Hiperemesis GravidarumHyperemesis Gravidarum

SKDI 2012 menempatkan hiperemesis gravidarum pada tabel Sistem Reproduksi, subkelompok Gangguan pada Kehamilan, butir 20, dengan tingkat kemampuan 3B [2]. Butir di sekitarnya pada tabel yang sama [2]: - Butir 19, aborsi spontan komplit, tingkat 4A. - Butir 20, hiperemesis gravidarum, tingkat 3B. - Butir 21, inkompatibilitas darah, tingkat 2. Satu hal perlu diperhatikan sebelum entri PPK dibaca. Judul entri itu adalah Hiperemesis Gravidarum dengan tambahan Mual dan Muntah Pada Kehamilan, sehingga satu entri memuat rentang yang lebar, mulai dari mual pagi hari yang lazim sampai muntah dengan penurunan kesadaran [1]. SKDI hanya memberi tingkat pada ujung beratnya. Mual dan muntah kehamilan yang tidak menimbulkan dehidrasi, ketonuria, maupun penurunan berat badan bukan hiperemesis, dan penanganannya memang selesai di layanan primer. Arti 3B pada ujung beratnya [2]: - Dokter layanan primer menegakkan diagnosis, memberi terapi kegawatdaruratan, lalu merujuk. - Yang menentukan batas itu bukan jumlah muntahnya, melainkan tingkat klinis yang dipakai entri: entri meminta rujukan pada tingkat 2 dan 3, sedangkan tingkat 1 ditangani di tempat [1]. Batas praktisnya: - Entri memuat tiamin sebagai kekurangan yang perlu dipikirkan dan sekaligus sebagai pemicu rujukan, tetapi tidak memberi satu pun dosis tiamin [1]. Hal itu dinyatakan pada bagian obat halaman ini karena menyangkut pencegahan kerusakan saraf yang menetap. - Entri tidak memberi tenggat waktu dalam jam antara keputusan merujuk dan sampainya pasien. - Buku saku yang dirujuk entri itu sendiri memuat satu langkah pengobatan yang tidak ada pada entri PPK, dan perbedaannya dinyatakan pada bagian obat [1][3].SKDI 2012 places hyperemesis gravidarum in the Sistem Reproduksi table, Gangguan pada Kehamilan subgroup, item 20, at competency level 3B [2]. The neighbouring items in the same table [2]: - Item 19, complete spontaneous abortion, level 4A. - Item 20, hyperemesis gravidarum, level 3B. - Item 21, blood incompatibility, level 2. One thing deserves attention before the PPK entry is read. That entry is titled Hiperemesis Gravidarum with the addition of Mual dan Muntah Pada Kehamilan, so a single entry covers a wide range, from ordinary morning nausea to vomiting with a depressed conscious level [1]. SKDI grades only the severe end. Nausea and vomiting in pregnancy that produces no dehydration, no ketonuria and no weight loss is not hyperemesis, and its treatment does finish in primary care. What 3B means at the severe end [2]: - The primary care doctor makes the diagnosis, gives emergency treatment, then refers. - What sets the boundary is not how much the woman vomits but the clinical grade the entry uses: it asks for referral at grades 2 and 3, while grade 1 is treated on site [1]. The practical limits: - The entry names thiamine as a deficiency to consider and as a referral trigger, yet gives no thiamine dose anywhere [1]. That is stated in the drug section of this page because it concerns the prevention of permanent neurological damage. - The entry sets no limit in hours between the decision to refer and the patient's arrival. - The pocket book the entry itself cites carries one treatment step absent from the PPK entry, and the difference is stated in the drug section [1][3].

Mual dan muntah pada kehamilan berlangsung sejak awal kehamilan sampai usia 16 minggu 1. Ia menjadi hiperemesis gravidarum ketika muntahnya berlebihan sehingga menimbulkan dehidrasi, gangguan asam basa dan elektrolit, serta ketosis 1.

Yang membedakan keduanya bukan keluhan melainkan akibatnya pada tubuh. Panduan memberi empat penanda: mual muntah berat, berat badan turun lebih dari 5 persen dari berat sebelum hamil, ketonuria, serta dehidrasi dengan ketidakseimbangan elektrolit 1. Selama keempat hal itu tidak ada, yang dihadapi adalah mual muntah kehamilan yang lazim, dan penanganannya selesai di tempat.

Angkanya besar. Mual dan muntah terjadi pada 60 sampai 80 persen primigravida dan 40 sampai 60 persen multigravida, dan memengaruhi lebih dari separuh kehamilan 1. Bentuk beratnya jauh lebih jarang, tetapi entri sendiri menyatakan bahwa tanpa penanganan yang baik keadaan ini dapat mengancam nyawa ibu dan janin 1.

Panduan membagi hiperemesis menjadi tiga tingkat klinis, dan pembagian itulah yang menentukan siapa yang dirujuk 1. Yang menandai tingkat kedua adalah keadaan umum yang memburuk dan pasien yang menjadi apatis; yang menandai tingkat ketiga adalah gangguan kesadaran. Kriteria rujukan entri menyebut tingkat 2 dan 3, sehingga batas kewenangannya terletak persis pada saat pasien berubah dari lelah menjadi tidak acuh.

