Neurogenic bladderNeurogenic bladder

Tingkat 3A berarti dokter layanan primer mendiagnosis, memberi penanganan awal, lalu merujuk. SKDI 2012 memberi butir 50 Neurogenic bladder tingkat 3A pada tabel SISTEM SARAF, di dalam kelompok Penyakit pada Tulang Belakang dan Sumsum Tulang Belakang, di antara butir 49 Sindrom kauda equina yang bertingkat 2 dan butir 51 Siringomielia yang juga bertingkat 2. Penempatannya berarti sesuatu: SKDI membaca kondisi ini sebagai penyakit saraf yang bermanifestasi di kandung kemih, bukan sebagai penyakit urologi. Ada angka kedua yang perlu dibaca bersamanya, dan angka itu ada di daftar keterampilan, bukan di daftar penyakit. Pemasangan kateter uretra bertingkat 4A, artinya lulusan dokter mampu melakukannya secara mandiri, sedangkan clean intermittent catheterization yang secara khusus ditandai untuk neurogenic bladder bertingkat 3, artinya pernah melakukan atau pernah menerapkan di bawah supervisi. Pemeriksaan urodinamik bertingkat 1, yaitu mengetahui dan menjelaskan saja. Jadi keterampilan yang menegakkan risiko pasien ini berada di luar kewenangan mandiri dokter layanan primer, dan keterampilan yang merawatnya sehari-hari hanya dicapai di bawah supervisi. Kedua angka itulah yang membuat rujukan pada halaman ini bukan formalitas.Level 3A means the primary care doctor diagnoses, gives initial treatment, then refers. SKDI 2012 grades item 50 neurogenic bladder at 3A in the nervous system table, inside the group of diseases of the spine and spinal cord, between item 49 cauda equina syndrome at level 2 and item 51 syringomyelia, also level 2. The placement means something: SKDI reads this condition as a neurological disease that shows itself in the bladder rather than as a urological one. There is a second number to read alongside it, and it sits in the skills list rather than the disease list. Urethral catheterisation is graded 4A, meaning the graduate can do it independently, while clean intermittent catheterisation, marked specifically for neurogenic bladder, is graded 3, meaning performed or applied under supervision. Urodynamic study is graded 1, knowing and explaining only. So the skill that establishes this patient's risk sits outside the primary care doctor's independent authority, and the skill that keeps them well day to day is only reached under supervision. Those two numbers are what make the referral on this page more than a formality.

Neurogenic bladder adalah kandung kemih yang gagal menyimpan atau gagal mengosongkan karena persarafannya rusak. Ia bukan penyakit yang berdiri sendiri melainkan akibat kemih dari sebuah lesi neurologis, dan SKDI meletakkannya di kelompok penyakit tulang belakang dan sumsum tulang belakang justru karena itu 1.

Kerusakannya dapat mengenai kandung kemih, sfingter, atau keduanya, dan masing-masing dapat menjadi terlalu aktif atau kurang aktif. Karena itu kelainan neurogenik dikelompokkan menurut kombinasi keduanya 3:

  • Sfingter overaktif dengan kandung kemih overaktif.
  • Sfingter overaktif dengan kandung kemih underaktif.
  • Sfingter underaktif dengan kandung kemih overaktif.
  • Sfingter underaktif dengan kandung kemih underaktif.

Penyebabnya berbeda menurut usia:

  • Pada anak, penyebab tersering kelainan neurogenik adalah perkembangan abnormal kanalis spinalis yang menimbulkan defek tabung saraf. Insidens defek tabung saraf mencapai 0,3 sampai 4,5 per 1000 kelahiran di seluruh dunia 3.
  • Pada dewasa, penyebab tersering adalah cedera medula spinalis, kompresi medula, sindrom kauda ekuina, mielitis, dan mielopati, disusul penyakit saraf yang berjalan lambat serta diabetes.

Yang perlu dipegang sejak awal: yang terancam pada penyakit ini bukan kenyamanan berkemih melainkan ginjal. Tekanan penyimpanan yang tinggi dan pengosongan yang tidak tuntas merusak saluran kemih bagian atas, dan itulah alasan pemeriksaan urodinamik dipakai untuk memperkirakan risiko pada saluran kemih bagian atas, bukan sekadar untuk menjelaskan gejala 3.

