Kor Pulmonale KronikChronic Cor Pulmonale
SKDI 2012 memuat dua butir berurutan pada tabel Sistem Kardiovaskular, kelompok Gangguan dan Kelainan pada Jantung: butir 18 Kor pulmonale akut dengan Tingkat Kemampuan 3B, dan butir 19 Kor pulmonale kronik dengan Tingkat Kemampuan 3A [1]. Halaman ini membawa butir 19. Butir 18 sudah memiliki entri tersendiri di SPARK. Jarak satu baris itu bukan urusan administratif, dan bedanya perlu dinyatakan terang-terangan karena kedua nama itu hampir sama. - Bentuk akut adalah beban yang datang dalam hitungan menit sampai jam, dari emboli paru masif, tension pneumotoraks, atau tamponade jantung [2]. Ventrikel kanan tidak sempat menebal, sehingga ia gagal pada tekanan yang sebenarnya masih rendah, dan pasien jatuh ke syok obstruktif. Karena itu tingkatnya 3B, yaitu gawat darurat: dokter memberi terapi pendahuluan untuk menyelamatkan nyawa, lalu merujuk [1]. - Bentuk kronik adalah beban yang naik selama bertahun-tahun dari penyakit paru menahun dan hipoksia yang menetap. Ventrikel kanan menebal lebih dahulu dan baru gagal jauh kemudian. Karena itu tingkatnya 3A, yaitu bukan gawat darurat: dokter membuat diagnosis klinis, memberi terapi pendahuluan, menentukan rujukan yang paling tepat, lalu menindaklanjuti sesudah pasien kembali [1]. Batas praktisnya sederhana: yang menentukan bukan seberapa berat sesaknya melainkan seberapa cepat semuanya terjadi, dan apakah pasien sudah punya penyakit paru menahun sebelumnya. Pasien kor pulmonale kronik yang mendadak memburuk dibaca lebih dahulu sebagai bentuk akut yang menumpang di atas yang kronik, dan halaman butir 18 yang berlaku sampai kemungkinan itu disingkirkan. Tidak ada tingkat kedua untuk dibandingkan. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di FKTP tidak memuat entri kor pulmonale dalam bentuk apapun. Namanya muncul dua kali pada edisi 1186/2022, keduanya di dalam entri lain [2][3], dan tidak muncul sama sekali pada perubahan 1936/2022 [4][5]. Karena dokumen yang lebih baru tidak memuat penyakit ini, tidak ada pertentangan, dan tingkat SKDI berdiri sendiri. Satu tingkat lagi yang perlu dibaca bersamanya. Hipertensi pulmoner, yaitu mekanisme yang menghasilkan kor pulmonale kronik, diberi SKDI Tingkat Kemampuan 1 pada tabel yang sama [1], yaitu tingkat mengenali dan menjelaskan. Jadi penyakit yang mendasarinya justru lebih jauh dari kewenangan mandiri daripada akibat jantungnya. Itulah sebabnya isi halaman ini berhenti pada pengenalan, penopangan, dan rujukan.SKDI 2012 carries two consecutive items in the Cardiovascular System table under Disorders of the Heart: item 18 Acute cor pulmonale at 3B, and item 19 Chronic cor pulmonale at 3A [1]. This page carries item 19. Item 18 already has its own SPARK entry. That one line gap is not administrative, and the difference has to be stated plainly because the two names are nearly identical. - The acute form is a load arriving over minutes to hours, from massive pulmonary embolism, tension pneumothorax or cardiac tamponade [2]. The right ventricle has had no time to thicken, so it fails at pressures that are still low, and the patient drops into obstructive shock. Hence 3B, the emergency band: the doctor gives life-saving initial treatment, then refers [1]. - The chronic form is a load that climbs over years from chronic lung disease and sustained hypoxia. The right ventricle hypertrophies first and fails much later. Hence 3A, the non-emergency band: the doctor makes a clinical diagnosis, gives initial treatment, decides the most appropriate referral, then follows the patient up after they return [1]. The practical boundary is simple: what decides is not how severe the breathlessness is but how fast the whole thing happened, and whether the patient already had chronic lung disease. A chronic cor pulmonale patient who deteriorates suddenly is read first as an acute form riding on top of the chronic one, and item 18's page applies until that possibility is excluded. There is no second grade to weigh against it. The primary care clinical practice guideline carries no cor pulmonale entry of any kind. The name appears twice in the 1186/2022 edition, both times inside other entries [2][3], and does not appear at all in the 1936/2022 amendment [4][5]. Because the newer document does not carry this disease, nothing is in conflict and the SKDI grade stands alone. One more grade belongs beside it. Pulmonary hypertension, the mechanism that produces chronic cor pulmonale, is graded level 1 in the same SKDI table [1], the level of recognising and explaining. The underlying disease therefore sits further from independent competency than its cardiac consequence does. That is why this page stops at recognition, support and referral.
