MeningitisMeningitis

SKDI 2012 menempatkan Meningitis pada tabel SISTEM SARAF, subkelompok Infeksi, butir nomor 6, dengan Tingkat Kemampuan 3B dan tanpa kata pembatas. Tidak ada butir meningitis kedua di tabel lain, sehingga tidak ada dua penilaian yang harus didamaikan. Tingkat 3B berarti dokter membuat diagnosis klinis, memberikan terapi pendahuluan pada keadaan gawat darurat untuk menyelamatkan nyawa atau mencegah keparahan dan kecacatan, menentukan rujukan yang paling tepat, dan menindaklanjuti sesudah pasien kembali dari rujukan. Butir tetangganya menjelaskan batasnya. Butir 7 Ensefalitis dan butir 8 Malaria serebral juga 3B, sedangkan butir 12 Abses otak dinilai 2 dan butir 15 Hidrosefalus dinilai 2. Artinya penyakit yang menuntut pungsi lumbal, pencitraan, dan antibiotik parenteral berkepanjangan tidak dituntaskan di layanan primer. Yang dituntut dari dokter layanan primer adalah mengenali sindromnya, menstabilkan, dan mengirim pasien sebelum kesadarannya turun lebih jauh.SKDI 2012 places Meningitis in the SISTEM SARAF table, Infeksi subgroup, item 6, at competency 3B with no qualifying words. There is no second meningitis item in another table, so there are no two gradings to reconcile. Level 3B means the doctor makes the clinical diagnosis, gives emergency initial treatment to save life or prevent deterioration and disability, decides the most appropriate referral, and follows the patient up after the referral. The neighbouring items show where the boundary sits. Item 7 Ensefalitis and item 8 Malaria serebral are also 3B, while item 12 Abses otak and item 15 Hidrosefalus are graded 2. Diseases that require lumbar puncture, imaging, and prolonged parenteral antibiotics are therefore not completed in primary care. What primary care owes the patient is recognition of the syndrome, stabilisation, and transfer before consciousness falls further.

Meningitis adalah peradangan selaput otak. Bentuk yang menentukan cara kerja di layanan primer adalah meningitis bakterialis akut, yang berkembang dalam waktu kurang dari 3 hari 1. Bentuk tuberkulosa berjalan lebih pelan, dimulai dengan malaise, anoreksia, dan demam, lalu nyeri kepala yang terus memberat, sehingga pasien sering datang setelah kesadarannya menurun 1.

PPK FKTP tidak memiliki entri meningitis. Huruf H Neurologi memuat empat belas entri, dari Tension Headache sampai Tetanus Neonatorum, dan meningitis tidak ada di antaranya 2. Panduan nasional yang membagi kewenangan untuk penyakit ini adalah PPK Neurologi PERDOSSI, yang memberi fasilitas pelayanan kesehatan primer satu tugas: tata laksana ABC dan resusitasi, lalu rujuk 1.

Keadaan yang mendahului dan faktor yang memberatkan 1:

  • Infeksi saluran napas atas yang baru saja terjadi, terutama pada dewasa, diikuti gejala susunan saraf pusat.
  • Pneumonia, sinusitis, dan otitis media.
  • Gangguan imunologi tubuh.
  • Alkoholisme.
  • Diabetes melitus.
  • Riwayat perjalanan haji, atau adanya orang lain di sekitar pasien dengan keluhan serupa, karena meningitis meningokokus dapat menimbulkan epidemi.

Status HIV mengubah daftar penyebab, bukan sekadar beratnya penyakit. Infeksi oportunistik susunan saraf pusat tersering pada pasien HIV di Indonesia adalah meningitis tuberkulosis, ensefalitis toksoplasma, dan meningitis kriptokokus 3. Penelitian di Bandung menemukan prevalens meningitis kriptokokus 29,8 persen pada pasien HIV positif dan 8,1 persen dari seluruh pasien dengan gejala meningitis subakut, dengan angka kematian 10 minggu 52,7 persen pada subjek Indonesia dalam studi cryptodex 3.

Kompetensi dokter layanan primer 3B 4. Nilai entri ini terletak pada kecepatan mengenali, bukan pada pilihan antibiotik.

Meningitis is inflammation of the meninges. The form that dictates how primary care must work is acute bacterial meningitis, which develops in under 3 days 1. The tuberculous form moves more slowly, opening with malaise, anorexia, and fever, then a headache that keeps worsening, so the patient often arrives after consciousness has already fallen 1.

