HIV/AIDS tanpa komplikasiUncomplicated HIV/AIDS
SKDI 2012 memberi tingkat 4A dengan syarat yang tertulis di dalam nama butirnya sendiri, yaitu HIV AIDS tanpa komplikasi, dan butir tepat di bawahnya, AIDS dengan komplikasi, dinilai 3A [2]. Syarat itu perlu dibaca sampai habis: yang dituntaskan di layanan primer adalah HIV yang belum berkomplikasi, sedangkan bentuk yang sudah berkomplikasi berpindah ke butir yang lain dengan tingkat yang lebih rendah. PPK FKTP membaca batas yang sama dari sisi praktisnya. Tatalaksana di layanan tingkat pertama baru dapat dimulai apabila pasien sudah dipastikan tidak memiliki komplikasi atau infeksi oportunistik yang dapat memicu sindrom pulih imun, dan memastikan hal itu sendiri boleh dikerjakan dengan merujuk ke layanan sekunder, karena gejala klinis infeksi pada pasien HIV sering tidak spesifik [1]. Di samping itu setiap pasien yang baru dinyatakan terinfeksi tetap perlu diteruskan ke Pelayanan Dukungan Pengobatan untuk penilaian stadium klinis, imunologis, dan virologi [1]. Jadi kewenangan penuh di layanan primer di sini bukan kewenangan untuk memulai antiretroviral sendirian pada siapa saja. Ia adalah kewenangan untuk menemukan kasusnya, menegakkan diagnosisnya, memulai atau melanjutkan terapi pada pasien yang sudah dipastikan tidak berkomplikasi, dan memantau pengobatannya.SKDI 2012 grades this 4A with the qualifier written into the name of the item itself, HIV AIDS without complication, and the item directly below it, AIDS with complication, is graded 3A [2]. The qualifier has to be read to the end: what is completed in primary care is HIV that has not yet developed complications, while the complicated form moves to a different item at a lower level. The PPK FKTP reads the same boundary from its practical side. Management at first level care can only begin once the patient has been confirmed to have no complication and no opportunistic infection that could set off immune reconstitution syndrome, and confirming that may itself be done by referring to secondary care, because the clinical signs of infection in an HIV patient are often non specific [1]. On top of that, every newly diagnosed patient still has to be passed on to a care, support and treatment service for clinical, immunological and virological staging [1]. Full primary care authority here is therefore not authority to start antiretrovirals alone in anyone. It is authority to find the case, make the diagnosis, start or continue therapy in a patient confirmed to be uncomplicated, and monitor the treatment.
Infeksi HIV tidak langsung memperlihatkan gejala, dan itulah yang membuat penemuan kasusnya bergantung pada tes dan bukan pada keluhan 1. Ketika keluhan akhirnya muncul, yang muncul adalah demam berkepanjangan, diare berkepanjangan, dan berat badan yang turun, ditambah keluhan penyakit yang menyertainya 1.
Skalanya besar. Data Ditjen P2P Kementerian Kesehatan sampai Mei 2022 mencatat kumulatif 469.490 kasus HIV dan 136.687 kasus AIDS di Indonesia, sementara UNAIDS dan WHO memperkirakan sekitar 4,9 juta orang hidup dengan HIV di Asia 1.
SKDI memberi tingkat 4A dengan syarat tanpa komplikasi, dan AIDS dengan komplikasi dinilai 3A pada daftar yang sama 2. Bentuk yang sudah berkomplikasi karena itu dirujuk, dan PPK FKTP menambahkan bahwa setiap pasien yang baru terdiagnosis tetap diteruskan ke Pelayanan Dukungan Pengobatan untuk penilaian stadium 1.
Faktor risiko 1:
- Penjaja seks laki-laki atau perempuan.
- Pengguna napza suntik.
- Laki-laki yang berhubungan seks dengan sesama laki-laki, dan transgender.
- Hubungan seksual yang berisiko atau tidak aman.
- Pernah atau sedang mengidap infeksi menular seksual.
- Pernah mendapatkan transfusi darah.
- Pembuatan tato, atau alat medis dan alat tajam yang tercemar HIV.
- Bayi dari ibu dengan HIV.
- Pasangan serodiskordan, yaitu salah satu pasangan positif HIV.