Kor pulmonale kronik adalah pembesaran lalu kegagalan ventrikel kanan akibat penyakit paru. Jantungnya sendiri tidak sakit; yang sakit adalah paru, dan jantung kanan menanggung akibatnya. Karena itu penyakit ini tidak pernah berdiri sendiri, dan mencarinya berarti mencari penyakit paru menahun yang sudah berjalan bertahun-tahun sebelumnya.
Jalannya searah dan lambat. Paru yang rusak menyebabkan hipoksia; hipoksia menyempitkan arteri paru di seluruh lapangan yang terkena; tahanan pembuluh paru naik; ventrikel kanan menebal untuk melawannya; dan pada suatu titik penebalan itu tidak lagi cukup. Sejak titik itu tekanan vena sistemik naik, dan pasien memperlihatkan tanda yang khas: vena leher yang terisi, hati yang membesar, perut yang membuncit, dan tungkai yang membengkak.
Panduan layanan primer memberi tanda paling awalnya dalam satu kalimat di dalam entri penyakit paru obstruktif kronik: bila telah terjadi gagal jantung kanan, terlihat denyut vena jugularis di leher dan edema tungkai 34. Dua tanda itu yang paling sering ditemukan lebih dahulu, dan keduanya dilihat tanpa alat.
Tingkatnya 3A, yaitu bukan gawat darurat, sementara bentuk akutnya bertingkat 3B 1. Halaman ini karena itu berisi pengenalan, terapi pendahuluan, rujukan, dan pemantauan sesudah pasien kembali.
Penyebab yang perlu dicari lebih dahulu di Indonesia:
- Penyakit paru obstruktif kronik dan emfisema paru, yang prevalensinya di Indonesia tertinggi di Nusa Tenggara Timur diikuti Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, dan Sulawesi Selatan, dan lebih tinggi di perdesaan 34. SPARK memuat emfisema paru sebagai entri tersendiri.
- Kerusakan paru pasca tuberkulosis. Edisi 2014 panduan layanan primer mencantumkan kor pulmonal pada daftar komplikasi tuberkulosis, berdampingan dengan bronkiektasis, fibrosis, atelektasis, dan gagal napas 6.
- Bronkiektasis luas, apapun penyebabnya. SPARK memuatnya sebagai entri tersendiri.
- Penyakit paru intersisial dan pneumokoniosis.
- Kelainan dinding dada dan tulang belakang yang membatasi pengembangan paru.
- Gangguan napas saat tidur dan hipoventilasi pada obesitas.
- Pajanan menahun terhadap asap dapur berbahan bakar kayu atau minyak tanah pada rumah berventilasi buruk, yang menjadi jalan masuk ke penyakit paru menahun pada banyak pasien Indonesia 34.
Chronic cor pulmonale is enlargement and then failure of the right ventricle caused by lung disease. The heart itself is not diseased; the lung is, and the right heart carries the consequence. This condition therefore never stands alone, and looking for it means looking for chronic lung disease that has been running for years already.
The course is one directional and slow. Damaged lung causes hypoxia; hypoxia constricts the pulmonary arteries across every affected field; pulmonary vascular resistance rises; the right ventricle thickens to overcome it; and at some point that thickening is no longer enough. From then on systemic venous pressure rises and the patient shows the characteristic signs: filled neck veins, an enlarged liver, a distended abdomen, and swollen legs.
The primary care guideline gives the earliest sign in a single sentence inside its chronic obstructive pulmonary disease entry: once right heart failure has developed, a jugular venous pulse in the neck and ankle oedema become visible 34. Those two are usually the first to appear, and both are seen without equipment.
The grade is 3A, the non-emergency band, while the acute form is 3B 1. This page therefore covers recognition, initial treatment, referral, and monitoring once the patient returns.
Causes to look for first in Indonesia:
- Chronic obstructive pulmonary disease and pulmonary emphysema, whose Indonesian prevalence is highest in East Nusa Tenggara followed by Central Sulawesi, West Sulawesi and South Sulawesi, and higher in rural areas 34. SPARK carries pulmonary emphysema as its own entry.
- Post-tuberculous lung damage. The 2014 edition of the primary care guideline listed cor pulmonale among the complications of tuberculosis, beside bronchiectasis, fibrosis, atelectasis and respiratory failure 6.
- Extensive bronchiectasis, whatever its cause. SPARK carries it as its own entry.
- Interstitial lung disease and pneumoconiosis.
- Chest wall and spinal deformity that limits lung expansion.
- Sleep disordered breathing and obesity hypoventilation.
- Long term exposure to wood or kerosene cooking smoke in poorly ventilated houses, which is how many Indonesian patients arrive at chronic lung disease in the first place 34.
MengenaliRecognising it
Kor pulmonale kronik tidak dicari sendiri; ia ditemukan ketika seorang pasien penyakit paru menahun mulai memperlihatkan tanda bendungan vena sistemik. Karena itu langkah pertamanya adalah mengenali siapa yang berisiko, bukan mengenali penyakitnya.
Siapa yang perlu diperiksa untuk ini:
- Pasien penyakit paru obstruktif kronik dan emfisema paru yang sesaknya bertambah 34.
