Mabuk PerjalananMotion Sickness

SKDI 2012 menempatkan Mabuk perjalanan pada tingkat 4A sebagai nomor 83 di kelompok Telinga, Pendengaran, dan Keseimbangan, tepat setelah Serumen prop (4A) dan tepat sebelum Trauma akustik akut (3A) [1]. Penempatannya di kelompok telinga sudah merupakan keterangan: keluhannya berasal dari sistem keseimbangan, bukan dari lambung. Yang tidak biasa pada butir 4A ini adalah pasangannya: PPK FKTP, instrumen yang menerjemahkan kompetensi SKDI menjadi panduan praktik, tidak memuat entri untuk kondisi ini, baik pada Kepmenkes 1186/2022 maupun pada perubahannya Kepmenkes 1936/2022 [2]. Jadi kompetensinya dituntut pada tingkat tuntas sementara panduan praktik nasionalnya tidak ada, dan isi klinis entri ini diambil dari tinjauan sejawat [3][4]. Konsekuensinya untuk pembaca: tidak ada kriteria rujukan nasional yang dapat dikutip untuk kondisi ini, sehingga batasnya harus dibangun dari diagnosis bandingnya sendiri.SKDI 2012 places motion sickness at level 4A as number 83 in the ear, hearing and balance group, immediately after impacted cerumen (4A) and immediately before acute acoustic trauma (3A) [1]. Where it sits is already informative: the complaint comes from the balance system, not from the stomach. What is unusual about this 4A item is its counterpart: PPK FKTP, the instrument that turns SKDI competencies into practice guidance, carries no entry for this condition, neither in Kepmenkes 1186/2022 nor in its amendment Kepmenkes 1936/2022 [2]. The competency is therefore demanded at the complete-management level while the national practice guidance for it does not exist, and the clinical content of this entry is taken from peer-reviewed literature [3][4]. What that means for the reader: no national referral criteria can be quoted for this condition, so the boundary has to be built from its own differential diagnosis.

Mabuk perjalanan, disebut juga kinetosis, adalah respons normal terhadap gerakan yang nyata maupun yang hanya dipersepsikan, dan bukan penyakit dalam arti yang ketat 3. Syarat mutlaknya adalah pertentangan informasi: otak menerima keterangan yang tidak cocok satu sama lain dari mata, aparatus vestibular, dan reseptor proprioseptif tentang gerakan tubuh 3. Karena itu keluhan yang sama dapat timbul tanpa gerakan sungguhan, misalnya pada permainan realitas maya atau layar lebar 3.

Gejalanya berpusat pada mual, biasanya didahului rasa tidak enak badan, menguap berulang, air liur yang bertambah, dan pucat, lalu berlanjut ke keringat dingin dan muntah 3. Sesudah pemicunya berhenti, gejala pada umumnya mereda dalam hitungan jam sampai tiga hari 3.

Kompetensi dokter umum 4A 1. Yang perlu diketahui sejak awal: PPK FKTP tidak memuat entri untuk kondisi ini pada Kepmenkes 1186/2022 maupun pada perubahannya, sehingga uraian di bawah bersumber pada tinjauan sejawat dan bukan pada panduan praktik nasional 234.

Yang lebih rentan 3:

  • Perempuan, terutama sekitar menstruasi, dan perempuan hamil.
  • Anak usia 6 sampai 12 tahun, dengan puncaknya pada usia 9 sampai 10 tahun.
  • Pasien migren, vertigo, atau penyakit Meniere.
  • Orang yang kurang tidur.
  • Orang dengan riwayat keluarga mabuk perjalanan.

Motion sickness, also called kinetosis, is a normal response to motion that is either real or merely perceived, and not a disease in the strict sense 3. Its absolute requirement is conflicting information: the brain receives accounts that do not agree with one another from the eyes, the vestibular apparatus and the proprioceptive receptors about how the body is moving 3. That is why the same complaint can arise without real motion, for instance in virtual reality or in front of a large moving screen 3.

The symptoms centre on nausea, usually preceded by malaise, repeated yawning, increased salivation and pallor, then going on to cold sweating and vomiting 3. Once the trigger stops, symptoms generally settle within hours to three days 3.

General practitioner competency is 4A 1. One thing to know from the outset: PPK FKTP carries no entry for this condition, neither in Kepmenkes 1186/2022 nor in its amendment, so what follows comes from peer-reviewed literature rather than from national practice guidance 234.

Who is more susceptible 3:

  • Women, particularly around menstruation, and pregnant women.
  • Children aged 6 to 12 years, peaking at 9 to 10 years.
  • Patients with migraine, vertigo or Meniere disease.
  • People who are sleep deprived.
  • People with a family history of motion sickness.

MengenaliRecognising it

Diagnosisnya klinis dan bertumpu pada satu hubungan: gejala timbul selama atau segera sesudah paparan gerakan, dan mereda ketika gerakannya berhenti 3. Pemeriksaan laboratorium pada umumnya tidak diperlukan, dan riwayat mabuk pada perjalanan serupa sebelumnya sangat membantu 3.

Gejala awal, yang muncul sebelum mual dan sering terlewat 3:

  • Rasa tidak enak badan, lesu, dan apatis.
  • Menguap berulang dan menghela napas.
  • Air liur bertambah dan sendawa.

The diagnosis is clinical and rests on one relationship: symptoms arise during or immediately after exposure to motion, and settle once the motion stops 3. Laboratory testing is generally unnecessary, and a history of sickness on similar journeys helps a great deal 3.

Early symptoms, which precede the nausea and are often missed 3:

  • Malaise, lethargy and apathy.
  • Repeated yawning and sighing.
  • Increased salivation and burping.
Memeriksa aksesChecking access

RujukanReferences

  1. 1.Konsil Kedokteran Indonesia. Standar Kompetensi Dokter Indonesia 2012, Lampiran Daftar Penyakit, sistem Telinga, subkelompok Telinga, Pendengaran, dan Keseimbangan, nomor 83 Mabuk perjalanan, tingkat kemampuan 4A. pd.fk.ub.ac.id
  2. 2.Kementerian Kesehatan RI. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama, lampiran Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/1186/2022, beserta perubahannya HK.01.07/MENKES/1936/2022. Dirujuk sebagai pembanding negatif: kedua instrumen ini tidak memuat entri untuk mabuk perjalanan. manuver.tireg7.net
  3. 3.Leung AKC, Hon KL. Motion sickness: an overview. Drugs in Context 2019; 8: 2019-9-4. Artikel akses terbuka, dipakai sebagai sumber isi klinis entri ini. doi.org
  4. 4.Spinks A, Wasiak J. Scopolamine (hyoscine) for preventing and treating motion sickness. Cochrane Database of Systematic Reviews 2011, Issue 6, CD002851. pubmed.ncbi.nlm.nih.gov
  5. 5.World Health Organization. ICD-11 for Mortality and Morbidity Statistics, versi 2025-01, kode NF08.3. Dipakai untuk kode ICD-11 pada entri ini, dengan lisensi CC BY-ND 3.0 IGO. icd.who.int
  6. 6.Takov V, Tadi P. Motion Sickness. StatPearls. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing. Bacaan lanjutan, bukan sumber isi entri ini. ncbi.nlm.nih.gov

SPARK Atlas adalah alat bantu rujukan untuk klinisi, bukan pengganti penilaian klinis. Verifikasi setiap keputusan terhadap kondisi pasien dan pedoman terkini.SPARK Atlas is a reference aid for clinicians, not a substitute for clinical judgement. Verify every decision against the patient in front of you and current guidance.