Insufisiensi Vena KronikChronic Venous Insufficiency

SKDI 2012 menilai butir 41 Insufisiensi vena kronik pada tingkat 3A, di tabel Sistem Kardiovaskular kelompok Vena dan Pembuluh Limfe, halaman 43. Artinya dokter layanan primer diharapkan menegakkan diagnosisnya, memberi terapi pendahuluan, lalu merujuk. Satu penyakit ini muncul di tiga tempat dengan tiga tingkat yang berbeda pada dokumen yang sama, bergantung pada nama yang dipakai. Butir 36 Varises, yaitu penyebab yang terlihat, dinilai tingkat 2 pada halaman yang sama. Butir 33 Ulkus pada tungkai, yaitu akibat akhirnya, dinilai 4A di tabel Sistem Kulit halaman 53. Insufisiensi venanya sendiri berada di antara keduanya pada 3A. Perbedaan itu tidak diterangkan oleh dokumennya. Dua keterampilan yang justru menjadi inti penanganannya berada pada tingkat 4A. Butir 12 Tes (Brodie) Trendelenburg, yaitu pemeriksaan yang menilai katup vena di samping tempat tidur, dinilai 4A di halaman 70, dan butir 23 Bebat kompresi pada vena varikosum, yaitu terapi dasarnya, dinilai 4A di tabel Sistem Kulit halaman 79. Sebaliknya dua pemeriksaan yang akan membawa penanganannya lebih jauh berada di atas kewenangan itu: Test ankle-brachial index tingkat 3 dan USG Doppler tingkat 2, keduanya halaman 70. Susunan itu masuk akal bila dibaca sebagai berikut: mendiagnosis dan memulai kompresi memang pekerjaan dokter layanan primer, sedangkan memastikan letak refluksnya dan memutuskan tindakan pada venanya bukan.SKDI 2012 grades item 41, Insufisiensi vena kronik, at 3A, in the Cardiovascular System table under veins and lymphatic vessels, page 43. The primary care doctor is expected to make the diagnosis, give initial treatment and refer. One disease process appears in three places at three different grades in the same document, depending on the name it is filed under. Item 36, varicose veins, the visible cause, is graded 2 on the same page. Item 33, leg ulcer, its end result, is graded 4A in the skin table, page 53. The venous insufficiency itself sits between them at 3A. The document does not explain the difference. Two skills that are the core of managing it sit at 4A. Item 12, the (Brodie) Trendelenburg test, the bedside examination of the venous valves, is graded 4A on page 70, and item 23, compression bandaging for varicose veins, its basic treatment, is graded 4A in the skin table, page 79. Conversely the two investigations that would carry management further sit above that level: the ankle-brachial index test at level 3 and Doppler ultrasound at level 2, both page 70. The arrangement makes sense read this way: diagnosing it and starting compression is primary care work, while establishing where the reflux is and deciding on any procedure to the vein is not.

Insufisiensi vena kronik adalah keadaan ketika darah vena tungkai tidak lagi terdorong naik dengan baik dan sebagian mengalir balik ke bawah. Katup vena yang seharusnya menahan aliran balik menjadi tidak kompeten, dan tekanan yang seharusnya turun saat berjalan justru bertahan tinggi. Tungkai itu kemudian bengkak, berubah warna, mengeras, dan pada akhirnya dapat berujung pada ulkus.

Yang membuatnya penting di layanan primer adalah perjalanannya yang panjang dan diam. Keluhan awalnya ringan dan mudah dianggap kelelahan biasa, sedangkan kerusakan katupnya menetap dan bertambah.

Kompetensi dokter layanan primer 3A, yaitu didiagnosis, diberi terapi pendahuluan, lalu dirujuk 3. Dua hal yang menjadi inti pekerjaan itu justru berada pada tingkat keterampilan 4A dan memang dikerjakan sendiri di FKTP:

  • Tes Trendelenburg, yaitu pemeriksaan di samping tempat tidur yang menilai kompetensi katup vena, dengan tingkat keterampilan 4A 1.
  • Bebat kompresi pada vena varikosum, yang oleh panduan keterampilan klinis nasional disebut terapi dasar untuk insufisiensi vena kronis, juga dengan tingkat keterampilan 4A 1.

Keadaan yang menaikkan tekanan vena tungkai dan karena itu perlu ditanyakan, menurut entri ulkus pada tungkai pada panduan layanan primer nasional 2:

  • Trombosis vena dan kelainan katup vena.
  • Bendungan di daerah proksimal, misalnya karena tumor di abdomen.
  • Kehamilan.
  • Pekerjaan yang dilakukan sambil berdiri.
  • Usia, berat badan, gizi buruk dan higiene yang buruk, yang berada di dalam daftar faktor risiko entri yang sama.

Chronic venous insufficiency is the state in which venous blood in the leg is no longer pushed upward properly and some of it flows back down. The venous valves that should hold against reflux become incompetent, and the pressure that should fall during walking stays high instead. That leg then swells, changes colour, hardens, and can end in ulceration.

What makes it matter in primary care is how long and how quietly it runs. The early symptoms are mild and easily written off as ordinary tiredness, while the valve damage is permanent and grows.

