Lupus Eritematosus SistemikSystemic Lupus Erythematosus
SKDI 2012 memberi Lupus eritematosus sistemik tingkat 3A, dan PPK FKTP mencantumkan tingkat yang sama pada header entrinya [1][3]. Kedua dokumen sepakat, sehingga tidak ada pertentangan yang perlu diselesaikan: dokter layanan primer mengenali, memberi terapi awal, lalu merujuk. Kriteria rujukan entri PPK bahkan lebih tegas daripada tingkatnya. Setiap pasien yang didiagnosis sebagai LES maupun yang baru dicurigai LES harus dirujuk ke dokter spesialis penyakit dalam atau dokter spesialis anak untuk memastikan diagnosisnya [1]. Artinya kecurigaan saja sudah cukup untuk merujuk, dan pemastian diagnosis bukan pekerjaan FKTP. Satu hal lain pada dokumen yang sama perlu diketahui. Pada tabel Sistem Kulit, SKDI menilai Lupus eritematosis kulit pada tingkat 2, yaitu dikenali lalu dirujuk [3]. Dua baris itu adalah dua penyakit berbeda pada satu dokumen, bukan dua penilaian atas satu penyakit, tetapi akibat praktisnya perlu dinyatakan: bentuk yang hanya mengenai kulit dinilai lebih rendah daripada bentuk sistemik, sehingga tingkat 3A di halaman ini tidak memberi kewenangan lebih atas ruam lupus yang berdiri sendiri.SKDI 2012 grades systemic lupus erythematosus at 3A, and the PPK FKTP prints the same level on its entry header [1][3]. The two documents agree, so there is no conflict to resolve: the primary care doctor recognises it, gives initial treatment, and refers. The referral criteria of the PPK entry are firmer still than its level. Every patient diagnosed with SLE and every patient merely suspected of it must be referred to an internist or a paediatrician so the diagnosis can be confirmed [1]. Suspicion alone is therefore enough to refer, and confirming the diagnosis is not primary care's work. One further point in the same document needs to be known. In the skin table SKDI grades cutaneous lupus erythematosus at level 2, recognise and refer [3]. Those two rows are two different diseases in one document rather than two gradings of one disease, but the practical consequence should be stated: the form confined to the skin is graded lower than the systemic form, so the 3A on this page grants no extra authority over a lupus rash standing on its own.
Lupus eritematosus sistemik adalah penyakit autoimun yang dapat mengenai hampir seluruh sistem organ. Dalam tiga puluh tahun terakhir ia menjadi salah satu penyakit reumatik utama di dunia, dengan prevalensi antar negara yang sangat bervariasi, yaitu 2,9 sampai 400 per 100.000 penduduk 1.
Sasarannya khas. Penyakit ini terutama menyerang perempuan usia reproduktif, yaitu 15 sampai 40 tahun, dengan rasio perempuan dibanding laki-laki berkisar antara 5,5 sampai 9 berbanding 1 1. Penelitian di RS Cipto Mangunkusumo Jakarta antara tahun 1988 dan 1990 mencatat insidensi rata-rata 37,7 per 10.000 perawatan 1.
Yang menyulitkan pengenalannya adalah bentuknya. Manifestasi klinis LES sangat beragam dan seringkali tidak muncul bersamaan, sehingga pasien datang berkali-kali dengan keluhan yang tampak tidak berhubungan sebelum gambarannya tersusun 1. Perempuan muda dengan kelelahan, nyeri sendi yang berpindah, rambut rontok, ruam wajah, dan demam adalah gabungan yang layak membuat dokter berhenti dan berpikir.
Kompetensi dokter layanan primer di sini adalah mengenali dan merujuk. Setiap pasien yang didiagnosis maupun yang baru dicurigai LES dirujuk untuk memastikan diagnosisnya, dan bentuk berat atau yang mengancam nyawa dirujuk ke layanan tersier bila memungkinkan 1.
