Hipopigmentasi pascainflamasiPost-inflammatory hypopigmentation

SKDI 2012 menempatkan Hipopigmentasi pascainflamasi pada tabel Kulit, kelompok Kelainan Pigmentasi, butir 60, dengan tingkat kemampuan 3A, tepat di bawah butir 59 Hiperpigmentasi pascainflamasi yang juga 3A [3]. Butir 56 pada kelompok yang sama, Vitiligo, juga 3A, sehingga kedua penyakit yang paling sering tertukar berada pada tingkat kewenangan yang sama. 3A berarti mendiagnosis, memberi penanganan awal, lalu menentukan rujukan [3]. Pada penyakit ini pekerjaan diagnostiknya jauh lebih berat daripada pekerjaan terapinya, karena bercak putih di Indonesia adalah tampilan yang dibagi oleh beberapa penyakit dengan tata laksana yang sama sekali berbeda, dan salah satunya kusta yang bertingkat 4A. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di FKTP tidak memuat entri tersendiri untuk hipopigmentasi pascainflamasi [1]. Yang dimuatnya, dan yang dipakai entri ini, adalah kerangka nasional untuk memilah bercak hipopigmentasi menurut ada atau tidaknya skuama, beserta tanda kardinal kusta, keduanya di dalam entri Lepra [2].SKDI 2012 places Post-inflammatory hypopigmentation in the Kulit table under Kelainan Pigmentasi, item 60, at level 3A, directly below item 59 post-inflammatory hyperpigmentation which is also 3A [3]. Item 56 in the same group, Vitiligo, is also 3A, so the two diseases most often confused with each other carry the same level of authority. 3A means diagnose, give initial treatment, then decide on referral [3]. In this condition the diagnostic work is far heavier than the therapeutic work, because a white patch in Indonesia is an appearance shared by several diseases with completely different management, one of them leprosy at 4A. The primary care clinical practice guideline has no standalone entry for post-inflammatory hypopigmentation [1]. What it does carry, and what this entry uses, is the national framework for sorting hypopigmented patches by the presence or absence of scale, together with the cardinal signs of leprosy, both inside the Lepra entry [2].

Hipopigmentasi pascainflamasi adalah memudarnya warna kulit yang tertinggal setelah radang, cedera, atau tindakan pada tempat yang sama 4. Seperti kembarannya yang menggelap, ia bukan penyakit yang berdiri sendiri melainkan jejak, dan bentuknya mengulang lesi yang dulu ada di situ.

Yang membuatnya penting di Indonesia bukan tampilannya, melainkan daftar penyakit yang menyerupainya. Bercak putih pada kulit adalah tampilan yang dibagi oleh panu, vitiligo, pitiriasis alba, dan kusta, dan keempatnya ditangani dengan cara yang sama sekali berbeda 12. Karena itu pekerjaan utama pada entri ini adalah memisahkan, bukan mengobati.

Dua hal yang menentukan hasil akhirnya:

  • Yang diobati adalah penyakit kulit yang mendahuluinya, bukan warnanya.
  • Waktu adalah terapinya. Sebagian besar kasus pulih sendiri dalam hitungan minggu sampai bulan setelah penyebabnya dihentikan, dan hanya menetap bila melanositnya rusak seluruhnya 4.

Tingkat kemampuan 3A, yaitu mendiagnosis, memberi penanganan awal, lalu merujuk 3.

Penyebabnya 4:

  • Penyakit kulit yang meradang, misalnya dermatitis dan psoriasis.
  • Luka bakar.
  • Bahan iritan.
  • Tindakan dermatologi: peeling kimia, dermabrasi, krioterapi, dan laser.

Pilihan terapinya sendiri terbatas, dan penyakit ini jauh lebih sedikit diteliti daripada hiperpigmentasi pascainflamasi 5.

Post-inflammatory hypopigmentation is loss of skin colour left behind after inflammation, injury or a procedure at the same site 4. Like its darkening twin it is not a disease in its own right but a trace, and its shape repeats the lesion that used to sit there.

What makes it important in Indonesia is not how it looks but the list of diseases that resemble it. A white patch on the skin is an appearance shared by pityriasis versicolor, vitiligo, pityriasis alba and leprosy, and those four are managed in completely different ways 12. The main work on this page is therefore separating, not treating.

Two things decide the outcome:

  • What gets treated is the skin disease that came first, not the colour.
  • Time is the treatment. Most cases recover on their own over weeks to months once the cause is stopped, and it persists only where the melanocytes have been destroyed completely 4.

Competency level 3A: diagnose, give initial treatment, then refer 3.

Causes 4:

  • Inflammatory skin disease, for example dermatitis and psoriasis.
  • Burns.
  • Irritants.
  • Dermatological procedures: chemical peels, dermabrasion, cryotherapy and lasers.

