KomaComa
SKDI 2012 menempatkan Koma pada butir 22 tabel Sistem Saraf, di dalam kelompok yang bernama Penurunan Kesadaran, dengan tingkat kemampuan 3B [2]. Tetangganya menjelaskan maksud kelompok itu: butir 21 Ensefalopati juga 3B, dan butir 23 Mati batang otak hanya tingkat 2. Jadi yang diminta dari dokter layanan primer adalah mengenali pasien yang tidak sadar, menstabilkannya, dan merujuk; penetapan mati batang otak bukan kewenangannya. Koma pada tingkat 3B adalah sebuah presentasi, bukan sebuah penyakit. Hampir semua penyebabnya sudah punya butir SKDI dan halaman SPARK sendiri, dari hipoglikemia berat dan ketoasidosis diabetikum sampai infark serebral, meningitis, dan malaria serebral. Halaman ini karena itu tidak mengulang penyakit-penyakit itu. Isinya adalah pendekatan sistematis terhadap pasien yang tidak sadar: penyebab yang dapat dibalik diperiksa lebih dulu, GCS dikerjakan dengan benar, dan pasien disiapkan sebelum dipindahkan. PPK FKTP tidak memuat entri koma. Yang ada adalah keterampilan Penilaian Kesadaran pada Lampiran II Panduan Keterampilan Klinis, Huruf C General Survey angka 1, dengan tingkat keterampilan 4A [1]. Perbedaan angka itu penting dan tidak bertentangan: menilai kesadaran adalah keterampilan yang harus dikuasai penuh, sedangkan menangani pasien koma sampai tuntas bukan. Daftar Keterampilan Klinis SKDI menempatkan penilaian tingkat kesadaran dengan skala koma Glasgow pada butir 38 dengan tingkat 4A, sejalan dengan itu [2]. Pedoman profesi nasional menyatakan pembagian kewenangannya secara langsung. Panduan Praktik Klinis Neurologi PERDOSSI 2016 pada bab Koma dan Penurunan Kesadaran menetapkan kewenangan fasilitas pelayanan kesehatan primer sebagai diagnosis dan tata laksana awal berupa ABC dan resusitasi, lalu rujuk [3]. Itu persis isi tingkat 3B.SKDI 2012 places Coma at item 22 of the nervous system table, inside a group named reduced consciousness, at level 3B [2]. Its neighbours explain what that group means: item 21, encephalopathy, is also 3B, and item 23, brainstem death, is only level 2. So what is asked of the primary care doctor is to recognise the unconscious patient, stabilise them and refer; declaring brainstem death is not within that authority. Coma at 3B is a presentation rather than a disease. Almost every cause already has its own SKDI item and its own SPARK page, from severe hypoglycaemia and diabetic ketoacidosis to cerebral infarction, meningitis and cerebral malaria. This page therefore does not repeat those diseases. What it holds is a systematic approach to the unconscious patient: the reversible causes checked first, the GCS done properly, and the patient prepared before being moved. PPK FKTP carries no coma entry. What it does carry is the consciousness assessment skill in Annex II of the clinical skills guidance, chapter C General Survey number 1, at skill level 4A [1]. The difference between those grades matters and is not a contradiction: assessing consciousness is a skill to be fully mastered, while managing a comatose patient to completion is not. The SKDI clinical skills list places assessment of consciousness with the Glasgow coma scale at item 38 at level 4A, consistent with that [2]. The national professional guideline states the division of authority directly. The PERDOSSI Neurology Clinical Practice Guideline 2016, in its coma and reduced consciousness chapter, sets the authority of primary care as diagnosis and initial management in the form of ABC and resuscitation, then referral [3]. That is exactly what level 3B contains.
Koma adalah keadaan pasien tidur dalam yang tidak dapat dibangunkan secara adekuat meskipun diberi rangsang kuat yang sesuai 3. Ia bukan diagnosis melainkan gejala akhir yang dapat dicapai oleh puluhan penyakit yang berbeda, dan sebagian dari penyakit itu dapat dibalik dalam hitungan menit sementara sebagian lain tidak dapat dibalik sama sekali.
Penurunan kesadaran dapat timbul mendadak atau bertahap, dapat disertai tanda peningkatan tekanan intrakranial maupun defisit neurologis, dan penyebabnya dapat berupa gangguan neurologis maupun gangguan metabolik 3. Dua kemungkinan itu menuntut urutan kerja yang berbeda, dan urutan itulah isi halaman ini.
SKDI menilai koma 3B, dan PERDOSSI menyatakan hal yang sama dengan kalimat lain: di fasilitas pelayanan kesehatan primer yang dikerjakan adalah diagnosis dan tata laksana awal berupa ABC dan resusitasi, lalu rujuk 23. Yang menentukan hasil di FKTP bukan ketepatan label diagnosisnya, melainkan tiga hal: jalan napas yang aman, penyebab yang dapat dibalik yang diperiksa lebih dulu, dan waktu.
