InfertilitasInfertility

SKDI 2012 menilai Infertilitas pada tingkat 3A: lulusan dokter mendiagnosis, memberi penanganan awal, lalu merujuk [2]. Konsensus nasional memberi isi pada angka itu dengan sangat jelas, karena ia memang menyusun strata layanan menurut kompetensi klinis: pelayanan tingkat primer adalah wilayah dokter umum, dan tugasnya adalah menilai kedua pasangan, memastikan ovulasi, membaca analisis semen, serta merujuk pasangan yang bermasalah [1]. Dua hal pada tabel SKDI perlu diketahui pembaca. Pertama, satu-satunya butir Infertilitas di seluruh Daftar Penyakit berada di subkelompok Masalah Reproduksi Pria, dan tidak ada butir infertilitas tersendiri pada bagian organ genital perempuan [2]. Halaman ini tetap disusun untuk pasangan, bukan untuk laki-laki saja, karena pemeriksaan infertilitas adalah pemeriksaan pasangan dan sekitar 30 sampai 40 persen penyebabnya ada pada laki-laki, artinya sisanya tidak [1]. Membaca penempatan tabel itu sebagai perintah memeriksa suami saja akan melewatkan sebagian besar kasus. Kedua, penomoran tabel itu berulang: nomor 89 muncul dua kali pada halaman cetak yang sama, sekali untuk butir payudara dan sekali untuk Infertilitas. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama tidak memuat entri untuk infertilitas, baik pada KMK HK.01.07/MENKES/1186/2022 maupun pada perubahannya KMK HK.01.07/MENKES/1936/2022. Infertilitas hanya muncul di sana sebagai komplikasi penyakit lain [3].SKDI 2012 grades Infertilitas at 3A: the graduate diagnoses it, gives initial treatment, then refers [2]. The national consensus fills that number in with unusual precision, because it is built around strata of care by clinical competency: primary level care is the general practitioner's ground, and the job there is to assess both partners, confirm ovulation, read the semen analysis, and refer the couples that need more [1]. Two things about the SKDI table are worth knowing. First, the only Infertilitas item in the whole disease list sits in the male reproductive problems subgroup, and there is no separate infertility item under the female genital organs [2]. This page is still written for the couple rather than for the man alone, because an infertility work up is a work up of a couple and roughly 30 to 40 percent of causes lie with the man, which means the rest do not [1]. Reading that table placement as an instruction to examine only the husband would miss most cases. Second, the numbering in that table repeats: number 89 appears twice on the same printed page, once for a breast item and once for Infertilitas. The Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama carries no entry for infertility, neither in KMK HK.01.07/MENKES/1186/2022 nor in its amendment KMK HK.01.07/MENKES/1936/2022. Infertility appears there only as a complication of other diseases [3].

Infertilitas adalah kegagalan sebuah pasangan memperoleh kehamilan setelah sekurang-kurangnya 12 bulan berhubungan seksual teratur tanpa kontrasepsi, dan bentuk itulah yang disebut infertilitas primer. Infertilitas sekunder adalah ketidakmampuan memiliki anak atau mempertahankan kehamilan pada pasangan yang sebelumnya pernah berhasil. Pada perempuan berusia di atas 35 tahun, evaluasi dan pengobatan sudah dapat dimulai setelah 6 bulan 1.

Angka yang mengatur cara berpikir tentang penyakit ini:

  • Peluang seorang perempuan hamil pada satu bulan tertentu sekitar 20 sampai 25 persen 1.
  • Sekitar 30 sampai 40 persen infertilitas disebabkan faktor laki-laki, sehingga pemeriksaan pada laki-laki adalah bagian wajib dari pemeriksaan pasangan 1.
  • Infertilitas idiopatik, yaitu pasangan dengan tes ovulasi, patensi tuba, dan analisis semen yang seluruhnya normal, mencakup sekitar 22 sampai 28 persen kasus 1.
  • Di Indonesia, persentase perempuan usia 25 sampai 49 tahun dengan infertilitas primer tercatat 6,0 persen, dan konsensus nasional memperkirakan sekitar 2,6 juta penyandang 1.

Infertilitas jarang menimbulkan gejala fisik. Bebannya ekonomi dan psikologis, dan proses evaluasi serta pengobatannya panjang untuk kedua pasangan 1.

Halaman ini bertingkat 3A. Di layanan primer, pekerjaannya adalah menilai kedua pasangan, memastikan ovulasi, membaca analisis semen, lalu merujuk 12.