Primary care competency is 3A: diagnose, give initial treatment, then refer 3. Two things that are the core of that work sit at skill level 4A and are indeed done at primary care level:

  • The Trendelenburg test, the bedside examination that assesses venous valve competence, at skill level 4A 1.
  • Compression bandaging for varicose veins, which the national clinical skills guide calls the basic therapy for chronic venous insufficiency, also at skill level 4A 1.

Conditions that raise venous pressure in the leg and therefore need asking about, according to the leg ulcer entry in the national primary care guideline 2:

  • Venous thrombosis and venous valve abnormality.
  • Obstruction more proximally, for instance from an abdominal tumour.
  • Pregnancy.
  • Work done standing.
  • Age, body weight, undernutrition and poor hygiene, which sit in the risk factor list of that same entry.

MengenaliRecognising it

Anamnesis:

  • Rasa berat, pegal, gatal, dan rasa terbakar pada tungkai. Entri ulkus pada tungkai menyebut rasa gatal, pegal dan rasa terbakar yang tidak nyeri serta berdenyut sebagai gambaran ulkus varikosum, dan keluhan itu sudah ada jauh sebelum ulkusnya 2.
  • Bengkak yang bertambah saat berdiri dan berkurang setelah tungkai ditinggikan atau setelah tidur malam 2. Pola harian inilah yang membedakannya dari edema yang menetap sepanjang hari.
  • Berapa lama pekerjaan pasien dilakukan sambil berdiri 2.
  • Riwayat trombosis vena dalam, riwayat patah tulang tungkai atau kaki, dan riwayat operasi tungkai 2.
  • Riwayat kehamilan dan jumlah kehamilan 2.
  • Riwayat luka pada tungkai yang pernah sembuh lalu terbuka lagi di tempat yang sama 2.
  • Penyakit penyerta yang merusak pembuluh darah dan saraf tepi, terutama diabetes melitus, dan hipertensi yang juga disebut sebagai penyebab kerusakan pembuluh darah pada entri yang sama 2.
  • Kebiasaan merokok dan berat badan 2.

History:

  • Heaviness, aching, itching and burning in the leg. The leg ulcer entry names itching, aching and a burning sensation that is not painful and that throbs as features of the varicose ulcer, and those symptoms are present long before the ulcer is 2.
  • Swelling that increases on standing and settles after the leg is elevated or after a night's sleep 2. That daily pattern is what separates it from oedema present all day.
  • How much of the patient's work is done standing 2.
  • History of deep vein thrombosis, of fracture of the leg or foot, and of surgery to the leg 2.
  • Obstetric history and number of pregnancies 2.
  • History of a leg wound that healed and then broke down again in the same place 2.
  • Comorbidities that damage vessels and peripheral nerves, particularly diabetes mellitus, and hypertension, which the same entry also names as a cause of vessel damage 2.
  • Smoking and body weight 2.
Memeriksa aksesChecking access

RujukanReferences

  1. 1.Kementerian Kesehatan RI. Panduan Keterampilan Klinis bagi Dokter, Lampiran II Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/1186/2022. Angka 4 Pemeriksaan Trendelenburg dengan Tingkat Keterampilan 4A, halaman -1006- sampai -1008-; angka 26 Bebat Kompresi Pada Vena Varikosum dengan Tingkat Keterampilan 4A, halaman -1192-. Bagian bebat kompresi adalah satu-satunya tempat pada dokumen ini yang menyebut insufisiensi vena kronis dengan namanya. manuver.tireg7.net
  2. 2.Kementerian Kesehatan RI. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama, Lampiran I Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/1186/2022. Huruf K Kulit angka 32 Ulkus pada Tungkai, halaman -638- sampai -645-, mencakup Tabel 11.1 dan Tabel 11.2, penatalaksanaan non medikamentosa, konseling dan edukasi, komplikasi, dan bagian Kriteria Rujukan. Lampiran I dipakai juga sebagai temuan negatif: tidak ada entri penyakit insufisiensi vena kronik di dalamnya. manuver.tireg7.net
  3. 3.Konsil Kedokteran Indonesia. Standar Kompetensi Dokter Indonesia 2012. Daftar Penyakit, tabel Sistem Kardiovaskular butir 41 Insufisiensi vena kronik dengan Tingkat Kemampuan 3A dan butir 36 Varises dengan tingkat 2, halaman 43; tabel Sistem Kulit butir 33 Ulkus pada tungkai dengan tingkat 4A, halaman 53. Daftar Keterampilan Klinis, tabel Sistem Kardiovaskular butir 8 Palpasi denyut arteri ekstremitas 4A, butir 12 Tes (Brodie) Trendelenburg 4A, butir 17 Test ankle-brachial index tingkat 3 dan butir 22 USG Doppler tingkat 2, halaman 70; tabel Sistem Kulit butir 23 Bebat kompresi pada vena varikosum 4A, halaman 79. pd.fk.ub.ac.id
  4. 4.Patel SK, Manea C, Surowiec SM. Venous Insufficiency. In: StatPearls. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2026. Judul babnya Venous Insufficiency, tanpa kata chronic. Bacaan lanjutan, bukan sumber isi entri ini. ncbi.nlm.nih.gov

SPARK Atlas adalah alat bantu rujukan untuk klinisi, bukan pengganti penilaian klinis. Verifikasi setiap keputusan terhadap kondisi pasien dan pedoman terkini.SPARK Atlas is a reference aid for clinicians, not a substitute for clinical judgement. Verify every decision against the patient in front of you and current guidance.