PPK FKTP has no meningitis entry. Section H Neurologi holds fourteen entries, from tension headache to neonatal tetanus, and meningitis is not among them 2. The national document that divides responsibility for this disease is the PERDOSSI neurology clinical practice guideline, which gives primary care one job: ABC management and resuscitation, then refer 1.

Antecedent illness and aggravating factors 1:

  • A recent upper respiratory tract infection, particularly in adults, followed by central nervous system symptoms.
  • Pneumonia, sinusitis, and otitis media.
  • Impaired immunity.
  • Alcoholism.
  • Diabetes mellitus.
  • Recent Hajj travel, or another person around the patient with the same complaint, because meningococcal meningitis can produce epidemics.

HIV status changes the list of causes, not merely the severity. The commonest central nervous system opportunistic infections in Indonesian HIV patients are tuberculous meningitis, toxoplasma encephalitis, and cryptococcal meningitis 3. A Bandung study found a cryptococcal meningitis prevalence of 29.8 per cent among HIV positive patients and 8.1 per cent of all patients presenting with subacute meningitis, with a 10 week mortality of 52.7 per cent among Indonesian subjects in the cryptodex study 3.

Primary care competency is 3B 4. The value of this entry lies in speed of recognition, not in the choice of antibiotic.

MengenaliRecognising it

Anamnesis. Keluhan yang membawa pasien dengan meningitis bakterialis akut datang 1:

  • Demam.
  • Nyeri kepala.
  • Fotofobia.
  • Penurunan kesadaran.
  • Kejang.
  • Kelemahan satu sisi.
  • Nyeri kepala berat dengan muntah berulang dan kejang pada stadium lanjut, yang menandakan hidrosefalus.

Dua pola awitan yang perlu dibedakan sejak anamnesis 1:

  • Pada dewasa, penyakit sering dimulai sebagai infeksi saluran napas atas dengan demam dan keluhan pernapasan, lalu gejala susunan saraf pusat menyusul.
  • Pada meningitis meningokokus, yang muncul lebih dulu adalah septikemia dan syok septik: demam serta nyeri di lengan atau tungkai. Riwayat perjalanan haji dan riwayat kontak dengan orang berkeluhan sama wajib ditanyakan, karena penyakit ini dapat menimbulkan epidemi.

History. The complaints that bring a patient with acute bacterial meningitis in 1:

  • Fever.
  • Headache.
  • Photophobia.
  • Reduced consciousness.
  • Seizures.
  • One-sided weakness.
  • Severe headache with repeated vomiting and seizures at a late stage, indicating hydrocephalus.

Two onset patterns to separate at the history stage 1:

  • In adults the illness often begins as an upper respiratory tract infection with fever and respiratory complaints, with central nervous system symptoms following.
  • In meningococcal meningitis what appears first is septicaemia and septic shock: fever with pain in the arms or legs. Hajj travel and contact with someone carrying the same complaint must be asked about, because this disease can produce epidemics.
Memeriksa aksesChecking access

RujukanReferences

  1. 1.Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia. Panduan Praktik Klinis Neurologi. 2016. Bab Meningitis Bakterial dan Bab Meningitis Tuberkulosa, termasuk bagian Kewenangan berdasar Tingkat Pelayanan Kesehatan. snars.web.id
  2. 2.Kementerian Kesehatan RI. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama, lampiran Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/1186/2022, Huruf H Neurologi. Dipakai untuk menunjukkan bahwa Huruf H tidak memuat entri meningitis. manuver.tireg7.net
  3. 3.Kementerian Kesehatan RI. Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana HIV, lampiran Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/90/2019, bagian Neuro-AIDS. keslan.kemkes.go.id
  4. 4.Konsil Kedokteran Indonesia. Standar Kompetensi Dokter Indonesia 2012, Lampiran Daftar Penyakit, tabel Sistem Saraf, butir 6 Meningitis, Tingkat Kemampuan 3B. pd.fk.ub.ac.id
  5. 5.Runde TJ, Anjum F, Hafner JW. Bacterial Meningitis. In: StatPearls. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2023. Bacaan lanjutan, bukan sumber isi entri ini. ncbi.nlm.nih.gov

SPARK Atlas adalah alat bantu rujukan untuk klinisi, bukan pengganti penilaian klinis. Verifikasi setiap keputusan terhadap kondisi pasien dan pedoman terkini.SPARK Atlas is a reference aid for clinicians, not a substitute for clinical judgement. Verify every decision against the patient in front of you and current guidance.