Infertility is a couple's failure to conceive after at least 12 months of regular intercourse without contraception, and that form is called primary infertility. Secondary infertility is the inability to have a child or to carry a pregnancy in a couple who succeeded before. In a woman over 35, evaluation and treatment may begin after 6 months 1.

The figures that shape how to think about this:

  • The chance of a woman conceiving in any given month is about 20 to 25 percent 1.
  • Roughly 30 to 40 percent of infertility is due to male factors, which makes examining the man a compulsory part of examining the couple 1.
  • Idiopathic infertility, meaning a couple whose ovulation test, tubal patency and semen analysis are all normal, covers about 22 to 28 percent of cases 1.
  • In Indonesia the proportion of women aged 25 to 49 with primary infertility is recorded at 6.0 percent, and the national consensus estimates around 2.6 million people affected 1.

Infertility rarely produces physical symptoms. Its burden is economic and psychological, and the process of evaluation and treatment is long for both partners 1.

This page is graded 3A. In primary care the work is to assess both partners, confirm ovulation, read the semen analysis, then refer 12.

MengenaliRecognising it

Kapan mulai memeriksa 1:

  • Setelah 12 bulan berhubungan seksual teratur tanpa kontrasepsi tanpa kehamilan.
  • Setelah 6 bulan bila istri berusia di atas 35 tahun.

Anamnesis pasangan. Yang diperiksa adalah pasangan, dan keduanya hadir sejak kunjungan pertama.

  • Lama upaya memperoleh kehamilan, frekuensi hubungan seksual, dan apakah ada gangguan ereksi atau ejakulasi 1.
  • Kehamilan sebelumnya, dengan pasangan sekarang maupun pasangan terdahulu 1.
  • Pengobatan infertilitas yang sudah dijalani dan berapa lama 1.
  • Riwayat penyakit menular seksual, radang panggul, dan infeksi saluran kemih atau kelamin pada keduanya 13.

When to start investigating 1:

  • After 12 months of regular intercourse without contraception and without pregnancy.
  • After 6 months if the wife is over 35.

History of the couple. What is assessed is the couple, and both attend from the first visit.

  • How long they have been trying, how often they have intercourse, and whether there is any erectile or ejaculatory problem 1.
  • Previous pregnancies, with this partner or with an earlier one 1.
  • Infertility treatment already taken and for how long 1.
  • History of sexually transmitted infection, pelvic inflammatory disease, and urinary or genital infection in both partners 13.
Memeriksa aksesChecking access

RujukanReferences

  1. 1.HIFERI, PERFITRI, IAUI, POGI. Konsensus Penanganan Infertilitas. Jakarta; 2013. Bab I sampai Bab VI, termasuk Tabel 1.1, Tabel 3.1, Tabel 4.5 batas rujukan analisa sperma WHO 2010, serta klasifikasi kompetensi klinis level I sampai level III. labcito.co.id
  2. 2.Konsil Kedokteran Indonesia. Standar Kompetensi Dokter Indonesia 2012. Lampiran Daftar Penyakit, tabel Sistem Reproduksi, subkelompok Masalah Reproduksi Pria, nomor 89 Infertilitas, tingkat kemampuan 3A, halaman cetak 50. pd.fk.ub.ac.id
  3. 3.Kementerian Kesehatan RI. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama, Lampiran I KMK HK.01.07/MENKES/1186/2022, Huruf O Penyakit Kelamin angka 1 Fluor Albus, bagian Komplikasi, halaman lampiran -785-, untuk infertilitas sebagai komplikasi radang panggul. manuver.tireg7.net
  4. 4.Kementerian Kesehatan RI. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 23 Tahun 2022 tentang Penanggulangan Human Immunodeficiency Virus, Acquired Immuno Deficiency Syndrome, dan Infeksi Menular Seksual, bagian dampak gonore dan infeksi klamidia yang tidak diobati. peraturan.bpk.go.id
  5. 5.Leslie SW, Soon-Sutton TL, Khan MAB. Male Infertility. In: StatPearls. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing. Bacaan lanjutan, hanya ditautkan. ncbi.nlm.nih.gov
  6. 6.Walker MH, Tobler KJ. Female Infertility. In: StatPearls. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing. Bacaan lanjutan, hanya ditautkan. ncbi.nlm.nih.gov

SPARK Atlas adalah alat bantu rujukan untuk klinisi, bukan pengganti penilaian klinis. Verifikasi setiap keputusan terhadap kondisi pasien dan pedoman terkini.SPARK Atlas is a reference aid for clinicians, not a substitute for clinical judgement. Verify every decision against the patient in front of you and current guidance.