Hipoksia Janin (Gawat Janin)Fetal Hypoxia (Fetal Distress)

SKDI 2012 menempatkan hipoksia janin pada tabel Sistem Reproduksi, subkelompok Persalinan dan Nifas, butir 49, dengan tingkat kemampuan 3B [3]. Arti 3B [3]: - Dokter layanan primer menegakkan diagnosis, memberi terapi kegawatdaruratan, lalu merujuk. Namanya berbeda antara dua dokumen, dan perbedaannya bukan sekadar istilah. SKDI mendaftarnya sebagai hipoksia janin, yaitu keadaan yang mendasarinya. Bab Indonesia yang memuat tata laksananya berjudul gawat janin dan menerangkan bahwa keadaan itu terjadi bila janin tidak menerima cukup oksigen sehingga terjadi hipoksia [2]. Jadi yang satu menamai mekanismenya dan yang lain menamai gambarannya di samping tempat tidur. Halaman ini memakai keduanya, karena yang dikenali penolong adalah gambarannya sedangkan yang merusak janin adalah mekanismenya. Daftar Keterampilan Klinis memberi pada entri ini pembagian yang paling tajam di antara seluruh entri obstetri kelompok ini, dan pembagiannya berjalan dari awal ke akhir [3]: - Butir 43, mengukur denyut jantung janin, tingkat 4A. - Butir 51, pemeriksaan obstetri berupa penilaian serviks, dilatasi, membran, presentasi janin, dan penurunan, tingkat 4A. - Butir 53, menolong persalinan fisiologis sesuai Asuhan Persalinan Normal, tingkat 4A. - Butir 54, pemecahan membran ketuban sesaat sebelum melahirkan, tingkat 4A. - Butir 47, kardiotokografi berupa melakukan dan menginterpretasikan, tingkat 3. - Butir 69, induksi kimiawi persalinan, tingkat 3. - Butir 71, pengambilan darah fetus, tingkat 2. - Butir 74, ekstraksi vakum rendah, tingkat 3. - Butir 72, operasi caesar, tingkat 2. - Butir 60, resusitasi bayi baru lahir, tingkat 4A. - Butir 61, menilai skor Apgar, tingkat 4A. - Butir 62, pemeriksaan fisik bayi baru lahir, tingkat 4A. Dibaca berurutan, deretan itu menceritakan seluruh isi halaman ini. - Menemukan keadaan ini bertingkat mandiri. Mengukur denyut jantung janin adalah keterampilan 4A, dan langkah kala satu memang meminta denyut itu dinilai setiap kali kontraksi selesai [4]. Tidak ada alasan keterampilan untuk melewatkan diagnosis ini. - Memastikannya tidak. Pemantauan yang oleh panduan disebut paling optimal adalah kardiotokografi, dan kardiotokografi bertingkat 3 [2][3]. Pengambilan darah janin, yaitu satu-satunya cara mengukur hipoksianya secara langsung, bertingkat 2. - Menyelesaikannya juga tidak. Kedua jalan keluar yang disebut panduan, yaitu persalinan dengan ekstraksi vakum atau cunam dan seksio sesarea, berada pada tingkat 3 dan tingkat 2 [2][3]. - Yang justru sepenuhnya bertingkat 4A adalah menerima bayinya. Resusitasi bayi baru lahir, penilaian skor Apgar, dan pemeriksaan fisik bayi baru lahir seluruhnya 4A. Bacaan yang keluar dari situ tidak nyaman dan perlu dinyatakan: dokter layanan primer dapat mengenali gawat janin sendiri dan dapat menolong bayinya sendiri, tetapi tidak memiliki satu pun cara mandiri untuk melahirkan janin itu lebih cepat. Karena itu keputusan yang menentukan di layanan primer bukan tindakan melainkan waktu berangkat. Batas sumber yang perlu diketahui: - Tidak ada entri PPK FKTP untuk gawat janin maupun hipoksia janin. Kata gawat janin muncul pada panduan itu sebagai satu langkah pemantauan di dalam entri Persalinan Lama, sebagai satu pertimbangan pada manajemen ekspektan preeklampsia berat, dan sebagai salah satu dari dua pemicu resusitasi bayi baru lahir [1]. - Perubahan KMK 1936/2022 tidak menambahkan entri untuk keadaan ini, dan bagian Huruf N yang diubahnya hanya Kehamilan Normal [4]. Cacat cetak pada daftar keterampilan yang perlu diketahui pembaca yang memeriksa nomor butirnya sendiri: pada bagian Proses Melahirkan Normal, nomor 51 tercantum dua kali, yaitu untuk chorionic villus sampling pada bagian sebelumnya dan untuk pemeriksaan obstetri