Iridosiklitis (iritis)Iridocyclitis (iritis)

SKDI 2012 memberi butir 36 tingkat 3A pada tabel Sistem Indra bagian Mata, subkelompok Iris dan Badan Silier, halaman 38 [2]. Butir itu menamai dua hal sekaligus pada satu baris, iridosiklitis dan iritis, sehingga keduanya berbagi satu tingkat kemampuan. Ejaan pada dokumennya berbunyi Iridosisklitis; Atlas memakai ejaan baku iridosiklitis dan tidak membawa salah ketiknya. Tetangganya pada subkelompok yang sama, butir 37 Tumor iris, hanya tingkat 2 [2]. Yang perlu dinyatakan terbuka: tingkat 3A memberi kewenangan memberi pengobatan awal lalu merujuk, tetapi tidak ada dokumen nasional yang menyatakan pengobatan awal itu apa. PPK FKTP tidak memuat entri iridosiklitis maupun uveitis anterior, dan PERDAMI tidak menerbitkan pedoman nasional untuk uveitis [1][3]. Yang tersedia di layanan primer karena itu adalah pengenalan, penelusuran penyakit di belakangnya, dan rujukan, dan entri ini tidak mengarang obat untuk mengisi kekosongan itu. Alasannya bukan kehati-hatian yang berlebihan. Obat yang dipakai untuk radang uvea adalah kortikosteroid topikal, dan PPK FKTP sendiri menamai pemakaian tetes mata steroid secara rutin sebagai faktor risiko katarak dan sebagai riwayat yang ditemukan pada glaukoma sekunder [1]. Obat yang sama juga yang membuat ulkus kornea gagal sembuh pada 16 persen kasus [4]. Memulainya tanpa mata yang dapat dipantau tekanannya adalah cara mengubah satu penyakit yang dapat diobati menjadi dua penyakit yang membutakan.SKDI 2012 gives item 36 level 3A in the Sistem Indra table under Mata, subgroup Iris dan Badan Silier, on page 38 [2]. That item names two things on one line, iridocyclitis and iritis, so both share a single competency level. The document spells it Iridosisklitis; Atlas uses the standard spelling iridosiklitis and does not carry the typing error. Its neighbour in the same subgroup, item 37 Tumor iris, is only level 2 [2]. What has to be said openly: level 3A grants the authority to give initial treatment and then refer, but no national document states what that initial treatment is. PPK FKTP carries no entry for iridocyclitis or for anterior uveitis, and PERDAMI has published no national guideline for uveitis [1][3]. What is available in primary care is therefore recognition, a search for the disease behind it, and referral, and this entry does not invent a drug to fill the gap. The reason is not excess caution. The drug used for uveal inflammation is a topical corticosteroid, and PPK FKTP itself names routine steroid eye drop use as a risk factor for cataract and as a history found in secondary glaucoma [1]. The same drug is what makes corneal ulcers fail to heal in 16 per cent of cases [4]. Starting it without an eye whose pressure can be monitored is how one treatable disease becomes two blinding ones.

Iridosiklitis adalah radang pada iris dan badan siliar, yaitu dua bagian depan lapisan uvea yang duduk tepat di belakang kornea. Bila radangnya terbatas pada iris saja, namanya iritis; keduanya diberi satu tingkat kemampuan yang sama oleh SKDI dan ditangani dengan cara yang sama di layanan primer 2.

Penyakit ini adalah salah satu dari empat sebab mata merah yang disertai nyeri dan penurunan penglihatan, bersama glaukoma akut, keratitis, dan ulkus kornea, dan keempatnya disebut berdampingan sebagai kelompok yang harus dipisahkan satu sama lain 1. Tidak satu pun dari keempatnya boleh dianggap konjungtivitis.

Kompetensi dokter layanan primer 3A 2. Yang dapat dikerjakan di layanan primer adalah mengenalinya, mencari penyakit yang mendasarinya, dan merujuk. Tidak ada panduan nasional layanan primer yang menyebutkan obat untuk penyakit ini, dan entri ini tidak menambahkannya 13.

