Kondiloma AkuminatumCondylomata Acuminata (Anogenital Warts)
Kondiloma akuminatum muncul DUA KALI pada daftar penyakit SKDI 2012, dan kedua barisnya dibaca untuk entri ini. Baris pertama ada pada tabel Sistem Reproduksi, subkelompok Infeksi, butir 7, dengan tingkat 3A. Baris kedua ada pada tabel Sistem Integumen, tabel Kulit, subkelompok Infeksi Virus, butir 2, juga dengan tingkat 3A. Keduanya memberi angka yang sama, sehingga tidak ada pertentangan yang perlu diselesaikan dan tidak ada tingkat yang lebih rendah untuk dibawa. Yang menjelaskan angka 3A justru tetangganya di tabel Kulit. Butir 1 Veruka vulgaris bertingkat 4A dan butir 3 Moluskum kontagiosum bertingkat 4A, sedangkan butir 2 berdiri di antara keduanya pada 3A. Ketiganya sama-sama infeksi virus pada kulit yang diobati dengan tindakan topikal, jadi yang menurunkan tingkat kondiloma bukan kesulitan tindakannya. Yang menurunkannya adalah apa yang melekat pada lesi anogenital: pasangan seksual yang perlu ditelusuri, penapisan HIV dan sifilis yang perlu ditawarkan, lesi di dalam kanal anus, uretra, dan serviks yang tidak terjangkau alat FKTP, kaitan HPV dengan kanker serviks, serta pertanyaan perlindungan anak bila lesinya ditemukan pada anak. Tidak ada dokumen yang lebih baru yang menilai ulang butir ini. PPK FKTP KMK 1186/2022 tidak memuat entri kondiloma akuminatum, dan perubahannya KMK 1936/2022 hanya menambahkan satu entri Frambusia pada huruf K Kulit.Condyloma acuminatum appears TWICE in the SKDI 2012 disease list, and both lines were read for this entry. The first sits in the reproductive system table, infection subgroup, item 7, graded 3A. The second sits in the integumentary system table, skin table, viral infection subgroup, item 2, also graded 3A. The two agree, so there is no conflict to resolve and no lower grade to carry. What explains the 3A is the company it keeps in the skin table. Item 1, verruca vulgaris, is graded 4A and item 3, molluscum contagiosum, is graded 4A, while item 2 stands between them at 3A. All three are viral skin infections treated by topical means, so what lowers the grade for condyloma is not the difficulty of the procedure. What lowers it is everything attached to an anogenital lesion: sexual partners to be traced, HIV and syphilis screening to be offered, lesions inside the anal canal, urethra and cervix that primary care instruments cannot reach, the link between HPV and cervical cancer, and the child protection question when the lesions are found on a child. No later document regrades this item. PPK FKTP KMK 1186/2022 carries no condyloma acuminatum entry, and its amendment KMK 1936/2022 adds only a yaws entry to the skin group.
Kondiloma akuminatum adalah kutil pada kulit dan mukosa daerah anogenital yang disebabkan Human Papillomavirus, terutama tipe 6 dan 11. Kedua tipe itu tidak menimbulkan kanker; yang ditimbulkannya adalah kutil kelamin dan papilomatosis pada saluran napas 1.
Penularannya lewat kontak kulit ke kulit di daerah genital, dan lesinya tumbuh terutama di bagian yang mengalami trauma kecil saat berhubungan seksual 1. Dua pola perlu diketahui karena keduanya sering disalahpahami 1:
- Kutil di dalam saluran anus lebih sering ditemukan pada lelaki yang berhubungan seks anal dengan lelaki tanpa kondom, atau pada praktik seksual lain yang melibatkan penetrasi anus.
- Kutil di sekitar anus muncul pada kedua jenis kelamin, dan penetrasi anus tidak selalu ada di dalam riwayatnya. Karena itu kutil perianal bukan bukti hubungan seks anal.
Perjalanannya sebagian besar baik. Infeksi HPV umumnya hilang tanpa tindakan apa pun, dan 90% sembuh sempurna dalam 2 tahun 1. Meskipun begitu, pada perempuan ada risiko infeksi menjadi menahun dan berkembang menjadi lesi prakanker serviks maupun kanker serviks, dan risiko itulah yang membuat penemuan kondiloma pada perempuan menjadi pintu masuk penapisan serviks, bukan sekadar urusan kutil 1.
Faktor risikonya:
- Berganti pasangan seksual dan hubungan seksual tanpa kondom 1.
- Populasi kunci menurut Permenkes 23/2022, yaitu pekerja seks, lelaki yang berhubungan seks dengan lelaki, dan waria, yang dijadwalkan skrining IMS tiap 3 bulan 1.
- Infeksi HIV dan keadaan imunokompromais lain, yang membuat respons pengobatan kurang baik dan kekambuhan lebih sering 3.
- Belum mendapat imunisasi HPV 1.
Tingkat kemampuan dokter layanan primer 3A, dan angka itu sama pada kedua tempat kondiloma akuminatum berada di daftar SKDI 2.