pada bagian ini, dan nomor 52 tidak ada. Penomoran sesudahnya melanjut dari 53. Nomor butir yang dipakai halaman ini mengikuti dokumen tersebut.SKDI 2012 places fetal hypoxia in the Sistem Reproduksi table, Persalinan dan Nifas subgroup, item 49, at competency level 3B [3]. What 3B means [3]: - The primary care doctor makes the diagnosis, gives emergency treatment, then refers. The two documents call it different things, and the difference is more than terminology. SKDI lists it as fetal hypoxia, the underlying state. The Indonesian chapter that carries its management is headed fetal distress and explains that this happens when the fetus does not receive enough oxygen, so that hypoxia follows [2]. One names the mechanism, the other names what is seen at the bedside. This page uses both, because what the attendant recognises is the presentation while what harms the fetus is the mechanism. The Clinical Skills list gives this entry the sharpest division of any obstetric entry in this group, and the division runs from beginning to end [3]: - Item 43, measuring the fetal heart rate, level 4A. - Item 51, obstetric examination assessing cervix, dilatation, membranes, fetal presentation and descent, level 4A. - Item 53, conducting a physiological delivery according to Asuhan Persalinan Normal, level 4A. - Item 54, rupturing the membranes shortly before delivery, level 4A. - Item 47, cardiotocography, performing and interpreting, level 3. - Item 69, chemical induction of labour, level 3. - Item 71, fetal blood sampling, level 2. - Item 74, low vacuum extraction, level 3. - Item 72, caesarean section, level 2. - Item 60, newborn resuscitation, level 4A. - Item 61, assigning an Apgar score, level 4A. - Item 62, physical examination of the newborn, level 4A. Read in order, that list tells the whole story of this page. - Finding the condition is graded for independent practice. Measuring the fetal heart rate is a 4A skill, and the first stage steps ask for it to be checked after every contraction [4]. There is no competency reason for missing this diagnosis. - Confirming it is not. The monitoring the guideline calls optimal is cardiotocography, and cardiotocography is graded 3 [2][3]. Fetal blood sampling, the only way to measure the hypoxia directly, is graded 2. - Resolving it is not either. Both routes the guideline names, delivery by vacuum extraction or forceps and caesarean section, sit at level 3 and level 2 [2][3]. - What is fully 4A is receiving the baby. Newborn resuscitation, the Apgar score and physical examination of the newborn are all 4A. The reading that comes out of that is uncomfortable and deserves stating: a primary care doctor can recognise fetal distress independently and can look after the baby independently, but has no independent means of delivering that fetus any sooner. The decisive judgment in primary care is therefore not a procedure but the moment of departure. Limits of the sources worth knowing: - There is no PPK FKTP entry for fetal distress or fetal hypoxia. The phrase appears in that guideline as one monitoring step inside the Persalinan Lama entry, as one consideration in expectant management of severe pre-eclampsia, and as one of the two triggers for newborn resuscitation [1]. - The KMK 1936/2022 amendment adds no entry for this condition, and the only part of Huruf N it changes is Kehamilan Normal [4]. A printing defect in the skills list, worth knowing for a reader who checks the item numbers: in the Proses Melahirkan Normal section the number 51 appears twice, once for chorionic villus sampling in the preceding section and once for the obstetric examination in this one, and there is no number 52. Numbering afterwards continues from 53. The item numbers used on this page follow the document as it stands.

