Nyeri NeuropatikNeuropathic Pain

SKDI 2012 menempatkan Nyeri neuropatik pada tabel SISTEM SARAF, subkelompok Nyeri, butir nomor 61, dengan Tingkat Kemampuan 3A dan tanpa kata pembatas. Tingkat 3A berarti dokter mampu membuat diagnosis klinis, memberikan terapi pendahuluan pada keadaan yang bukan gawat darurat, menentukan rujukan yang paling tepat, dan menindaklanjuti sesudah pasien kembali dari rujukan. Subkelompok Nyeri hanya berisi dua butir, yaitu butir 60 Reffered pain 3A dan butir 61 Nyeri neuropatik 3A. Keduanya adalah mekanisme nyeri, bukan penyakit, dan itulah yang membuat entri ini berbentuk berbeda dari entri penyakit lain: yang didiagnosis adalah jenis nyerinya, sedangkan penyebabnya dicari sesudah itu. Satu bab pada PPK Neurologi PERDOSSI membaca SKDI secara langsung pada titik ini. Bab Neuralgia Pasca Herpes menyatakan bahwa berdasarkan SKDI 2012, neuralgia pasca herpes termasuk nyeri neuropatik dengan kompetensi 3A, dan menguraikan kewenangannya menjadi tiga: membuat diagnosis klinik dan memberikan terapi pendahuluan, menentukan rujukan yang paling tepat sesuai algoritma, dan menindaklanjuti sesudah pasien kembali dari rujukan. Pembacaan itu dipakai sebagai kerangka halaman ini.SKDI 2012 places Nyeri neuropatik in the SISTEM SARAF table, Nyeri subgroup, item 61, at competency 3A with no qualifying words. Level 3A means the doctor makes the clinical diagnosis, gives initial treatment in a situation that is not an emergency, decides the most appropriate referral, and follows the patient up afterwards. The Nyeri subgroup holds only two items, item 60 Reffered pain at 3A and item 61 Nyeri neuropatik at 3A. Both are pain mechanisms rather than diseases, and that is what gives this entry a different shape from a disease entry: what is diagnosed is the kind of pain, and the cause is looked for afterwards. One chapter of the PERDOSSI neurology guideline reads SKDI directly at this point. The post-herpetic neuralgia chapter states that under SKDI 2012, post-herpetic neuralgia belongs to neuropathic pain at competency 3A, and sets that authority out as three things: making the clinical diagnosis and giving initial treatment, deciding the most appropriate referral according to the algorithm, and following the patient up after they return from referral. That reading is used as the frame of this page.

Nyeri neuropatik adalah nyeri yang berasal dari kerusakan sarafnya sendiri, bukan dari peradangan jaringan yang dipersarafinya 3. Yang membuatnya dapat dikenali di ruang periksa adalah cara pasien menggambarkannya dan dua temuan pada pemeriksaan.

Gambaran nyerinya khas: panas seperti terbakar, menikam, seperti tersengat listrik, menyentak, dan gatal 1. Nyerinya dapat terus menerus, hilang timbul, ataupun timbul spontan tanpa pemicu 1.

Dua temuan yang menentukan 1:

  • Alodinia, yaitu nyeri yang timbul oleh rangsang yang pada orang lain tidak menyakitkan sama sekali, misalnya gesekan baju, rabaan, atau tiupan angin.
  • Hiperalgesia, yaitu rangsang nyeri yang terasa jauh lebih nyeri daripada seharusnya.

Mengapa pemisahan ini penting. Nyeri neuropatik tidak berperilaku seperti nyeri inflamasi dan tidak diobati dengan cara yang sama. Analgetik ajuvan, yaitu antidepresan, antikonvulsan dan antiaritmia, adalah obat untuk nyeri neuropatik, sedangkan analgetik nonopioid berupa obat antiinflamasi nonsteroid berguna pada nyeri inflamasi 2. Pasien yang terus diberi analgetik biasa untuk nyeri neuropatik akan terus gagal.