Tingkat kompetensinya 3A 1. Dokter layanan primer mengenali, memberi penanganan awal, lalu merujuk. Urodinamik, keputusan bedah, dan pemilihan terapi jangka panjang berada di pusat rujukan.

PPK FKTP tidak memuat entri untuk neurogenic bladder. Huruf M Ginjal dan Saluran Kemih pada KMK 1186/2022 hanya berisi empat entri, yaitu infeksi saluran kemih, pielonefritis tanpa komplikasi, fimosis, dan parafimosis 4. Halaman ini karena itu bersandar pada Panduan Praktik Klinis Neurologi PERDOSSI dan pada panduan urologi pediatrik Ikatan Ahli Urologi Indonesia 23.

Neurogenic bladder is a bladder that fails to store or fails to empty because its nerve supply is damaged. It is not a disease in itself but the urinary consequence of a neurological lesion, and that is exactly why SKDI files it among diseases of the spine and spinal cord 1.

The damage can involve the bladder, the sphincter, or both, and each can become overactive or underactive. Neurogenic dysfunction is therefore grouped by the combination of the two 3:

  • Overactive sphincter with an overactive bladder.
  • Overactive sphincter with an underactive bladder.
  • Underactive sphincter with an overactive bladder.
  • Underactive sphincter with an underactive bladder.

The causes differ by age:

  • In children, the commonest neurogenic cause is abnormal development of the spinal canal producing a neural tube defect. The incidence of neural tube defects reaches 0.3 to 4.5 per 1000 births worldwide 3.
  • In adults, the commonest causes are spinal cord injury, cord compression, cauda equina syndrome, myelitis and myelopathy, followed by slowly progressive neurological disease and diabetes.

One thing to hold from the start: what is at risk in this disease is not the comfort of voiding but the kidneys. High storage pressure and incomplete emptying damage the upper urinary tract, and that is why urodynamic study is used to estimate the risk to the upper tract rather than simply to explain the symptoms 3.

The competency level is 3A 1. The primary care doctor recognises it, gives initial treatment, then refers. Urodynamics, surgical decisions and the choice of long term therapy belong to the referral centre.

The primary care guideline has no entry for neurogenic bladder. Section M on the kidney and urinary tract in KMK 1186/2022 holds four entries only: urinary tract infection, uncomplicated pyelonephritis, phimosis and paraphimosis 4. This page therefore rests on the PERDOSSI neurology clinical practice guideline and on the paediatric urology guideline of the Indonesian Urological Association 23.

MengenaliRecognising it

Dua pertanyaan menyusun seluruh pengenalan penyakit ini. Pertama, apakah kandung kemih ini gagal menyimpan atau gagal mengosongkan. Kedua, di mana lesi sarafnya. Jawaban pertama menentukan keluhan pasien; jawaban kedua menentukan seberapa cepat ia harus dikirim.

Anamnesis:

  • Pola berkemih: mengompol, sering berkemih, harus mengedan, aliran yang terputus, dan rasa tidak tuntas.
  • Apakah pasien merasakan kandung kemihnya penuh. Hilangnya sensasi penuh adalah petunjuk kuat ke arah lesi saraf.
  • Retensi urine dan inkontinensia. Keduanya justru sering muncul bersama pada pasien yang sama, dan gabungan itu sudah menjadi butir anamnesis pada bab cedera medula spinalis 2.
  • Infeksi saluran kemih yang berulang.
  • Buang air besar: konstipasi, mengedan, dan inkontinensia alvi. Keluhan usus dan keluhan kandung kemih berjalan bersama pada lesi yang sama 23.
  • Fungsi seksual 2.
  • Catatan harian berkemih selama 2 hari, yang memberi keterangan tentang volume kandung kemih dan frekuensi inkontinensia sekaligus menjadi umpan balik terhadap terapi 3.
  • Pada anak: riwayat pranatal dan hasil ultrasonografi penapisan, riwayat kelahiran, riwayat tumbuh kembang termasuk toilet training, riwayat infeksi saluran kemih, dan riwayat penyakit keluarga 3.
  • Pada dewasa: riwayat trauma, nyeri punggung, kelemahan tungkai, riwayat operasi tulang belakang, diabetes, dan penyakit saraf yang sudah diketahui 2.