Penyakit yang menyebabkannya dan disebut dokumen nasional 15:

  • Kusta, khususnya pada reaksi tipe 2, tempat iritis dan iridosiklitis muncul bersama glaukoma dan katarak.
  • Sindroma Stevens Johnson, yang mengenai mata pada 80 persen kasus, dengan iritis dan iridosiklitis di antara kelainan tersering.
  • Sifilis stadium dua, yang dapat memberi uveitis anterior dan korioretinitis.
  • Herpes zoster oftalmikus, yang dapat memberi uveitis bersama keratitis, skleritis, dan neuritis optik.
  • Trauma mata, termasuk hifema, yang dapat disertai iritis.

Mata merah yang berjalan tanpa nyeri hebat dan tanpa penurunan visus, yaitu konjungtivitis, episkleritis, dan perdarahan subkonjungtiva, punya entri Atlas tersendiri.

Iridocyclitis is inflammation of the iris and the ciliary body, the two front parts of the uveal layer that sit just behind the cornea. When the inflammation is confined to the iris it is called iritis; SKDI gives both a single competency level and both are handled the same way in primary care 2.

This disease is one of four causes of a red eye with pain and falling vision, alongside acute glaucoma, keratitis and corneal ulcer, and the four are named side by side as a group that has to be separated from one another 1. None of the four may be taken for conjunctivitis.

Primary care competence is 3A 2. What can be done in primary care is to recognise it, look for the disease underneath it, and refer. No national primary care guideline names a drug for this disease, and this entry does not add one 13.

Diseases that cause it and are named in national documents 15:

  • Leprosy, particularly in a type 2 reaction, where iritis and iridocyclitis appear alongside glaucoma and cataract.
  • Stevens Johnson syndrome, which involves the eye in 80 per cent of cases, with iritis and iridocyclitis among the commonest findings.
  • Second stage syphilis, which can give anterior uveitis and chorioretinitis.
  • Herpes zoster ophthalmicus, which can give uveitis alongside keratitis, scleritis and optic neuritis.
  • Ocular trauma, including hyphaema, which may be accompanied by iritis.

Red eyes that run without severe pain and without loss of acuity, meaning conjunctivitis, episcleritis and subconjunctival haemorrhage, have Atlas entries of their own.

MengenaliRecognising it

Diagnosis di layanan primer bersandar pada anamnesis dan pemeriksaan mata dengan senter dan lup. Pemeriksaan eksternal mata dan pemeriksaan media refraksi keduanya keterampilan tingkat 4A pada keputusan menteri yang sama, sehingga langkah-langkahnya memang milik dokter layanan primer 3.

Apa yang dicari dan di mana 3:

  • Bilik mata depan, dengan sinar yang disorotkan mendatar dari sisi temporal ke arah nasal. Nilai kedalamannya, lalu nilai apakah ada flare, hifema, dan hipopion.
    • Flare adalah efek Tyndall, yaitu berkas cahaya yang tampak di dalam bilik mata depan yang keruh karena sel radang atau bahan darah menumpuk di sana. Flare hanya terlihat dengan lup bila derajatnya hebat.
    • Hipopion adalah endapan sel radang putih kekuningan di dasar bilik mata depan, dan ia muncul pada iritis berat, ulkus kornea, endoftalmitis, dan tumor intraokular.
  • Iris. Nilai pola dan warnanya, apakah ada nodul, dan apakah pembuluh darahnya terlihat.
    • Iris normal memperlihatkan kripta, yaitu lekukan pada permukaannya, dan pembuluh darahnya tidak terlihat dengan mata telanjang.
    • Pembuluh yang terlihat, yaitu rubeosis iridis, muncul akibat radang di dalam iris dan ditemukan antara lain sesudah uveitis.
    • Sinekia posterior adalah iris yang melekat pada permukaan depan lensa, dan itu dapat terjadi pada uveitis. Inilah yang membuat pupil berhenti bulat dan tidak lagi melebar rata.
  • Konjungtiva. Injeksi siliar adalah melebarnya pembuluh perikorneal atau arteri siliar anterior, sehingga kemerahannya melingkari kornea, berbeda dari injeksi konjungtiva yang merata pada seluruh permukaan.
  • Kelopak. Blefarospasme, yaitu kedipan keras yang hilang saat tidur, dapat terjadi pada uveitis anterior, erosi kornea, dan glaukoma akut.

