Korioamnionitis (Infeksi Intra-Uterin)Chorioamnionitis (Intrauterine Infection)

SKDI 2012 menempatkan Infeksi intra-uterin: korioamnionitis pada tabel Sistem Reproduksi, subkelompok Gangguan pada Kehamilan, butir 15, dengan tingkat kemampuan 3A [4]. Arti 3A pada penyakit ini [4]: - Dokter layanan primer menegakkan diagnosis, memberi terapi awal, lalu merujuk. - Terapi awal di sini punya isi yang tegas dan satu baris: antibiotik kombinasi dimulai sebelum pasien berangkat [1]. Butir di sekitarnya pada tabel yang sama memberi ukuran batasnya [4]: - Butir 15, infeksi intra-uterin korioamnionitis, tingkat 3A. - Butir 16, infeksi pada kehamilan berupa TORCH, hepatitis B dan malaria, tingkat 3B. - Butir 17, aborsi mengancam, tingkat 3B. - Butir 13 pada kelompok infeksi di tabel yang sama, penyakit radang panggul, tingkat 3A. Yang perlu dibaca dari susunan itu: infeksi yang berjalan paling cepat pada daftar tersebut justru mendapat angka yang lebih rendah daripada infeksi kronik di sebelahnya. Angka itu tidak menurunkan kegawatannya. Yang diaturnya adalah kedalaman tindakan, yaitu terapi awal dan bukan terapi kegawatdaruratan yang lengkap, sebab penyelesaian penyakit ini bukan obat melainkan lahirnya bayi dan plasenta [1]. Batas praktisnya ada pada daftar keterampilan [4]: - Terminasi kehamilan adalah tata laksana definitifnya, dan jalannya hanya dua: induksi kimiawi persalinan, butir 69, tingkat 3, atau seksio sesarea, butir 72, tingkat 2. Keduanya tidak mandiri bagi dokter layanan primer, sehingga tidak ada jalur penyakit ini yang selesai di layanan primer. - Pematangan serviks dengan prostaglandin tidak muncul sebagai butir keterampilan tersendiri. - Kardiotokografi, butir 47, tingkat 3, padahal takikardia janin adalah salah satu kriteria diagnosisnya. - Mengukur denyut jantung janin, butir 43, tingkat 4A. Inilah cara kriteria itu tetap dapat dinilai di layanan primer, dengan doppler atau fetoskop. - Resusitasi bayi baru lahir, butir 60, tingkat 4A. Tidak ada entri PPK FKTP tersendiri untuk korioamnionitis, baik pada KMK 1186/2022 maupun pada perubahannya [2]. Halaman ini karena itu bersandar pada Buku Saku Pelayanan Kesehatan Ibu, yang memuat bab tersendiri untuk penyakit ini, dan pada PNPK Tata Laksana Ketuban Pecah Dini yang memerintahkan pemantauan tandanya [1][3].SKDI 2012 places Infeksi intra-uterin: korioamnionitis in the Sistem Reproduksi table, Gangguan pada Kehamilan subgroup, item 15, at competency level 3A [4]. What 3A means for this disease [4]: - The primary care doctor makes the diagnosis, gives initial treatment, then refers. - Initial treatment here has firm content and fits in one line: the combination antibiotic is started before the patient leaves [1]. The neighbouring items in the same table give the boundary its scale [4]: - Item 15, intrauterine infection, chorioamnionitis, level 3A. - Item 16, infection in pregnancy meaning TORCH, hepatitis B and malaria, level 3B. - Item 17, threatened abortion, level 3B. - Item 13 in the infection group of the same table, pelvic inflammatory disease, level 3A. What should be read from that arrangement: the fastest moving infection on the list carries a lower number than the chronic infections beside it. The number does not make it less dangerous. What it governs is the depth of the intervention, initial treatment rather than a complete emergency treatment, because what ends this disease is not a drug but the delivery of the baby and the placenta [1]. The practical limits sit in the skills list [4]: - Ending the pregnancy is the definitive treatment and there are only two roads to it: chemical induction of labour, item 69, level 3, or caesarean section, item 72, level 2. Neither is independent for the primary care doctor, so no pathway in this disease finishes in primary care. - Cervical ripening with prostaglandin does not appear as a skill item of its own. - Cardiotocography, item 47, level 3, although fetal tachycardia is one of the diagnostic criteria. - Measuring the fetal heart rate, item 43, level 4A. That is how the criterion can still be assessed in primary care, with a doppler or a fetoscope. - Newborn resuscitation, item 60, level 4A. There is no PPK FKTP entry of its own for chorioamnionitis, neither in KMK 1186/2022 nor in its amendment [2]. This page therefore rests on the Buku Saku Pelayanan Kesehatan Ibu, which carries a chapter for this disease, and on the national PROM guideline that orders its signs to be watched for [1][3].