Prognosisnya bergantung pada organ yang terlibat. Sekitar 25 persen pasien dapat mengalami remisi selama beberapa tahun walaupun jarang menetap, sedangkan prognosis buruk dengan mortalitas 50 persen dalam 10 tahun terutama berkaitan dengan keterlibatan ginjal; penyebab utama kematian adalah gagal ginjal, infeksi, dan tromboemboli 1.
Systemic lupus erythematosus is an autoimmune disease that can involve almost every organ system. Over the last thirty years it has become one of the major rheumatic diseases worldwide, with a prevalence that varies widely between countries, from 2.9 to 400 per 100,000 population 1.
Its target is characteristic. The disease strikes mainly women of reproductive age, 15 to 40 years, with a female to male ratio of between 5.5 and 9 to 1 1. A study at Cipto Mangunkusumo Hospital in Jakarta between 1988 and 1990 recorded an average incidence of 37.7 per 10,000 admissions 1.
What makes it hard to recognise is its shape. The clinical manifestations of SLE are extremely varied and often do not appear at the same time, so the patient comes back repeatedly with complaints that look unrelated before the picture assembles 1. A young woman with fatigue, joint pain that moves, hair loss, a facial rash and fever is a combination worth stopping and thinking about.
The primary care doctor's competence here is to recognise and refer. Every patient diagnosed with SLE and every patient merely suspected of it is referred so the diagnosis can be confirmed, and severe or life threatening disease is referred to tertiary care where that is possible 1.
Prognosis depends on which organs are involved. About 25 percent of patients can enter remission lasting some years although it rarely persists, while a poor prognosis with 50 percent mortality within 10 years is linked above all to renal involvement; the main causes of death are renal failure, infection and thromboembolism 1.
MengenaliRecognising it
Mengenali LES lebih dulu adalah sebagian besar pekerjaan pada halaman ini, karena diagnosis pastinya ditegakkan di layanan rujukan.
Keluhan awal yang dicantumkan pedoman 1:
- Kelelahan.
- Nyeri sendi yang berpindah-pindah.
- Rambut rontok.
- Ruam pada wajah.
- Sakit kepala.
- Demam.
- Ruam kulit setelah terpapar sinar matahari.
- Gangguan kesadaran.
- Sesak.
- Edema anasarka.
Keluhan itu kemudian berkembang mengikuti organ yang terlibat 1. Faktor risiko yang dicantumkan pedoman hanya satu, yaitu gejala klinis yang mendukung pada pasien dengan riwayat keluarga penyakit autoimun, yang menaikkan kecurigaan adanya LES 1.
Recognising SLE in the first place is most of the work on this page, because the definitive diagnosis is made at the referral centre.
The presenting complaints listed by the guideline 1:
- Fatigue.
- Joint pain that moves from place to place.
- Hair loss.
- A rash on the face.
- Headache.
- Fever.
- A skin rash after sun exposure.
- Disturbed consciousness.
- Breathlessness.
- Generalised oedema.
Those complaints then develop along whichever organ is involved 1. The guideline lists a single risk factor, supporting clinical features in a patient with a family history of autoimmune disease, which raises the suspicion of SLE 1.
RujukanReferences
- 1.Kemenkes RI. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama, Lampiran I KMK HK.01.07/MENKES/1186/2022, Huruf B angka 3 Lupus Eritematosus Sistemik, halaman lampiran -106- sampai -111-. manuver.tireg7.net
- 2.Kemenkes RI. Tabel 2.4 kriteria diagnosis LES berdasarkan American College of Rheumatology, di dalam Lampiran I KMK HK.01.07/MENKES/1186/2022, halaman lampiran -108- sampai -109-. manuver.tireg7.net
- 3.Konsil Kedokteran Indonesia. Standar Kompetensi Dokter Indonesia 2012, Lampiran Daftar Penyakit, tabel Sistem Hematologi dan Imunologi nomor 26 Lupus eritematosus sistemik tingkat 3A, dan tabel Sistem Kulit nomor 53 Lupus eritematosis kulit tingkat 2. pd.fk.ub.ac.id
- 4.Bowers W, Blum MA. Systemic Lupus Erythematosus. StatPearls. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing. Bacaan lanjutan, bukan sumber isi entri ini. ncbi.nlm.nih.gov