Karies GigiDental Caries

Tingkat 3A berarti mendiagnosis, memberi terapi awal, lalu merujuk. Pada penyakit ini kata merujuk punya arti yang tidak biasa: yang dituju bukan dokter spesialis melainkan dokter gigi, dan yang dirujuk bukan kasus sulitnya saja melainkan hampir seluruh pekerjaan penambalannya. PPK FKTP tidak memuat entri Karies Gigi, dan itu bukan kelalaian: pedoman itu ditulis untuk dokter, sedangkan karies memiliki panduan praktik klinisnya sendiri yang ditetapkan Menteri Kesehatan untuk dokter gigi [2]. Pada panduan itu setiap langkah penanganan karies berdiri di bawah judul Prosedur Tindakan Kedokteran Gigi dan menuntut dental unit lengkap [2]. Karena itu halaman ini tidak memuat cara menambal gigi. Yang menjadi milik dokter layanan primer adalah mengenali kariesnya dan tahapnya, meredakan nyerinya, mengenali komplikasi yang berpindah keluar dari gigi, mengerjakan pencegahan, dan memastikan pasien benar-benar sampai ke dokter gigi. Tidak ada dokumen yang lebih baru yang menilai butir SKDI ini kembali.Level 3A means diagnose, give initial treatment, then refer. In this disease the word refer means something unusual: the destination is not a medical specialist but a dentist, and what is referred is not only the difficult case but nearly all of the restorative work. The PPK FKTP carries no dental caries entry, and that is not an oversight: that guideline is written for doctors, while caries has its own clinical practice guideline issued by the Minister of Health for dentists [2]. In that document every step of caries management stands under the heading Dental Procedure and requires a fully equipped dental unit [2]. This page therefore does not describe how to fill a tooth. What belongs to the primary care doctor is recognising the caries and its stage, relieving the pain, recognising the complications that move out of the tooth, doing the prevention, and making sure the patient actually reaches a dentist. No newer document regrades this SKDI item.

Karies gigi adalah kerusakan jaringan keras gigi oleh asam yang dihasilkan bakteri plak dari gula makanan. Kerusakannya berjalan lapis demi lapis: mula-mula email kehilangan mineral tanpa berlubang, lalu email berlubang, lalu dentin terbuka, lalu pulpa yang berisi saraf dan pembuluh darah ikut terkena 2.

Ini penyakit yang sangat lazim di Indonesia. Riset Kesehatan Dasar 2018 mencatat prevalensi karies gigi 88,80 persen, dan Survei Kesehatan Indonesia 2023 mencatat masalah kesehatan gigi dan mulut pada 56,9 persen penduduk berumur tiga tahun ke atas. Yang lebih penting daripada kedua angka itu adalah jarak antara keduanya dan angka ketiga: hanya 11,2 persen penduduk dengan masalah gigi dan mulut menerima perawatan dari tenaga kesehatan gigi 3. Jadi persoalannya bukan pasien yang tidak sakit, melainkan pasien yang sakit dan tidak sampai ke dokter gigi.

Faktor yang membuat karies terjadi dan berlanjut 23:

  • Kebersihan mulut yang buruk dan plak yang menetap.
  • Gula yang sering dikonsumsi, bukan hanya yang banyak; frekuensi lebih menentukan daripada jumlah.
  • Menyikat gigi yang tidak pada waktu yang benar. Pada 2023 hanya 6,2 persen penduduk menyikat gigi dua kali sehari pada waktu yang tepat, walaupun 95,6 persen menyikat gigi setiap hari 3.
  • Kebiasaan tidur dengan botol susu pada bayi dan anak kecil.
  • Aliran ludah yang berkurang, termasuk karena obat.
  • Email yang cacat sejak pembentukannya.
  • Resesi gusi yang membuka permukaan akar.
  • Akses ke layanan gigi yang terbatas.

Yang membuat penyakit ini penting bagi dokter, bukan hanya bagi dokter gigi, adalah ujung perjalanannya. Karies yang dibiarkan menjadi nekrosis pulpa, lalu abses periapikal, lalu infeksi yang menyebar ke ruang leher. Ujung yang terakhir itu adalah kegawatan jalan napas dan dibaca pada halaman Angina Ludwig.

Tingkat kemampuan dokter umum 3A. Penanganan definitifnya berada pada dokter gigi 12.

Dental caries is destruction of the hard tissue of the tooth by acid that plaque bacteria make from dietary sugar. The damage advances layer by layer: enamel first loses mineral without cavitating, then enamel cavitates, then dentine is exposed, then the pulp with its nerve and vessels is involved 2.

It is a very common disease in Indonesia. The 2018 Basic Health Research recorded a caries prevalence of 88.80 percent, and the 2023 Indonesian Health Survey recorded dental and oral problems in 56.9 percent of people aged three and over. More important than either figure is the distance between them and a third: only 11.2 percent of people with a dental or oral problem received care from a dental health worker 3. The problem is therefore not patients who are well, but patients who are unwell and never reach a dentist.

What makes caries start and continue 23:

  • Poor oral hygiene and persistent plaque.
  • Frequent sugar rather than merely a lot of it; frequency matters more than quantity.
  • Brushing at the wrong times. In 2023 only 6.2 percent of the population brushed twice daily at the right times, although 95.6 percent brushed daily 3.
  • Sleeping with a milk bottle in infants and small children.
  • Reduced salivary flow, including from drugs.
  • Enamel defective from the time it formed.
  • Gum recession exposing root surfaces.
  • Limited access to dental services.