- Pasien dengan riwayat tuberkulosis paru yang meninggalkan kerusakan struktur luas 6.
- Pasien bronkiektasis dengan penyakit yang luas.
- Pasien penyakit paru menahun lain, termasuk penyakit paru intersisial, pneumokoniosis, kelainan bentuk dada dan tulang belakang, dan hipoventilasi pada obesitas.
Chronic cor pulmonale is not looked for on its own; it is found when a patient with chronic lung disease begins to show signs of systemic venous congestion. The first step is therefore recognising who is at risk rather than recognising the disease.
Who should be examined for it:
- Patients with chronic obstructive pulmonary disease and pulmonary emphysema whose breathlessness is worsening 34.
- Patients with previous pulmonary tuberculosis that has left extensive structural damage 6.
- Patients with extensive bronchiectasis.
- Patients with other chronic lung disease, including interstitial lung disease, pneumoconiosis, chest wall and spinal deformity, and obesity hypoventilation.
RujukanReferences
- 1.Konsil Kedokteran Indonesia. Standar Kompetensi Dokter Indonesia 2012. Daftar Penyakit, tabel Sistem Kardiovaskular, butir 18 Kor pulmonale akut dengan Tingkat Kemampuan 3B dan butir 19 Kor pulmonale kronik dengan Tingkat Kemampuan 3A, halaman 41; butir 7 Gagal jantung kronik 3A dan butir 22 Hipertensi pulmoner tingkat 1 pada tabel yang sama; definisi tingkat 3A dan 3B pada halaman 30 sampai 31; Daftar Keterampilan Klinis, tabel Sistem Respirasi, butir 17 spirometri dasar 4A, butir 19 interpretasi foto toraks 4A, butir 30 terapi oksigen 4A dan butir 31 edukasi berhenti merokok 4A, halaman 68 sampai 69. pd.fk.ub.ac.id
- 2.Kementerian Kesehatan RI. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama. Lampiran I Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/1186/2022, Huruf A Kelompok Umum angka 13 Syok, halaman lampiran -74- sampai -80-, bagian syok obstruktif yang menamai tanda akut kor pulmonal dan payah jantung kanan berupa pulsasi vena jugularis, gallop, bising pulmonal dan aritmia. manuver.tireg7.net
- 3.Kementerian Kesehatan RI. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama. Lampiran I Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/1186/2022, Huruf J Respirasi angka 11 PPOK, halaman lampiran -488- sampai -492-, untuk kalimat bahwa pada kondisi telah terjadi kor pulmonale dapat diberikan diuretik dengan kehati-hatian pemberian cairan, untuk tanda gagal jantung kanan pada inspeksi, dan untuk terapi oksigen jangka panjang. Kalimat kor pulmonale itu tidak diteruskan ke entri pengganti pada KMK HK.01.07/MENKES/1936/2022. manuver.tireg7.net
- 4.Kementerian Kesehatan RI. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama, entri PPOK sebagaimana diganti oleh Lampiran I Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/1936/2022, Huruf J Respirasi angka 11, halaman lampiran -196- sampai -203-, untuk tanda gagal jantung kanan pada inspeksi, kehati-hatian pemberian cairan pada gagal jantung kongestif, konseling berhenti merokok, gizi, rehabilitasi, dan tata laksana rujuk balik dengan evaluasi spesialis paru setiap 1 sampai 3 bulan. Dipakai juga sebagai temuan negatif: dokumen ini tidak menyebut kor pulmonale sama sekali. diskes.badungkab.go.id
- 5.Kementerian Kesehatan RI. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama, entri Gagal Jantung Akut Dan Kronik sebagaimana diganti oleh Lampiran I Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/1936/2022, Huruf F Kardiovaskuler angka 4, halaman lampiran -117- sampai -121-, dengan Tingkat Kemampuan gagal jantung akut 3B dan gagal jantung kronik 3A, meliputi pemeriksaan fisik, penunjang, kriteria Framingham, diagnosis banding yang menyebut penyakit paru obstruktif kronik, penatalaksanaan gagal jantung kronik dengan batas 24 jam tanpa respons diuretik, komplikasi, kriteria rujukan, dan tata laksana rujuk balik. Dipakai sebagai sandaran tingkat yang sama, bukan sebagai paduan yang dipindahkan. diskes.badungkab.go.id
- 6.Kementerian Kesehatan RI. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 5 Tahun 2014 tentang Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Primer, entri Tuberkulosis Paru, daftar komplikasi paru dan Kor Pulmonal. Edisi terdahulu, dipakai di sini hanya untuk menunjukkan bahwa daftar komplikasi yang menyebut kor pulmonal dan bronkiektasis ada pada edisi 2014 dan tidak diteruskan pada edisi 2022. peraturan.bpk.go.id
- 7.Kaddoura R, Bhat P. Cor Pulmonale. In: StatPearls. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing. Bacaan lanjutan, bukan sumber isi entri ini. Bab yang sama juga dipakai pada entri kor pulmonale akut, karena StatPearls tidak memisahkan kedua bentuknya. ncbi.nlm.nih.gov