Two questions organise the whole recognition of this disease. First, is this bladder failing to store or failing to empty. Second, where is the neurological lesion. The first answer explains the patient's complaint; the second decides how fast they have to be sent.

History:

  • The voiding pattern: wetting, frequency, straining, an interrupted stream, and a sense of incomplete emptying.
  • Whether the patient feels the bladder fill. Loss of the sensation of fullness points strongly to a neurological lesion.
  • Retention and incontinence. The two often appear together in the same patient, and that combination is already a history item in the spinal cord injury chapter 2.
  • Recurrent urinary tract infection.
  • Bowel function: constipation, straining and faecal incontinence. Bowel and bladder complaints travel together from the same lesion 23.
  • Sexual function 2.
  • A voiding diary over 2 days, which gives information on bladder volume and the frequency of incontinence and doubles as feedback on treatment 3.
  • In children: the antenatal history and screening ultrasound results, the birth history, developmental history including toilet training, urinary infection history, and family history 3.
  • In adults: trauma, back pain, leg weakness, previous spinal surgery, diabetes, and any known neurological disease 2.
Memeriksa aksesChecking access

RujukanReferences

  1. 1.Konsil Kedokteran Indonesia. Standar Kompetensi Dokter Indonesia 2012. Lampiran Daftar Penyakit, tabel Sistem Saraf, butir 50 Neurogenic bladder dengan Tingkat Kemampuan 3A; dan Lampiran Daftar Keterampilan Klinis, Sistem Ginjal dan Saluran Kemih, butir 14 Pemasangan kateter uretra tingkat 4A, butir 15 Clean intermitten chateterization (Neurogenic bladder) tingkat 3, butir 10 Pemeriksaan urodinamik tingkat 1, dan butir 3 Perkusi kandung kemih tingkat 4A. pd.fk.ub.ac.id
  2. 2.Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (PERDOSSI). Panduan Praktik Klinis Neurologi, 2016. Bab Cedera Medula Spinalis halaman 168 sampai 170, meliputi anamnesis keluhan berkemih dan defekasi, stabilisasi medis dengan pemasangan kateter urin dan pemantauan produksi urin, serta rehabilitasi berupa bladder training dan bowel training. Bab Mielitis Transversa halaman 216. snars.web.id
  3. 3.Ikatan Ahli Urologi Indonesia. Panduan Tatalaksana Urologi Pediatrik di Indonesia, edisi keempat, 2022. BAB 8 Inkontinensia Urine, bagian C Inkontinensia Struktural, halaman 95 sampai 101, meliputi klasifikasi kelainan neurogenik, evaluasi diagnosis, clean intermittent catheterization, terapi medis, tata laksana bedah, dan tabel rekomendasi. Editor: Arry Rodjani, Irfan Wahyudi, Johan Renaldo. iaui.or.id
  4. 4.Kementerian Kesehatan RI. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama, Lampiran I Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/1186/2022, Bab II Huruf M Ginjal dan Saluran Kemih. Dicari seluruhnya dan tidak memuat entri neurogenic bladder; dikutip sebagai dasar pernyataan bahwa pedoman layanan primer diam mengenai kondisi ini, dan sebagai sumber jalur infeksi saluran kemih yang dipakai halaman ini. manuver.tireg7.net
  5. 5.Dorsher PT, McIntosh PM. Neurogenic Bladder and Neurogenic Lower Urinary Tract Dysfunction. In: StatPearls. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing. Bacaan lanjutan, bukan sumber isi. ncbi.nlm.nih.gov

SPARK Atlas adalah alat bantu rujukan untuk klinisi, bukan pengganti penilaian klinis. Verifikasi setiap keputusan terhadap kondisi pasien dan pedoman terkini.SPARK Atlas is a reference aid for clinicians, not a substitute for clinical judgement. Verify every decision against the patient in front of you and current guidance.