What makes this disease matter to a doctor and not only to a dentist is where it ends. Neglected caries becomes pulp necrosis, then a periapical abscess, then infection spreading into the neck spaces. That last ending is an airway emergency and is read on the Ludwig Angina page.

General practitioner competency is level 3A. Definitive management sits with the dentist 12.

MengenaliRecognising it

Yang perlu dikenali dokter bukan derajat kariesnya secara rinci, melainkan tiga hal: apakah ini karies, sudah sampai lapisan mana kira-kira, dan apakah sudah keluar dari giginya.

Anamnesis 2:

  • Ngilu pada rangsang manis, asam, dingin atau panas, yang hilang segera setelah rangsangnya dihentikan. Pola ini masih di dentin.
  • Nyeri spontan tanpa rangsangan, berdenyut, sering memberat malam hari dan mengganggu tidur. Pola ini sudah mengenai pulpa.
  • Nyeri saat mengunyah dan saat gigi diketuk, kadang disertai benjolan pada gusi. Pola ini sudah sampai jaringan sekitar akar.
  • Tidak ada keluhan sama sekali. Karies yang berhenti berkembang dan karies dini memang tanpa gejala, dan karies kronik yang dalam pun dapat tidak nyeri.
  • Permukaan gigi terasa kasar atau tajam, makanan mudah tersangkut, warna gigi berubah.
  • Bau mulut.
  • Riwayat: kebiasaan menyikat gigi dan waktunya, kebiasaan makanan manis, tidur dengan botol susu pada anak, kunjungan terakhir ke dokter gigi.
  • Riwayat penyakit yang mengubah risikonya: diabetes melitus, kehamilan, imunodefisiensi, obat yang mengeringkan mulut, riwayat radioterapi kepala dan leher, kelainan katup jantung.

What the doctor needs to recognise is not the grade of the caries in detail but three things: whether this is caries, roughly which layer it has reached, and whether it has left the tooth.

History 2:

  • Sensitivity to sweet, sour, cold or hot that stops as soon as the stimulus does. This pattern is still in dentine.
  • Spontaneous throbbing pain with no stimulus, often worse at night and disturbing sleep. This pattern has reached the pulp.
  • Pain on chewing and on tapping the tooth, sometimes with a swelling on the gum. This has reached the tissue around the root.
  • No complaint at all. Arrested caries and early caries are symptomless, and even deep chronic caries can be painless.
  • A tooth surface that feels rough or sharp, food trapping, a change of colour.
  • Bad breath.
  • History: brushing habits and their timing, sweet food habits, sleeping with a milk bottle in a child, the last dental visit.
  • Conditions that change the risk: diabetes mellitus, pregnancy, immunodeficiency, drugs that dry the mouth, head and neck radiotherapy, heart valve disease.
Memeriksa aksesChecking access

RujukanReferences

  1. 1.Konsil Kedokteran Indonesia. Standar Kompetensi Dokter Indonesia 2012, Lampiran Daftar Penyakit, tabel Sistem Gastrointestinal, Hepatobilier, dan Pankreas, subkelompok Mulut, butir 9 Karies gigi (3A), halaman cetak 44; serta Lampiran Daftar Keterampilan Klinis, sistem yang sama, butir 1 Inspeksi bibir dan kavitas oral dan butir 68 Pemberian analgesik. pd.fk.ub.ac.id
  2. 2.Kementerian Kesehatan RI. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter Gigi, Lampiran Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.02.02/MENKES/62/2015, butir 11 sampai 14 rangkaian karies (halaman lampiran -47- sampai -57-), butir 16 Oral Hygiene Buruk, butir 19 sampai 23 rangkaian pulpa, butir 24 Abses Periapikal (halaman lampiran -81- sampai -82-), dan butir 29 anomali letak gigi karena kehilangan prematur gigi sulung. dental.id
  3. 3.Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI. Kesehatan Gigi dan Mulut di Indonesia, lembar fakta hasil Survei Kesehatan Indonesia 2023 dengan pembanding Riset Kesehatan Dasar 2018. badankebijakan.kemkes.go.id
  4. 4.Kementerian Kesehatan RI. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama, Lampiran I KMK HK.01.07/MENKES/1186/2022, Huruf C Digestive butir 1 Ulkus Mulut (Aftosa, Herpes), untuk pemakaian larutan kumur klorheksidin pada lesi mulut yang nyeri. Diperiksa dan tidak memuat entri Karies Gigi. manuver.tireg7.net
  5. 5.Rathee M, Sapra A. Dental Caries. In: StatPearls. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing. Bacaan lanjutan dan tautan saja; bukan sumber isi entri ini dan tidak ada kalimatnya yang dikutip. ncbi.nlm.nih.gov

SPARK Atlas adalah alat bantu rujukan untuk klinisi, bukan pengganti penilaian klinis. Verifikasi setiap keputusan terhadap kondisi pasien dan pedoman terkini.SPARK Atlas is a reference aid for clinicians, not a substitute for clinical judgement. Verify every decision against the patient in front of you and current guidance.