LeptospirosisLeptospirosis
SKDI 2012 memberi Leptospirosis tingkat 4A dengan syarat yang tertulis di dalam nama penyakitnya sendiri, yaitu tanpa komplikasi [2]. Syarat itu penting dibaca sampai habis, karena PPK FKTP menariknya lebih jauh lagi: entri ini meminta setiap pasien diteruskan ke pelayanan sekunder sesudah diagnosis ditegakkan dan terapi awal diberikan [1]. Jadi kewenangan penuh di layanan primer berhenti pada mengenali penyakitnya, memulai antibiotik, dan melaporkan kasusnya, bukan pada menuntaskan perawatannya.SKDI 2012 grades Leptospirosis at level 4A with the qualifier written into the name of the disease itself, uncomplicated [2]. That qualifier has to be read to the end, because the PPK FKTP pulls it further still: this entry asks for every patient to be passed on to secondary care once the diagnosis is made and initial therapy is given [1]. Full primary care authority therefore stops at recognising the disease, starting the antibiotic, and reporting the case, not at finishing the treatment.
Leptospirosis adalah infeksi Leptospira interrogans pada manusia, dan yang menyulitkan adalah luasnya manifestasi klinisnya 1. Spektrumnya membentang dari infeksi yang tidak jelas sampai bentuk fulminan yang berakhir fatal; pada jenis yang ringan penyakit ini muncul menyerupai influenza dengan sakit kepala dan mialgia, sehingga mudah lewat begitu saja 1. Tikus adalah reservoir utamanya, dan kejadiannya lebih banyak ditemukan pada musim hujan 1.
WHO membagi tampilannya menjadi empat kelompok besar, yaitu penyakit ringan menyerupai influenza, sindrom Weil dengan ikterus dan gagal ginjal serta perdarahan dan miokarditis dengan aritmia, meningitis atau meningoensefalitis, dan perdarahan paru dengan gagal napas 4. Angka kematian yang dilaporkan dari berbagai belahan dunia berkisar antara kurang dari 5 persen sampai 30 persen, dan perbaikan prognosis pada dekade terakhir sebagian besar datang dari hemodialisis 4.
SKDI memberi tingkat 4A untuk leptospirosis tanpa komplikasi 2, sedangkan PPK FKTP meminta setiap pasien yang sudah ditegakkan diagnosisnya diteruskan ke pelayanan sekunder sesudah terapi awal 1. Bentuk berkomplikasi karena itu selalu dirujuk.
- Riwayat bekerja pada atau terpapar lingkungan yang terkontaminasi kencing tikus.
- Pekerjaan atau kegiatan rekreasi yang mendekatkan orang pada hewan terinfeksi atau pada lingkungan yang tercemar kemih hewan.
- Musim hujan dan periode sesudah banjir, karena kejadiannya menumpuk di sana.
Leptospirosis is an infection of humans by Leptospira interrogans, and what makes it hard is the breadth of its clinical picture 1. The spectrum runs from an infection that never declares itself to a fulminant and fatal form; in the mild version the illness looks like influenza with headache and myalgia, so it passes unnoticed easily 1. Rats are the main reservoir, and cases cluster in the rainy season 1.
WHO groups the presentations into four broad categories: a mild influenza-like illness, Weil syndrome with jaundice and renal failure together with haemorrhage and myocarditis with arrhythmia, meningitis or meningoencephalitis, and pulmonary haemorrhage with respiratory failure 4. Reported case fatality across the world ranges from under 5 percent to 30 percent, and most of the improvement in prognosis over recent decades has come from haemodialysis 4.
SKDI grades this at 4A for uncomplicated leptospirosis 2, while the PPK FKTP asks for every patient whose diagnosis has been made to be passed on to secondary care after initial therapy 1. Complicated disease is therefore always referred.
- A history of working in, or being exposed to, an environment contaminated with rat urine.
- Occupational or recreational activity that brings a person close to infected animals or to an environment contaminated with animal urine.
- The rainy season and the period after flooding, where cases cluster.
MengenaliRecognising it
Anamnesis. Demam disertai menggigil, sakit kepala, dan anoreksia, dengan mialgia hebat pada betis, paha, dan pinggang yang disertai nyeri tekan 1. Menyusul mual, muntah, diare, nyeri abdomen, fotofobia, dan penurunan kesadaran 1. Masa inkubasinya biasanya 5 sampai 14 hari, dengan rentang 2 sampai 30 hari, sehingga paparan yang relevan bisa berada cukup jauh di belakang 4.
Pemeriksaan fisik, sebelas butir 1:
- Febris.
- Ikterus.
- Nyeri tekan pada otot.
- Ruam kulit.
- Limfadenopati.
- Hepatomegali dan splenomegali.
- Edema.
- Bradikardi relatif.
- Konjungtiva suffusion.
- Gangguan perdarahan berupa petekie, purpura, epistaksis, dan perdarahan gusi.
- Kaku kuduk sebagai tanda meningitis.
History. Fever with chills, headache, and anorexia, with severe myalgia in the calves, thighs, and lower back accompanied by tenderness 1. Nausea, vomiting, diarrhoea, abdominal pain, photophobia, and reduced consciousness follow 1. The incubation period is usually 5 to 14 days, with a range of 2 to 30 days, so the relevant exposure can lie a fair way back 4.
Examination, eleven items 1:
- Fever.
- Jaundice.
- Muscle tenderness.
- Skin rash.
- Lymphadenopathy.
- Hepatomegaly and splenomegaly.
- Oedema.
- Relative bradycardia.
- Conjunctival suffusion.
- Bleeding as petechiae, purpura, epistaxis, and gum bleeding.
- Neck stiffness as a sign of meningitis.
RujukanReferences
- 1.Kemenkes RI. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama, Lampiran I KMK HK.01.07/MENKES/1186/2022, Huruf A Kelompok Umum butir 6. manuver.tireg7.net
- 2.Konsil Kedokteran Indonesia. Standar Kompetensi Dokter Indonesia 2012, Lampiran Daftar Penyakit, nomor 24. pd.fk.ub.ac.id
- 3.Kemenkes RI. Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana Malaria, Lampiran KMK HK.01.07/MENKES/556/2019, BAB III bagian diagnosis banding. keslan.kemkes.go.id
- 4.World Health Organization. Human leptospirosis: guidance for diagnosis, surveillance and control. Geneva: WHO; 2003. iris.who.int
- 5.Wang S, Dunn N. Leptospirosis. StatPearls. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing. Bacaan lanjutan, bukan sumber isi entri ini. ncbi.nlm.nih.gov