In primary care the diagnosis rests on the history and on examining the eye with a torch and a loupe. External eye examination and examination of the refractive media are both level 4A skills in the same ministerial decision, so the steps do belong to the primary care doctor 3.

What to look for and where 3:

  • The anterior chamber, with the light directed horizontally from the temporal side towards the nasal side. Judge its depth, then judge whether there is flare, hyphaema or hypopyon.
    • Flare is the Tyndall effect, a visible beam inside an anterior chamber made cloudy by inflammatory cells or blood material collecting there. Flare is visible with a loupe only when it is marked.
    • Hypopyon is a yellowish white layer of inflammatory cells at the bottom of the anterior chamber, and it appears in severe iritis, corneal ulcer, endophthalmitis and intraocular tumour.
  • The iris. Judge its pattern and colour, whether nodules are present, and whether its vessels are visible.
    • A normal iris shows crypts, the folds on its surface, and its vessels cannot be seen with the naked eye.
    • Visible vessels, that is rubeosis iridis, arise from inflammation within the iris and are found among other things after uveitis.
    • Posterior synechiae are the iris stuck to the front surface of the lens, and they can occur in uveitis. This is what stops the pupil being round and dilating evenly.
  • The conjunctiva. Ciliary injection is dilatation of the pericorneal or anterior ciliary vessels, so the redness rings the cornea, unlike conjunctival injection which is spread across the whole surface.
  • The lids. Blepharospasm, forceful blinking that disappears in sleep, can occur in anterior uveitis, corneal erosion and acute glaucoma.
Memeriksa aksesChecking access

RujukanReferences

  1. 1.Kementerian Kesehatan RI. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama. Lampiran I Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/1186/2022. Dipakai untuk menunjukkan bahwa kelompok Mata tidak memuat entri iridosiklitis maupun uveitis, dan untuk tempat penyakit ini disebut pada entri Glaukoma Akut, Katarak Pada Pasien Dewasa, Glaukoma Kronis, Lepra, Sindroma Steven Johnson, Herpes Zoster, dan Sifilis. manuver.tireg7.net
  2. 2.Konsil Kedokteran Indonesia. Standar Kompetensi Dokter Indonesia 2012. Lampiran Daftar Penyakit, tabel Sistem Indra bagian Mata, subkelompok Iris dan Badan Silier, butir 36, halaman 38. pd.fk.ub.ac.id
  3. 3.Kementerian Kesehatan RI. Panduan Keterampilan Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama. Lampiran II Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/1186/2022, Bab II Huruf G Sistem Indera, angka 4 Pemeriksaan Eksternal Mata dan angka 5 Pemeriksaan Media Refraksi, keduanya Tingkat Keterampilan 4A. manuver.tireg7.net
  4. 4.Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (PERDAMI). Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Ulkus Kornea Bakteri. Dipakai untuk pembatasan kortikosteroid topikal pada fasilitas tersier dan untuk angka kegagalan penyembuhan akibat pengobatan steroid yang salah. perdami.or.id
  5. 5.Kementerian Kesehatan RI. Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana Kusta, lampiran Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/308/2019. Dipakai untuk kerusakan mata pada kusta dan untuk gejala mata pada reaksi kusta tipe 2. kemkes.go.id
  6. 6.Gurnani B, Kim J, Tripathy K, Mahabadi N, Edens MA. Iritis. StatPearls. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing. Bacaan lanjutan, tidak dipakai sebagai sumber isi. ncbi.nlm.nih.gov

SPARK Atlas adalah alat bantu rujukan untuk klinisi, bukan pengganti penilaian klinis. Verifikasi setiap keputusan terhadap kondisi pasien dan pedoman terkini.SPARK Atlas is a reference aid for clinicians, not a substitute for clinical judgement. Verify every decision against the patient in front of you and current guidance.