Gawat janin terjadi bila janin tidak menerima cukup oksigen sehingga jatuh dalam keadaan hipoksia 2. Itulah sebabnya SKDI menamainya menurut mekanismenya sedangkan panduan klinis menamainya menurut gambarannya: yang terlihat penolong adalah denyut jantung yang menyimpang dan air ketuban yang berubah, sedangkan yang sedang terjadi di dalam adalah kekurangan oksigen.

Yang membuat keadaan ini berbeda dari kegawatan obstetri lain adalah siapa yang sakit. Ibunya tidak berdarah, tidak kejang, dan sering tidak merasakan apa pun yang khas. Seluruh bahayanya milik janin, dan satu-satunya jendela untuk melihatnya adalah denyut jantungnya. Karena itu keadaan ini hanya ditemukan oleh orang yang memang sedang mendengarkan, dan hanya sesering ia mendengarkan.

Keadaan ini muncul dalam persalinan, dan panduan menyebut empat keadaan yang mendahuluinya 2:

  • Persalinan yang berlangsung lama.
  • Induksi persalinan dengan oksitosin yang menimbulkan kontraksi hipertonik.
  • Perdarahan atau infeksi.
  • Insufisiensi plasenta, yaitu pada kehamilan lewat waktu atau preeklampsia.

Ketiga keadaan pertama punya halaman tersendiri di SPARK, yaitu partus lama, distosia, dan eklampsia, dan halaman ini tidak mengulang isinya. Yang perlu diketahui di sini adalah bahwa keempatnya menjelaskan mengapa gawat janin hampir tidak pernah datang sendirian: ia hampir selalu merupakan tanda bahwa sesuatu yang lain sudah berjalan terlalu lama.

Waktu adalah seluruh isinya. Jaringan otak janin tidak menyimpan cadangan oksigen, sehingga kerusakannya berjalan selama keadaannya berlangsung, bukan sesudahnya. Yang dibayar dengan keterlambatan bukan hari rawat melainkan keadaan bayi seumur hidupnya, dan pada keterlambatan yang panjang, nyawanya.

Satu hal perlu dinyatakan terus terang. Panduan yang menjadi sumber halaman ini menutup bagian tata laksana khususnya dengan tanda hubung, yaitu kosong 2. Seluruh yang dapat dikerjakan ada pada tata laksana umum, dan salah satu butirnya adalah merujuk.

Fetal distress occurs when the fetus does not receive enough oxygen and falls into hypoxia 2. That is why SKDI names it after the mechanism while the clinical guideline names it after the presentation: what the attendant sees is a fetal heart rate that has strayed and liquor that has changed, while what is happening inside is a shortage of oxygen.

What sets this apart from the other obstetric emergencies is who is ill. The mother is not bleeding, not fitting, and often feels nothing characteristic at all. The whole danger belongs to the fetus, and the only window onto it is the fetal heart. This condition is therefore found only by someone who is listening, and only as often as they listen.

It arises in labour, and the guideline names four situations that precede it 2:

  • Labour that has gone on a long time.
  • Induction of labour with oxytocin producing hypertonic contractions.
  • Bleeding or infection.
  • Placental insufficiency, meaning post-term pregnancy or pre-eclampsia.

The first three have pages of their own in SPARK, namely partus lama, distosia and eklampsia, and this page does not repeat them. What matters here is that all four explain why fetal distress almost never arrives on its own: it is nearly always a sign that something else has already been running too long.

Time is the whole of it. Fetal brain tissue stores no oxygen reserve, so damage accrues while the condition lasts rather than afterwards. What delay costs is not hospital days but the state of the child for the rest of its life, and with long enough delay, its life.

One thing deserves saying plainly. The guideline that is the source of this page closes its specific management section with a dash, meaning empty 2. Everything that can be done sits in the general management, and one of its items is to refer.

MengenaliRecognising it

Diagnosis ini dibuat dengan mendengarkan, dan mengukur denyut jantung janin adalah keterampilan bertingkat 4A 3. Yang menentukan bukan alatnya melainkan seberapa sering penolong benar-benar mendengarkan, dan langkah persalinan normal meminta denyut itu dinilai setiap kali kontraksi uterus selesai 4.

Denyut jantung janin yang tidak normal 2:

  • Kurang dari 100 kali per menit di luar kontraksi.
  • Lebih dari 180 kali per menit tanpa ibu mengalami takikardi.
  • Ireguler, dan pada sebagian keadaan ditemukan lebih dari 180 kali per menit tetapi disertai takikardi pada ibunya. Yang terakhir ini bukan gawat janin melainkan reaksi terhadap keadaan ibu:
    • Demam pada ibu.
    • Obat yang menimbulkan takikardi, misalnya tokolitik.
    • Amnionitis.

This diagnosis is made by listening, and measuring the fetal heart rate is a 4A skill 3. What decides it is not the instrument but how often the attendant actually listens, and the normal delivery steps ask for the rate to be checked after every uterine contraction 4.