Cakupan sumbernya perlu dinyatakan terus terang. Tidak ada bab berjudul nyeri neuropatik pada PPK Neurologi PERDOSSI, dan tidak ada entri nyeri neuropatik pada PPK FKTP 4. Yang ada adalah bab-bab untuk penyebabnya, dan halaman ini menyusun pengenalan, target terapi dan alur rujukannya dari bab-bab itu dengan menyebut asal setiap bagiannya.

Penyebab yang disebut lintas bab pada dokumen tersebut:

  • Neuropati diabetika, komplikasi mikrovaskular tersering diabetes melitus 2.
  • Neuralgia pasca herpes 1.
  • Neuralgia trigeminal, yang memiliki entri SPARK tersendiri 1.
  • Nyeri radikuler pada kelainan diskus lumbal dan servikal, yang dibahas pada entri SPARK hernia nukleus pulposus 3.
  • Sindrom jebakan, misalnya carpal tunnel syndrome dan cubital tunnel syndrome, yang carpal tunnel syndrome-nya memiliki entri SPARK tersendiri 3.
  • Neuropati pada HIV, termasuk yang disebabkan obat antiretroviral yang bersifat neurotoksik 3.
  • Nyeri kanker, yang merupakan gabungan mekanisme inflamasi, neuropatik, iskemik dan kompresi 3.
  • Nyeri neuropatik pasca trauma 1.

Kompetensi dokter layanan primer 3A 5. Tugasnya mengenali jenis nyerinya, mencari penyebabnya, menangani penyebab yang dapat ditangani sendiri, memberi tata laksana nyeri sederhana, lalu merujuk 1 2.

Neuropathic pain is pain arising from damage to the nerve itself rather than from inflammation of the tissue it supplies 3. What makes it recognisable in the consulting room is the way the patient describes it and two findings on examination.

The description is characteristic: burning, stabbing, like an electric shock, jolting, and itching 1. The pain may be continuous, intermittent, or spontaneous with no trigger at all 1.

Two findings decide it 1:

  • Allodynia, meaning pain produced by a stimulus that would not hurt anyone else, for example clothing brushing the skin, a light touch, or a gust of wind.
  • Hyperalgesia, meaning a painful stimulus that hurts far more than it should.

Why the distinction matters. Neuropathic pain does not behave like inflammatory pain and is not treated the same way. Adjuvant analgesics, meaning antidepressants, anticonvulsants and antiarrhythmics, are the drugs for neuropathic pain, while non-opioid analgesia in the form of non-steroidal anti-inflammatory drugs is useful for inflammatory pain 2. A patient kept on ordinary analgesia for neuropathic pain will keep failing.

The scope of the sources has to be stated openly. There is no chapter titled neuropathic pain in the PERDOSSI neurology guideline, and no neuropathic pain entry in PPK FKTP 4. What exists is a set of chapters for its causes, and this page assembles the recognition, the treatment target and the referral pathway from them, naming where each part comes from.

The causes named across the chapters of that document:

  • Diabetic neuropathy, the commonest microvascular complication of diabetes mellitus 2.
  • Post-herpetic neuralgia 1.
  • Trigeminal neuralgia, which has its own SPARK entry 1.
  • Radicular pain from lumbar and cervical disc disease, covered in the SPARK entry on herniated nucleus pulposus 3.
  • Entrapment syndromes, for example carpal tunnel syndrome and cubital tunnel syndrome, the first of which has its own SPARK entry 3.
  • HIV-related neuropathy, including the form caused by neurotoxic antiretroviral drugs 3.
  • Cancer pain, which is a combination of inflammatory, neuropathic, ischaemic and compressive mechanisms 3.
  • Post-traumatic neuropathic pain 1.

Primary care competency is 3A 5. The job is to recognise the kind of pain, look for its cause, deal with the causes that can be dealt with locally, give simple pain management, and refer 1 2.

MengenaliRecognising it

Anamnesis. Yang ditanyakan pertama adalah bagaimana nyerinya terasa, karena kata-kata pasien sendiri sudah memisahkan nyeri neuropatik dari nyeri inflamasi 1 2:

  • Panas seperti terbakar.
  • Menikam.
  • Seperti tersengat listrik.
  • Menyentak.
  • Gatal.
  • Kesemutan dan rasa tebal.

Pola waktunya 1:

  • Terus menerus.
  • Hilang timbul.
  • Timbul spontan tanpa pemicu.