Korioamnionitis adalah infeksi pada korion dan amnion, yaitu kedua lapis selaput yang membungkus janin 1. Nama lain yang dipakai SKDI untuk penyakit yang sama adalah infeksi intra-uterin 4.

Penyakit ini punya dua pasien sekaligus. Ibu menghadapi sepsis, metritis dan perdarahan pascasalin; bayi menghadapi sepsis neonatus, dan pedoman nasional mencatat janin serta neonatus berada pada risiko yang lebih besar daripada ibunya 13.

Yang membuatnya sulit: diagnosisnya klinis dan tidak ada satu pun pemeriksaan tunggal yang menegakkannya di layanan primer. Pedoman nasional menyatakan infeksi intrauterin sering berjalan kronik dan tanpa gejala sampai persalinan atau sampai ketuban pecah, dan sebagian perempuan yang kemudian terbukti mengalaminya tidak menunjukkan apa pun selain kelahiran preterm, tanpa demam, tanpa nyeri perut, tanpa leukositosis dan tanpa takikardia janin 3. Dokumen yang sama menyebut menemukan perempuan dengan infeksi intrauterin sebagai tantangan besar.

Karena itu penyakit ini lebih sering ditemukan lewat keadaan yang mendahuluinya daripada lewat keluhannya sendiri. Keadaan itu adalah ketuban pecah dini, persalinan lama, dan persalinan preterm, dan ketiganya punya halaman tersendiri di Atlas.

Tingkat kemampuan 3A menentukan bentuk halaman ini. Tugas dokter layanan primer adalah mengenalinya, memulai antibiotik kombinasi, lalu memindahkan pasien. Yang menyelesaikan penyakit ini adalah lahirnya bayi dan plasenta, dan keputusan itu diambil di fasilitas rujukan 14.

Faktor predisposisi 1:

  • Persalinan prematur.
  • Persalinan lama.
  • Ketuban pecah lama.
  • Pemeriksaan dalam yang dilakukan berulang-ulang.
  • Adanya bakteri patogen pada traktus genitalia, termasuk infeksi menular seksual dan vaginosis bakterialis.
  • Alkohol.
  • Rokok.

Satu butir pada daftar itu berasal dari tindakan tenaga kesehatan sendiri, yaitu pemeriksaan dalam yang berulang, dan pada pasien dengan ketuban pecah dini pedoman nasional menyatakan pemeriksaan itu menaikkan risiko infeksi neonatus 3.

Chorioamnionitis is infection of the chorion and the amnion, the two layers of membrane around the fetus 1. The name SKDI uses for the same disease is intrauterine infection 4.

This illness has two patients at once. The mother faces sepsis, metritis and postpartum haemorrhage; the baby faces neonatal sepsis, and the national guideline records that the fetus and newborn carry greater risk than the mother 13.

What makes it difficult: the diagnosis is clinical and no single test establishes it in primary care. The national guideline states that intrauterine infection often runs chronically and silently until labour or until the membranes break, and that some women later shown to have had it showed nothing beyond a preterm birth, with no fever, no abdominal pain, no leucocytosis and no fetal tachycardia 3. The same document calls identifying women with intrauterine infection a major challenge.

So this disease is found more often through the situations that precede it than through complaints of its own. Those situations are prelabor rupture of membranes, prolonged labour and preterm labour, and each has its own page in the Atlas.

Competency level 3A shapes this page. The primary care doctor's job is to recognise it, start the combination antibiotic, then move the patient. What ends this disease is the delivery of the baby and the placenta, and that decision is taken at the referral centre 14.

Predisposing factors 1:

  • Premature labour.
  • Prolonged labour.
  • Long standing rupture of membranes.
  • Repeated digital vaginal examinations.
  • Pathogenic bacteria in the genital tract, including sexually transmitted infection and bacterial vaginosis.
  • Alcohol.
  • Smoking.

One item on that list comes from what health workers do themselves, the repeated digital examination, and in a woman with ruptured membranes the national guideline states that it raises the risk of neonatal infection 3.

MengenaliRecognising it

Korioamnionitis adalah diagnosis klinis. Bentuknya satu ambang wajib ditambah dua dari lima 1.

Ambang wajib: suhu tubuh di atas 38 derajat Celsius 1.