An abnormal fetal heart rate 2:

  • Below 100 per minute between contractions.
  • Above 180 per minute without maternal tachycardia.
  • Irregular, and in some cases found above 180 per minute but together with maternal tachycardia. This last is not fetal distress but a reaction to the mother's condition:
    • Maternal fever.
    • Drugs that cause tachycardia, tocolytics for instance.
    • Amnionitis.
Memeriksa aksesChecking access

RujukanReferences

  1. 1.Kementerian Kesehatan RI. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama, lampiran Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/1186/2022. Tidak ada entri tersendiri untuk gawat janin maupun hipoksia janin. Dipakai di sini untuk Huruf N Kesehatan Wanita angka 8 Persalinan Lama, yaitu langkah memantau tanda gawat janin dan rujukan ke rumah sakit yang memiliki pelayanan seksio sesarea; angka 4 Pre-Eklampsia, yaitu gawat janin sebagai keadaan yang membatalkan manajemen ekspektan; dan bagian Resusitasi pada asuhan bayi baru lahir, yaitu dua dasar keputusan resusitasi, langkah awal, tenggat ventilasi 2 menit sebelum menyiapkan rujukan, dan ketentuan menghentikan ventilasi sesudah 10 menit tanpa denyut jantung. manuver.tireg7.net
  2. 2.Kementerian Kesehatan RI, World Health Organization, Perhimpunan Obstetri dan Ginekologi Indonesia, Ikatan Bidan Indonesia. Buku Saku Pelayanan Kesehatan Ibu di Fasilitas Kesehatan Dasar dan Rujukan. Edisi I. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI; 2013. Bab 3.4 Gawat Janin halaman 75 sampai 76, dengan bagian Tatalaksana Khusus yang kosong; tabel Diagnosis Banding halaman 77; bagian partograf mengenai kondisi bayi dan daftar tindakan yang tidak dianjurkan; Lampiran A bagian amniotomi dan bagian oksitosin untuk ambang denyut jantung janin dan perintah menghentikan infus. platform.who.int
  3. 3.Konsil Kedokteran Indonesia. Standar Kompetensi Dokter Indonesia 2012. Daftar Penyakit, tabel Sistem Reproduksi, subkelompok Persalinan dan Nifas, butir 49 Hipoksia janin, Tingkat Kemampuan 3B. Daftar Keterampilan Klinis, kelompok Sistem Reproduksi: butir 43 Mengukur denyut jantung janin (4A), butir 47 CTG melakukan dan menginterpretasikan (tingkat 3), butir 51 Pemeriksaan obstetri (4A), butir 53 Menolong persalinan fisiologis sesuai APN (4A), butir 54 Pemecahan membran ketuban (4A), butir 60 Resusitasi bayi baru lahir (4A), butir 61 Menilai skor Apgar (4A), butir 62 Pemeriksaan fisik bayi baru lahir (4A), butir 69 Induksi kimiawi persalinan (tingkat 3), butir 71 Pengambilan darah fetus (tingkat 2), butir 72 Operasi Caesar (tingkat 2), butir 74 Ekstraksi vakum rendah (tingkat 3). Pada bagian Proses Melahirkan Normal, nomor 51 tercantum dua kali dan nomor 52 tidak ada. pd.fk.ub.ac.id
  4. 4.Kementerian Kesehatan RI. Panduan Keterampilan Klinis bagi Dokter, Lampiran II Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/1936/2022 tentang Perubahan atas KMK HK.01.07/MENKES/1186/2022. Bagian Asuhan Persalinan Normal, yaitu langkah memeriksa denyut jantung janin sesudah kontraksi uterus selesai dengan batas normal 120 sampai 160 kali per menit beserta perintah mengambil tindakan yang sesuai bila tidak normal, dan langkah menilai denyut setiap kontraksi selesai pada kala dua. Daftar perubahan pada Pasal I tidak menambahkan entri untuk gawat janin, dan bagian Huruf N yang diubahnya hanya angka 1 Kehamilan Normal. diskes.badungkab.go.id
  5. 5.Gilstrap LC, Sciscione AC. Fetal Distress. StatPearls. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing. Bacaan lanjutan, bukan sumber isi halaman ini. ncbi.nlm.nih.gov

SPARK Atlas adalah alat bantu rujukan untuk klinisi, bukan pengganti penilaian klinis. Verifikasi setiap keputusan terhadap kondisi pasien dan pedoman terkini.SPARK Atlas is a reference aid for clinicians, not a substitute for clinical judgement. Verify every decision against the patient in front of you and current guidance.