LepraLeprosy

SKDI 2012 memisahkan dua butir yang berdekatan di dalam tabel Kulit subkelompok Infeksi Bakteri: butir 15 Lepra pada tingkat 4A dan butir 16 Reaksi lepra pada tingkat 3A. Pemisahan itu penting dibaca sebelum entri ini dipakai, sebab reaksi kusta bukan penyakit lain melainkan episode akut di tengah perjalanan penyakit yang sama, dan sebagian pasien yang sedang menjalani MDT akan mengalaminya. Header entri PPK FKTP mencantumkan 4A untuk lepra tanpa memisahkan reaksinya, sehingga pembatasan itu hanya terbaca pada SKDI. Bacalah bagian rujukan entri ini bersama tingkat 3A tersebut: reaksi berat, reaksi pada kehamilan, dan reaksi pada anak semuanya punya jalur rujukan atau konsultasi.SKDI 2012 separates two neighbouring items inside the Kulit table under Infeksi Bakteri: item 15 Lepra at level 4A and item 16 Reaksi lepra at level 3A. That separation matters before this entry is used, because a leprosy reaction is not a different disease but an acute episode in the course of the same one, and a proportion of patients on MDT will have one. The PPK FKTP entry header carries 4A for leprosy without separating out its reactions, so the limit is visible only in SKDI. Read the referral section of this entry together with that 3A: severe reactions, reactions in pregnancy, and reactions in children all have a referral or consultation pathway.

Lepra adalah penyakit menular menahun yang disebabkan Mycobacterium leprae, kuman intraselular obligat 12. Penularan terjadi bila kuman utuh yang masih hidup keluar dari tubuh penderita dan sampai pada orang lain melalui kontak yang erat dan lama, dan masa inkubasinya rata-rata 2 sampai 5 tahun, kadang bertahun-tahun lebih 2. Kompetensi dokter layanan primer 4A untuk lepra, sedangkan reaksi lepra dinilai terpisah pada 3A 3.

Penyakit ini menyerang kulit dan saraf tepi sekaligus, dan itulah yang membuatnya berbeda dari penyakit kulit lain: bercak yang mati rasa dan saraf yang menebal adalah dua tanda yang harus dicari bersama-sama 1. Kerusakan saraf yang tidak dikenali lebih awal berlanjut menjadi disabilitas yang menetap walaupun kumannya sudah mati 1.

Faktor risiko 12:

  • Sosial ekonomi rendah.
  • Kontak lama dengan pasien, misalnya anggota keluarga yang sudah didiagnosis lepra.
  • Imunokompromais.
  • Tinggal di daerah endemik lepra.

Leprosy is a chronic communicable disease caused by Mycobacterium leprae, an obligate intracellular organism 12. Transmission happens when intact live organisms leave the body of an affected person and reach another through close and prolonged contact, and the incubation period averages 2 to 5 years, sometimes considerably longer 2. Primary care competency is 4A for leprosy, while a leprosy reaction is graded separately at 3A 3.

The disease attacks skin and peripheral nerve together, and that is what sets it apart from other skin conditions: a patch that has lost sensation and a thickened nerve are two signs to be looked for together 1. Nerve damage not recognised early goes on to become permanent disability even after the organism is dead 1.

Risk factors 12:

  • Low socioeconomic standing.
  • Prolonged contact with a patient, for example a family member already diagnosed with leprosy.
  • Immunocompromise.
  • Living in an area where leprosy is endemic.

MengenaliRecognising it

Sebagian besar pasien lepra didiagnosis dari pemeriksaan klinis 12.

Keluhan yang membawa pasien datang 2:

  • Bercak kulit merah atau putih, datar atau menimbul, dapat tidak gatal, mengkilat atau kering bersisik.
  • Kulit yang tidak berkeringat, atau alis mata yang tidak berambut.
  • Bengkak atau penebalan pada wajah dan cuping telinga.
  • Lepuh atau luka tanpa rasa nyeri pada tangan dan kaki.
  • Nyeri pada saraf, rasa kesemutan, tertusuk-tusuk, dan nyeri pada anggota gerak.
  • Kelemahan anggota gerak atau kelopak mata.
  • Disabilitas atau deformitas.
  • Ulkus yang sulit sembuh.

Most patients with leprosy are diagnosed on clinical examination 12.

Complaints that bring the patient in 2:

  • A red or white skin patch, flat or raised, which may not itch, and may be shiny or dry and scaly.
  • Skin that does not sweat, or an eyebrow that has lost its hair.
  • Swelling or thickening of the face and earlobes.
  • Painless blisters or wounds on the hands and feet.
  • Nerve pain, tingling, a pricking sensation, and pain in the limbs.
  • Weakness of a limb or of the eyelid.
  • Disability or deformity.
  • An ulcer that will not heal.
Memeriksa aksesChecking access

RujukanReferences

  1. 1.Kementerian Kesehatan RI. Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana Kusta, lampiran Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/308/2019. Klasifikasi WHO 1995 (Tabel 1), Ridley-Jopling (Tabel 2 dan 3), tanda kardinal dan pemeriksaan sensibilitas, Tabel 7 kelainan akibat gangguan fungsi saraf, Tabel 8 dan 9 tingkat disabilitas, rejimen MDT beserta Tabel 10 dan 11. kemkes.go.id
  2. 2.Kementerian Kesehatan RI. Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/1936/2022 tentang Perubahan atas Kepmenkes HK.01.07/MENKES/1186/2022 tentang Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama. Lampiran I, Bab II, Huruf A Kelompok Umum, angka 10 LEPRA, halaman lampiran 59 sampai 69. Versi entri lepra yang berlaku. diskes.badungkab.go.id
  3. 3.Konsil Kedokteran Indonesia. Standar Kompetensi Dokter Indonesia 2012, Lampiran Daftar Penyakit, Sistem Integumen, tabel Kulit, butir 15 Lepra (4A) dan butir 16 Reaksi lepra (3A). pd.fk.ub.ac.id
  4. 4.Kementerian Kesehatan RI. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama, lampiran KMK HK.01.07/MENKES/1186/2022, Huruf A angka 10 Lepra. Versi sebelum perubahan, dipakai hanya untuk menyatakan dua butir yang berbeda dari versi berlaku: daftar komplikasi dan penanganan anemia akibat dapson. manuver.tireg7.net
  5. 5.World Health Organization. ICD-11 for Mortality and Morbidity Statistics, kode 1B20. Atribusi kode ICD-11 entri ini, dipakai dengan lisensi CC BY-ND 3.0 IGO. id.who.int
  6. 6.Bhandari J, Awais M, Gupta V. Leprosy. StatPearls. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2023. Bacaan lanjutan / further reading. ncbi.nlm.nih.gov

SPARK Atlas adalah alat bantu rujukan untuk klinisi, bukan pengganti penilaian klinis. Verifikasi setiap keputusan terhadap kondisi pasien dan pedoman terkini.SPARK Atlas is a reference aid for clinicians, not a substitute for clinical judgement. Verify every decision against the patient in front of you and current guidance.