MastitisMastitis
SKDI 2012 menempatkan mastitis pada tabel Sistem Reproduksi, subkelompok Payudara, butir 90, dengan tingkat kemampuan 4A tanpa kata pembatas [2]. Butir 89 pada tabel yang sama, inflamasi dan abses, hanya bertingkat 2, sehingga sesudah mastitis berubah menjadi abses kewenangan tuntasnya berhenti. Batas praktisnya datang dari entri PPK [1]: - Antibiotik yang diberikan hanya untuk mastitis, dan abses payudara dirujuk. - Entri tidak memuat diagnosis banding sama sekali, padahal payudara bengkak dan nyeri pada ibu menyusui paling sering bukan mastitis melainkan bendungan payudara. - Entri tidak memuat pemeriksaan penunjang, sehingga pemisahan mastitis dari abses bertumpu pada pemeriksaan fisik saja. - Entri tidak memuat penyesuaian obat untuk ibu menyusui, padahal seluruh pasiennya menyusui.SKDI 2012 places mastitis in the Sistem Reproduksi table, Payudara subgroup, item 90, at competency level 4A with no qualifying words [2]. Item 89 in the same table, inflammation and abscess, is graded only 2, so once mastitis becomes an abscess full competency stops. The practical limits come from the PPK entry [1]: - The antibiotic given is for mastitis only, and breast abscess is referred. - The entry carries no differential diagnosis at all, even though a swollen painful breast in a nursing mother is most often engorgement rather than mastitis. - The entry carries no investigations, so separating mastitis from abscess rests on the physical examination alone. - The entry carries no drug adjustment for breastfeeding, even though every patient it treats is breastfeeding.
Mastitis adalah peradangan payudara yang biasanya terjadi pada masa nifas atau sampai 3 minggu setelah persalinan 1. Yang khas adalah sebelah: satu payudara membengkak, memerah dengan batas tegas, terasa hangat dan nyeri, disertai demam dan menggigil 1.
Angka yang perlu diketahui. Mastitis mengenai 2 sampai 33% ibu menyusui, dan kira-kira 10% di antaranya berkembang menjadi abses dengan gejala yang makin berat 1. Puncak kejadiannya minggu ke-3 dan ke-4 pascasalin, tetapi dapat terjadi kapan saja selama menyusui 1.
Faktor risiko yang perlu ditanyakan 1:
- Primipara.
- Stres.
- Teknik menyusui yang tidak benar, misalnya menyusui hanya pada satu posisi, sehingga payudara tidak terkosongkan dengan baik.
- Isapan bayi yang kurang kuat, yang menimbulkan bendungan dan sumbatan kelenjar.
- Pemakaian bra yang terlalu ketat.
- Bentuk mulut bayi yang tidak normal, misalnya sumbing bibir atau langit-langit, yang melukai puting.
- Adanya luka pada payudara.
- Riwayat mastitis sebelumnya saat menyusui.
Tingkat kemampuan dokter layanan primer 4A 2. Satu pesan yang perlu disampaikan sejak kunjungan pertama: menyusui diteruskan, tidak dihentikan. Payudara yang tidak dikosongkan justru memperberat penyakitnya 13.
Mastitis is inflammation of the breast, usually in the puerperium or within 3 weeks of delivery 1. What is characteristic is that it is one sided: one breast swells, reddens with a sharp border, feels warm and painful, with fever and shivering 1.
The figures worth knowing. Mastitis affects 2 to 33% of breastfeeding mothers, and around 10% of cases go on to abscess with progressively worse symptoms 1. It peaks in the third and fourth postpartum weeks, but can occur at any time during breastfeeding 1.
Risk factors to ask about 1:
- Primiparity.
- Stress.
- Faulty feeding technique, for example nursing in one position only, so that the breast does not empty properly.
- Weak suckling by the infant, which produces stasis and obstruction of the breast glands.
- Wearing a bra that is too tight.
- Abnormal infant mouth shape, for example cleft lip or palate, which injures the nipple.
- A wound on the breast.
- Previous mastitis while breastfeeding.
Primary care competency is 4A 2. One message belongs in the first consultation: breastfeeding continues, it is not stopped. A breast that is not emptied makes the disease worse 13.
MengenaliRecognising it
Diagnosis mastitis ditegakkan secara klinis, dari anamnesis dan pemeriksaan fisik. Entri PPK tidak meminta pemeriksaan penunjang apa pun 1.
Anamnesis:
Mastitis is a clinical diagnosis, made from the history and the physical examination. The PPK entry asks for no investigations at all 1.
History:
- Pain and swelling of the breast, usually one breast 1.
- Fever above 38 degrees Celsius 1.
- Fever with shivering 1.
- Myalgia 1.
- Most often in the third and fourth postpartum weeks, but possible at any time during breastfeeding 1.
Physical examination:
RujukanReferences
- 1.Kementerian Kesehatan RI. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama, lampiran Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/1186/2022. Huruf N Kesehatan Wanita, angka 11 Mastitis, halaman lampiran -773- sampai -776-. manuver.tireg7.net
- 2.Konsil Kedokteran Indonesia. Standar Kompetensi Dokter Indonesia 2012, Lampiran Daftar Penyakit, tabel Sistem Reproduksi, subkelompok Payudara, butir 90 Mastitis (4A) dan butir 89 Inflamasi, abses (tingkat 2). pd.fk.ub.ac.id
- 3.World Health Organization. Mastitis: causes and management. WHO/FCH/CAH/00.13. Geneva: WHO; 2000. Dipakai untuk pengosongan payudara sebagai inti tata laksana dan untuk mastitis tanpa infeksi. who.int
- 4.Kementerian Kesehatan RI dan WHO. Buku Saku Pelayanan Kesehatan Ibu di Fasilitas Kesehatan Dasar dan Rujukan. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI; 2013. Subbab 6.5 Mastitis (halaman 226 menurut daftar isi) dan subbab 6.6 Bendungan Payudara (halaman 227 menurut daftar isi). Sumber ini adalah referensi b entri PPK di atas. platform.who.int
- 5.Acute Mastitis. StatPearls. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing. Bacaan lanjutan, bukan sumber isi halaman ini. ncbi.nlm.nih.gov