Treatment options are themselves limited, and this condition is far less studied than post-inflammatory hyperpigmentation 5.

MengenaliRecognising it

Bercak putih ditegakkan dengan memisahkan, bukan dengan mengenali satu gambaran. Kerangka yang dipakai pedoman nasional membagi bercak hipopigmentasi menurut ada atau tidaknya skuama, dan kerangka itu ada di dalam entri Lepra karena di sanalah bercak putih paling sering salah dibaca 2:

  • Bercak hipopigmentasi dengan skuama: pitiriasis versikolor dan pitiriasis alba.
  • Bercak hipopigmentasi tanpa skuama: vitiligo.
  • Bercak hipopigmentasi atau eritema yang mati rasa: kusta, dan ini satu dari tiga tanda kardinalnya 2.

A white patch is diagnosed by separating rather than by recognising a single appearance. The framework the national guideline uses divides hypopigmented patches by the presence or absence of scale, and that framework sits inside the Lepra entry, because that is where a white patch is most often misread 2:

  • Hypopigmented patch with scale: pityriasis versicolor and pityriasis alba.
  • Hypopigmented patch without scale: vitiligo.
  • Hypopigmented or erythematous patch that has lost sensation: leprosy, and this is one of its three cardinal signs 2.
Memeriksa aksesChecking access

RujukanReferences

  1. 1.Kementerian Kesehatan RI. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama, lampiran KMK HK.01.07/MENKES/1186/2022. Tidak ada entri tersendiri untuk hipopigmentasi pascainflamasi. Dipakai untuk entri Pitiriasis Versikolor, yaitu makula hipopigmentasi berskuama halus, tanda goresan kuku, lampu Wood, dan KOH, serta sebagai pembanding negatif untuk kelompok kelainan pigmentasi. manuver.tireg7.net
  2. 2.Kementerian Kesehatan RI. Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/1936/2022 tentang Perubahan atas Kepmenkes HK.01.07/MENKES/1186/2022. Lampiran I, Bab II, Huruf A angka 10 Lepra: tanda kardinal berupa lesi hipopigmentasi atau eritema yang mati rasa, dan daftar diagnosis banding yang memilah bercak hipopigmentasi menurut ada atau tidaknya skuama. Versi entri lepra yang berlaku. diskes.badungkab.go.id
  3. 3.Konsil Kedokteran Indonesia. Standar Kompetensi Dokter Indonesia 2012, Lampiran Daftar Penyakit, tabel Kulit, kelompok Kelainan Pigmentasi, butir 60 Hipopigmentasi pascainflamasi dengan Tingkat Kemampuan 3A, dan butir 56 Vitiligo dengan tingkat yang sama. pd.fk.ub.ac.id
  4. 4.Vachiramon V, Thadanipon K. Postinflammatory hypopigmentation. Clin Exp Dermatol. 2011;36(7):708-714. PMID 21671990. Asal daftar penyebab, yaitu dermatosis radang, luka bakar, bahan iritan, dan tindakan dermatologi berupa peeling kimia, dermabrasi, krioterapi, dan laser; asal pernyataan bahwa sebagian besar kasus membaik sendiri dalam minggu sampai bulan bila penyebabnya dihentikan, dan menetap bila melanositnya rusak seluruhnya. onlinelibrary.wiley.com
  5. 5.Madu PN, Syder N, Elbuluk N. Postinflammatory hypopigmentation: a comprehensive review of treatments. J Dermatolog Treat. 2022;33(2):704-708. PMID 32643458. Asal pernyataan bahwa penyakit ini jauh lebih sedikit diteliti daripada hiperpigmentasi pascainflamasi, bahwa pilihan terapinya terbatas, bahwa bedanya lebih mencolok pada kulit berpigmen, dan bahwa terapi yang dibahas meliputi fototerapi, tindakan, serta bahan topikal termasuk golongan prostaglandin. pubmed.ncbi.nlm.nih.gov
  6. 6.World Health Organization. ICD-11 for Mortality and Morbidity Statistics, kode ED63.2. Atribusi kode ICD-11 entri ini, dipakai dengan lisensi CC BY-ND 3.0 IGO. Kode ini menamai penyakit entri ini, sedangkan ICD-10 tidak menyediakan rubrik yang setara. id.who.int
  7. 7.Madireddy S, Crane JS. Hypopigmented Macules. StatPearls. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2023. Bacaan lanjutan / further reading, bukan sumber isi entri ini. ncbi.nlm.nih.gov

SPARK Atlas adalah alat bantu rujukan untuk klinisi, bukan pengganti penilaian klinis. Verifikasi setiap keputusan terhadap kondisi pasien dan pedoman terkini.SPARK Atlas is a reference aid for clinicians, not a substitute for clinical judgement. Verify every decision against the patient in front of you and current guidance.