Condyloma acuminatum is a wart on the skin and mucosa of the anogenital area caused by human papillomavirus, above all types 6 and 11. Those two types do not cause cancer; what they cause is genital warts and respiratory papillomatosis 1.
Transmission is by skin to skin genital contact, and the lesions grow mainly where small trauma occurs during sex 1. Two patterns are worth knowing because both are commonly misread 1:
- Warts inside the anal canal are found more often in men who have unprotected anal sex with men, or in other sexual practices involving anal penetration.
- Warts around the anus are found in men and in women, and can occur with no history of anal sex. A perianal wart is therefore not evidence of anal intercourse.
The course is mostly favourable. HPV infection usually clears with no intervention, and 90% resolve completely within 2 years 1. Even so, in women there is a risk that infection becomes chronic and progresses to cervical precancer and cervical cancer, and it is that risk which turns finding a condyloma in a woman into a door into cervical screening rather than a wart problem alone 1.
Risk factors:
- Changing sexual partners and sex without a condom 1.
- The key populations named in Permenkes 23/2022, meaning sex workers, men who have sex with men, and transgender women, who are scheduled for screening every 3 months 1.
- HIV infection and other immunocompromised states, which make the response to treatment poorer and recurrence more frequent 3.
- Not having received HPV immunisation 1.
Primary care competency is 3A, and the grade is the same in both places condyloma acuminatum appears in the SKDI list 2.
MengenaliRecognising it
Batas dengan veruka vulgaris, karena inilah tempat dua entri Atlas bersinggungan dan karena tingkat kemampuannya berbeda. Virusnya satu keluarga, yaitu Human Papillomavirus, tetapi tipe dan tempatnya berbeda, dan yang membedakan penanganannya adalah tempatnya 14:
- Veruka vulgaris adalah kutil di luar daerah anogenital, bertingkat 4A, dan dituntaskan di layanan primer dengan bahan kaustik. Lihat entri Veruka Vulgaris. Daftar diagnosis banding entri itu memuat kondiloma akuminatum, jadi persinggungannya sudah dikenali pedoman 4.
- Kondiloma akuminatum adalah kutil di daerah anogenital, bertingkat 3A, karena lesi anogenital membawa pasangan seksual, penapisan HIV dan sifilis, kemungkinan lesi di dalam kanal yang tidak terlihat dari luar, serta kaitan HPV dengan kanker serviks.
- Kutil di jari atau tangan pada pasien yang juga memiliki kutil kelamin tetap ditangani sebagai veruka vulgaris. Yang menentukan jalurnya adalah lokasi lesi, bukan diagnosis pasien secara keseluruhan.
The boundary with verruca vulgaris, because this is where two Atlas entries meet and because their competency grades differ. The virus is one family, human papillomavirus, but the types and the sites differ, and what changes the handling is the site 14:
- Verruca vulgaris is a wart outside the anogenital area, graded 4A, and completed in primary care with caustic agents. See the entry Veruka Vulgaris. That entry's differential list carries condyloma acuminatum, so the guideline already recognises the overlap 4.
- Condyloma acuminatum is a wart in the anogenital area, graded 3A, because an anogenital lesion brings with it sexual partners, HIV and syphilis screening, the possibility of lesions inside a canal that cannot be seen from outside, and the link between HPV and cervical cancer.
- A wart on a finger or a hand in a patient who also has genital warts is still handled as verruca vulgaris. What decides the pathway is the site of the lesion, not the patient's diagnosis as a whole.
RujukanReferences
- 1.Kementerian Kesehatan RI. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 23 Tahun 2022 tentang Penanggulangan Human Immunodeficiency Virus, Acquired Immunodeficiency Syndrome, dan Infeksi Menular Seksual. Lampiran BAB II bagian Infeksi Human Papilloma Virus; BAB V huruf D Penatalaksanaan IMS; BAB V huruf F Pemberian Kekebalan. peraturan.bpk.go.id
- 2.Konsil Kedokteran Indonesia. Standar Kompetensi Dokter Indonesia 2012. Lampiran Daftar Penyakit, tabel Sistem Reproduksi butir 7 dan tabel Sistem Integumen tabel Kulit butir 2, keduanya Kondiloma akuminatum dengan Tingkat Kemampuan 3A. pd.fk.ub.ac.id
- 3.Kementerian Kesehatan RI. Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana HIV, lampiran Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/90/2019. Bagian Infeksi menular seksual dan kanker serviks, huruf b Kutil anogenital beserta blok rekomendasinya. keslan.kemkes.go.id
- 4.Kementerian Kesehatan RI. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama, lampiran Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/1186/2022. Entri Veruka Vulgaris, entri Sifilis, dan entri Hemoroid Grade 1-2, masing-masing pada bagian Diagnosis Banding. manuver.tireg7.net
- 5.Leslie SW, Sajjad H, Kumar S. Condylomata Acuminata (Genital Warts). StatPearls. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing. Bacaan lanjutan, bukan sumber isi entri ini. ncbi.nlm.nih.gov