Faktor risiko yang dimuat entri, dengan penyebab pastinya dinyatakan belum diketahui 1:

  • Peningkatan hormon kehamilan.
  • Riwayat hiperemesis pada kehamilan sebelumnya.
  • Status nutrisi, dan panduan menyebut perempuan obesitas lebih jarang dirawat inap karena keadaan ini.
  • Faktor psikologis berupa stres dan emosi.
    • Buku saku menambahkan riwayat hiperemesis pada keluarga di samping riwayat pada kehamilan sebelumnya 3.

Tingkat kemampuan 3B menentukan bentuk halaman ini pada ujung beratnya. Dokter layanan primer menilai derajatnya, memperbaiki cairan dan mengendalikan muntah, lalu memindahkan pasien yang sudah mencapai tingkat 2 atau 3.

Nausea and vomiting in pregnancy runs from early pregnancy to 16 weeks of gestation 1. It becomes hyperemesis gravidarum when the vomiting is excessive enough to produce dehydration, acid base and electrolyte disturbance, and ketosis 1.

What separates the two is not the complaint but its effect on the body. The guideline gives four markers: severe nausea and vomiting, weight loss of more than 5 per cent of the pre-pregnancy weight, ketonuria, and dehydration with electrolyte imbalance 1. While none of the four is present, what is in front of you is ordinary nausea and vomiting of pregnancy, and its treatment finishes on site.

The numbers are large. Nausea and vomiting occurs in 60 to 80 per cent of first pregnancies and 40 to 60 per cent of later ones, and affects more than half of all pregnancies 1. The severe form is far rarer, but the entry itself states that without good treatment this condition can threaten the life of mother and fetus 1.

The guideline divides hyperemesis into three clinical grades, and that division is what decides who is referred 1. What marks the second grade is a worsening general state and a woman who becomes apathetic; what marks the third is a depressed conscious level. The entry's referral criteria name grades 2 and 3, so the boundary of competency sits exactly at the point where the patient goes from exhausted to indifferent.

The risk factors the entry carries, with the true cause stated as not yet known 1:

  • A rise in the hormones of pregnancy.
  • Hyperemesis in a previous pregnancy.
  • Nutritional status, and the guideline notes that obese women are admitted for this less often.
  • Psychological factors, meaning stress and emotion.
    • The pocket book adds a family history of hyperemesis alongside a personal one 3.

Competency level 3B shapes this page at its severe end. The primary care doctor grades it, corrects the fluid and controls the vomiting, then moves the patient who has reached grade 2 or 3.

MengenaliRecognising it

Diagnosis ditegakkan dari anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang 1. Pekerjaan sebenarnya di sini bukan menegakkan diagnosis melainkan menempatkan pasien pada tingkat yang benar, sebab tingkatnya yang menentukan tempat perawatannya.

Empat penanda yang membuat mual muntah kehamilan menjadi hiperemesis gravidarum 1:

  • Mual muntah berat.
  • Berat badan turun lebih dari 5 persen dari berat sebelum hamil.
  • Ketonuria.
  • Dehidrasi dan ketidakseimbangan elektrolit.

The diagnosis is made from the history, the physical examination and investigations 1. The real work here is not making the diagnosis but placing the patient at the right grade, because the grade decides where she is treated.

The four markers that turn nausea and vomiting of pregnancy into hyperemesis gravidarum 1:

  • Severe nausea and vomiting.
  • Weight loss of more than 5 per cent of the pre-pregnancy weight.
  • Ketonuria.
  • Dehydration and electrolyte imbalance.
Memeriksa aksesChecking access

RujukanReferences

  1. 1.Kementerian Kesehatan RI. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama, lampiran Keputusan Menteri Kesehatan HK.01.07/MENKES/1186/2022. Huruf N Kesehatan Wanita, angka 2 Hiperemesis Gravidarum (Mual dan Muntah Pada Kehamilan), halaman lampiran -718- sampai -723-. manuver.tireg7.net
  2. 2.Konsil Kedokteran Indonesia. Standar Kompetensi Dokter Indonesia 2012, Lampiran Daftar Penyakit, tabel Sistem Reproduksi, subkelompok Gangguan pada Kehamilan, butir 20 Hiperemesis gravidarum, Tingkat Kemampuan 3B, beserta butir 19 Aborsi spontan komplit (4A) dan butir 21 Inkompatibilitas darah (2). pd.fk.ub.ac.id
  3. 3.Kementerian Kesehatan RI, World Health Organization, Perhimpunan Obstetri dan Ginekologi Indonesia, Ikatan Bidan Indonesia. Buku Saku Pelayanan Kesehatan Ibu di Fasilitas Kesehatan Dasar dan Rujukan. Edisi I. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI; 2013. Bab 4.1 Mual dan Muntah pada Kehamilan, halaman 82 sampai 83. Rujukan pertama yang ditunjuk entri PPK sendiri. platform.who.int
  4. 4.Vadakekut ES, Mahdy H. Hyperemesis Gravidarum. StatPearls. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing. Bacaan lanjutan, bukan sumber isi halaman ini. ncbi.nlm.nih.gov

SPARK Atlas adalah alat bantu rujukan untuk klinisi, bukan pengganti penilaian klinis. Verifikasi setiap keputusan terhadap kondisi pasien dan pedoman terkini.SPARK Atlas is a reference aid for clinicians, not a substitute for clinical judgement. Verify every decision against the patient in front of you and current guidance.