HIV infection does not declare itself with symptoms, which is why finding cases depends on testing rather than on complaints 1. When complaints do arrive, they are prolonged fever, prolonged diarrhoea, and weight loss, plus whatever the accompanying illness produces 1.
The scale is large. Ministry of Health disease control data to May 2022 record a cumulative 469,490 HIV cases and 136,687 AIDS cases in Indonesia, while UNAIDS and WHO estimate about 4.9 million people living with HIV in Asia 1.
SKDI grades this 4A with the qualifier without complication, and AIDS with complication is graded 3A on the same list 2. The complicated form is therefore referred, and the PPK FKTP adds that every newly diagnosed patient is still passed on to a care, support and treatment service for staging 1.
Risk factors 1:
- Male or female sex workers.
- People who inject drugs.
- Men who have sex with men, and transgender people.
- Risky or unprotected sexual contact.
- Past or current sexually transmitted infection.
- Previous blood transfusion.
- Tattooing, or medical and sharp instruments contaminated with HIV.
- An infant born to a mother with HIV.
- A serodiscordant couple, that is one partner HIV positive.
MengenaliRecognising it
Anamnesis. Keluhan yang membawa pasien datang 1:
- Demam di atas 37,5 derajat Celsius, terus-menerus atau hilang timbul, lebih dari satu bulan.
- Diare terus-menerus atau hilang timbul lebih dari satu bulan.
- Kehilangan berat badan lebih dari 10 persen dari berat badan dasar.
- Keluhan lain yang bergantung pada penyakit yang menyertainya.
Pemeriksaan fisik, menurut sistem 1:
- Keadaan umum: berat badan turun dan demam.
- Kulit: masalah kulit terkait HIV seperti kulit kering dan dermatitis seboroik, serta tanda herpes simpleks dan zoster atau jaringan parut bekas herpes zoster.
- Kelenjar getah bening yang membesar.
- Mulut: kandidiasis oral, oral hairy leukoplakia, dan keilitis angularis.
- Dada: ronki basah akibat infeksi paru.
- Abdomen: hepatosplenomegali, nyeri, atau massa.
- Anogenital: tanda herpes simpleks, duh vagina atau uretra.
- Neurologi: tanda neuropati dan kelemahan neurologis.
History. The complaints that bring the patient in 1:
- Fever above 37.5 degrees Celsius, continuous or intermittent, for more than one month.
- Diarrhoea, continuous or intermittent, for more than one month.
- Weight loss of more than 10 percent of baseline body weight.
- Other complaints depending on the accompanying illness.
Examination, by system 1:
- General: weight loss and fever.
- Skin: HIV related skin problems such as dry skin and seborrhoeic dermatitis, and signs of herpes simplex and zoster or scarring from previous herpes zoster.
- Enlarged lymph nodes.
- Mouth: oral candidiasis, oral hairy leukoplakia, and angular cheilitis.
- Chest: crackles from lung infection.
- Abdomen: hepatosplenomegaly, tenderness, or a mass.
- Anogenital: signs of herpes simplex, vaginal or urethral discharge.
- Neurological: signs of neuropathy and neurological weakness.
RujukanReferences
- 1.Kemenkes RI. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama, lampiran KMK HK.01.07/MENKES/1936/2022, Huruf B Darah, Pembentukan Darah dan Sistem Imun angka 2. Teks yang berlaku untuk penyakit ini. diskes.badungkab.go.id
- 2.Konsil Kedokteran Indonesia. Standar Kompetensi Dokter Indonesia 2012, Lampiran Daftar Penyakit, tabel Sistem Saraf, nomor 13 dan nomor 14. pd.fk.ub.ac.id
- 3.Kemenkes RI. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 23 Tahun 2022 tentang Penanggulangan Human Immunodeficiency Virus, Acquired Immunodeficiency Syndrome, dan Infeksi Menular Seksual, lampiran Bab VI dan Bab VII. peraturan.bpk.go.id
- 4.Kemenkes RI. Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana HIV, Lampiran KMK HK.01.07/MENKES/90/2019. keslan.kemkes.go.id
- 5.Swinkels HM, Nguyen AD, Samandari T, Gulick PG. HIV and AIDS. StatPearls. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing. Bacaan lanjutan, bukan sumber isi entri ini. ncbi.nlm.nih.gov