Ditambah dua atau lebih dari lima tanda berikut 1:

  • Leukositosis di atas 15.000 sel per mm3.
  • Denyut jantung janin di atas 160 kali per menit.
  • Frekuensi nadi ibu di atas 100 kali per menit.
  • Nyeri tekan fundus saat uterus tidak berkontraksi.
  • Cairan amnion berbau.

Chorioamnionitis is a clinical diagnosis. Its shape is one obligatory threshold plus two out of five 1.

The obligatory threshold: a temperature above 38 degrees Celsius 1.

Plus two or more of these five signs 1:

  • Leucocytosis above 15,000 cells per cubic millimetre.
  • A fetal heart rate above 160 beats per minute.
  • A maternal pulse above 100 beats per minute.
  • Fundal tenderness while the uterus is not contracting.
  • Foul smelling amniotic fluid.
Memeriksa aksesChecking access

RujukanReferences

  1. 1.Kementerian Kesehatan RI, World Health Organization, Perhimpunan Obstetri dan Ginekologi Indonesia, Ikatan Bidan Indonesia. Buku Saku Pelayanan Kesehatan Ibu di Fasilitas Kesehatan Dasar dan Rujukan. Edisi I. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI; 2013. Bab 4.11 Korioamnionitis halaman 124 sampai 125, mencakup definisi, kriteria diagnosis, faktor predisposisi, tata laksana umum dan tata laksana khusus; bab 4.9 Persalinan Preterm halaman 118 sampai 121; bab 4.10 Ketuban Pecah Dini halaman 122 sampai 123; bab 4.17 Persalinan Lama halaman 137 sampai 139; bab 3.2 Syok halaman 68; bab 3.4 Gawat Janin halaman 75 sampai 76. platform.who.int
  2. 2.Kementerian Kesehatan RI. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama, lampiran Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/1186/2022. Tidak ada entri tersendiri untuk korioamnionitis maupun infeksi intra-uterin, dan perubahannya pada KMK HK.01.07/MENKES/1936/2022 juga tidak menambahkannya. Dipakai di sini untuk Huruf N Kesehatan Wanita angka 7 Ketuban Pecah Dini, yaitu korioamnionitis sebagai komplikasi dan sebagai pemicu tata laksana di rumah sakit rujukan; angka 8 Persalinan Lama, yaitu kombinasi ampisilin dan gentamisin beserta ketiga pemicunya; dan angka 9 Perdarahan Post Partum, yaitu khorioamnionitis pada daftar faktor risiko prenatal dan amnionitis pada daftar faktor risiko perdarahan sesudah seksio sesarea. manuver.tireg7.net
  3. 3.Kementerian Kesehatan RI. Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana Ketuban Pecah Dini, Lampiran I Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/91/2017. Bab IV Rekomendasi butir 3 mengenai pemantauan tanda klinis korioamnionitis, butir 4 mengenai uji darah ibu dan CRP mingguan yang tidak perlu, butir 5 mengenai kardiotokografi dan takikardia janin sebagai bagian definisinya, butir 6 mengenai amniosentesis; Bab V Komplikasi dan bagian Penatalaksanaan komplikasi mengenai sifat kronik serta tanpa gejala dari infeksi intrauterin. kemkes.go.id
  4. 4.Konsil Kedokteran Indonesia. Standar Kompetensi Dokter Indonesia 2012. Daftar Penyakit, tabel Sistem Reproduksi, subkelompok Gangguan pada Kehamilan, butir 15 Infeksi intra-uterin: korioamnionitis, Tingkat Kemampuan 3A, dengan butir 16 Infeksi pada kehamilan TORCH, hepatitis B, malaria (3B) dan butir 17 Aborsi mengancam (3B) di sekitarnya. Daftar Keterampilan Klinis, kelompok Sistem Reproduksi: butir 43 Mengukur denyut jantung janin (4A), butir 47 CTG (tingkat 3), butir 50 Amniosentesis (tingkat 2), butir 51 Pemeriksaan obstetri (4A), butir 60 Resusitasi bayi baru lahir (4A), butir 69 Induksi kimiawi persalinan (tingkat 3), butir 72 Operasi Caesar (tingkat 2). pd.fk.ub.ac.id
  5. 5.Fowler JR, Simon LV. Chorioamnionitis. StatPearls. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing. Bacaan lanjutan, bukan sumber isi halaman ini. ncbi.nlm.nih.gov

SPARK Atlas adalah alat bantu rujukan untuk klinisi, bukan pengganti penilaian klinis. Verifikasi setiap keputusan terhadap kondisi pasien dan pedoman terkini.SPARK Atlas is a reference aid for clinicians, not a substitute for clinical judgement. Verify every decision against the patient in front of you and current guidance.