from most others is that its physical examination is measurement, and the numbers themselves are the diagnosis.
Anthropometry:
- Body mass index is weight in kilograms divided by the square of height in metres 1.
- Waist circumference is measured midway between the lowest rib and the iliac crest, from the side, with a tape that does not compress soft tissue 1.
- Risk rises where the waist is above 85 cm in men and above 80 cm in women 1.
- That male cut off differs from the central obesity cut off in the diabetes entry of the same guideline after its amendment, which is above 90 cm; the female cut off is the same in both 3. The difference has to be known before either figure is used to label a patient.
- Blood pressure is measured to establish risk and complications, hypertension among them 1.
- Other examination follows the complaint, looking for complications or high risk that has already developed 1.
RujukanReferences
- 1.Kementerian Kesehatan RI. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama, lampiran Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/1186/2022. Huruf L Metabolik Endokrin dan Nutrisi, angka 1 Obesitas, halaman lampiran -649- sampai -653-. manuver.tireg7.net
- 2.Konsil Kedokteran Indonesia. Standar Kompetensi Dokter Indonesia 2012, Lampiran Daftar Penyakit, tabel Sistem Endokrin, Metabolik dan Nutrisi, subkelompok Gizi dan Metabolisme, butir 32 Obesitas, Tingkat Kemampuan 4A. pd.fk.ub.ac.id
- 3.Kementerian Kesehatan RI. Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/1936/2022 tentang Perubahan atas KMK HK.01.07/MENKES/1186/2022. Dipakai untuk dua ambang yang berbeda dari entri obesitas, yaitu obesitas sentral pada entri diabetes melitus tipe 2 dan indeks massa tubuh pada entri pemeriksaan kehamilan. diskes.badungkab.go.id
- 4.WHO Regional Office for the Western Pacific, IASO, IOTF. The Asia-Pacific perspective: redefining obesity and its treatment. Sydney: Health Communications Australia; 2000. Sumber tabel kategori indeks massa tubuh yang dipakai entri PPK. iris.who.int
- 5.Obesity and Comorbid Conditions. StatPearls. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing. Bacaan lanjutan, bukan sumber isi halaman ini. ncbi.nlm.nih.gov