Karena hampir setiap penyebabnya punya halaman sendiri di SPARK, halaman ini sengaja tidak mengulang penyakitnya. Yang dibahas adalah cara mendekati pasiennya:
- Apa yang dikerjakan pada menit pertama, sebelum diagnosis apa pun ditegakkan.
- Penyebab yang dapat dibalik, dan urutan memeriksanya.
- Cara menilai kesadaran sehingga angkanya berarti bagi dokter berikutnya.
- Pemeriksaan neurologis singkat yang memisahkan sebab struktural dari sebab metabolik.
- Apa yang harus selesai sebelum pasien berangkat.
Coma is a state of deep sleep from which the patient cannot be adequately roused even by an appropriately strong stimulus 3. It is not a diagnosis but an end symptom that dozens of different diseases can reach, and some of those diseases can be reversed within minutes while others cannot be reversed at all.
Reduced consciousness may come on suddenly or gradually, may carry signs of raised intracranial pressure or a neurological deficit, and its cause may be neurological or metabolic 3. Those two possibilities demand a different order of work, and that order is what this page holds.
SKDI grades coma 3B, and PERDOSSI says the same thing in other words: in primary care what is done is diagnosis and initial management in the form of ABC and resuscitation, then referral 23. What decides the outcome in primary care is not the accuracy of the diagnostic label but three things: a safe airway, the reversible causes checked first, and time.
Because almost every cause has its own SPARK page, this page deliberately does not repeat the diseases. What it covers is how to approach the patient:
- What is done in the first minute, before any diagnosis is made.
- The reversible causes, and the order in which to check them.
- How to score consciousness so the number means something to the next doctor.
- The short neurological examination that separates a structural cause from a metabolic one.
- What must be finished before the patient leaves.
MengenaliRecognising it
URUTANNYA ADALAH ISINYA. Pada pasien yang tidak sadar, pemeriksaan dan pengobatan tidak berjalan berurutan melainkan bersamaan, dan yang menentukan adalah apa yang dikerjakan lebih dulu.
Langkah pertama, sebelum diagnosis apa pun 34:
- Bebaskan dan amankan jalan napas. Bersihkan saliva dan muntahan; jalan napas pasien tidak sadar adalah hal pertama yang membunuhnya.
- Baringkan pasien datar tanpa bantal, dan miringkan ke lateral untuk mencegah aspirasi isi lambung 4.
- Nilai pernapasan dan beri oksigen. Napas cepat atau napas asidosis menandai pasien yang perlu perawatan intensif 4.
- Nilai sirkulasi: nadi, tekanan darah, turgor kulit, dan perfusi perifer 4.
- Periksa glukosa darah kapiler. Ini pemeriksaan pertama, bukan pemeriksaan terakhir.
THE ORDER IS THE CONTENT. In an unconscious patient, examination and treatment do not run in sequence but together, and what decides the outcome is what is done first.
The first step, before any diagnosis 34:
- Clear and secure the airway. Remove saliva and vomit; the airway of an unconscious patient is the first thing that kills them.
- Lay the patient flat without a pillow and turn them onto their side to prevent aspiration of stomach contents 4.
- Assess breathing and give oxygen. Tachypnoea or acidotic breathing marks a patient who needs intensive care 4.
- Assess the circulation: pulse, blood pressure, skin turgor and peripheral perfusion 4.
- Check the capillary blood glucose. This is the first test, not the last.
RujukanReferences
- 1.Kementerian Kesehatan RI. Panduan Keterampilan Klinis bagi Dokter, Lampiran II Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/1186/2022, Huruf C General Survey angka 1 Penilaian Kesadaran dengan Tingkat Keterampilan 4A, halaman lampiran 837 sampai 838. manuver.tireg7.net
- 2.Konsil Kedokteran Indonesia. Standar Kompetensi Dokter Indonesia 2012. Lampiran Daftar Penyakit, tabel Sistem Saraf, kelompok Penurunan Kesadaran, butir 22 Koma dengan Tingkat Kemampuan 3B, halaman 33; Lampiran Daftar Keterampilan Klinis, butir 38 penilaian tingkat kesadaran dengan skala koma Glasgow dengan Tingkat Keterampilan 4A, halaman 63. pd.fk.ub.ac.id
- 3.Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia. Panduan Praktik Klinis Neurologi. 2016. Bab Koma dan Penurunan Kesadaran, halaman 162 sampai 163, termasuk bagian Kewenangan berdasar Tingkat Pelayanan Kesehatan. snars.web.id
- 4.Kementerian Kesehatan RI. Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana Malaria. Lampiran Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/556/2019, bagian tindakan penunjang pada pasien koma berupa prinsip ABC, dan tabel pemeriksaan derajat kesadaran dewasa dan anak. keslan.kemkes.go.id
- 5.Kondziella D, Amiri M. Coma. In: StatPearls. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing. Bacaan lanjutan, tidak dipakai sebagai sumber isi. ncbi.nlm.nih.gov
- 6.Jain S, Iverson LM. Glasgow Coma Scale. In: StatPearls. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing. Bacaan lanjutan, tidak dipakai sebagai sumber isi. ncbi.nlm.nih.gov