Pengukuran dan penilaian yang dianjurkan 2:

  • Intensitas nyeri dengan Visual Analog Scale, Numeric Pain Rating Scale, atau Wong Baker Face Scale.
  • Sifat keluhan, yaitu terbakar, kesemutan, hiperalgesia, alodinia, nyeri fantom, keluhan vasomotor, dan sindroma kausalgia.
  • Faktor yang memperberat dan memperingan.
  • Pain triad, yaitu cemas, depresi dan gangguan tidur.
    • Butir terakhir bukan pelengkap. Ketiganya mempengaruhi pengendalian nyeri selama terapi, dan bab lain pada dokumen yang sama meminta dokter membantu keluarga mengurangi kecemasan dan depresi pasien justru karena alasan itu 1.

History. The first thing to ask is what the pain feels like, because the patient's own words already separate neuropathic from inflammatory pain 1 2:

  • Burning.
  • Stabbing.
  • Like an electric shock.
  • Jolting.
  • Itching.
  • Tingling and numbness.

The time pattern 1:

  • Continuous.
  • Intermittent.
  • Spontaneous, with no trigger.

The measurement and assessment advised 2:

  • Pain intensity with a Visual Analog Scale, a Numeric Pain Rating Scale, or a Wong Baker Face Scale.
  • The quality of the complaint, meaning burning, tingling, hyperalgesia, allodynia, phantom pain, vasomotor complaints, and causalgia syndrome.
  • What makes it worse and what makes it better.
  • The pain triad, meaning anxiety, depression and sleep disturbance.
    • That last item is not an extra. All three affect pain control during treatment, and another chapter of the same document asks the doctor to help the family reduce the patient's anxiety and depression for exactly that reason 1.
Memeriksa aksesChecking access

RujukanReferences

  1. 1.Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia. Panduan Praktik Klinis Neurologi. 2016. Bab Neuralgia Pasca Herpes, halaman 68 sampai 72, termasuk algoritma manajemen herpes zoster, tabel obat International Association for the Study of Pain 2015, dan bagian Kewenangan berdasarkan tingkat pelayanan kesehatan yang membaca SKDI 2012. snars.web.id
  2. 2.Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia. Panduan Praktik Klinis Neurologi. 2016. Bab Neuropati Diabetika, halaman 63 sampai 67, termasuk ringkasan rekomendasi terapi American Academy of Neurology dan bagian Kewenangan berdasar Tingkat Pelayanan Kesehatan. snars.web.id
  3. 3.Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia. Panduan Praktik Klinis Neurologi. 2016. Bab pendamping pada dokumen yang sama: Nyeri Punggung Bawah halaman 89 sampai 93, Nyeri Neuropatik pada HIV halaman 109 sampai 113, Nyeri Kanker halaman 114 sampai 115, dan Cervical Disk Disorder dengan Radikulopati halaman 82 sampai 88. snars.web.id
  4. 4.Kementerian Kesehatan RI. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama, lampiran Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/1186/2022, Huruf H Neurologi. Dipakai untuk menunjukkan bahwa Huruf H tidak memuat entri nyeri neuropatik. manuver.tireg7.net
  5. 5.Konsil Kedokteran Indonesia. Standar Kompetensi Dokter Indonesia 2012, Lampiran Daftar Penyakit, tabel Sistem Saraf, subkelompok Nyeri, butir 61 Nyeri neuropatik, Tingkat Kemampuan 3A. pd.fk.ub.ac.id
  6. 6.Hammi C, Yeung B. Neuropathy. In: StatPearls. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing. Bacaan lanjutan, bukan sumber isi entri ini. StatPearls tidak memiliki bab tunggal berjudul neuropathic pain, sehingga bab ini dipakai sebagai bacaan umum yang paling dekat. ncbi.nlm.nih.gov

SPARK Atlas adalah alat bantu rujukan untuk klinisi, bukan pengganti penilaian klinis. Verifikasi setiap keputusan terhadap kondisi pasien dan pedoman terkini.SPARK Atlas is a reference aid for clinicians, not a substitute for clinical judgement. Verify every decision against the patient in front of you and current guidance.